Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Padepokan Ular Siluman ( bagian 1 )


__ADS_3

*****


Seorang lelaki bertubuh tegap dengan memakai pakaian bagus berwarna kuning berhias sulaman benang emas dari bahan terbaik nampak berdiri di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Tempat nya berdiri terletak di barat Kotaraja Kahuripan, tepatnya di kaki Gunung Pucangan. Rambutnya yang lurus panjang dibiarkan tergerai tanpa diikat. Wajahnya yang tertutup rapat sebuah topeng emas dengan hiasan bulan sabit terbalik berwarna merah darah membuat siapapun tak bisa melihat wajah asli nya. Balik lobang topeng yang digunakan untuk melihat, mata sosok lelaki itu nampak sedang memperhatikan setiap huruf yang tertulis pada selembar daun lontar yang ada di telapak tangan kirinya. Sepertinya dia sedang membaca tulisan yang tertera di lembar lembar daun lontar itu.


Dua orang bertudung merah nampak berlutut di belakangnya tanpa bersuara sedikitpun karena takut mengganggu si lelaki bertopeng emas ini membaca. Suasana pagi di tempat itu terasa begitu sunyi karena tidak ada bunyi apapun yang terdengar. Andai ada sebuah jarum yang jatuh pun pasti akan terdengar.


Hehehehe..


Terdengar suara tawa lirih dari sang lelaki bertubuh tegap itu sesaat setelah ia selesai membaca nawala di tangan kirinya. Dia menggenggam erat nawala itu.


"Kabarnya sudah aku terima. Sekarang tugas kalian berdua adalah mengawasi jalannya pergerakan prajurit Jenggala yang ada pada ujung trisula ketiga. Jangan sampai ada kesalahan sedikitpun", ujar si lelaki yang tak lain adalah Malaikat Bertopeng Emas, sang pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah sembari menoleh ke arah belakangnya tanpa memutar badan.


"Kami mengerti Pimpinan Utama", ujar kedua orang bertudung merah darah ini segera. Keduanya segera melesat cepat meninggalkan tempat itu usai menghormat pada Malaikat Bertopeng Emas.


Setelah keduanya pergi, Malaikat Bertopeng Emas meremas nawala di tangan kirinya yang membuat lembar daun lontar itu hancur menjadi abu. Dari balik topeng emas nya, dia tersenyum lebar.


"Ku kuasai Tanah Blambangan. Ku obrak-abrik Istana Kadipaten Seloageng. Dan ku adu domba Panjalu dan Jenggala.


Pada akhirnya akulah yang akan menjadi penguasa tunggal Tanah Jawadwipa ini hehehe".


Setelah berkata demikian, Malaikat Bertopeng Emas langsung melesat cepat ke arah timur laut, menembus rimbun pepohonan yang tumbuh subur di tempat itu.


*****


Mendengar laporan itu, Mpu Sawer, Ki Kesawasidi dan Ki Samparjagad segera berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan dari arah samping, seorang wanita setengah baya dengan tubuh sedikit gemuk berdandan layaknya seorang pendekar yang memakai cunduk atau hiasan rambut ala perempuan bangsawan Jawa namun justru terlihat menyeramkan karena kantung mata nya yang menghitam mendekati tempat mereka.


"Ada apa ini Kakang Samparjagad? Sepertinya aku ketinggalan sesuatu", tanya perempuan itu sembari menggosok gigi nya dengan daun sirih yang sudah di campur pinang.


"Kata penjaga ini, ada empat orang yang mengacau di depan pintu gerbang Padepokan, Nyimas Kantil. Kami ingin kesana untuk memastikan siapa orang nya yang berani membuat keributan di tempat ini", Ki Samparjagad menyebut nama Nyimas Kantil pada perempuan berbaju hijau muda itu.


"Hihihihihihi..


Ada yang bosan hidup rupanya. Aku ikut kalian, Kakang Samparjagad. Siapa tahu ada tontonan yang menarik hihihihihihi", ujar Nyimas Kantil yang segera mengekor di belakang Ki Samparjagad, Mpu Sawer dan Ki Kesawasidi.


Asal tahu saja, perempuan paruh baya bertubuh sedikit gemuk itu bukanlah perempuan sembarangan. Dia adalah seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Julukan nya sebagai Ratu Gila Goa Setan dari Gunung Welirang membuatnya di takuti oleh banyak pendekar dunia persilatan dari wilayah timur Pulau Jawa. Meski terlihat seperti perempuan kurang waras karena suka ketawa cekikikan tidak jelas, namun saat dia bertarung melawan siapapun, maka dia akan berubah menjadi mengerikan dengan kekuatan yang di luar nalar manusia.


Begitu sampai di depan gerbang Padepokan Ular Siluman, mata sayu Mpu Sawer langsung melotot lebar. Bagaimana tidak, puluhan orang muridnya sudah jatuh bergelimpangan di tanah luka menghiasi tubuh mereka. Bahkan dua orang murid kesayangannya, Sambudi dan Kangsa, sudah terkapar bersimbah darah.


"Kurang ajar !!


Siapa kalian? Kenapa kalian membuat kekacauan di tempat ku ini ha?", teriak Mpu Sawer keras sembari menatap ke arah tiga orang perempuan cantik yang sudah memegang senjata berlumur darah.


"Siapa kami? Huhhh.. Murid murid mu berlaku tidak sopan pada kami saat kami bertanya baik-baik pada mereka. Tentu saja terpaksa kami mewakili pimpinan padepokan ini untuk memberi pelajaran kepada mereka..


Serahkan saudari kami yang kalian culik. Jika tidak, kami akan membumihanguskan tempat ini hingga rata dengan tanah ", jawab Gayatri sambil memegang erat gagang pisau belati keperakan di kedua tangan nya.


Ki Kesawasidi yang mengenali wajah Gayatri segera berbisik di telinga Mpu Sawer.


"Mereka adalah komplotan orang yang membunuh Danarjati, Kakang. Perempuan cantik berbaju hijau muda itu adalah pimpinan komplotan itu", mendengar bisikan Ki Kesawasidi, Mpu Sawer langsung marah besar.


"Menculik saudari kalian?!! Siapa saudari mu ha? Itu hanya alasan kalian saja. Padepokan Ular Siluman tidak pernah menculik seorang pun! Jangan menuduh sembarangan jika tidak ada buktinya", ujar Mpu Sawer dengan nada tinggi. Pimpinan Padepokan Ular Siluman itu begitu marah mengingat Danarjati adalah putra kesayangannya. Bayangan putranya itu segera terlintas di pikiran orang itu.


"Huhhh dasar tua bangka..

__ADS_1


Baru saja tadi malam, istana Kadipaten Seloageng di serang. Mereka menculik Ayu Ratna, Permaisuri Adipati Panji Tejo Laksono yang merupakan salah seorang saudari kami. Salah seorang diantara mereka yang tertangkap mengatakan bahwa penculiknya membawa Ayu Ratna ke Padepokan Ular Siluman.


Kau mau berkilah apa lagi, Kakek tua?!", Gayatri langsung menatap tajam ke arah 4 orang tua di depannya itu.


Terkejut dengan apa yang baru saja di omongkan Gayatri, Ki Samparjagad segera paham bahwa Nyi Dadap Segara sudah membocorkan rahasia tempat penculikan Ayu Ratna. Lelaki tua berambut awut-awutan itu segera menendang sebuah tombak yang tergeletak di sampingnya dengan keras. Tombak itu segera meluncur cepat kearah Gayatri.


Whhhuuuuuusssshhh!


Panji Tejo Laksono yang sedari tadi hanya mengawasi mereka, dengan cepat melesat ke depan Gayatri sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah tombak itu.


Blllaaaaaarrr thraakkkk!!!


Tombak itu langsung hancur berkeping keping dan serpihan nya menyebar ke sekeliling tempat itu. Sedangkan Ki Samparjagad segera melompat ke udara sembari berteriak keras pada ketiga orang lainnya.


"Kepalang tanggung sudah tidak ada yang perlu di sembunyikan.. Habisi saja mereka semua!".


Mendengar teriakan keras itu, Mpu Sawer dan Ki Kesawasidi segera melompat menerjang maju ke arah Luh Jingga dan Gayatri yang sudah bersiap untuk bertarung. Sementara itu Nyimas Kantil menyeringai lebar menatap ke arah Dyah Kirana.


"Yang baju putih itu bagian ku, jangan ada yang mengganggu!!", ucap Nyimas Kantil sembari membentuk cakar pada kedua tangan nya dan melesat cepat kearah Dyah Kirana yang sudah bersiap dengan senjata selendang putihnya.


Begitu Nyimas Kantil mendekat, Dyah Kirana segera menarik kedua ujung selendang putih. Secara ajaib, setelah menerima aliran tenaga dalam milik sang empunya, selendang putih itu segera berubah keras seperti sebuah tongkat. Dyah Kirana segera memutar senjatanya lalu mengayunkan nya ke arah Nyimas Kantil yang hendak mendekat.


Shhrreeettthhh!!


Serangan cepat Dyah Kirana langsung membuat perempuan bertubuh sedikit subur itu segera menjatuhkan diri ke tanah sambil mencabut dua cunduk mentul nya dan segera melemparkannya ke arah Dyah Kirana.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!


Mendapat serangan balik cepat ini, Dyah Kirana segera tarik ujung selendang putih nya sambil melompat mundur.


Ujung runcing cunduk mentul itu langsung menancap di selendang putih berbentuk tongkat itu. Secepat kilat, Dyah Kirana menyentak ujung selendang yang di pegang nya. Selendang berwarna putih itu berubah kembali menjadi lemas dan dua cunduk mentul itu langsung melesat cepat kearah Nyimas Kantil.


"Setan alas !!! ", maki Nyimas Kantil melihat senjatanya berbalik arah menyerangnya. Perempuan bertampang menyeramkan itu segera hantamkan kedua telapak tangan nya ke arah dua cunduk mentul nya sendiri.


Whhhuuuuuusssshhh..


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr..!!!


Cunduk mentul yang terbuat dari perak itu langsung meledak dan mencelat ke arah pintu gerbang Padepokan Ular Siluman. Sembari menggeram marah, Nyimas Kantil segera melesat ke arah Dyah Kirana sembari kembali mengayunkan cakar tangan kanan nya ke arah perempuan cantik berbaju putih yang memegang kedua ujung selendang nya.


Shhrreeettthhh!!


Dyah Kirana berkelit ke samping kanan dengan sigap sambil menangkis cakaran Nyimas Kantil dengan selendang nya. Putri Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru itu segera memutar tubuhnya hingga selendang putih itu segera mengikat tangan kanan Nyimas Kantil.


Perempuan bertubuh sedikit gemuk itu menyeringai lebar sembari dengan cepat menghantamkan tapak tangan kiri nya ke pinggang Dyah Kirana. Perempuan cantik berbaju ini dengan cepat bergerak cepat melepaskan ikatan tangan kanan Nyimas Kantil seraya melayangkan tendangan keras kearah perut perempuan bertubuh sedikit subur itu segera.


Dhhiiieeeeesssshhh !!!


Oouuugghhhhhh !!


Nyimas Kantil langsung terhuyung-huyung mundur beberapa langkah ke belakang. Sementara Dyah Kirana berhasil menjauh dari dekat Nyimas Kantil. Meski menerima tendangan keras dari Dyah Kirana, Nyimas Kantil tidak terlihat terluka sedikitpun. Perempuan bertubuh sedikit subur itu segera tersenyum sembari menepuk dadanya.


"Hehehehe ayo lebih keras lagi, gadis busuk!!

__ADS_1


Tubuh ku masih mampu menerima serangan mu. Ayo maju!! Pilih bagian mana yang kau ingin pukul hihihihihihi", teriak Nyimas Kantil sembari memajukan tangan kanannya memberi isyarat kepada Dyah Kirana untuk maju.


"Nenek gemuk, kau sudah merasa hebat ya? Kau kebal pukulan pasti juga karena di tubuh mu banyak lemak nya hehehe ", ejek Dyah Kirana yang langsung membuat Nyimas Kantil marah besar. Dia paling tidak suka jika ada yang menyebut dirinya sebagai wanita gemuk.


"Gadis busuk, mulut mu yang lancang itu harus aku beri pelajaran!!", teriak Nyimas Kantil keras. Perempuan bertubuh sedikit subur ini segera silangkan kedua tangan di depan dada. Angin kencang berseliweran di tempat perempuan berusia paruh baya itu berdiri berbarengan dengan munculnya sinar mereka bercampur hitam pada kedua telapak tangannya. Rupanya dia mengeluarkan Ajian Cakar Kematian yang menjadi ilmu andalannya.


Dyah Kirana tak mau kalah. Putri Resi Ranukumbolo itu segera memegang kedua ujung selendang putih nya. Sinar putih kebiruan dengan lompatan kilat seperti petir yang menyambar tercipta di selendang putih itu.


Begitu selesai merapal Ajian Cakar Kematian nya, Nyimas Kantil segera menghentak tanah dengan keras. Tubuh perempuan sedikit gemuk itu melesat cepat ke udara dan secepat kilat dia mengayunkan cakar tangan nya bersilangan ke arah Dyah Kirana yang juga sudah bersiap dengan selendang putihnya.


"Terima Ajian Cakar Kematian ku ini, gadis busuk!!


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!"


Sepuluh larik sinar merah dan hitam bersilangan menerabas cepat kearah Dyah Kirana. Gadis cantik itu melompat mundur beberapa langkah sembari melepaskan salah satu ujung selendangnya lalu memutar selendang putih itu segera. Selendang berhawa dingin seperti udara hendak turun hujan itu membentuk lingkaran berputar lalu dengan cepat Dyah Kirana menyentakkan nya ke arah sinar merah dan hitam Ajian Cakar Kematian dari Nyimas Kantil.


Hawa dingin berdesir kencang disertai sambaran petir yang mengikuti sinar putih kebiruan menyongsong sinar merah dan hitam bersilangan itu.


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan dahsyat terdengar saat kedua ajian ini beradu. Nyimas Kantil terpental ke belakang hampir 3 tombak jauhnya dan menyusruk tanah dengan keras. Tubuhnya yang bulat langsung berguling di tanah. Tubuhnya penuh tanah dan rumput. Dia berusaha bangun secepat mungkin namun dia langsung muntah darah segar.


Huuuuooogggghhh!!


Sementara itu Dyah Kirana terdorong mundur hampir 2 tombak. Putri Resi Ranukumbolo itu segera melemparkan selendangnya yang dengan cepat membelit sebuah pohon randu yang tak jauh dari tempat pertarungan mereka. Memanfaatkan itu, Dyah Kirana berhasil membuat tubuhnya berhenti. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya yang mungil.


Dyah Kirana segera merogoh kantong baju nya dan dengan cepat melemparkan dua kepeng perak di tangan kanannya ke arah Nyimas Kantil.


Shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Dua kepeng perak itu meluncur dengan kecepatan tinggi karena di lambari tenaga dalam tingkat tinggi. Nyimas Kantil yang hendak bangkit tak menyangka bahwa dia menyongsong kematiannya. Dua kepeng perak yang di lemparkan oleh Dyah Kirana menancap di dahi dan lehernya.


Chhreepppppph chhreepppppph!!


Aaaarrrgggggghhhhh !!


Perempuan bertubuh sedikit gemuk itu berteriak keras sebelum kembali roboh ke tanah. Hari itu, salah satu pendekar wanita yang menakutkan bagi sebagian besar pendekar di wilayah timur Pulau Jawa itu tewas di tangan Dyah Kirana.


Di sisi lain pertarungan, Ki Kesawasidi yang bertangan buntung terus bergerak cepat menghindari setiap sabetan pedang Luh Jingga yang mengejarnya kemanapun ia bergerak.


'Sialan !!


Perempuan busuk ini rupanya tidak bisa di remehkan. Aku sudah cukup kelelahan menghadapi nya. Aku harus cepat mengakhiri pertarungan ini sebelum tenaga dalam ku terkuras habis', batin Ki Kesawasidi. Lelaki tua bertangan buntung itu segera melemparkan tongkat nya yang dengan cepat berubah menjadi seekor ular raksasa. Sang ular raksasa itu langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan menyerang ke arah Luh Jingga.


Selir kedua Panji Tejo Laksono itu langsung merubah gerakan tubuhnya. Dengan cepat ia berjumpalitan mundur ke belakang. Setelah mengambil jarak cukup jauh, Luh Jingga menata nafasnya. Sembari merapal Ajian Tapak Dewa Agni, perempuan cantik berbaju kuning kemerahan itu menatap tajam ke arah Ki Kesawasidi yang nampaknya mempersiapkan ilmu kedigdayaan nya.


Benar saja, di tangan kanan Ki Kesawasidi tercipta sinar hijau tua setengah hitam berbau tidak sedap. Sepertinya lelaki tua itu memiliki kemampuan beladiri yang aneh. Ki Kesawasidi merapal Ajian Pukulan Dewa Ular yang jarang dia pergunakan kecuali untuk keadaan mendesak.


Setelah ilmu kedigdayaan nya di rapal dengan sempurna, Ki Kesawasidi segera melesat cepat kearah Luh Jingga berbarengan dengan ular raksasa ciptaan sang pendekar. Ular raksasa menyerang lebih cepat.


Whhhuuuggghhhh..!!


Luh Jingga segera berkelit cepat sambil menebaskan pedangnya kearah leher ular raksasa itu. Di saat yang bersamaan, Ki Kesawasidi menyusul dengan hantaman tangan kanannya yang berwarna hijau kehitaman. Luh Jingga yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya langsung memapak hantaman tangan kanan lelaki bertangan buntung itu dengan telapak tangan kiri nya yang sudah berwarna merah menyala dari Ajian Tapak Dewa Agni yang di rapalkan nya.

__ADS_1


Blllaaammmmmmmm !!


__ADS_2