
Wajah cebol Bogang Sarira yang ketakutan mendengar ancaman Panji Tejo Laksono langsung pucat seketika. Ajian Setan Kober yang menjadi ilmu kanuragan andalannya sama sekali tidak berguna menghadapi sang pangeran muda ini. Apalagi kematian Nyi Simbar Kencana dan Junggul Mertalaya seketika membuat mental bertarung nya runtuh seketika.
"Wikarna, Gandung, Trenggulun, Banarawa..!!"
Teriakan keras Bogang Sarira memanggil nama menjadi isyarat kepada 4 orang murid utama Perguruan Gunung Biru yang kebetulan sedang berasa di dekat tempat pertarungan untuk membantu nya. Keempat orang murid Perguruan Gunung Biru yang berbadan besar itu segera melompat menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dengan senjata mereka masing-masing.
Whuuthhh whuuthhh..
Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg..
Dhaaaasssshhh !!!
Keempat orang tersebut dengan kompak langsung menyerang ke arah Panji Tejo Laksono. Mereka berempat bahu membahu dalam bertahan dan menyerang. Saat Wikarna dan Gandung membabatkan pedang nya, Trenggulun dan Banarawa kompak menyulitkan Panji Tejo Laksono dengan pertahanan mereka.
Panji Tejo Laksono berjumpalitan kesana kemari menghindari sabetan senjata mereka. Meski keempat orang itu kompak, namun Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ilmu Silat Padas Putih mampu menahan gempuran keempat orang itu dengan tenang.
Setelah 5 jurus berlalu, sekali hentak tubuh Panji Tejo Laksono melompat tinggi ke udara usai menghindari sabetan pedang Banarawa dan meluncur turun ke arah keempat orang murid utama Perguruan Gunung Biru itu sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala berhawa panas menyengat.
Whuuuggghh..
Keempat murid Perguruan Gunung Biru segera menyilangkan pedang nya untuk menahan hantaman Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan keras terdengar. Keempat murid utama Perguruan Gunung Biru itu terpelanting berlawanan arah. Tiga orang diantara mereka yakni Gandung, Trenggulun dan Banarawa langsung tewas dengan tubuh separuh gosong seperti terbakar api sedangkan Wikarna yang masih hidup menderita luka parah karena tangan kanan nya putus dan terus mengeluarkan darah.
Saat Panji Tejo Laksono di sibukkan dengan serangan keempat orang murid utama Perguruan Gunung Biru, Bogang Sarira langsung melesat cepat kearah Hutan Koncar untuk melarikan diri. Dia berhasil lolos dari maut.
Kekacauan pun terjadi di kalangan para prajurit Rajapura setelah kaburnya Bogang Sarira yang diikuti oleh mundurnya para murid Perguruan Gunung Biru dari medan pertempuran. Sisa-sisa anggota Padepokan Tawang Kencana pun memilih untuk tidak melanjutkan perlawanan mereka terhadap orang orang Panjalu dan berupaya untuk menyelamatkan diri masing-masing dengan berhamburan ke arah Hutan Koncar.
Sedangkan para murid Padepokan Lembah Iblis yang tersisa semakin terdesak setelah mundurnya anggota Padepokan Tawang Kencana dan Perguruan Gunung Biru. Kendati mereka berupaya sekuat tenaga untuk menahan Pasukan Panji Tejo Laksono, namun usaha mereka sia-sia belaka. Satu persatu dari mereka mulai berjatuhan kehilangan nyawa.
Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Bogang Sarira namun tidak dia lihat. Ayu Ratna segera bergegas mendekati sang pangeran muda dari Kadiri ini. Begitu sampai di dekat sang pangeran, Ayu Ratna segera mengusap keringat yang membasahi dahinya.
"Pendekar cebol itu sudah kabur Kangmas..
Aku tadi berusaha mengejarnya tapi larinya kencang sekali. Ilmu meringankan tubuh ku tak sehebat dia", ujar Ayu Ratna sembari menghela napas panjang.
__ADS_1
"Biarkan saja Nimas Ayu..
Yang penting kita sudah ada di atas angin sekarang. Ayo kita cepat bantu para prajurit kita agar bisa segera masuk ke dalam Kota Rajapura", Panji Tejo Laksono langsung menggandeng tangan Ayu Ratna dan keduanya segera menerjang maju ke arah para prajurit Rajapura yang tersisa.
Pimpinan tersisa dari Padepokan Lembah Iblis melihat ke arah kawan kawan nya yang semakin lama semakin banyak yang tewas. Segera dia melemparkan pedang miliknya ke tanah sebagai tanda menyerah. Dari jumlah sekitar 2000 orang dari Padepokan Lembah Iblis, hanya 200 orang yang tersisa. Separuh dari anak murid Padepokan Tawang Kencana juga tewas, sedangkan dari Perguruan Gunung Biru hanya sepertiga yang bisa meloloskan diri.
Mayat mayat para prajurit Rajapura bergelimpangan di tepi tembok kota Rajapura. Menciptakan genangan darah dan pemandangan yang mengerikan.
"Paman Purusoma,
Urusi para prajurit yang terluka juga urus para prajurit Rajapura yang menyerah itu. Perlakukan mereka dengan baik karena mereka juga masih warga Kerajaan Panjalu ini", perintah Panji Tejo Laksono pada Rakryan Purusoma segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran ", Rakryan Purusoma segera menyembah pada Panji Tejo Laksono setelah mendengar perintah yang diberikan kepada nya.
Sorak sorai para prajurit Panjalu terdengar ramai bersahutan setelah kemenangan yang mereka raih. Panji Tejo Laksono segera mengangkat tangan kanannya ke atas hingga suasana riuh rendah itu sunyi seketika.
"Jangan bergembira lebih dulu. Kita belum menahklukan Rajapura. Pertempuran sesungguhnya menunggu kita di balik tembok kota Rajapura ini. Ayo kita masuk ke dalam Kota Rajapura dan tundukkan kepala mereka pada kekuasaan Prabu Jayengrana!"
Teriakan keras penggugah semangat dari Panji Tejo Laksono langsung membuat semangat juang para prajurit Panjalu yang sempat melemah, timbul kembali. Wajah mereka semua langsung sumringah mendengar kata kata Panji Tejo Laksono. Begitu sampai di depan gerbang, semua orang saling berpandangan melihat pintu gerbang kota yang nampak tertutup rapat.
"Bagaimana kita bisa masuk ke dalam Kakang? Pintu gerbang kota tertutup rapat", gumam salah seorang prajurit sambil menatap ke arah pintu gerbang kota.
Sebaiknya kita menunggu perintah dari para petinggi. Ndak boleh gegabah kita", jawab seorang prajurit yang lebih tua sembari melirik ke arah Tumenggung Ludaka. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu mengusap dahinya yang berkerut karena sedang berpikir keras. Demung Gumbreg segera berjalan mendekati kawan karibnya itu.
"Bagaimana ini Lu?
Apa kita harus menggunakan batang pohon besar untuk membobol masuk?", tanya Gumbreg segera.
"Itu adalah cara terakhir jika tidak ada jalan lain nya. Sebaiknya kita mendengar apa perintah dari Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono lebih dulu Mbreg..
Ayo kita kesana", Tumenggung Ludaka segera bergegas menuju ke arah Panji Tejo Laksono dan keempat calon istri nya yang mulai bergerak maju karena pergerakan prajurit yang terhenti. Demung Gumbreg dan Tumenggung Rajegwesi segera mengikuti langkah Tumenggung Ludaka.
"Pintu gerbang kota tertutup rapat, Gusti Pangeran? Apa yang sebaiknya kita lakukan?", Tumenggung Ludaka menghormat pada Panji Tejo Laksono begitu sampai di dekat sang pangeran.
"Apa kita jebol saja pakai kayu besar, Gusti Pangeran?", imbuh Demung Gumbreg segera.
Heeemmmmmmmmmmm...
__ADS_1
"Akan ku coba menjebolnya dengan tenaga dalam yang ku miliki Paman. Perintahkan para prajurit kita untuk menjauh dari pintu gerbang kota ", perintah Panji Tejo Laksono. Mendengar ucapan itu, baik Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Tumenggung Rajegwesi saling berpandangan sejenak. Dalam hati mereka, mereka sedikit ragu pintu gerbang kota Rajapura yang terbuat dari papan kayu jati tebal itu akan jebol oleh kekuatan tenaga dalam Panji Tejo Laksono. Namun karena tidak ingin terlihat ragu, mereka bertiga segera menyembah pada Panji Tejo Laksono dan bergerak melaksanakan perintah sang pangeran muda.
Setelah para prajurit Panjalu mundur dari dekat pintu gerbang kota, Panji Tejo Laksono berjalan mendekati pintu gerbang kota Rajapura. Sembari menghirup udara sebanyak mungkin, kedua tangan Panji Tejo Laksono terentang lebar ke samping kanan dan kiri tubuhnya lalu kedua telapak tangan naik ke atas kepala dan turun ke depan dada sembari menangkup seperti tengah bertapa.
Tiba-tiba saja muncul sinar merah kekuningan yang menyilaukan mata di sekeliling tubuh Panji Tejo Laksono. Hawa panas yang keluar dari tubuh sang pangeran muda sanggup membuat para prajurit Panjalu yang berada tak jauh dari nya langsung mundur sejauh mungkin.
Tak tanggung-tanggung lagi, Panji Tejo Laksono mengerahkan Ilmu Sembilan Matahari tahap akhir yang bernama Sembilan Matahari Menyinari Dunia. Ilmu puncak yang mengerahkan seluruh kekuatan dahsyat yang hanya bisa dilakukan oleh seorang yang menguasai tenaga dalam tingkat tinggi.
Perlahan kedua tangan Panji Tejo Laksono membuka dan 8 bola sinar merah kekuningan tercipta diantara kedua telapak tangannya. Sebuah bola besar sinar merah kekuningan membungkus 8 bola sinar yang lebih kecil. Begitu Ilmu Sembilan Matahari telah sempurna, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah pintu gerbang kota Rajapura dan menghantamkan bola sinar merah kekuningan itu kearah pintu gerbang.
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..,!!
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!!
Ledakan dahsyat terdengar saat Ilmu Sembilan Matahari yang di hantamkan oleh Panji Tejo Laksono mengenai pintu gerbang kota Rajapura. Debu beterbangan beserta asap tebal menutupi seluruh tempat itu bersamaan dengan potongan kayu jati kecil yang berhamburan kemana-mana. Saat debu dan asap tebal mereda, pintu gerbang kota Rajapura jebol dengan bentuk bundar setinggi hampir dua tombak.
Melihat itu, para prajurit Panjalu bersorak kegirangan sembari tersenyum lebar. Mereka benar benar percaya dengan kemampuan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh pimpinan mereka. Para prajurit Panjalu langsung merangsek masuk ke dalam tembok kota Rajapura.
Rupanya para penduduk kota ini sudah memilih untuk tidak keluar dari dalam rumah agar tidak menjadi korban salah sasaran. Hingga hanya ada perlawanan kecil dari beberapa orang prajurit dan inipun tidak menggangu sama sekali pergerakan prajurit Panjalu di bawah pimpinan Panji Tejo Laksono. Mereka terus bergerak menuju ke arah Istana Rajapura.
Di depan pintu gerbang istana, 3 ribuan orang prajurit Rajapura di bawah pimpinan Patih Krendawahana dan Adipati Waramukti sudah menunggu kedatangan pasukan Panji Tejo Laksono. Mereka adalah pertahanan terakhir Rajapura karena pasukan besar mereka yang di pimpin oleh Senopati Gopala sedang bertempur melawan para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Senopati Agung Narapraja.
Panji Tejo Laksono segera melangkah menuju ke arah depan Adipati Waramukti dan Patih Krendawahana yang sudah menghunus keris mereka masing-masing.
"Adipati Waramukti!
Sudahi saja perang ini. Kembalilah ke pangkuan Kadiri agar tidak ada lagi darah yang tumpah hanya untuk melampiaskan nafsu angkara yang kau miliki.
Aku akan meminta pengampunan untuk mu pada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana", ujar Panji Tejo Laksono dengan tegas.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Aku akan berhenti berperang jika Jayengrana sendiri yang datang kemari dan berlutut di hadapan ku sembari menyerahkan tahta kerajaan Panjalu yang seharusnya menjadi milik dari Kakang Suryanata", ujar Adipati Waramukti sembari meludah ke tanah.
"Kurang ajar!
Kau memang layak untuk mendapat hukuman mati sebagai seorang pemberontak, Waramukti!!", teriak Panji Tejo Laksono dengan penuh amarah. Dia segera mengangkat tangan kanannya, sambil berteriak lantang,
__ADS_1
"Para prajurit Panjalu, seraaaannggggg!!!!!,"