Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Orang-orang Wanua Karang Pulut


__ADS_3

Siang itu, Panji Manggala Seta yang sedang mencari beberapa tumbuhan obat untuk keperluan pembuatan obat nya tak sengaja sampai di dekat Telaga Mendalam yang menjadi tempat perkemahan besar para prajurit Jenggala.


Melihat jamur api yang sudah dia cari selama berhari-hari di seputar perbatasan wilayah Hantang dan Gunung Hitam, mata Panji Manggala Seta langsung berbinar binar seketika saat melihat beberapa jamur api atau jamur brama tumbuh di bawah pangkal pohon randu alas yang mati menua.


Namun saat hendak mengambil jamur jamur itu, ada sesuatu yang menghalangi pandangan mata Panji Manggala Seta. Sebuah tabir tak kasat mata yang membingungkan siapapun yang ingin memasuki wilayah nya.


Sebagai murid Begawan Mandrakumara dari Pertapaan Harinjing yang di juluki sebagai Dewa Obat Segala Penyakit, tentu saja Panji Manggala Seta sudah di ajari semua cara yang harus dilakukan untuk menghadapi masalah seperti ini. Karena pada dasarnya, beberapa jenis tumbuhan obat yang memiliki kemampuan penyembuhan istimewa pasti ada sesuatu yang menjaga di tempat nya.


Mulut sang pangeran muda dari Kadiri ini langsung komat-kamit membaca mantra. Sebentar saja dia sudah melewati tabir pelindung gaib yang sempat menghalangi nya. Putri Dewi Srimpi atau Dewi Sasikirana, sang selir ketiga Prabu Jayengrana itu langsung tersenyum lebar ketika berhasil mendekati tumbuhan obat yang selama ini di carinya.


Namun senyuman di wajah tampan Panji Manggala Seta langsung menghilang begitu melihat pemandangan yang terpampang di seberang Telaga Mendalan. Puluhan ribu prajurit Jenggala nampak sedang sibuk menata ratusan tenda tempat mereka bermalam.


'Hemmmmmm...


Jadi ini penyebab utama tabir pelindung gaib terpasang di tempat ini. Aku harus segera melaporkan ini pada pihak istana Daha agar segera bersiap untuk berperang.


Aku juga akan mengabari Kangmas Tejo Laksono di Seloageng', batin Panji Manggala Seta.


Segera dia memunguti beberapa jamur api atau jamur brama dengan hati-hati dan memasukkan nya ke dalam keranjang bambu di punggungnya lalu kemudian dia segera keluar dari dalam tabir pelindung gaib yang di pasang oleh Begawan Mpu Supa dan adiknya Resi Sempati itu. Menggunakan Ajian Langkah Kelabang Sewu yang di pelajari dari sang ibunda, Panji Manggala Seta melesat cepat meninggalkan tempat itu. Gerakan tubuhnya yang ringan dan lincah, membuat nya serasa terbang di atas tanah.


Hanya dalam waktu 10 tarikan nafas saja, dia sudah sampai di sebuah perkampungan kecil yang terletak di antara Pakuwon Kepung dan Pakuwon Kunjang.


Tempat itu dulu adalah tempat tinggal sekaligus makam Mondhosio alias Kelabang Koro, ayah angkat yang juga menjadi guru Dewi Srimpi. Setelah Dewi Srimpi di boyong ke Istana Katang-katang, pengelolaan kampung kecil itu di serahkan kepada Mpu Tolu, sang abdi setia Kelabang Koro. Prabu Jayengrana menganugerahkan tanah sima kepada penduduk perkampungan kecil yang di beri nama Wanua Karang Pulut itu hingga masyarakat yang menghuni nya bisa hidup makmur dan tidak menjadi penjahat lagi.


Sepekan terakhir ini, Panji Manggala Seta menempati rumah lama Dewi Srimpi yang bertahun-tahun lamanya di kosongkan saja untuk menghormati sang pendiri perkampungan kecil itu. Mpu Tolu terus merawat rumah itu meski dia tidak menempati nya. Saat tahu bahwa putra Dewi Srimpi datang dan mau tinggal sementara waktu di rumah itu, Mpu Tolu sangat senang sekali.


Panji Manggala Seta yang sedang mencoba mencari obat penawar racun tingkat tinggi, menggunakan rumah lama Dewi Srimpi sebagai tempat untuk mencoba berbagai racikan obat yang di buatnya.


Tapi kali ini, tak seperti biasanya yang selalu memeriksa setiap hasil pencarian tumbuhan obat nya setelah sampai di rumah, Panji Manggala Seta langsung meletakkan keranjang bambu di punggungnya pada dekat dipan kayu di beranda rumah nya. Pemuda tampan itu segera bergegas menuju ke arah kediaman Mpu Tolu yang bersebelahan dengan rumah itu.


Melihat kedatangan Panji Manggala Seta, Mpu Tolu segera menyambut kedatangan nya.


"Nakmas Pangeran,


Kog tidak biasanya baru datang langsung ke tempat ku? Ada apa Nakmas Pangeran?", Mpu Tolu sedikit keheranan dengan sikap Panji Manggala Seta.


"Ki Lurah Mpu Tolu..


Pinjamkan aku dua merpati surat mu. Ada hal penting yang harus segera aku kabarkan kepada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana dan Kangmas Tejo Laksono. Cepatlah, ini mendesak", ucap Panji Manggala Seta segera.


Meski tidak mengerti maksud dari ucapan Panji Manggala Seta, Mpu Tolu segera bergegas menuju ke arah samping rumah nya. Kebetulan saja, ada dua ekor merpati surat yang ada di dalam sangkar di kandang samping kediaman nya.


Segera Panji Manggala Seta merobek kain putih menjadi dua bagian lalu menulis beberapa kata di atasnya. Setelah Mpu Tolu datang, sang putra Dewi Srimpi ini segera mengikatkan surat itu ke kaki sang burung merpati. Dua ekor burung pembawa berita ini segera terbang ke arah barat dan selatan.


Mpu Tolu yang tidak dapat menahan diri lagi untuk rasa penasarannya, langsung bertanya kepada sang pangeran muda dari Kadiri.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Nakmas Pangeran? Kenapa kau sepertinya sedang gugup begitu?".


Hemmmmmmm...


"Begini Ki Lurah.. Aku baru saja melihat puluhan ribu orang prajurit Jenggala berkemah di samping Telaga Mendalan. Sepertinya mereka berencana untuk menyerang Kotaraja Kadiri.

__ADS_1


Ini sangat berbahaya bagi kerajaan kita. Karena pasukan Panjalu sedang di bagi ke Utara dan Selatan. Hanya sedikit prajurit saja yang mempertahankan ibukota. Kalau sampai aku tidak segera mengabarkan berita ini, takutnya Kerajaan Panjalu akan musnah karena tidak siap dengan serangan mendadak ini", jawab Panji Manggala Seta segera.


Kaget Mpu Tolu mendengar jawaban itu. Dia yang pernah bertarung bersama dengan Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana melawan Gerombolan Perampok Gunung Hitam yang di pimpin oleh Dewa Rampok itu langsung menggelegak darahnya. Walaupun tak semuda dan sekuat kala itu, tapi kecintaan nya pada negeri ini tidak pernah berubah.


"Itu tidak bisa di biarkan begitu saja, Nakmas Pangeran..


Almarhum Eyang mu, Ki Mondhosio yang juga merupakan pimpinan perkampungan ini sebelumnya, pernah berkata kepada ku bahwa tidak boleh seorangpun menginjak harga diri bangsa ini meskipun nyawa kita jadi tumbalnya. Ini yang menjadi pegangan hidup bagi setiap orang di Wanua Karang Pulut.


Malam ini juga kita harus segera bergerak cepat untuk menghalangi jalan orang orang Jenggala itu Nakmas Pangeran sebelum bala bantuan dari pemerintah Kadiri datang", ujar Mpu Tolu sembari bangkit dari tempat duduknya. Segera dia menuju ke kentongan yang tergantung di depan beranda rumah nya.


Thoongg thoongg thoongg!!


Titir kentongan bertalu-talu terdengar. Hanya dalam beberapa saat saja, sekitar 2000 orang penghuni Wanua Karang Pulut berkumpul. Ini memang sudah menjadi rahasia umum bahwa kampung kecil itu di huni oleh para pendekar berilmu tinggi.


"Ada apa Lurah e? Kenapa kau menabuh kentongan tanda bahaya begitu?", tanya Mpu Wuye, abdi setia Kelabang Koro yang kini menjadi sesepuh Wanua Karang Pulut. Pertanyaan ini seakan mewakili pertanyaan setiap orang yang hadir.


"Nakmas Pangeran Panji Manggala Seta baru melihat kedatangan tamu tak diundang dari Jenggala berkemah di samping Telaga Mendalan, Mpu Wuye. Ini sudah bisa di pastikan bahwa mereka akan menyerang Kotaraja Kadiri dari arah sana.


Kita sebagai warga Kerajaan Panjalu, kerabat dekat Yang Mulia Selir Dewi Srimpi, pengikut setia Ki Mondhosio sang Kelabang Koro, tentu tidak akan membiarkan orang asing seperti mereka menginjak-injak tanah kelahiran kita, bukan?", Mpu Tolu menatap ke arah para penghuni Wanua Karang Pulut. Semua orang terkejut dengan berita ini.


"Kita hajar mereka, Ki Lurah..!!"


"Aku tidak sudi ada penjajah di negeri ku!"


"Orang orang Jenggala itu harus di usir!!"


Teriakan keras terdengar dari kerumunan para warga Wanua Karang Pulut bersahutan. Yang tua selaku didikan langsung dari Kelabang Koro mewariskan semangat cinta tanah air pada anak cucunya lewat pengajaran ilmu budi pekerti dan olah kanuragan sehingga semuanya baik tua maupun muda sama-sama bersiap untuk bertaruh nyawa menantang pasukan besar Jenggala.


Malam itu juga, sekitar 2000 orang bergerak meninggalkan Wanua Karang Pulut dengan membawa berbagai persiapan yang akan mereka gunakan untuk menghambat pergerakan prajurit Jenggala. Ribuan obor bergerak seperti ular api membelah kegelapan malam.


Setelah melintasi jalan setapak yang membelah hutan di Utara Wanua Karang Pulut, tepatnya di sebuah jalan raya di tepi hutan dan bukit kecil yang akan melintasi Kota Kecil Kunjang, mereka menghentikan langkahnya.


Mpu Tolu yang hapal betul dengan seluk beluk wilayah ini langsung membagi orang-orang nya untuk membuat jebakan di sekitar jalan raya yang melintas sebuah sungai kecil namun dalam. Jembatan kayu yang menjadi penghubung jalan raya itulah yang menjadi sasaran mereka.


"Jumlah kita memang tidak sebanding dengan para prajurit Jenggala, Nakmas Pangeran.


Tapi kalau mau mengganggu perjalanan mereka, kita tidak butuh banyak orang. Cukup dengan akal saja", ujar Mpu Tolu sembari tersenyum tipis.


Panji Manggala Seta mengangguk mengerti apa maksud dari ucapan itu. Mereka tidak mungkin mengalahkan para prajurit Jenggala dengan jumlah nya yang besar, namun setidaknya perjalanan mereka menuju ke arah Ibukota Daha akan tersendat saat ada gangguan dari luar.


Malam itu, orang-orang Wanua Karang Pulut terus bekerja keras membuat berbagai jebakan di seputar jembatan kayu penghubung antara Kunjang dan Hantang.


Menjelang tengah malam, pekerjaan mereka telah rampung. Mpu Tolu memerintahkan kepada mereka untuk di bagi menjadi dua bagian. Satu bagian di Utara jalan raya untuk memancing perhatian dari para prajurit Jenggala dengan menghujani mereka memakai anak panah, sedangkan satu bagian lain menunggu di wilayah hutan lebat yang akan di gunakan sebagai tempat mereka melarikan diri usai mengacaukan perjalanan para prajurit Jenggala. Yang di dalam hutan akan melepaskan tali jebakan hingga akan membuat prajurit Jenggala kesulitan untuk mengejar mereka.


Setelah semuanya paham dengan tata cara untuk mengganggu perjalanan para prajurit Jenggala, semuanya segera bergerak di tempat yang telah ditentukan.


Sementara orang-orang Wanua Karang Pulut bersiap untuk menjadi pengganggu perjalanan para prajurit Jenggala, malam itu juga Panji Tejo Laksono langsung memerintahkan kepada para prajurit Panjalu di bawah pimpinan nya untuk bergerak menuju ke arah Pakuwon Kunjang karena itu adalah satu-satunya tempat yang mungkin saja di lalui oleh pasukan Jenggala sebelum mencapai Kotaraja Kadiri. Meski sedikit sangsi dengan perkiraan nya sendiri, perhitungan sang pangeran tertua ini atas dasar gambar trisula yang menjadi isyarat perang Jenggala kali ini. Jika sasaran ujung Utara adalah Kadipaten Bojonegoro dan ujung selatan adalah Kadipaten Seloageng, maka ujung ketiga trisula pasti mengincar Kotaraja Daha.


Mendengar perintah dari sang pimpinan, semua orang segera mempersiapkan diri sebaik mungkin.


"Mohon ampun Gusti Pangeran Adipati..

__ADS_1


Sesuai dengan perintah, para prajurit Panjalu sudah siap untuk bergerak", ujar Senopati Muda Jarasanda setelah memeriksa persiapan yang dilakukan.


Hemmmmmmm...


"Aku akan coba untuk menghubungi Dhimas Manggala Seta terlebih dahulu, Paman Jarasanda.


Tunggulah beberapa saat lagi", ujar Panji Tejo Laksono sembari duduk bersila dengan bersedekap tangan di depan dada. Meski Senopati Muda Jarasanda tidak mengerti dengan apa Panji Tejo Laksono ingin menghubungi adik tirinya itu, namun sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera mundur beberapa langkah begitu melihat junjungan nya bersedekap tangan dan memejamkan mata.


Tiba-tiba angin kencang berhembus mengitari tubuh Panji Tejo Laksono. Menerbangkan debu dan segala benda ringan yang ada di dekatnya.


Panji Manggala Seta yang sedang duduk di tempat persembunyian orang orang Wanua Karang Pulut terkaget saat sebuah suara terdengar bersamaan dengan angin kencang yang tiba-tiba muncul.


"Dhimas Manggala Seta, apa kau bisa mendengar suara ku?"


Tentu saja Panji Manggala Seta sangat mengenal suara berat nan penuh kewibawaan ini. Segera dia berlutut dengan satu dengkul diatas tanah. Telapak tangan kirinya terbuka di depan perut sedangkan tangan kanannya bersikap mudra di depan dada.


"Kangmas Tejo Laksono.. Apa ini benar kamu Kangmas?", tanya Panji Manggala Seta segera.


"Benar Dhimas, ini aku Tejo Laksono..


Coba kau jelaskan bahaya besar itu seperti apa?", imbuh suara berat Panji Tejo Laksono itu.


"Mereka berjumlah tak kurang dari 60 sampai 70 ribu orang prajurit, Kangmas. Mereka kini berkemah di samping Telaga Mendalan. Bisa dibilang mereka tinggal selangkah lagi menuju ke arah Kotaraja", jawab Panji Manggala Seta sembari terus berupaya keras untuk bertahan dari hantaman angin kencang.


"Pasukan ku tak akan cukup untuk menghadapi mereka secara langsung, Dhimas..


Kita pikirkan nanti caranya bagaimana, tapi sekarang aku minta kau agar datang ke Kota Kunjang. Kita bertemu disana", lanjut suara berat itu lagi.


"Aku mengerti Kangmas", jawab Panji Manggala Seta segera. Sekejap kemudian angin kencang itu menghilang entah kemana bersamaan dengan hilangnya suara Panji Tejo Laksono. Panji Manggala Seta menarik nafas lega. Bagaimanapun hantaman angin kencang Ajian Bayu Swara milik Panji Tejo Laksono benar-benar menguras tenaga dalam nya.


Di benteng pertahanan Panjalu yang terletak di tepi Kali Aksa..


Panji Tejo Laksono menghembuskan nafas panjang usai menghentikan Ajian Bayu Swara yang baru saja dia keluarkan. Segera dia menoleh ke arah Senopati Muda Jarasanda dan para perwira tinggi prajurit Panjalu yang berdiri sedikit jauh dari nya.


"Paman Jarasanda, Paman Ludaka, Paman Gumbreg..


Pimpin para prajurit Panjalu ke arah Pakuwon Kunjang. Buat barisan pertahanan di dekat Istana Pakuwon Kunjang. Minta Akuwu Kunjang untuk membantu. Yang lain, pimpin pasukan dari daerah kalian masing-masing untuk mengikuti para prajurit Kotaraja Kadiri", perintah Panji Tejo Laksono segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab semua perwira tinggi prajurit Panjalu dan Lodaya yang ada di tempat itu.


Demung Gumbreg segera mengangkat tangan kanannya. Panji Tejo Laksono pun segera memandang ke arah sang perwira tinggi prajurit Panjalu yang bertubuh tambun itu.


"Ada apa Paman Gumbreg?"


"Mohon ampun Gusti Pangeran. Saya dan para perwira berangkat kesana tanpa kehadiran Gusti Pangeran kog rasanya ada yang kurang. Apa tidak sebaiknya Gusti Pangeran berangkat bersama kami?", Demung Gumbreg menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Kau tenang saja, Paman Gumbreg..


Yang penting kalian segera berangkat. Urusan nanti, kita bertemu lagi di tempat yang telah kita sepakati", Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti. Imbuhnya,


"Percayalah, aku sudah menunggu kedatangan kalian semua,

__ADS_1


Saat kalian sampai di Kunjang"


__ADS_2