
Setelah berkata seperti itu, Panji Tejo Laksono langsung melenting tinggi ke udara usai menjejak atas tembok istana dengan keras. Tubuh sang pangeran muda ini laksana sebuah anak panah yang dilepaskan ke udara saking ringannya. Begitu di puncak lompatan besar nya, Panji Tejo Laksono yang baru saja merapal mantra Ajian Tapak Dewa Api langsung menghantamkan tapak kedua tangan nya bertubi-tubi kearah para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini.
Whuuthhh whuuthhh whhhuuuggghhhh!!
Shhiuuuuttthh.....
Sebanyak 10 larik cahaya merah menyala berhawa panas layaknya obor yang menerangi malam langsung menerabas cepat kearah para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara. Senopati Danuraja yang melihat bahaya besar yang sedang mengarah ke para prajurit nya langsung melompat mundur sembari berteriak keras.
"Awas serangan dari atas!!!"
Beberapa orang prajurit yang sempat mendengar suara keras Senopati Danuraja, langsung mendongak ke atas. Mereka yang sadar akan datangnya bahaya besar dari sepuluh larik cahaya merah menyala seperti api yang berkobar ini berusaha keras untuk menyelamatkan diri.
Ada yang berhasil lolos dari maut tapi kebanyakan mereka terlambat menyadari maut yang sedang menuju ke arah mereka.
Blllaaammmmmmmm..
Blllaaammmmmmmm..
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!
Teriak ngeri bercampur sumpah serapah dan makian beruntun terdengar dari mulut para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram saat sepuluh larik cahaya merah menyala ini menghantam mereka. Sepuluh ledakan keras beruntun terdengar dan tak kurang dari 50 orang prajurit Kadipaten Bhumi Sambara harus kehilangan nyawa. Sebagian besar tubuh mereka gosong seperti baru saja hangus terbakar. Selain itu, sekitar 50 orang prajurit lainnya juga luka parah akibat gelombang kejut besar yang menghempaskan tubuh mereka. Ini membuat jumlah prajurit yang berusaha untuk menerobos masuk ke dalam istana negara berkurang banyak.
Panji Tejo Laksono melayang turun ke dalam kepulan asap tebal dan debu yang beterbangan di depan pintu gerbang selatan istana negara. Melihat itu, Mapanji Jayagiri pun tak mau kalah dan langsung menyusul sang kakak. Panji Tejo Laksono langsung menyambar sebilah pedang milik prajurit Kadipaten Bhumi Sambara yang menancap di dekat tempat nya berada dan Mapanji Jayagiri pun segera berdiri di samping sang pangeran tertua sembari menggenggam erat gagang pedang butut miliknya.
Saat asap tebal yang menutupi seluruh tempat di depan pintu gerbang selatan istana mereda, dua orang pangeran muda ini terlihat menggenggam senjata mereka layaknya dewa kematian yang siap mencabut nyawa. Ini membuat para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram yang ada di sekitar tempat itu langsung bergidik melihat itu semua.
Namun tidak dengan Senopati Danuraja. Bersama dengan Tumenggung Girimantra, pimpinan prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini segera melesat cepat kearah mereka sembari membabatkan senjata mereka masing-masing ke arah lawan. Senopati Danuraja mengincar Panji Tejo Laksono sedangkan Tumenggung Girimantra mengarahkan pedangnya kearah Mapanji Jayagiri.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!!
Mapanji Jayagiri segera mengangkat bilah pedang nya ke depan dada hingga tebasan pedang Tumenggung Girimantra tertahan.
Thhrraaanggg!!!
Sementara itu, Panji Tejo Laksono melangkah mundur selangkah ke belakang hingga tebasan keris Senopati Danuraja hanya sejengkal menyambar udara kosong di depan lehernya. Setelah menghindar, Panji Tejo Laksono dengan cepat memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah kepala sang senopati.
Whhhuuuggghhhh!!!
Dhhaaaassshhh!!!
Senopati Danuraja yang melihat gerakan cepat kearah kepala nya, langsung mengangkat tangan kirinya untuk melindungi diri. Kerasnya tendangan keras kaki kanan Panji Tejo Laksono membuatnya tersurut mundur beberapa langkah. Tangan nya kebas bukan main. Sambil mengibas-ngibaskan tangan nya yang terasa linu, perwira tinggi prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono. Meskipun kegelapan malam ini terasa menyulitkan pandangan mata nya, namun dari sinar obor yang menerangi sekitar tempat itu, cukup bagi Senopati Danuraja melihat siapa sosok yang kini menjadi lawannya.
'Pangeran Panji Tejo Laksono rupanya..
Kesaktiannya tidak boleh di pandang sebelah mata. Aku harus berhati-hati jika menghadapinya..'
Segera kedua telapak tangan Senopati Danuraja memutar di depan dada. Diantara kedua telapak tangan itu muncul seberkas cahaya merah menyala berhawa panas yang membuat sekitar tempat itu menjadi terang benderang. Dengan cepat, seberkas cahaya merah ini menggumpal dan menjadi bola cahaya merah sebesar kelapa gading. Ini adalah bentuk dari Ajian Bola Neraka.
__ADS_1
Setelah ajian pamungkas nya ini tercipta sempurna, Senopati Danuraja segera melemparkan bola cahaya merah menyala itu kearah Panji Tejo Laksono.
Whhhuuuggghhhh!!
Bola cahaya merah menyala berhawa panas itu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Hawa panas yang menyelimutinya di ikuti oleh angin panas yang berputar cepat. Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung melompat sembari bersalto dua kali untuk menghindar. Arca Dwarapala yang ada di dekat pintu gerbang selatan Istana Katang-katang pun menjadi sasaran bola cahaya merah menyala itu.
Blllaaammmmmmmm!!
Arca Dwarapala itu langsung hancur berkeping keping, menyisakan bentuk kaki nya saja. Melihat Panji Tejo Laksono bisa lolos dengan mudah, Senopati Danuraja kembali hantamkan bola cahaya merah menyala berhawa panas itu ke arah sang pangeran muda dari Kadiri ini beruntun.
Shhiuuuuttthh shhiuuuuttthh!!
Kembali Panji Tejo Laksono berjumpalitan menghindari serangan maut dari Senopati Danuraja. Gerakan tubuhnya yang ringan bagaikan kapas karena Ajian Sepi Angin, membuat nya tak kesulitan untuk berkelit.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!
Kali ini hantaman Ajian Bola Neraka milik Senopati Danuraja menyasar pada sebatang pohon peneduh di belakang sang pangeran hingga pohon ini meledak dan terbakar sebelum roboh ke tanah. Sedangkan Mapanji Jayagiri dan Tumenggung Girimantra memilih untuk menjauh dari tempat pertarungan mereka dan membuat panggung pertarungan mereka sendiri sedikit jauh dari depan pintu gerbang selatan Istana Katang-katang.
Di lain sisi, pasukan Panjalu yang di pimpin oleh Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Mapatih Warigalit bertarung sengit melawan para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram yang di pimpin langsung oleh Adipati Arya Natakusuma dan Patih Tundungwaja. Kedua pembesar istana Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini memang baru bergabung di belakang setelah upaya para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram untuk menerobos masuk ke dalam Istana Katang-katang terhenti karena kokohnya pintu masuk istana.
Panji Tejo Laksono yang baru saja menghindari serangan berbahaya dari Senopati Danuraja, langsung menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah sang pimpinan prajurit Kadipaten Bhumi Sambara itu usai mendarat di tanah. Dari arah samping si perwira Kadipaten Bhumi Sambara Mataram yang bertubuh tinggi besar itu, sang pangeran muda menerjang maju dengan tangan kanannya yang berselimut cahaya merah kekuningan layaknya cahaya api yang berkobar.
"Bangsaaaaaaaaattttt..!!!!"
Sumpah serapah dan makian panjang terdengar dari mulut Senopati Danuraja. Dengan cepat ia berbalik badan dan memapak hantaman tangan kanan Panji Tejo Laksono dengan Ajian Bola Neraka milik nya.
Kuatnya tenaga dalam tingkat tinggi yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono lewat Ajian Tapak Dewa Api, langsung membuat ledakan dahsyat terdengar. Ajian Bola Neraka milik Senopati Danuraja seakan tertelan oleh ilmu kanuragan tingkat tinggi itu. Ini membuat Senopati Danuraja terpental jauh ke belakang. Seteguk darah segar muncrat keluar dari mulut nya. Tangan kanannya hangus seperti terbakar api. Saat mendarat di tanah pun, tubuh Senopati Danuraja tersurut mundur. Tapi ini belum berakhir.
Saat itu, entah darimana datangnya tiba-tiba saja Panji Tejo Laksono sudah muncul di belakangnya sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah berwarna putih kebiruan. Lompatan kecil petir yang menyambar di telapak tangan sang pangeran muda begitu menakutkan.
Mata Senopati Danuraja terbelalak lebar merasakan hawa panas yang ada di belakang tubuhnya. Apalagi suara berat nan berwibawa Panji Tejo Laksono terdengar layaknya malaikat maut yang hendak mencabut nyawa.
"Saatnya kau mati, Pemberontak!!!"
Blllaaaaaarrr..!!!
Ledakan keras terdengar di punggung Senopati Danuraja. Bersamaan dengan itu, Senopati Danuraja merasakan sesuatu yang dingin di dada kiri nya. Mata Senopati Danuraja perlahan melihat ke bawah dan lobang sebesar kepalan tangan terlihat ada di dada kiri nya. Rupanya hantaman Ajian Brajamusti dari Panji Tejo Laksono menembus punggung hingga ke dada kiri nya.
Perlahan tubuh Senopati Danuraja limbung dan jatuh tertelungkup di tanah depan pintu gerbang selatan Istana Katang-katang. Dia tentu tidak menyangka bahwa hari ini dia akan menjadi korban nafsu angkara murka pimpinan Kadipaten Bhumi Sambara Mataram. Tubuh Senopati Danuraja nampak berkelojotan sebentar, sebelum diam untuk selamanya. Darah segar menggenang di bawah tubuh pria bertubuh tinggi besar ini.
Panji Tejo Laksono melihat sekilas saja pada jasad Senopati Danuraja yang tewas bersimbah darah sebelum melesat cepat kearah para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram sambil melepaskan Ajian Tapak Dewa Api ke arah mereka.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!
Di sisi lain, Mapatih Warigalit sedang bertarung dengan Patih Tundungwaja. Kakak seperguruan Prabu Jayengrana ini, meski sudah tidak muda lagi, ternyata masih menyimpan kekuatan beladiri yang begitu tinggi. Warangka praja Istana Kotaraja Daha ini masih begitu lincah mengayunkan tombak pendek nya yang bernama Tombak Angin.
Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh..
__ADS_1
Thhhrrriiiiinnnnngggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!
Denting senjata beradu milik Patih Tundungwaja yang menggunakan keris pusaka nya yang berlekuk 13 dengan ukuran yang sama layaknya sebuah pedang dan Tombak Angin milik Mapatih Warigalit menciptakan bunga api kecil. Dua punggawa sepuh di masing-masing pimpinan nya bertahta ini, masing-masing melompat mundur beberapa langkah ke belakang.
"Sudah lama ku dengar kehebatan ilmu kanuragan dari seorang Mapatih Panjalu. Baru kali ini aku berkesempatan untuk menjajal nya. Rupanya berita itu benar adanya, kau sangat hebat Mapatih Warigalit.
Tapi aku masih belum mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri. Bersiaplah..", ucap Patih Tundungwaja sembari memutar gagang keris besar nya.
"Aku sudah siap untuk menghadapi mu, Patih Tundungwaja..
Ayo maju saja, jangan banyak bicara!", balas Mapatih Warigalit seraya memberikan isyarat kepada Patih Tundungwaja untuk maju.
Patih Tundungwaja menggeram keras sebelum melesat cepat kearah Mapatih Warigalit sembari mengayunkan keris besar nya.
Shhrreeettthhh!!
Dengan cepat, Mapatih Warigalit segera menangkis sabetan keris pusaka itu dengan Tombak Angin milik nya.
Thhrraaanggg!!!
Saling adu ketangkasan ilmu beladiri terjadi di antara mereka. Meskipun sudah berumur, nyatanya kemampuan beladiri Mapatih Warigalit tidak berkurang namun justru semakin menggila. Ilmu silat bertombak yang dia dapat dari Kitab Tombak Suci pemberian sang guru Mpu Sakri, digunakannya untuk melawan serangan cepat Patih Tundungwaja yang mengincar titik titik mematikan di tubuhnya. Gerakannya masih lincah dan gesit dalam bertahan dan menyerang.
Thhrraaanggg!!
Delapan belas jurus berlalu cepat, dan satu tangkisan tombak membuat celah di pertahanan ilmu kanuragan Patih Tundungwaja. Mapatih Warigalit tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Secepat kilat dia menusukkan Tombak Angin milik nya ke arah dada Patih Tundungwaja.
Shhrrraaakkkkkhh!!
Auuuggghhhhh!!!
Patih Tundungwaja menjerit tertahan saat Tombak Angin milik Mapatih Warigalit merobek dada kanannya. Meskipun dia masih sempat melompat mundur, namun luka sayatan ujung bilah tombak yang tajam menganga lebar di dada warangka praja Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini. Patih Tundungwaja segera melompat menjauh sambil membekap dadanya yang berlumuran darah.
Thhuukkk thukk..
Secepat mungkin, Patih Tundungwaja menotok beberapa jalan darah nya hingga darah segar yang mengucur deras dari lukanya perlahan berhenti. Mata tua nya langsung mendelik kereng pada Mapatih Warigalit.
"Jahanam..!!!
Akan ku hancurkan tubuh mu hingga anak istri mu tidak akan bisa mengenali mayat mu, anjing Jayengrana!!!", teriak Patih Tundungwaja sembari menancapkan keris besarnya ke tanah.
Krrraaaakkkkkk!!!!!
Terdengar bunyi retakan pada tanah tempat keris besar itu di tancapkan. Dengan cepat retakan tanah itu menjalar cepat kearah kaki Mapatih Warigalit. Kakak seperguruan Prabu Jayengrana itu segera menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara. Tubuhnya yang seringan kapas karena Ajian Sepi Angin membuatnya menjadi seperti seekor burung yang mendarat di ujung semak belukar yang tumbuh tak jauh dari tempat pertarungan mereka.
Sembari tersenyum tipis, Mapatih Warigalit menatap ke arah Patih Tundungwaja yang berada 4 tombak jauhnya sambil berkata,
"Kau pikir cara seperti itu akan mampu menahan ku, Hai Wong Mataram?!
__ADS_1
Kau terlalu meremehkan ku..."