
Panji Tejo Laksono segera bergegas menuju ke dekat api unggun yang sedang menjadi pusat perbincangan hangat antara mereka. Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg langsung menggeser posisi duduk mereka untuk memberi tempat bagi Panji Tejo Laksono.
"Pengelana dari jauh? Jawaban apa itu? Sebutkan daerah asal kalian dengan jelas", ucap Irawati sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang baru saja duduk. Pandangan mata gadis langsung terpaku beberapa saat setelah melihat ketampanan pemuda yang duduk di seberang perapian itu.
"Oh kalau itu yang di tanyakan, kami berasal dari wilayah Kadipaten Seloageng dan Kabupaten Gelang-gelang.
Kami ada keperluan ke Kalingga jadi juga nanti melewati Kadipaten Kembang Kuning juga", balas Panji Tejo Laksono segera.
"Kalau begitu kita searah. Bagaimana jika esok pagi kita berangkat bersama? Semakin banyak orang akan semakin aman perjalanan kita.
Aku dengar kasak kusuk yang kurang sedap belakangan ini. Ada beberapa pihak yang berambisi untuk menjadi pimpinan aliran putih, bekerjasama dengan beberapa perguruan golongan hitam untuk memuluskan rencana mereka.
Salah satunya adalah Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara dari Perguruan Pesisir Utara. Konon kabarnya dia bekerjasama dengan Perguruan Kelelawar Merah dan Perguruan Racun Kembang untuk mencegat siapapun yang di duga mendukung Resi Guru Jnanabajra dari Pertapaan Ungaran untuk menjadi pimpinan aliran putih. Aku dengar mereka telah bekerjasama menghabisi nyawa Mundinglaya dari Perguruan Lembah Kali Serayu yang mendukung Resi Guru Jnanabajra untuk maju sebagai pimpinan", ujar Begawan Suradharma sambil menghela nafas berat.
"Memang sampai begitu pentingnya jabatan pimpinan aliran putih hingga perlu bertaruh nyawa?
Apa mereka sudah gila?", sahut Demung Gumbreg seraya menjejalkan singkong bakar setengah gosong ke mulutnya.
"Bagi orang awam, itu memang tidak ada gunanya tapi bagi para pendekar, itu adalah kehormatan tertinggi. Bahkan Gusti Prabu Jayengrana dari Kadiri pun juga mendengar suara yang keluar dari bibir pimpinan kelompok persilatan aliran putih. Jadi bisa dikatakan bahwa menjadi pimpinan kelompok aliran putih itu sudah setara dengan mahamantri di istana negara meski tidak memiliki wewenang secara umum", Begawan Suradharma mengelus jenggotnya yang memutih.
Hemmmmmmm..
"Pantas saja kalau jadi rebutan begitu. Kalau Begawan Suradharma sendiri cenderung lebih memilih siapa untuk menjadi pimpinan aliran putih? Ki Gendar Pekik atau Resi Guru Jnanabajra?", Panji Tejo Laksono menyambung pembicaraan.
"Kalau secara pribadi, aku lebih mendukung Resi Guru Jnanabajra untuk maju sebagai pimpinan kelompok aliran putih. Karena dia arif dan bijaksana dalam bertindak. Sebagai sesepuh Pertapaan Gunung Ungaran, selain ilmu kedigdayaan nya yang tinggi, dia tidak pernah berbuat hal yang melanggar norma masyarakat maupun perilaku yang tidak pantas.
Sedangkan Ki Gendar Pekik alias Dewa Angin Utara lebih suka di sanjung dan di puji. Dia gila hormat dan ingin menonjolkan diri sendiri. Kadang sering berbuat hal yang keluar dari batas norma kependekaran yang sudah di tetapkan.
Karena itu jujur saja aku lebih condong kepada Resi Guru Jnanabajra untuk memimpin kedepannya ", jawab Begawan Suradharma sambil tersenyum tipis.
Malam itu hujan terus mengguyur sekitar tempat itu hingga pagi menjelang tiba.
Riuh kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa pagi telah tiba. Satu persatu burung mulai keluar dari sarangnya untuk bertarung melawan kerasnya kehidupan mencari makan bagi dirinya sendiri dan keluarganya.
Di pagi buta itu, beberapa peladang dan petani mulai melintas di jalan dekat tempat rombongan Panji Tejo Laksono bermalam. Meski jalanan becek dengan beberapa genangan air keruh kecoklatan tak menghalangi niat mereka untuk mengolah tanah dan ladang mereka. Beberapa pedagang juga mulai melintas mengangkut barang dagangan mereka yang berupa hasil bumi dan kerajinan menuju ke arah Kota Pakuwon Randublatung, dimana pasar hari ini di buka untuk sepekan sekali.
Nyi Kinanti sendiri telah berpamitan kepada Panji Tejo Laksono sebelum orang orang bangun dari tidurnya karena harus kembali ke tempatnya berdagang di tepi dermaga penyeberangan Jipang.
"Saya mohon pamit dulu, Gusti Pangeran. Saya harus kembali ke tempat saya karena Pangesti dan kawan-kawan nya pasti sudah menunggu kedatangan saya", ujar Nyi Kinanti dengan penuh hormat kepada Panji Tejo Laksono.
"Semoga di lain kesempatan kita masih bisa bertemu kembali, Nyi..
Terimakasih atas bantuan yang kau berikan. Aku tidak akan pernah melupakannya", jawab Panji Tejo Laksono segera.
Nyi Kinanti segera melompat ke atas kuda nya dan menggebrak hewan pelari itu menuju ke arah wilayah Jipang.
Setelah kepergian Nyi Kinanti, rombongan Panji Tejo Laksono pun mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan. Kini rombongan itu bertambah besar dengan tambahan Begawan Suradharma, Irawati dan Sujiwa.
Mereka segera memacu kudanya menuju ke arah Kota Pakuwon Randublatung. Air yang menggenang di jalanan terciprat saat kaki kuda mereka mereka menjejak nya.
Setelah mengisi perut sebentar di sebuah warung makan di Kota Pakuwon Randublatung, rombongan itu segera meneruskan perjalanan nya ke arah barat. Wanua demi Wanua mereka lewati hingga sampai di batas wilayah Pakuwon Randublatung dengan wilayah Pakuwon Karangnongko. Di persimpangan jalan Wanua Pandanarum, mereka berbelok ke kiri menuju wilayah Pakuwon Karangnongko.
Hingga menjelang matahari di atas kepala, rombongan itu telah memasuki wilayah Kota Pakuwon Karangnongko dari arah Utara.
"Sebaiknya kita beristirahat di Kota Pakuwon Karangnongko ini, Kisanak..
Kawan perempuan mu baru saja sembuh, tidak baik jika kita memaksakan diri untuk terus bergerak. Aku punya kawan yang tinggal di Utara kota ini, jadi sebaiknya kita kesana", ajak Begawan Suradharma pada Panji Tejo Laksono yang berkuda di samping nya. Mendengar itu, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Luh Jingga yang berkuda sendiri di belakangnya. Meski sudah membaik, tapi bibir pucatnya menandakan bahwa dia masih harus banyak istirahat.
__ADS_1
"Aku ikut saja, Begawan. Silahkan pimpin jalan", jawab Panji Tejo Laksono segera.
Mendapat persetujuan dari Panji Tejo Laksono, Begawan Suradharma segera mengarahkan rombongan itu ke sebuah perguruan silat yang ada di tepi Utara Kota Pakuwon Karangnongko.
Di depan pintu gerbang megah yang bertuliskan nama "Perguruan Tapak Suci", Begawan Suradharma menghentikan langkah kaki kuda nya.
Di dunia persilatan Tanah Jawadwipa, selain Padepokan Padas Putih terdapat 5 perguruan silat golongan putih lainnya yang cukup disegani. Salah satu diantaranya adalah Perguruan Tapak Suci dari Pakuwon Karangnongko. Jumlah murid yang belajar di perguruan silat itu mencapai ratusan orang yang datang dari berbagai wilayah di Kerajaan Panjalu, Jenggala bahkan hingga ke Tatar Pasundan.
Perguruan Tapak Suci sendiri di pimpin oleh Resi Linggajati yang memiliki 4 murid yaitu Ki Galungan, Woro Mundi, Mpu Lumana dan Nyi Rukmaseta. Masing masing dari lima murid inilah yang bertugas untuk membimbing para murid Perguruan Tapak Suci hingga mereka menjadi pendekar dan para prajurit di wilayah Kadipaten Kembang Kuning.
Dua orang penjaga gerbang perguruan yang bertugas segera menghadang langkah Begawan Suradharma setelah turun dari kudanya.
"Mau apa kau kemari, Kisanak? Tidak semua orang di ijinkan masuk ke dalam Perguruan Tapak Suci", ujar si penjaga gerbang sembari memandang ke arah Begawan Suradharma dengan tatapan penuh selidik.
"Aku Begawan Suradharma, dari Bojonegoro.
Ingin menemui kawan lama ku, Resi Linggajati", balas Begawan Suradharma sambil tersenyum tipis.
"Mahaguru Linggajati sedang melakukan tapa brata. Silahkan datang lain waktu. Silahkan kalian pergi dari tempat ini", ucap si penjaga gerbang dengan acuh tak acuh.
"Sombong sekali kau!
Guru ku jauh jauh datang kemari untuk menemui Resi Linggajati. Apa begini cara orang orang Perguruan Tapak Suci memperlakukan tamu yang datang dari jauh?", Irawati geram dengan ulah si penjaga gerbang yang sombong itu.
"Tutup mulut mu, gadis ******!
Aku sudah memberitahu baik baik kau malah menantang kami. Kau harus di beri pelajaran", ucap si penjaga gerbang itu yang segera melesat ke arah Irawati sambil menghantamkan tangan kanannya.
Whuuthhh!
Bhhuukh! Bhhuukh!!
Oouugghhhh!
Si penjaga gerbang itu melengguh keras dan jatuh terduduk ke arah belakang. Melihat kawannya di jatuhkan, penjaga gerbang yang lain dengan cepat menerjang maju ke arah Irawati. Dua serangan tapak beruntun di layangkan pada murid Begawan Suradharma itu.
Whuuthhh! Whuuthhh!
Irawati dengan cepat berkelit menghindar. Dengan segera pertarungan sengit antara mereka terjadi di depan gerbang Perguruan Tapak Suci.
Si penjaga gerbang yang di jatuhkan oleh Irawati tadi dengan cepat melompat ke arah kentongan yang ada di dekat pintu gerbang. Segera dia memukul nya berulang kali sebagai tanda bahwa ada bahaya.
Tak berselang lama kemudian, puluhan murid Perguruan Tapak Suci keluar dari dalam pagar perguruan. Mereka dengan cepat menerjang maju ke arah rombongan Panji Tejo Laksono.
Saat yang bersamaan, sebuah bayangan berkelebat cepat dan melayangkan serangan tapak ke arah Irawati yang baru saja menjatuhkan lawannya.
Begawan Suradharma langsung melesat cepat dan memapak serangan itu dengan tapak tangan kanannya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi.
Blllaaaaaarrr!!!
Si bayangan itu terpelanting mundur. Namun dengan cepat ia menguasai dirinya dan bersalto lalu mendarat di tanah. Para murid Perguruan Tapak Suci langsung tahu bahwa si bayangan hitam itu adalah Ki Galungan, murid pertama Resi Linggajati.
Hemmmmmmm..
'Kakek tua ini tidak boleh dianggap remeh. Tapak Suci tingkat lima ku dengan mudah dia tahan. Aku tidak boleh ceroboh', batin Ki Galungan.
"Maaf Kisanak,
__ADS_1
Ada maksud apa kau membuat onar di tempat kami? Tolong jelaskan pada ku", ujar Ki Galungan dengan cepat.
"Siapa yang ingin ribut? Awalnya guru ku hanya ingin bertemu dengan pimpinan perguruan kalian tapi si keparat itu malah mengusir kami seperti mengusir lalat", sahut Irawati dengan cepat.
"Irawati, jaga sopan santun mu..
Yang di katakan murid ku benar Kisanak. Aku Begawan Suradharma ingin bertemu dengan kawan lama ku, Resi Linggajati. Tapi murid mu malah bersikap tidak sopan lalu menyerang kami. Apa salah kami membela diri?", ucap Begawan Suradharma sambil menghela nafas.
"Begawan Suradharma? Tapak Naga dari Bukit Walang?
Oh Jagat Dewa Batara, maafkan kelancangan murid Perguruan Tapak Suci, pendekar besar. Kami persilahkan untuk masuk ke dalam. Mahaguru Linggajati sudah selesai melakukan tapa semedi nya. Silahkan masuk", ujar Ki Galungan dengan sopan.
"Eh tunggu Begawan Suradharma,
Mereka ini siapa? Apakah mereka juga murid mu?", imbuh Ki Galungan sambil menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya yang masih berdiri mematung di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun.
"Mereka bukan murid ku tapi mereka kawan seperjalanan ku yang mau ke Kalingga. Aku yang mengajak mereka untuk meminta tempat pada kalian untuk beristirahat sebentar sebelum kami melanjutkan perjalanan", jawab Begawan Suradharma.
"Kawan Tapak Naga dari Bukit Walang berarti juga kawan Perguruan Tapak Suci. Mari silahkan semuanya aku antar menemui guru ku".
Usai berkata demikian, Ki Galungan segera melangkah masuk ke dalam Perguruan Tapak Suci diikuti oleh Begawan Suradharma dan kedua muridnya. Rombongan Panji Tejo Laksono mengekor di belakangnya.
Seorang lelaki sepuh berjenggot lebat bertubuh kurus tapi terlihat berotot nampak duduk bersila di lantai sebuah rumah besar yang ada di tengah Perguruan Tapak Suci. Wajahnya yang sepuh keriput dengan bibir yang terus membacakan mantra puja dewa, di tambah dengan pakaian nya yang serba putih seperti seorang pertapa terlihat begitu berwibawa. Mata lelaki sepuh yang terpejam itu nampak terbuka setelah mendengar suara Ki Galungan yang menghadap pada nya.
"Guru,
Begawan Suradharma dari Bojonegoro ingin bertemu dengan mu".
Mendengar perkataan itu, senyum terukir di wajah sepuh Resi Linggajati, sang Mahaguru Perguruan Tapak Suci. Segera dia menyambar tongkat kayu nya dan melesat cepat kearah Begawan Suradharma yang masih berdiri di halaman. Resi Linggajati langsung mengayunkan tongkat kayu nya kearah kepala Begawan Suradharma.
Whhhhuuuuggghhh!!
Angin kencang menderu tajam berbarengan dengan hantaman tongkat kayu Resi Linggajati. Lelaki tua itu tersenyum tipis sembari berkelit menghindari gebukan tongkat kayu yang mengincar kepala nya. Melihat serangan nya menghajar udara kosong, Resi Linggajati langsung merubah gerakan tubuhnya dan dengan cepat menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna biru kearah dada Begawan Suradharma.
Tanpa ragu, Begawan Suradharma langsung menyambut kedatangan serangan Resi Linggajati sambil memapak gerakan sang pimpinan Perguruan Tapak Suci dengan tangan kiri nya yang sudah di lambari Ajian Tapak Naga Bumi.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras terdengar saat dua tapak tangan kiri mereka berdua beradu. Baik Resi Linggajati maupun Begawan Suradharma terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
"Hahahaha..
Tak ku sangka, sekian lama tak bertemu kau masih hebat juga seperti dulu Suradharma", ujar Resi Linggajati sembari tertawa lepas.
"Kau juga masih tangguh seperti dulu, kawan lama", balas Begawan Suradharma sambil tersenyum lebar.
"Hehehe..
Ayo kita masuk ke dalam rumah ku. Galungan, siapkan makanan untuk kawan lama ku ini segera. Jangan bikin malu", perintah Resi Linggajati sembari melangkah masuk ke dalam serambi kediaman nya diikuti oleh Begawan Suradharma.
Demung Gumbreg yang melihat cara mereka bersahabat, hanya geleng-geleng kepala. Tumenggung Ludaka yang ada di dekat nya, segera mendekati kawan karibnya itu.
"Kau kenapa Mbreg? Sakit leher mu?", tanya Tumenggung Ludaka segera. Demung Gumbreg mengelus dagunya sambil berkata,
"Cara penyambutan tamu yang aneh.
Mereka berdua sama gilanya".
__ADS_1