
"Lapor pimpinan,
Orang yang merusak rencana kita adalah seorang utusan dari Kadiri. Orang itu memiliki lencana emas bergambar Candrakapala", ujar Wasesodirjo alias Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut itu sembari membungkuk hormat kepada lelaki berbaju hitam bersulam benang merah yang memakai topeng besi separuh wajah yang ada di hadapannya.
"Lencana emas bergambar Candrakapala?
Bangsat ! Itu adalah tanda kerabat dekat Istana Kadiri. Bagaimana bisa pihak istana Kotaraja ikut campur dalam urusan dunia persilatan? Hemmmmmmm, ini tidak bisa di biarkan begitu saja.
Aku sudah capek-capek membujuk Dewi Kenanga dengan mengorbankan banyak gadis sebagai tumbal ritual ilmu hitam nya. Pun untuk si tua Kelelawar Goa Neraka aku sudah mengeluarkan ratusan kepeng emas agar dia bersedia berpura-pura mau bekerjasama dengan Si bodoh Gendar Pekik itu.
Apa ini akan sia-sia belaka? Tidak .. Ini tidak boleh terjadi", ucap lelaki bertubuh kekar dengan cepat.
"Lantas apa rencana kita selanjutnya?
Tidak mungkin juga kita mencegat rombongan utusan dari Kadiri itu juga bukan?", Wasesodirjo menatap ke arah lelaki gempal berbaju hitam berbenang merah itu.
Hemmmmmmm..
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari lelaki bertubuh gempal itu. Nampak dia tengah berpikir keras yang di tandai dengan dahinya yang mengernyit.
Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di kepala nya. Dia langsung tersenyum lebar.
"Kalau kita tidak bisa mengganggu nya, maka biarkan orang lain yang melakukan nya.
Wasesodirjo,
Kau hubungi Setan Gendeng di Lembah Kali Serang. Minta dia untuk menghajar si Utusan Istana Kadiri itu. Berangkatlah sekarang juga", si lelaki bertubuh gempal berbaju hitam itu segera merogoh kantong baju dan mengeluarkan sekantong kepeng emas yang berjumlah sekitar 50 kepeng. Segera dia melemparkan kantong kain berwarna hitam itu ke arah Wasesodirjo.
Dengan sigap, Wasesodirjo segera menangkap kantong kain berwarna hitam itu kemudian memasukkan ke balik bajunya.
"Itu uang panjar untuk nya. Jika dia berhasil, akan ku tambah dua kali lipat.
Berangkatlah sekarang", perintah lelaki bertubuh gempal yang segera berbalik badan. Dari balik topeng besi nya dia melirik ke arah Wasesodirjo.
"Baik pimpinan", Wasesodirjo segera membungkuk hormat kepada lelaki bertopeng besi itu lalu berjalan bungkuk meninggalkan tempat itu.
Begitu Wasesodirjo pergi, lelaki bertubuh gempal itu segera meraih topeng besi dan membuka nya.
Wajah seorang lelaki tampan dengan kumis tipis muncul dari balik topeng besi itu. Pakaian penyamaran nya segera di buka dan dengan cepat ia berubah menjadi seorang bangsawan dengan mahkota emas khas bangsawan di kepalanya.
Dia adalah Raden Sindupati.
Putra Adipati Kembang Kuning yang memiliki impian untuk menghancurkan aliran putih karena dendam atas kematian gurunya, Danghyang Guruminda yang terbunuh oleh Maharesi Purnamasidi. Waktu itu, Danghyang Guruminda menantang Maharesi Purnamasidi untuk merebut gelar pimpinan kelompok aliran putih yang di pegang oleh Maharesi Purnamasidi. Namun bukannya dapat gelar yang diinginkan, Danghyang Guruminda justru tewas di tangan Maharesi Purnamasidi. Dari tempat pertarungan di Lembah Hulu Wulayu, Raden Sindupati menggendong mayat Danghyang Guruminda pulang ke Kembang Kuning lalu membuat upacara penyucian jiwa.
Saudara saudara seperguruan Danghyang Guruminda sendiri justru tidak mau membalaskan kematian guru Raden Sindupati itu, bahkan mereka menyalahkan Danghyang Guruminda yang terlalu besar berambisi meski Raden Sindupati sudah memohon kepada mereka untuk turun tangan.
Semenjak saat itu, Raden Sindupati dendam dengan seluruh pendekar aliran putih. Satu persatu saudara seperguruan gurunya di habisi dengan menyewa para pendekar aliran hitam.
Setelah mereka habis, Raden Sindupati merencanakan hal yang lebih besar yakni memecah belah persatuan para pendekar aliran putih dengan memanfaatkan kematian Maharesi Purnamasidi sebagai alat untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Dia membayar mahal pimpinan Perguruan Kelelawar Merah, Waisakti alias Kelelawar Goa Neraka untuk mau membantu memuluskan rencana nya. Bahkan dia juga mencarikan gadis muda sebagai tumbal ritual sesat bagi Dewi Kenanga agar mau bekerjasama dengan nya. Tujuannya hanya satu, menghancurkan aliran putih dari dalam. Dia memanfaatkan keserakahan Wasesodirjo yang gila dengan uang sebagai mata-mata di dalam kelompok aliran putih. Setelah mereka terpecah belah, satu persatu para pendekar aliran putih akan dihabisi nya.
Namun saat rencananya telah berjalan setengah, datang nya Utusan Istana Kadiri benar benar mengacaukan segalanya.
'Akan ku hancurkan semua yang menghalangi tujuan ku', batin Raden Sindupati sembari melangkah meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut menggunakan ilmu meringankan tubuh nya melesat cepat diantara pepohonan yang tumbuh subur di kaki Gunung Damalung menuju ke arah timur laut di mana Lembah Kali Serang berada.
Setelah berlari hampir setengah hari, menjelang senja Wasesodirjo alias Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut sampai di sebuah pondok kayu yang berdiri di tengah Lembah Kali Serang yang menghijau.
Sinar merah kekuningan cahaya senja semakin menambah keindahan tempat itu. Bukit bukit yang memagari sekeliling tempat itu terlihat menjulang tinggi seperti menembus langit. Ratusan ekor kelelawar nampak beterbangan keluar dari sarangnya untuk mencari makan.
Meski tempat itu indah tak semua orang berani melewati tempat itu karena ada satu orang pendekar golongan hitam yang tersohor di tempat itu. Meski kadang tak mengganggu siapa pun, namun jika kumat penyakit gila nya, dia tak segan segan untuk membantai siapapun yang melintas di Lembah Kali Serang tanpa terkecuali. Dia di juluki sebagai Setan Gendeng.
Wasesodirjo mengetuk pintu pondok kayu itu segera.
__ADS_1
Thok thookkk thok !!
Kriiieeeeetttttth !
Seorang lelaki berusia sekitar 4 dasawarsa nampak keluar dari dalam pondok kayu setelah pintu terbuka. Wajahnya tak jelas karena sebagian tertutup rambut yang di gelung asal-asalan dengan kain berwarna merah. Apalagi di tambah kumisnya yang tebal dan jambang lebat yang tak di rapikan sama sekali semakin membuat wajah lelaki itu terlihat menakutkan. Pun sorot matanya yang tajam seperti mata seekor harimau membuat lelaki bertubuh gempal itu mampu menebarkan ancaman tersendiri bagi siapapun yang ada di dekat lelaki bertubuh gempal itu.
Lelaki berpakaian hitam lusuh compang camping itu menatap tajam ke arah Wasesodirjo sebelum membuka mulutnya.
"Ada perlu apa kau kemari, Bongkok?".
"Maaf mengganggu waktu mu, Dirgananda", jawab Wasesodirjo menyebut nama asli Setan Gendeng.
"Aku kemari atas suruhan Topeng Besi.
Ada tugas untuk mu", imbuh Wasesodirjo sembari merogoh kantong kain berwarna hitam dari balik bajunya.
"Huhh rupanya sekarang kau menjadi kacung dari pengecut itu..
Cepat katakan pada ku, tugas apa yang diberikan oleh si pengecut Topeng Besi itu untuk ku, Bongkok? Jangan bertele-tele. Lama lama melihat mu disini, kau semakin membuat ku ingin menghabisi nyawa mu", balas Dirgananda dengan keras.
"Topeng Besi ingin kau membunuh seorang lelaki muda yang akan melewati jalan besok menuju ke arah Kadipaten Kembang Kuning. Dia adalah utusan dari Kadiri.
Ini uang panjar untuk tugasmu", Wasesodirjo segera melemparkan sekantong kepeng emas yang di berikan oleh Raden Sindupati ke arah Dirgananda alias Setan Gendeng dari Lembah Kali Serang.
Dengan cepat Setan Gendeng menangkap kantong kain berwarna hitam itu lalu segera menimang-nimang kantong kain berisi kepeng emas.
"Kalau kau berhasil melaksanakan tugas mu dengan baik, Topeng Besi akan memberikan 2 kali lipat dari jumlah yang kau terima sekarang", imbuh Wasesodirjo segera.
Hemmmmmmm...
"Akan ku terima tugas dari si pengecut itu. Tapi kalau sampai dia berani ingkar dengan sisa bayaran nya, aku tidak akan segan segan untuk memotong lehernya tanpa bayaran sekalipun", balas Dirgananda dengan keras.
Mendengar jawaban itu, Wasesodirjo tersenyum tipis.
"Kau tidak perlu khawatir urusan itu, Topeng Besi bukan orang yang suka ingkar janji.
Setelah kepergian Wasesodirjo, Setan Gendeng segera masuk ke dalam pondok kayu sembari menurunkan sebuah golok besar yang terletak di dinding kayu. Segera dia memegang gagang benda tajam berukir kepala naga pada gagangnya.
"Besok kau akan minum darah lagi", ucap Setan Gendeng sambil mengelus bilah golok besar itu sambil menyeringai lebar.
Malam turun menyelimuti seluruh permukaan bumi. Cahaya bulan yang ada di langit barat begitu lembut menyapa.
Di bangunan utama Padepokan Pedang Awan, di adakan jamuan makan bersama. Sebagian besar para pimpinan perguruan silat hadir disana untuk menyambut pimpinan kelompok aliran putih yang baru, Resi Guru Jnanabajra.
Berbagai hidangan di suguhkan. Seekor rusa yang di sembelih di jadikan sebagai makanan utama selain ayam dan telur. Pelbagai minuman juga turut di sajikan seperti twak (tuak), siddhu (arak) dan cinca (sirup).
Udara dingin lereng Gunung Damalung sangat cocok untuk menikmati twak dan siddhu bagi yang suka. Panji Tejo Laksono yang kurang suka dengan dua minuman itu, mau tak mau harus ikut menenggak minuman keras itu untuk menghargai orang yang ada di sekitar nya. Alhasil sang pangeran muda mabok dan terpaksa kembali ke tempat khusus yang di sediakan untuknya. Gayatri dan Luh Jingga pun harus memapah Panji Tejo Laksono ke arah kamar tidur.
"Duh Denmas Panji, kalau tidak kuat minum arak kenapa memaksakan diri untuk menemani para pendekar itu?", omel Gayatri sembari memapah tubuh Panji Tejo Laksono yang sempoyongan.
"Kau itu jangan cerewet, Gayatri..
Aku harus menjalin hubungan baik dengan para pendekar itu. Mabuk sedikit tidak apa-apa. Kau jangan ngomel saja seperti istri ku", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis. Wajahnya memerah karena pengaruh alkohol dalam arak yang di minum nya.
"Gayatri benar, Denmas..
Sudah tau tidak kuat minum arak, masih juga keras kepala ikut minum", Luh Jingga ikut bicara.
"Kau juga jangan ikut campur dalam urusan ku, dasar perempuan cerewet..
Kau ini.."
Huuuuooogggghhh..!!
Panji Tejo Laksono muntah muntah. Baju bagus Gayatri kena muntahan. Perempuan cantik itu langsung marah besar.
__ADS_1
"Denmas Panji, kenapa kau muntah di pakaian ku? Ihhh ini menjijikan", gerutu Gayatri sambil berusaha untuk membersihkan bajunya.
"Sebaiknya kau ganti baju dulu Gayatri, biar aku yang mengantar Denmas Panji ke kamarnya", ucap Luh Jingga yang langsung membuat Gayatri mengangguk mengerti. Perempuan cantik itu segera kembali ke tempat peristirahatan nya untuk berganti baju sedangkan Luh Jingga mengantar Panji Tejo Laksono ke kamar nya.
Meski sedikit keberatan memapah tubuh Panji Tejo Laksono yang tegap, akhirnya Luh Jingga berhasil sampai di atas ranjang pembaringan. Saat Luh Jingga hendak keluar dari kamar, tangan Panji Tejo Laksono mencekal lengan nya.
"Mau kemana? Disini saja temani aku tidur", ucap Panji Tejo Laksono dengan tatapan mata sayu.
"Denmas sedang mabok. Sebaiknya cepat tidur", jawab Luh Jingga sambil berusaha untuk melepaskan diri dari cekal tangan sang pangeran muda. Namun bukannya melepaskan, Panji Tejo Laksono justru menarik lengan Luh Jingga dan mendekap erat pinggang nya yang ramping.
"Ehh Denmas Panji mau apa? Jangan seperti ini Denmas", berdebar kencang jantung Luh Jingga saat tubuh nya bersentuhan dengan Panji Tejo Laksono.
Tanpa menjawab pertanyaan Luh Jingga, Panji Tejo Laksono langsung menarik tubuh Luh Jingga dan perempuan cantik itu jatuh di atas pembaringan. Dengan cepat Panji Tejo Laksono segera mencium bibir Luh Jingga. Gerak cepat itu membuat Luh Jingga gelagapan. Awalnya dia ingin menolak, namun sentuhan Panji Tejo Laksono tidak mampu dia tolak.
Satu persatu pakaian mereka lepaskan. Selanjutnya hanya terdengar suara dengusan nafas penuh nafsu birahi membara beserta rintihan dari bibir Luh Jingga.
Selepas Panji Tejo Laksono menuntaskan birahinya, tiba-tiba Gayatri yang baru selesai berganti baju masuk ke dalam kamar tidur Panji Tejo Laksono yang terbuka pintunya.
"Luh Jingga!
Apa yang kau lakukan??!"
Teriakan Gayatri langsung membuat Luh Jingga terkejut. Perempuan cantik itu langsung menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun.
Gayatri segera menutup pintu kamar tidur Panji Tejo Laksono agar tidak ada orang yang masuk. Lalu berjalan mendekati ranjang dimana Panji Tejo Laksono yang masih tanpa busana tersenyum simpul menatap wajah cantik nya. Pengaruh arak rupanya masih belum hilang dari kepala sang pangeran muda.
"Maafkan aku, Gayatri..
Aku tidak kuasa menolak Denmas Panji", ucap Luh Jingga sambil menundukkan wajahnya. Dia benar-benar merasa bersalah.
"Kau ini benar-benar keterlaluan ya..
Gampang sekali kau berikan tubuh mu pada Denmas Panji. Apa kau ini tidak bisa menahan diri?", kesal Gayatri dengan kejadian yang terjadi di depan mata nya.
Mendengar omelan Gayatri, Panji Tejo Laksono yang masih dalam pengaruh minuman keras langsung menarik tangan Gayatri. Begitu Gayatri terjatuh di atas pembaringan, dengan cepat Panji Tejo Laksono mencium bibir nya. Sama seperti Luh Jingga, malam itu Gayatri menyerahkan kesuciannya pada Panji Tejo Laksono.
Suara kokok ayam jantan bersahutan menyambut kedatangan sang pagi. Langit timur perlahan mulai terang yang menandakan bahwa sang Surya sebentar lagi akan muncul di ufuk timur.
Panji Tejo Laksono mengusap matanya. Rasa pusing masih menggelayut di kepalanya akibat kebanyakan minum minuman keras tadi malam.
Sang pangeran muda itu seketika sadar saat melihat Luh Jingga dan Gayatri tengah terlelap sembari memeluk tubuh nya di kanan dan kiri. Secepat kilat, ingatan kejadian semalam melintas di kepala nya. Seketika dia langsung menggerakkan tubuhnya karena khawatir Gayatri dan Luh Jingga akan marah besar atas kejadian semalam.
Gayatri dan Luh Jingga membuka mata mereka saat merasakan Panji Tejo Laksono bergerak.
"Denmas Panji sudah bangun?", tanya Luh Jingga sambil menguap lebar.
"Su-sudah baru saja. Maafkan aku sudah berbuat hal itu dengan kalian. Sungguh aku dalam pengaruh minuman keras tadi malam.
A-aku akan bertanggungjawab atas perbuatan ku", Panji Tejo Laksono gugup dalam situasi seperti ini.
"Semua sudah terjadi Denmas..
Aku tidak menyesal karena telah sampai berhubungan badan dengan Denmas. Asal Denmas bertanggung jawab, bagi ku itu sudah cukup", Gayatri tersenyum penuh arti.
"Aku sependapat dengan Gayatri, Denmas..
Toh semalam aku juga tidak mampu menolaknya karena aku sayang dengan Denmas", timpal Luh Jingga sambil mengelus dada bidang sang pangeran.
Panji Tejo Laksono menarik nafas lega mendengar jawaban dua orang perempuan cantik yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Pagi itu, setelah perjamuan makan, rombongan Panji Tejo Laksono undur diri sekaligus berpamitan kepada Resi Mpu Wasista selaku pimpinan Padepokan Pedang Awan. Tak lupa Panji Tejo Laksono juga berterimakasih kepada Resi Linggajati juga Begawan Suradharma yang sudah menemani perjalanan nya hingga ke Gunung Damalung.
Nalayana dan para murid Perguruan Naga Langit yang juga ikut undur diri, menyertai langkah sang pangeran muda meninggalkan Padepokan Pedang Awan.
Mereka menuruni lereng Gunung Damalung menuju ke arah Utara. Tujuan mereka kini hanya satu.
__ADS_1
Kadipaten Kembang Kuning.