Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Akhir Perang Kota Kunjang


__ADS_3

Kemarin sore...


Saat Prabu Jayengrana sedang duduk bersama dengan para istri nya di Balairung Istana Katang-katang, 4 orang prajurit penjaga merpati surat datang dengan membawa dua ekor burung pembawa berita ini.


Saat itu, para istri Prabu Jayengrana yakni Dewi Anggarawati, Ayu Galuh, Dewi Naganingrum, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti sedang bercengkrama membahas tentang putra putri mereka. Namun pembicaraan itu terhenti setelah kedatangan tak terduga dari empat orang prajurit itu.


"Mohon ampun Gusti Prabu jika kedatangan kami bukan di saat yang tepat.


Ada berita penting yang mesti Gusti Prabu ketahui", ujar sang prajurit sembari menyembah pada Prabu Jayengrana.


"Silahkan prajurit", jawab Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana seraya mengangkat tangan kanannya sebagai tanda persetujuan.


Salah seorang prajurit segera melepaskan kain putih yang terikat pada kaki merpati surat dan menghaturkan nya pada sang Maharaja Panjalu itu segera. Dengan segera Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera menerima surat itu dan membacanya.


'Panjalu dalam bahaya besar,


Puluhan ribu prajurit Jenggala berkemah di samping Telaga Mendalan,


Kanjeng Romo Prabu Jayengrana harus cepat bergerak,


Panji Manggala Seta'.


Hemmmmmmm....


Terdengar suara dengusan nafas gusar dari sang Raja Panjalu itu. Setelah itu, sang prajurit yang lain segera menghaturkan sebuah nawala yang juga baru dia lepaskan dari kaki burung merpati surat yang lain.


Prabu Jayengrana segera menerima surat kedua dan cepat membacanya.


'Senopati Agung Narapraja sedang terluka parah setelah pertempuran,


Mohon Gusti Prabu Jayengrana segera mengutus seseorang untuk menjadi pimpinan pengganti,


Tumenggung Landung'.


Dahi sang Maharaja Panjalu itu langsung berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat begitu selesai membaca dua nawala yang di terimanya bersamaan. Ini masalah besar yang harus segera di selesaikan.


"Prajurit,


Panggil Kakang Mapatih Warigalit, Senopati Tunggul Arga dan Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma. Lekas berangkat", perintah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu..", ujar salah seorang prajurit penjaga merpati surat itu dan keempatnya segera mundur dari Balairung Istana Katang-katang.


Dewi Anggarawati, sang Ratu Pertama Kerajaan Panjalu yang melihat perubahan air muka sang suami segera bertanya.


"Ada apa Kangmas Prabu? Sepertinya ada yang mengganjal pikiran mu", ada nada kekhawatiran di balik ucapan itu.


"Hemmmmmmm...


Prajurit Jenggala yang lolos dari pengawasan para telik sandi telah berkemah di samping Telaga Mendalan. Ini artinya, besok mereka mungkin akan menyerbu ke Istana Katang-katang", bak petir menyambar di siang bolong, para istri Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana terkejut bukan main mendengar ucapan suami mereka.


"Ba-bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Apa saja kerja para prajurit telik sandi itu Kangmas Prabu?", gagap nada suara Ayu Galuh terdengar.


"Sudah aku bilang, mereka lolos dari pengawasan para telik sandi, Dinda Ayu.. Jadi kau tidak perlu lagi menyalahkan mereka.


Yang terpenting sekarang, kita harus mencari cara untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi", Panji Watugunung mengelus jenggotnya yang pendek.


"Biar saja kalau mereka berani datang kemari, Kangmas Prabu..


Sudah lama sekali Selendang Es ku tidak menghajar orang orang Jenggala itu. Aku tidak akan pernah mundur sejengkal pun jika menghadapi mereka", ujar Sekar Mayang sambil mengepalkan erat genggaman tangan kanannya.


"Kau ini sudah tua tapi masih saja bertingkah seperti anak muda saja, Mayang.. Ingat umur, ingat pula dengan uban yang mulai tumbuh di kepala mu itu huhhhhh..


Dasar keras kepala", sergah Ratna Pitaloka yang duduk di sebelahnya.


"Benar Kangmbok Mayang..


Usia kita sekarang sudah bukan waktunya untuk bertarung seperti saat muda dulu. Lebih baik kita serahkan permasalahan ini pada Kangmas Prabu Jayengrana", imbuh Dewi Srimpi.

__ADS_1


"Abdi teh setuju dengan usul Teh Pitaloka dan Teh Srimpi atuh, Teh Mayang..


Lamun aya masalah, engkeun Akang Jayengrana nungkulan na. Kita mah tinggal ngadukung salaki urang Teh", tambah Dewi Naganingrum segera. Itu membuat Sekar Mayang langsung dongkol.


"Kalian ini semua keenakan hidup di istana jadi sudah seperti ayam yang tinggal di kandang. Tidak ada semangat untuk mempertahankan harga diri. Benar benar tidak bisa di banggakan.


Kau Cempluk Rara Sunti, apa juga ingin ikut seperti mereka?", Sekar Mayang mengalihkan pandangannya pada Cempluk Rara Sunti yang sedari tadi hanya diam saja.


"Aku tidak bicara apa-apa dari tadi. Kenapa pula aku di libatkan, Kangmbok Mayang?", Cempluk Rara Sunti keheranan dengan sikap Sekar Mayang.


"Sudah sudah jangan ribut sendiri..


Lihatlah, Kakang Mapatih Warigalit dan yang lainnya sudah datang. Sekarang tutup mulut kalian semua", ujar Panji Watugunung menengahi perdebatan antara para istri nya. Mereka dengan patuh segera duduk dengan tenang di samping Sang Maharaja Panjalu saat Mapatih Warigalit, Senopati Tunggul Arga dan Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma datang menghadap.


Ketiga orang punggawa Istana Kotaraja Daha itu segera menyembah pada Prabu Jayengrana. Setelah Prabu Jayengrana mengangkat tangan kanannya sebagai tanda berkenan menerima pisowanan mereka, ketiganya segera duduk bersila saling berhadapan di sisi kanan dan kiri depan dari singgasana.


"Aku tahu kalian pasti bertanya-tanya apa yang membuat ku memanggil kalian bertiga di sore hari seperti ini.


Tapi ini mendesak, jadi aku tidak boleh membuang waktu", ujar Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana membuka pembicaraan.


"Mohon ampun Dhimas Prabu Jayengrana..


Hamba tidak mempermasalahkan hal itu hanya saja hamba masih belum mengerti apa yang membuat Dhimas Prabu memanggil kami", Mapatih Warigalit segera menghormat pada Prabu Jayengrana usai berbicara.


Prabu Jayengrana menghela nafas panjang sebelum menceritakan tentang dua surat yang baru saja dia terima. Mapatih Warigalit, Senopati Tunggul Arga dan Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma terkejut bukan main mendengar ucapan dari raja mereka.


"Lantas, apa rencana Gusti Prabu Jayengrana untuk mengatasi situasi ini?", tanya Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma segera.


"Itulah yang memusingkan kepala ku, Paman Jayadharma.


Kalau menurut pendapat Paman, apa yang sebaiknya kita lakukan?", Prabu Jayengrana mengalihkan pandangannya pada punggawa sepuh itu.


"Untuk mengirimkan pengganti Senopati Agung Narapraja yang sedang terluka, sebaiknya hamba sarankan untuk meminta bantuan Nakmas Pangeran Mapanji Jayagiri saja. Sekaligus ini juga akan menjadi ujian buat nya sebelum dia pergi untuk menikah dengan putri Prabu Langlangbumi di Galuh Pakuan.


Bagaimana menurut Gusti Prabu?", Mpu Jayadharma segera menghormat pada Panji Watugunung usai berbicara.


Hemmmmmmm..


Lantas bagaimana dengan permasalahan pasukan Jenggala di timur Pakuwon Kunjang? Ini juga tidak kalah pentingnya karena Kotaraja Daha sedang dalam bahaya besar", kembali Prabu Jayengrana bertanya.


"Kalau untuk urusan itu, hamba sarankan agar Senopati Tunggul Arga yang berangkat. Istana Katang-katang tidak boleh kosong tanpa ada raja. Ini juga untuk meningkatkan kepercayaan rakyat Panjalu dalam menghadapi situasi ini, Gusti Prabu", imbuh Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma segera.


"Hamba setuju dengan pendapat Mpu Jayadharma, Dhimas Prabu.


Sebaiknya Senopati Tunggul Arga saja yang berangkat untuk menghadang laju pergerakan pasukan Jenggala. Kita harus menjadi benteng pertahanan terakhir Istana Katang-katang jika mereka bisa melewati pasukan Senopati Tunggul Arga", sahut Mapatih Warigalit sembari menghormat pada Panji Watugunung.


"Kalau begitu, kita lakukan usulan kalian. Besok pagi, Mapanji Jayagiri akan berangkat ke Kadipaten Bojonegoro untuk menggantikan tugas Senopati Agung Narapraja. Aku meminta agar ada 1000 orang prajurit pilihan untuk mengawal keberangkatan nya. Paman Jayadharma, kau ku tugaskan untuk mengaturnya.


Senopati Tunggul Arga, besok pagi kau pimpin sisa prajurit Panjalu yang ada di Ksatrian Kadri. Untuk penjagaan keamanan Kotaraja Daha dan Istana Katang-katang, cukup dengan prajurit yang ada saja.


Apa kalian sudah mengerti apa yang aku titahkan?", Prabu Jayengrana mengedarkan pandangannya pada ketiga orang punggawa Istana Katang-katang itu.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu ", Mapatih Warigalit, Senopati Tunggul Arga dan Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma segera menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sambil berkata demikian. Ketiganya segera bergegas mundur dari tempat untuk melakukan tugas yang diberikan.


Malam itu, Kotaraja Daha menjadi panas dengan cepat setelah kabar tentang munculnya para prajurit Jenggala di sebelah Telaga Mendalan. Semua warga Kotaraja Daha menjadi panik dan berusaha untuk bersiap-siap jika hal yang tidak diinginkan oleh mereka terjadi.


Sepanjang malam, Prabu Jayengrana bersemedi di sanggar pamujan. Mengheningkan cipta, menghadap ke Sanghyang Tunggal Pencipta Semesta untuk mendapatkan petunjuk. Hingga pagi menjelang tiba, sang raja Panjalu itu masih tenggelam dalam semedi nya.


Saat hujan deras yang mengguyur Kotaraja Kadiri dan sekitarnya mereda, sebuah suara terdengar di telinga Prabu Jayengrana.


"Maharaja Panjalu, bangunlah dari semedi mu..


Putra mu Panji Tejo Laksono kini di Kota Kunjang sedang dalam bahaya. Bangun dan bantulah dia"


Prabu Jayengrana langsung membuka mata begitu suara itu menghilang. Tanpa menunggu lama lagi, dia segera bergegas mengganti pakaian nya dengan pakaian kebesaran nya.


Dewi Srimpi yang melihat suaminya sedang terburu-buru berganti pakaian, langsung mendekati raja Panjalu itu.

__ADS_1


"Kangmas Prabu, apa yang sedang..."


"Nanti aku jelaskan Dinda Srimpi. Aku pamit sebentar", Prabu Jayengrana sudah menghilang dari pandangan mata Dewi Srimpi setelah selesai bicara. Sang selir ketiga hanya menghela nafas berat sebelum akhirnya kembali ke tempatnya.


Saat Prabu Jayengrana sampai di medan peperangan di Kota Kunjang, dia melihat Wong Agung Pucangan sedang melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang baru saja selesai terkena serangan bokongan dari lelaki tua bertubuh kurus itu. Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana yang merasakan sesuatu yang tidak biasa pada tubuh pertapa tua itu segera melesat cepat , menghadang laju pergerakan Wong Agung Pucangan.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!


Ledakan dahsyat terdengar saat Prabu Jayengrana dan Wong Agung Pucangan beradu ilmu kesaktian. Wong Agung Pucangan muntah darah segar dan tersurut mundur hampir 10 tombak jauhnya.


"Siapa kau? Kenapa ikut campur dalam urusan ku?", Wong Agung Pucangan segera bertanya.


"Aku Prabu Jayengrana, Raja Panjalu..", jawab Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera.


Mendengar jawaban itu, Wong Agung Pucangan terkejut bukan main bahkan tanpa sadar mundur selangkah ke belakang. Dia tidak pernah menduga bahwa hari ini dia akan beradu ilmu kesaktian dengan Raja Panjalu yang terkenal sakti mandraguna.


Cerita yang menyebar luas di kalangan masyarakat Jenggala tentang kesaktian Raja Panjalu itu begitu terkenal. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Mapanji Garasakan, Raja Jenggala pertama yang memiliki kesaktian luar biasa. Raja Jenggala itu bahkan harus kehilangan nyawa saat perang besar terakhir nya di ujung Pedang Naga Api milik sang Raja Panjalu yang di puja sebagai titisan Dewa Wisnu setelah Maharaja Prabu Airlangga dari Kerajaan Medang Kamulan, pendahulu Kerajaan Panjalu dan Jenggala.


Namun, saat mata Wong Agung Pucangan melihat keadaan Senopati Mpu Balitung muridnya yang menyedihkan, amarah nya kembali menggelegak tinggi.


Pertapa tua itu segera merentangkan kedua tangannya, lalu dengan cepat menangkup di depan dada. Tubuhnya pun dengan cepat membesar dan terus membesar dengan kulit yang memerah seperti halnya dengan apa yang sudah di lakukan oleh Senopati Mpu Balitung. Dia melepaskan Ajian Raga Ashura namun dalam tahap yang lebih sempurna dari milik Senopati Mpu Balitung.


Melihat lawannya sudah bersiap dengan ilmu kanuragan tingkat tinggi nya, Panji Tejo Laksono yang khawatir dengan keselamatan ayahnya segera mendekati Prabu Jayengrana.


"Mohon ampun Kanjeng Romo Prabu..


Biar ananda saja yang menghadapi orang tua itu. Sebelumnya muridnya itu pernah menggunakan ilmu yang sama, jadi saya masih sanggup untuk menghadapi nya", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Prabu Jayengrana. Mendengar ucapan itu, Prabu Jayengrana segera tersenyum lebar. Dia tahu bahwa putra sulung nya ini sedang mengkhawatirkan nya .


"Kau tenang saja, Tejo Laksono. Ayah mu ini meski sudah tua, tapi juga bukan raja yang lemah. Biarkan saja aku yang menghadapi nya.


Lagi pula aku sudah lama tidak berolahraga", jawab Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sambil menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan. Panji Tejo Laksono pun tak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya patuh pada perintah ayahnya.


Setelah itu, tubuh Prabu Jayengrana segera di selubungi cahaya kuning keemasan yang menyilaukan mata. Sebentar kemudian, di kedua telapak tangan nya muncul dua cahaya yang berbeda. Sebelah kanan di liputi oleh cahaya putih kebiruan yang menciptakan ratusan petir kecil yang menyambar-nyambar, sedangkan tapak tangan kiri di lambari cahaya merah kekuningan yang berhawa panas menyengat.


Sambil menjejak tanah dengan keras, tubuh Prabu Jayengrana seketika melesat cepat kearah Wong Agung Pucangan yang kini telah berubah wujud menjadi makhluk menyeramkan dengan taring taring besar mirip dengan raksasa merah berukuran 2 kali tubuh manusia dewasa yang menakutkan.


Prabu Jayengrana langsung melayangkan hantaman tangan cepat kearah Wong Agung Pucangan.


Whuuthhh whuuthhh whuuthhh!!


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm..


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!!!


Ledakan maha dahsyat beruntun terdengar dari hantaman bertubi-tubi yang di lepaskan oleh Prabu Jayengrana.


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!


Raksasa Ashura yang merupakan perwujudan dari Wong Agung Pucangan tersurut mundur beberapa tombak sambil berteriak keras. Belum sempat dia menjejak tanah dengan leluasa, tiba-tiba muncul Prabu Jayengrana yang kembali menghantamkan tapak tangan kanan kiri nya bertubi-tubi kearah lawannya.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan mahadahsyat terus menerus terdengar dari pertarungan sengit antara Prabu Jayengrana dan Wong Agung Pucangan. Tanah di sekitar tempat pertarungan mereka terus bergetar seperti di hantam gempa bumi berturut-turut.


Wong Agung Pucangan yang berada dalam wujud Raksasa Ashura itu seakan menjadi mainan bagi Prabu Jayengrana. Bekas pemegang Pedang Naga Api ini benar-benar tidak memberi kesempatan kepada Wong Agung Pucangan untuk menyerang balik. Dia menjadi bulan-bulanan sang Maharaja Panjalu.


Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Wong Agung Pucangan kehilangan nyawa setelah Prabu Jayengrana yang baru saja menjatuhkannya, melompat tinggi ke udara dan menginjak dada pertapa tua itu. Pertapa tua itu langsung tewas dengan tulang dada hancur menembus paru-paru.


Panji Tejo Laksono langsung berdecak kagum melihat kemampuan beladiri sang ayah yang begitu mengerikan.


'Kanjeng Romo Prabu memang tidak bisa di anggap enteng. Kesaktiannya tiada tanding', batin Panji Tejo Laksono sambil tersenyum penuh arti menatap ke arah ayahnya yang sedang mengibaskan bajunya.


Saat yang bersamaan, ribuan orang prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Tunggul Arga datang dari arah barat. Panji Tejo Laksono tersenyum simpul sembari melihat kedatangan mereka.


"Ini adalah akhir perang kota Kunjang"

__ADS_1


__ADS_2