
Karena Dyah Kirana tidak segera menjawab pertanyaan tersebut, Maharesi Padmanaba segera ikut bersuara.
"Apa kau putra sulung Prabu Jayengrana?", tanya Maharesi Padmanaba segera.
"Benar Resi, aku Panji Tejo Laksono putra sulung dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana.
Tolong katakan pada ku, apa yang sebenarnya sedang terjadi di tempat ini? Kenapa para prajurit ku jadi seperti ini?", Panji Tejo Laksono menatap wajah sepuh Maharesi Padmanaba.
"Aku kemari untuk menantang mu, Adipati Seloageng. Kalau kau memang ksatria sejati, kejar aku sekarang", setelah berkata demikian, Maharesi Padmanaba segera menyambar tangan kanan Dyah Kirana dan hanya dalam hitungan kejap mata, tubuh mereka berdua sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.
Panji Tejo Laksono mendengus keras lalu mulutnya komat kamit membaca mantra Ajian Halimun. Sebentar kemudian, sang penguasa baru Kadipaten Seloageng ini juga ikut menghilang.
Song Zhao Meng yang kebingungan, segera bergegas masuk ke dalam istana Kadipaten Seloageng untuk mengabarkan berita ini kepada para istri Panji Tejo Laksono yang lain.
Melihat kedatangan Song Zhao Meng yang terlihat kebingungan di Keputren Istana Kadipaten Seloageng, Ayu Ratna yang sedang merangkai bunga melati segera menghentikan pekerjaan nya dan bergegas mendekati putri Kaisar Huizong ini.
"Wulandari, kau kenapa? Dimana Kangmas Pangeran Adipati? Bukankah kau tadi sedang bersama dengan nya?", berondong pertanyaan terlontar dari mulut Ayu Ratna.
"Itu Cici Ayu.. Itu tadi ada keributan di depan pintu gerbang istana..
Setelah itu, kakek tua berbaju putih menantang Kakak Thee dan mereka menghilang. Apa yang harus kita lakukan?", Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari gugup juga saat menjawab pertanyaan Ayu Ratna.
Kaget semua istri Panji Tejo Laksono mendengar jawaban Song Zhao Meng. Gayatri langsung berdiri dari tempat duduknya dan bergegas mendekati Song Zhao Meng.
"Kemana arah mereka pergi, Wulan?", Gayatri menatap wajah cantik Song Zhao Meng yang terlihat kebingungan.
"A-aku tidak tahu, Cici Gayatri..
Kakak Thee langsung menghilang begitu saja tanpa terlihat bergerak kemanapun", ujar Song Zhao Meng segera.
"Ajian Halimun.. Kangmas Pangeran pasti menggunakan ilmu itu. Kita tunggu saja sembari berdoa kepada Hyang Agung. Karena arah ilmu kanuragan itu tidak bisa di tebak.
Tapi kalau sampai sehari Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono tidak pulang tanpa kabar berita, sebaiknya kita minta tolong kepada Gusti Prabu Jayengrana", sahut Luh Jingga dengan bijak. Mendengar itu, ketiga istri Panji Tejo Laksono yang lain mengangguk mengerti sambil menghela nafas panjang untuk menenangkan diri.
Sementara para istri Panji Tejo Laksono di landa kepanikan setelah suami mereka menghilang, di suatu tempat yang cukup jauh dari Kota Kadipaten Seloageng, tepatnya di sebuah hutan kecil yang terletak pada tepian Sungai Brantas, Panji Tejo Laksono sedang berhadapan dengan Maharesi Padmanaba dan Dyah Kirana.
Panji Tejo Laksono menatap ke arah pertapa tua itu seolah mencari tahu apa yang sebenarnya dia inginkan karena merasa tidak pernah ada urusan dengan nya.
"Resi, apa yang sebenarnya kau inginkan? Kenapa kau mengajakku ke tempat ini?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Adipati Seloageng...
Nama ku Maharesi Padmanaba dan ini cucu kesayangan ku Dyah Kirana. Aku datang jauh jauh dari Gunung Mahameru karena ingin menjajal kemampuan beladiri mu", ujar Maharesi Padmanaba segera.
"Mohon maaf sebelumnya, Maharesi. Kita tidak ada masalah sebelumnya jadi tidak perlu saling mengadu ilmu kesaktian untuk membuktikan kalau kita lebih unggul dari yang lain", jawab Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Aku tahu kau pasti akan menolaknya. Begini saja, bagaimana kalau kita bertaruh Adipati Seloageng?", senyum lebar terukir di wajah tua Maharesi Padmanaba.
"Taruhan? Apa yang ingin kau pertaruhkan Maharesi?", Panji Tejo Laksono masih tidak mengerti apa maksud dari ucapan Maharesi Padmanaba.
"Kalau kau bisa mengalahkan ku, maka aku akan memberikan sebuah pusaka untuk mu. Jika aku bisa mengalahkan mu, maka kau harus menuruti semua keinginanku termasuk menikahkan mu dengan cucu ku ini", ujar Maharesi Padmanaba sembari tersenyum simpul.
__ADS_1
"Aku sudah menikah, Maharesi. Tidak mungkin aku untuk menikah lagi. Jadi mohon maaf jika aku tidak bisa menerima permintaan mu. Tapi jika aku bisa kau kalahkan, maka aku akan menuruti semua keinginan mu", Panji Tejo Laksono membungkuk hormat kepada Maharesi Padmanaba.
"Kalau begitu, berusahalah untuk menang Adipati Seloageng", setelah berkata demikian, Maharesi Padmanaba segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Pertapa tua itu dengan cepat mengayunkan tongkat kayu di tangan nya ke arah leher Panji Tejo Laksono.
Whhuuuuuuuggggh ..!!!
Dengan gesit Panji Tejo Laksono langsung menghindari sabetan tongkat Maharesi Padmanaba dengan bergerak ke arah samping. Kecepatan perpindahan tubuh Panji Tejo Laksono langsung membuat Maharesi Padmanaba tersenyum lebar.
"Ajian Sepi Angin hehehehe..
Kau layak menjadi cucu menantu ku, Adipati Seloageng", Maharesi Padmanaba menjejak tanah dengan kaki kanan, memutar tubuhnya dan kembali menerjang ke arah Panji Tejo Laksono dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Panji Tejo Laksono terkejut juga melihat kecepatan tinggi sang pertapa tua. Buru-buru dia berusaha untuk mengambilnya jarak antara mereka dengan melompat mundur namun sang pertapa tua dari Pertapaan Gunung Mahameru itu tidak membiarkannya begitu saja. Dia segera mengejarnya dengan serangan cepat bertubi-tubi.
Whuuthhh whuuthhh..
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..
Blllaaaaaarrr !!
Ledakan keras terdengar saat kedua tapak tangan mereka berdua beradu. Panji Tejo Laksono terdorong mundur dua tombak jauhnya dari Maharesi Padmanaba sedangkan sang pertapa tua hanya mundur dua langkah saja. Ini membuktikan bahwa tenaga dalam Maharesi Padmanaba beberapa tingkat lebih tinggi dari Panji Tejo Laksono.
Melihat itu Panji Tejo Laksono segera mengerahkan Ajian Dewa Naga Langit untuk meningkatkan tenaga dalam milik nya. Tubuh Panji Tejo Laksono segera diliputi oleh aura merah sekilas yang menandakan bahwa tenaga dalam nya sudah meningkat menjadi berlipat ganda. Maharesi Padmanaba yang melihat perkembangan itu, semakin lebar senyum nya dan kembali melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dengan serangan cepatnya.
Pertarungan sengit antara mereka terus berlanjut. Meski Panji Tejo Laksono sudah mengerahkan Ajian Dewa Naga Langit nya, namun dia masih belum mampu mengimbangi tinggi nya tenaga dalam yang dimiliki oleh Maharesi Padmanaba. Beberapa kali, tubuh Panji Tejo Laksono harus terseret mundur usai beradu tenaga dalam dengan Maharesi Padmanaba.
Whuuussshh whhhuuuggghhhh..
Sementara itu, Dyah Kirana menonton pertarungan sengit antara Maharesi Padmanaba di tepi tanah lapang itu dengan harap-harap cemas. Di satu sisi dia ingin Maharesi Padmanaba memenangkan pertarungan tapi di sisi lain dia juga khawatir dengan keselamatan Panji Tejo Laksono karena tahu bahwa kakeknya adalah seorang yang sakti mandraguna.
Panji Tejo Laksono mendengus keras usai tubuhnya terdorong mundur usai beradu tenaga dalam tingkat tinggi dengan Maharesi Padmanaba. Rasa ingin cepat mengakhiri pertarungan dengan pertapa tua itu menyeruak ke dalam dadanya. Sejak awal pertarungan tadi, dia memang sedikit menahan diri untuk tidak melukai pertapa tua itu. Namun rasa lelah setelah pertarungan yang menguras tenaga dalam nya itu membuatnya tidak bisa bersabar lagi.
"Maharesi Padmanaba, maafkan jika aku terpaksa melukai mu", ujar Panji Tejo Laksono sembari merentangkan kedua tangannya.
"Coba saja Adipati Seloageng. Aku masih mampu meladeni permainan silat mu", Maharesi Tirtanata justru tersenyum. Ini semakin membuat Panji Tejo Laksono gusar. Segera hawa panas menyengat keluar dari dalam tubuh Panji Tejo Laksono. Hawa panas yang sanggup membuat percikan api ini dengan cepat menyebar ke seluruh tempat itu. Dyah Kirana yang berada di pinggir tanah lapang tempat pertarungan itu saja sampai harus mengerahkan tenaga dalam nya untuk bertahan dari hawa panas yang keluar dari tubuh Panji Tejo Laksono.
Tak tanggung-tanggung, Panji Tejo Laksono mengeluarkan Ilmu Sembilan Matahari tahap akhir yang bernama Sembilan Matahari Menyinari Dunia. Delapan bola sinar merah kekuningan keluar dari dalam tubuh Panji Tejo Laksono, kemudian berputar cepat membentuk lingkaran besar yang menyebarkan hawa panas yang menakutkan. Inilah adalah tahap puncak dari ilmu tenaga dalam tingkat tinggi yang mampu meleburkan apa saja yang di lalui nya. Maharesi Padmanaba terkesiap juga melihat kemampuan Panji Tejo Laksono. Pertapa tua itu segera komat-kamit merapal mantra ajian andalannya. Dia tidak boleh kalah kali ini.
"Maharesi Padmanaba, maafkan aku..
Sembilan Matahari Menyinari Dunia...
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat....!!!!"
Delapan bola sinar merah kekuningan berhawa panas yang berkumpul menjadi satu ikatan dalam lingkaran besar itu segera melesat cepat kearah Maharesi Padmanaba setelah Panji Tejo Laksono menghantamkan tangan kanannya ke arah sang pertapa tua.
Whhhuuuggghhhh !!
"Eyang Maharesi, awas...!!!", teriak Dyah Kirana yang melihat kakeknya sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri saat bola sinar merah kekuningan itu menuju ke arah nya. Namun teriakan Dyah Kirana sia-sia saja.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!!
__ADS_1
Ledakan dahsyat terdengar saat bola sinar merah kekuningan yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono menghantam telak tubuh Maharesi Padmanaba. Ledakan dahsyat itu terdengar hingga Pertapaan Ranja yang berjarak sekitar 1000 tombak jauhnya dari tempat itu. Asap tebal dan debu beterbangan menutupi seluruh tempat itu.
Panji Tejo Laksono menatap ke arah tempat Maharesi Padmanaba dengan tatapan mata penuh rasa bersalah. Meski nafasnya ngos-ngosan setelah mengeluarkan tenaga dalam yang begitu besar, namun sang pangeran muda dari Kadiri itu juga tidak bisa mengelak dari rasa bersalahnya karena sudah menghabisi nyawa seorang pertapa tua. Saat asap mulai mereda, terdapat sebuah pemandangan yang menakutkan. Panji Tejo Laksono melotot lebar melihat nya.
Sesosok makhluk menyeramkan yang mirip raksasa berkulit putih namun berukuran kecil seperti seorang manusia biasa keluar dari dalam tubuh Maharesi Padmanaba.
Satu..
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima...
Sepuluh makhluk menyeramkan itu muncul dari dalam tubuh Maharesi Padmanaba yang tengkurap di atas tanah. Mata mereka merah menyala seperti hendak menerkam mangsanya. Kesepuluh mahkluk itu segera melesat ke arah Panji Tejo Laksono.
Sadar bahwa dirinya tengah dalam bahaya, Panji Tejo Laksono segera hantamkan tapak tangan kanan nya ke arah mereka.
Whhhuuuggghhhh..
Blllaaammmmmmmm !!
Dua makhluk menyeramkan itu menjerit keras dan tubuhnya terpental dengan separuh badannya hancur terkena Ilmu Sembilan Matahari. Namun ada keanehan lain lagi yang terjadi. Dari 1 tubuh mahluk menyeramkan itu muncul 2 makhluk yang sama dan mereka langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Panji Tejo Laksono terus menghantamkan tapak tangan kanan nya yang di lambari Ilmu Sembilan Matahari kearah mereka. Namun bukannya berkurang tapi makhluk menyeramkan itu justru semakin bertambah banyak. Satu hancur, dua muncul. Setiap satu kematian makhluk menyeramkan itu, mereka akan menjadi dua dan begitu seterusnya. Meski sudah letih bertarung melawan mereka, Panji Tejo Laksono terus melepaskan sinar merah kekuningan Ilmu Sembilan Matahari yang dia miliki kearah mereka.
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr..
Blllaaammmmmmmm..!!!
Salah satu makhluk menyeramkan itu berhasil melihat celah pertahanan tubuh Panji Tejo Laksono yang terbuka karena sibuk terus-menerus melepaskan Ilmu Sembilan Matahari. Satu tendangan keras dari makhluk menyeramkan itu membuat tubuh Panji Tejo Laksono oleng, dan ini dimanfaatkan oleh para makhluk menyeramkan itu untuk menyerang maju ke Panji Tejo Laksono. Mereka dengan cepat mengeroyok tubuh Panji Tejo Laksono. Satu persatu mulai bergerak menimpa tubuh Panji Tejo Laksono hingga sang penguasa baru Kadipaten Seloageng ini terjatuh. Semakin Panji Tejo Laksono meronta hendak melepaskan diri, maka semakin erat makhluk menyeramkan berkulit putih ini merangkul semua bagian tubuh Panji Tejo Laksono hingga sang pangeran muda sampai kesulitan bernapas.
Saat Panji Tejo Laksono sudah dalam keadaan terjepit, Maharesi Padmanaba berjalan mendekati sang pangeran tertua di Kerajaan Panjalu itu sembari tersenyum simpul.
"Apa kau sudah mengakui kekalahan mu, Adipati Seloageng?", ucap Maharesi Padmanaba segera.
"Hosh hoossshhh a-aku mengaku kalah, Maharesi.. Aku mengaku kalah", ujar Panji Tejo Laksono segera. Mendengar jawaban itu, Maharesi Padmanaba tersenyum lebar. Mulut pertapa tua itu segera komat-kamit merapal mantra. Dalam sekejap mata, makhluk menyeramkan itu menghilang, masuk kembali ke dalam tubuh Maharesi Padmanaba dan Panji Tejo Laksono langsung menarik nafas lega karena lepas dari himpitan tubuh mereka. Panji Tejo Laksono segera duduk bersila di depan Maharesi Padmanaba yang berdiri di hadapannya.
"Sesuai dengan taruhan tadi, maka kau harus memenuhi semua keinginanku, Adipati Seloageng..
Kau tidak akan mengingkari janji mu bukan?", Maharesi Padmanaba menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang masih mengatur nafasnya.
"Bagi seorang ksatria, pantang bagi ku mengingkari janji yang telah ku ucapkan, Maharesi Padmanaba. Aku akan melakukan semua yang kau minta..", ujar Panji Tejo Laksono segera. Mendengar jawaban itu, Maharesi Padmanaba tersenyum lebar sembari menoleh ke arah Dyah Kirana yang tertunduk malu. Wajah cantik gadis itu memerah, antara menahan malu bercampur aduk dengan sesuatu yang membuat dadanya berdegup kencang.
"Kalau boleh aku tahu, ajian apa yang baru saja Maharesi Padmanaba keluarkan? Mengapa aku tidak bisa berkutik sama sekali saat menghadapi nya?", imbuh Panji Tejo Laksono sembari menatap wajah sepuh Maharesi Padmanaba.
Guru besar Pertapaan Gunung Mahameru itu tersenyum tipis mendengar pertanyaan Panji Tejo Laksono. Sembari menghela nafas tua nya, Maharesi Padmanaba berkata,
"Itu adalah ilmu kesaktian tiada tanding, Adipati Seloageng..
Ajian Chanda Bhirawa".
__ADS_1