
Para prajurit Panjalu segera melaksanakan apa yang menjadi perintah dari sang pimpinan. Mereka dengan sigap membantu para prajurit perbekalan yang di pimpin oleh Demung Gumbreg untuk membangun tenda perkemahan. Tanah lapang luas berumput hijau yang tak jauh dari dermaga penyeberangan Wanua Kicir menjadi pilihan tempat mereka bermalam.
Lurah Wanua Kicir, Mpu Danu tergopoh-gopoh mendekati para prajurit Panjalu yang sedang mendirikan tenda. Setelah tahu keberadaan Panji Tejo Laksono dan para pimpinan pasukan Panjalu lainnya, lelaki tua yang berusia sekitar 6 dasawarsa itu segera bergegas mendekati tempat sang pangeran. Di temani Jagabaya dan beberapa sesepuh Wanua Kicir, Mpu Danu ingin bertemu langsung dengan pimpinan pasukan Panjalu yang menjadi buah bibir masyarakat belakangan ini.
Panji Tejo Laksono sedang asyik berbincang dengan Luh Jingga dan Dyah Kirana saat Mpu Danu dan para sesepuh Wanua Kicir mendekat. Lurah sepuh berjenggot pendek itu segera berjongkok dan menyembah pada Panji Tejo Laksono diikuti oleh para sesepuh Wanua Kicir dan Jagabaya.
"Sembah bakti kami Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", ujar Mpu Danu dengan penuh hormat.
"Aku terima sembah bakti kalian.. Aku bukan dewa, tidak sepantasnya mendapat penghormatan berlebihan seperti ini", balas Panji Tejo Laksono segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Mpu Danu segera. Dengan cepat ia segera duduk bersila di tanah depan Panji Tejo Laksono diikuti oleh para pengikutnya.
"Siapa kalian dan mau apa mencari ku?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke arah para penduduk Wanua Kicir ini.
"Hamba Mpu Danu, Keraman (Lurah) Wanua Kicir ini. Mereka semua adalah penduduk Wanua ini Gusti Pangeran.
Kedatangan kami kemari hanya ingin mengucapkan selamat datang di Wanua kami sekaligus ingin bertemu dengan Gusti Pangeran yang sudah mengharumkan nama Panjalu dengan mengusir para prajurit Jenggala. Dengan ini kami berharap agar Gusti Pangeran lah yang akan menjadi penerus dari Gusti Prabu Jayengrana", ujar Mpu Danu sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.
Luh Jingga dan Dyah Kirana hanya tersenyum saja mendengar ucapan mereka.
"Aku berterimakasih atas dukungan dari kalian. Aku masih harus banyak belajar tentang ilmu tata pemerintahan agar bisa menjadi pimpinan yang mampu mengayomi rakyat.
Jika ada keluhan dari kalian, silahkan sampaikan saja pada ku atau lewat para perwira yang ada di sini", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Kalau di perkenankan, pemuda pemuda di tempat kami juga ingin turut berbakti kepada negeri ini, Gusti Pangeran..
Mereka juga ingin mempersembahkan pengabdian mereka kepada Gusti Prabu Jayengrana", imbuh Jagabaya sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Ada yang ingin menjadi prajurit ya?
Hemmmmmmm..
Jika ada yang ingin menjadi prajurit Panjalu, kalian bisa mendaftarkan diri pada Demung Gumbreg untuk lebih lanjut.
Paman Gumbreg,
Kemari paman..", Panji Tejo Laksono memberikan isyarat kepada Demung Gumbreg yang sedang mengawasi pekerjaan para prajurit perbekalan. Sang perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh tambun itu segera bergegas mendekat.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Ada perintah untuk hamba?", ujar Demung Gumbreg usai menghormat.
"Orang orang Wanua Kicir ini ingin mendaftarkan putra-putra mereka untuk menjadi prajurit. Paman atur mereka dan pilih sesuai dengan kebutuhan.
Setelah rampung, segera laporkan pada ku", titah sang pangeran muda dari Kadiri itu segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Demung Gumbreg segera menyembah setelah selesai bicara.
"Nah, yang ingin putra nya menjadi prajurit Panjalu, silahkan bertanya kepada Paman Gumbreg.
Aku masih ada keperluan jadi tidak bisa menunggu kalian", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih atas kemurahan hati Gusti Pangeran", seluruh penduduk Wanua Kicir yang hadir di tempat itu segera menyembah pada Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu mengangguk mengerti dan berlalu meninggalkan tempat itu bersama Luh Jingga dan Dyah Kirana.
Demung Gumbreg segera berkacak pinggang sambil menatap ke arah para penduduk Wanua Kicir ini.
"Sebentar lagi akan segera senja. Kalian yang ingin mendaftarkan putra-putra kalian sebagai prajurit Panjalu, silahkan bawa putra kalian ke tenda yang ada di ujung sana. Itu tempat bermalam ku.
Ingat satu keluarga hanya boleh satu orang saja yang mendaftar", ujar Demung Gumbreg sambil menunjuk sebuah tenda yang ada di sisi timur tanah lapang itu.
Lurah Mpu Danu dan para pengikutnya segera menyembah pada Demung Gumbreg usai mendapat pengarahan. Mereka bergegas kembali ke tempat tinggal masing-masing dan tak berapa lama kemudian kembali sambil membawa putra-putra mereka. Tak kurang ada 50 pemuda yang ingin bergabung menjadi anggota prajurit Panjalu.
Semua orang datang dengan membawa satu orang putra mereka kecuali Jagabaya Wanua Kicir yang bernama Ki Darma. Dia mengajak dua orang putranya karena bingung harus memilih salah satu diantara keduanya.
__ADS_1
Demung Gumbreg segera mengatur penempatan para pemuda Wanua Kicir ini dalam beberapa pasukan. Ada yang bertugas di pasukan berkuda seperti putra Ki Lurah Mpu Danu, ada pula yang di tempatkan di prajurit memanah, pun ada yang di tempatkan pada pasukan perbekalan tapi sebagian besar berada di pasukan berjalan kaki.
Saat tiba giliran putra Ki Jagabaya Darma, Demung Gumbreg mengernyitkan keningnya.
"Kenapa kau bawa dua putra mu? Bukankah sudah ku katakan bahwa hanya satu orang saja yang boleh masuk".
"Mohon ampun Gusti Demung..
Mereka berdua sama sama ingin ikut serta di keprajuritan Panjalu ini. Untuk ini hamba mohon Gusti Demung berkenan.
Kalau mereka bisa masuk, pssttt psssttt...", Ki Jagabaya Darma membisikkan sesuatu di telinga Gumbreg. Mata perwira tinggi prajurit Panjalu yang bertubuh tambun itu langsung melebar. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"Baiklah kalau begitu..
Aku akan menempatkan dua putra mu di dalam prajurit perbekalan. Kebetulan banyak prajurit ku yang gugur di medan perang jadi mereka cocok untuk ada di sana", ujar Demung Gumbreg segera.
Setelah penempatan para pemuda Wanua Kicir di keprajuritan Panjalu ini beres, para penduduk Wanua itu segera mohon diri. Ki Lurah Mpu Danu segera pulang dan menata para juru masak yang menyiapkan berbagai macam penganan untuk di persembahkan kepada Panji Tejo Laksono dan para perwira tinggi prajurit Panjalu.
Selepas senja menghilang dari cakrawala langit barat dan malam mulai menjelang, Demung Gumbreg diam-diam meninggalkan tempat perkemahan besar para prajurit Panjalu. Di ujung jalan, Ki Jagabaya Darma sudah menunggunya.
"Apa jauh tempatnya dari sini, Jagabaya?", tanya Gumbreg setengah berbisik.
"Tidak Gusti Demung..
Setelah tikungan jalan itu tinggal lurus 100 tombak, kita sudah sampai. Di jamin Gusti Demung tidak akan kecewa", sungging senyum penuh arti terukir di wajah Ki Jagabaya Darma.
"Awas saja kalau kau bohong..
Tak batalkan penerimaan putra mu di keprajuritan Panjalu", ancam Gumbreg sambil berjalan lebih dulu.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah besar yang terletak tak jauh dari dermaga penyeberangan Sungai Kapulungan, tepatnya di tepi jalan raya yang menuju ke arah Kadipaten Matahun. Rumah besar itu nampak ramai dengan para lelaki dan perempuan yang memakai pakaian serba minim. Beberapa malah seperti sengaja memelorotkan kemben yang mereka pakai hingga belahan dada besar mereka untuk memancing perhatian para lelaki hidung belang yang mampir ke tempat itu.
Kedatangan Demung Gumbreg bersama Ki Jagabaya Darma tentu saja memancing perhatian semua orang. Para centeng rumah pelacuran yang mengenal Ki Jagabaya hanya menatap sekilas saja ke arah mereka, sedangkan seorang lelaki paruh baya bertubuh sedikit gemuk langsung mendekati mereka.
Ada perlu apa kemari? Bukankah pajak dari saya sudah di terima tempo hari?", tanya si lelaki bertubuh sedikit gemuk itu segera.
"Diam kau Ki Sumo..
Aku kemari bukan untuk pajak. Ini Gusti Demung Gumbreg sedang ingin hiburan. Jadi aku mengantar nya kemari. Apa tidak boleh he?", bentak Ki Jagabaya Darma seraya mendelik ke arah Ki Sumo, sang pengelola rumah pelacuran itu segera.
"Hehehehe jangan marah Ndoro Jagabaya..
Mari mari silahkan masuk ke dalam", ucap Ki Sumo dengan sopan. Mereka bertiga pun segera masuk ke dalam rumah besar itu.
"Panggilkan Kenanga..
Hanya dia yang pantas melayani Gusti Demung Gumbreg. Cepat!", ujar Ki Jagabaya Darma segera usai dia dan Gumbreg duduk di kursi kayu. Mendengar ucapan itu, Ki Sumo sang mucikari ini segera bergegas menuju ke dalam. Tak berapa lama kemudian dia sudah kembali dengan menggandeng seorang perempuan cantik berkemben kuning yang sedikit melorot memamerkan keindahan dadanya yang besar.
Demung Gumbreg langsung menelan ludah sendiri melihat kemolekan tubuh Kenanga.
'Nah ini baru mantap', batin Gumbreg sambil cengar-cengir sendiri.
"Silahkan Gusti Demung.. Kamar kosong ada di paling ujung. Kenanga, layani Gusti Demung dengan baik", ujar Ki Sumo sambil tersenyum penuh arti.
Tanpa menunggu lama, Kenanga langsung menarik tangan Demung Gumbreg masuk ke dalam kamar yang di tunjukkan.
Sambil membuka pakaiannya, Kenanga tersenyum simpul melihat Demung Gumbreg yang celegukan menelan ludah nya sendiri.
"Gusti Demung ini dari Kotaraja Daha ya? Kog baru sekali ini saya melihat di tempat ini", tanya Kenanga membuka percakapan antara mereka sembari terus melepaskan tali tali kemben nya.
"Oh eh iya. Aku baru sekali ini melihat ada perempuan cantik seperti kamu", jawab Gumbreg sekenanya.
"Huh mulut lelaki semuanya sama saja..
__ADS_1
Perwira prajurit Kadipaten Bojonegoro yang kemarin juga bilang begitu", Kenanga mencebikkan bibir nya yang merah merona.
"Perwira prajurit Bojonegoro? Ada urusan apa dia kemari?", tanya Gumbreg sambil melepaskan pelindung tangan nya tanpa menoleh ke arah Kenanga. Dia ingin cepat-cepat membuka pakaiannya.
"Tempo hari perwira prajurit Bojonegoro yang bernama Senopati Randusongo datang kemari. Dia mencari Ki Krembung. Katanya majikannya ingin membayar Ki Krembung untuk membocorkan rencana pasukan Panjalu pada pihak Jenggala.
Waktu itu Senopati Randusongo memberikan upah sekantong kepeng emas pada Ki Krembung. Setelah malam hari tiba, Ki Krembung berangkat ke perkemahan para prajurit Jenggala. Tapi sampai sekarang dia tidak pernah kembali", ujar Kenanga yang terlihat seperti kehilangan sosok yang dia omongkan.
Kaget Demung Gumbreg mendengar ucapan Kenanga.
'Rupanya pengkhianat negara kami berasal dari Kadipaten Bojonegoro. Brengsek, akan ku laporkan ini pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono', umpat Demung Gumbreg dalam hati.
Demung Gumbreg yang ingin membatalkan rencana untuk mendaki gunung Mahameru milik Kenanga segera menyambar celananya yang terlanjur melorot. Namun saat melihat Kenanga sudah tanpa busana, darah kelelakian nya menggelegak tinggi.
'Nanti saja ah. Aku sudah puasa lama tidak menyentuh perempuan Hehehehe...'
Sebentar kemudian, tubuh tambun Demung Gumbreg sudah menindih Kenanga. Di bawah keremangan lampu minyak jarak yang menjadi penerang kamar itu, Demung Gumbreg menuntaskan hasrat yang berbulan-bulan tidak tersalurkan.
Desah nafas penuh kenikmatan bercampur aduk dengan erangan dan jerit lirih Kenanga segera terdengar dari dalam kamar paling ujung rumah pelacuran milik Ki Sumo itu.
Gumbreg keluar dari dalam bilik kamar itu sambil bersiul riang seolah sedang berbahagia. Kenanga setengah berlari keluar dari dalam kamar dengan pakaian minim nya, segera menggelayut manja di lengan kiri Gumbreg yang sebesar bambu betung.
"Apa cerita mu bisa di percaya, Kenanga?", ujar Gumbreg sambil melangkah menuju ke depan.
"Meski hamba hanya seorang pelacur, tapi mulut hamba bukan untuk sembarangan bicara Gusti Demung", ucap Kenanga segera.
"Ini hadiah untuk mu karena aku puas dengan pelayanan mu hehehe.. Kalau kau ingin berhenti bekerja seperti ini dan mau menjadi selir ku, cari saja aku di Kotaraja Daha. Tapi jangan ke rumah, istri ku galak seperti harimau betina", Gumbreg memberikan sekantong kecil kepeng emas ke dalam belahan dada Kenanga.
Mendengar ucapan itu, mata Kenanga berkaca-kaca tanpa sadar. Baru kali ini ada orang yang mau menjadikan seorang selir tanpa memandang dirinya yang berkubang lumpur dosa. Dia bertekad untuk ikut perwira prajurit Panjalu itu.
"Terimakasih banyak Gusti Demung. Terimakasih banyak..", ucap Kenanga sambil mencium pipi tembem Gumbreg.
Saat Gumbreg pergi meninggalkan tempat itu, Kenanga terus memandangi langkah kaki pria bertubuh tambun itu. Dia jatuh hati kepada nya.
Di depan perkemahan besar para prajurit Panjalu, Ki Jagabaya Darma pamit pulang ke rumah nya sementara Demung Gumbreg melangkah masuk ke perkemahan. 4 orang prajurit penjaga yang bertugas segera memberikan hormat kepada pria bertubuh besar itu.
Demung Gumbreg tidak segera kembali ke tempat nya melainkan menuju ke arah tempat peristirahatan Tumenggung Ludaka. Saat itu sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu sedang asyik membolak-balik jagung muda yang sedang ada di atas bara api unggun kecil yang dia buat.
Melihat jagung muda bakar yang sudah tergeletak di dekat kawan karibnya itu, Demung Gumbreg langsung menyambar salah satunya dan segera melahapnya.
"Eh kerbau bunting..
Main sikat saja. Aku yang bakar belum makan sama sekali", Tumenggung Ludaka mendelik ke arah Demung Gumbreg yang mulutnya penuh dengan jagung muda bakar.
"Annggkkuuuhhh sweeeddang wappar Yuhhh.. Yangggan weeelliittt doooonnggg ( Aku sedang lapar Lu.. Jangan pelit dong )", jawab Gumbreg tanpa menghentikan kunyahan nya.
"Memang kau darimana saja ha hingga tidak ikut makan malam tadi?", bentak Tumenggung Ludaka yang sewot melihat Demung Gumbreg terus melahap jagung bakar nya satu persatu.
Mendengar pertanyaan itu, Demung Gumbreg segera menghentikan acara makan jagungnya lalu menceritakan tentang apa yang di dengarnya dari mulut Kenanga.
Tumenggung Ludaka kaget mendengar cerita dari sahabat karibnya itu.
"Tunggu.. Kau bilang tadi mendengar berita itu dari siapa Mbreg?", tanya Tumenggung Ludaka segera.
"Dari mulut Kenanga Lu..
Dia seorang perempuan yang bekerja di tempat pelacuran tak jauh dari sini. Tuh di tepi jalan raya dekat dermaga penyeberangan", jawab Gumbreg dengan santainya.
"Jadi kau baru saja dari tempat pelacuran, Mbreg? Kalau sampai Juminten tau ini, coba apa yang akan terjadi?
Bisa-bisa hilang itu mu, Mbreg!", ujar Tumenggung Ludaka sambil menunjuk ke arah pangkal paha sang kawan karib.
Demung Gumbreg pucat seketika.
__ADS_1