Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ajian Malih Rupa


__ADS_3

Hoooeeeeggggh!!!


Panji Tejo Laksono langsung muntah darah segar. Tenaga dalam nya nyaris terkuras habis saat mengeluarkan Ilmu Sembilan Matahari tahap akhir bersama dengan Ajian Tameng Waja. Meskipun Ajian Dewa Naga Langit sempat memulihkan tenaga dalam nya, namun besarnya tenaga dalam yang baru saja dia keluarkan untuk menghadapi Nini Raga Setan baru saja membuat sang pangeran muda benar-benar kelelahan.


Dyah Kirana, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika segera melesat ke arah sang pangeran muda ini.


"Kau baik-baik saja Kakang?", tanya Song Zhao Meng segera. Panji Tejo Laksono mengusap sisa darah segar di sudut bibirnya sebelum berbicara.


"Aku tidak apa-apa, Wulan.. Hanya saja, tenaga dalam ku nyaris terkuras habis. Perempuan tua memang hebat", ucap Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.


"Kita harus mencari tempat beristirahat sebelum ke istana Kahuripan, Pendekar. Tidak baik bagi kita jika masuk ke dalam sarang musuh dengan kondisi tubuh pendekar yang masih lemah seperti ini", sahut Ki Jatmika segera.


"Kau benar, Ki Jatmika..


Kakang Tejo Laksono perlu beristirahat sejenak sebelum menghadap Prabu Samarotsaha. Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Ledakan mahadahsyat baru saja pasti akan memancing perhatian banyak orang ke tempat ini", imbuh Dyah Kirana yang di sambut dengan anggukan kepala dari semua orang.


Song Zhao Meng dan Dyah Kirana segera memapah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda segera menyarungkan kembali Pedang Naga Api di punggungnya. Tak mau mengambil resiko, mulut Panji Tejo Laksono komat-kamit merapal mantra lalu memasukkan Pedang Naga Api ke dalam rekahan udara yang tercipta.


Setelah itu mereka berempat pun segera meninggalkan tempat itu.


Sepasang mata Keswari yang terus memperhatikan gerak-gerik mereka, segera melesat cepat meninggalkan tempat itu. Dia menuju ke arah Keputren Istana Kotaraja Kahuripan untuk melaporkan kejadian itu pada majikannya.


Setelah melewati hutan kecil ini, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya sampai di tapal batas Kotaraja Kahuripan. Sebuah tugu batu besar yang berukir huruf Jawa Kuno yang terbaca sebagai Kahuripan berdiri tegak di samping jalan raya. Tak jauh dari situ, nampak gerbang Kotaraja Kahuripan berdiri megah dengan tembok yang terbuat dari batu bata setinggi 2 tombak memagari Kotaraja Kahuripan dengan kokoh.


"Sebaiknya kita beristirahat sejenak di sini sebelum masuk kota. Kedatangan kita pasti akan menjadi perhatian para prajurit Jenggala.


Kita sebaiknya beristirahat di sana saja", Panji Tejo Laksono menunjuk ke arah sebuah bangunan kayu yang berada di samping pohon besar dekat tugu tapal batas Kotaraja Kahuripan. Bangunan ini adalah gubuk kayu yang cukup besar, yang biasanya digunakan oleh para peladang ataupun petani yang mengerjakan lahan pertanian di luar tembok Kotaraja Kahuripan.


Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng mengangguk setuju dan mereka segera menuju ke arah tempat yang dimaksudkan oleh Panji Tejo Laksono.


Sang pangeran muda segera duduk bersila di atas dipan kayu yang ada di tempat itu. Dia segera bersemedi untuk memulihkan tenaga dalam. Sedangkan Ki Jatmika segera bergegas menuju ke sisi lain hutan kecil ini untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Song Zhao Meng mendampingi sang pangeran muda sedangkan Dyah Kirana terlihat sedang mengumpulkan air dari sumber air yang ada tak jauh dari tempat itu untuk menghilangkan dahaga.


Saat itu dari arah tepi hutan kecil, terlihat dua orang lelaki tua muda sedang berjalan sambil memanggul sesuatu. Si lelaki tua bertubuh sedikit kurus ini memanggul cangkul dan sabit sementara yang muda nampak memanggul ketela pohon dengan batangnya. Sepertinya mereka baru saja pulang dari ladang dan membawa hasil ladang mereka untuk di bawa pulang ke rumah.


"To... Besok kau jadi ikut bapak ke pasar besar tidak?", tanya lelaki tua yang tidak memakai baju itu sembari terus berjalan.


"Yo ikut to pak e..


Aku sudah lama tidak berjumpa dengan Suniti, anak juragan beras di pasar besar. Aku kangen dengan nya pak e", jawab si lelaki muda bertubuh gempal yang memakai baju tanpa lengan itu segera.

__ADS_1


"Kau ini.. Kerja dulu yang benar, jangan buru-buru mikir perempuan. Bocah kog ora genah..", omel lelaki tua itu sembari terus menapaki jalan setapak yang ada di tepi hutan kecil ini.


Mereka adalah Ki Wardoyo dan Gento, ayah dan anak yang merupakan petani di tepi hutan kecil ini. Selain sawah di dekat sungai kecil yang sedang mereka kerjakan, tanah di samping gubuk kayu tempat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan juga merupakan tanah garapan mereka.


Saat melewati dekat gubuk kayu milik mereka, Gento yang terlebih dahulu tak sengaja melihat Song Zhao Meng dan Dyah Kirana sedang duduk-duduk di samping Panji Tejo Laksono langsung melongo. Segera dia mengintip mereka dari balik pohon ketela yang rimbun.


"Pak e pak e.. I-itu Pak e..


Ada dua bidadari sedang duduk di gubuk kita", ujar Gento sembari menunjuk ke arah Song Zhao Meng dan Dyah Kirana. Ki Wardoyo pun terpancing dengan omongan Gento dan segera ikut mengintip Panji Tejo Laksono dan kedua wanitanya.


"Mana To? Kau jangan mengada-ada ..", ucap Wardoyo sambil memicingkan mata tua nya.


"Itu pak e.. Itu di dalam gubuk. Masak gak kelihatan?", Gento menunjuk ke dalam gubuk kayu.


Saat keduanya sedang asyik mengintip Panji Tejo Laksono dan kedua wanitanya, Ki Jatmika yang melihat ulah kedua orang tua muda itu melesat cepat kearah belakang mereka. Suara gerakan Sang Pendekar Tapak Berdarah ini begitu ringan hingga Gento dan Ki Wardoyo tidak mendengar apapun saat itu.


Ki Jatmika langsung melemparkan setandan pisang matang di punggungnya. Ini langsung mengejutkan Gento dan Ki Wardoyo. Dua orang tua muda itu langsung menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya mereka melihat Ki Jatmika sedang mendelik kereng pada mereka.


"Apa yang sedang kalian lihat ha?!"


Bentakan keras Ki Jatmika seketika membuat Gento dan Ki Wardoyo ketakutan.


"A-ampun pendekar..


"Bohong!


Pasti kalian sengaja ingin memata-matai kami bukan? Mengaku saja", Ki Jatmika melotot seram.


"Sumpah deh.. Saya tidak sengaja melihat mereka. Sambar petir juga berani kalau bohong", ucap Gento yang berbadan besar seperti Demung Gumbreg ini.


Keributan yang terjadi ini memantik perhatian Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana. Meskipun baru sebentar saja sang pangeran muda ini memulihkan tenaga dalam nya, namun berkat Ajian Dewa Naga Langit nya, tenaga dalam nya cepat kembali. Mereka bertiga cepat bergerak ke arah keributan antara Ki Jatmika, Ki Wardoyo dan Gento.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke arah mereka bertiga.


"Mereka berdua mengintip pendekar Tejo dan Nini Wulandari juga Nini Kirana. Pasti mereka adalah mata-mata, Pendekar Tejo", ucap Ki Jatmika sambil menatap tajam ke arah Gento dan Ki Wardoyo.


"Salah paham, Pendekar.. Ini salah paham..


Kami hanya penasaran ingin tahu siapa yang beristirahat di gubuk kami. Itu saja..", ucap Ki Wardoyo sambil gemetar ketakutan.

__ADS_1


Hemmmmmmm..


"Baiklah kalau begitu. Ini murni salah paham. Ki Jatmika, tidak usah meributkan hal ini.


Aku berterimakasih kepada kalian karena sudah mengijinkan kami beristirahat sejenak di gubuk kalian. Kami permisi.


Ki Jatmika, Kirana, Wulandari..


Ayo kita lanjutkan perjalanan..", ucap Panji Tejo Laksono sembari berbalik arah. Beberapa langkah ke depan, dia melirik ke arah Ki Wardoyo dan Gento sebentar lalu bergegas meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Song Zhao Meng dan Dyah Kirana. Ki Jatmika mendengus keras lalu mengikuti langkah sang pangeran muda. Mereka berempat pun segera memasuki wilayah Kotaraja Kahuripan.


Setelah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya cukup jauh, Ki Wardoyo menghembuskan nafas keras.


"Untung saja, pendekar muda itu tak menyadari penyamaran kita, Badragenta..", ucap Ki Wardoyo yang perlahan berubah bentuknya menjadi seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal dan mata yang tajam.


"Hahahaha, tentu saja Guru..


Siapa yang sanggup membongkar penyamaran Mpu Jiwan Si Hantu Misterius yang tersohor di seluruh Tanah Jawadwipa ini", ucap Gento yang perlahan berubah bentuknya menjadi seorang pemuda berkumis tipis.


Benar, Ki Wardoyo dan Gento adalah bentuk penyamaran sempurna dari Mpu Jiwan, salah satu sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah yang biasa disebut sebagai Si Hantu Misterius karena tak seorangpun pernah melihat wajah asli lelaki tua ini. Sedangkan Gento adalah bentuk rekayasa rupa dari Badragenta, murid satu-satunya Mpu Jiwan yang ahli dalam bidang penyamaran. Keduanya menguasai ilmu perubahan wujud yang di sebut Ajian Malih Rupa.


"Pendekar muda ini sangat berbahaya, Badragenta..


Dia bisa menumbangkan Nini Raga Setan yang aku sendiri belum tentu bisa mengalahkan nya. Pendeta Darah pun hanya pernah sekali membuat perempuan iblis itu tak berdaya. Kita harus lebih berhati-hati jika sampai harus bertarung melawan nya", ucap Mpu Jiwan sambil mengelus janggut tebal yang menutupi sebagian dagu wajah nya.


"Aku mengerti Guru..


Sebaiknya kita meminta bantuan dari Si Mata Iblis jika ingin mengalahkan pemuda itu. Kita cegat mereka nanti saat keluar dari dalam Kotaraja Kahuripan", ucap Badragenta segera.


Mpu Jiwan mengangguk mengerti dan keduanya melesat cepat meninggalkan tempat itu.


Saat ledakan mahadahsyat terdengar, dua orang itu melihat asap tebal membumbung tinggi ke angkasa. Dari kejauhan keduanya melihat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya bergerak menuju ke arah Kotaraja Kahuripan dan dengan cerdik mereka berdua segera menggunakan Ajian Malih Rupa untuk menyamarkan penampilan mereka. Ini berhasil mengelabui Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan dengan samaran mereka.


Namun yang tak mereka duga sebelumnya bahwa Panji Tejo Laksono sempat merasakan hawa membunuh yang pekat merembes keluar dari tubuh Badragenta sebentar sebelum Panji Tejo Laksono dan kedua wanitanya mendekat. Ini pula alasan mengapa Panji Tejo Laksono memilih untuk tidak meributkan kelakuan dua orang itu mengintip dan memilih untuk segera berangkat ke Kotaraja Kahuripan


Tepat di depan gerbang Kotaraja Kahuripan dimana 8 orang prajurit penjaga gerbang kota menghentikan mereka, Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Mpu Jiwan dan Badraseta yang melesat cepat kearah timur.


'Jenggala benar-benar penuh dengan orang yang berbahaya', batin Panji Tejo Laksono.


Seorang prajurit penjaga gerbang kota yang melihat Panji Tejo Laksono sedang menoleh ke arah timur langsung membentak keras,

__ADS_1


"Hei kamu si baju biru tua,


Kenapa terus melihat ke arah timur?!"


__ADS_2