Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Permintaan Eyang


__ADS_3

Penampilan orang memang kadang menipu.


Semenjak keluar dari dalam Istana Katang-katang, Panji Tejo Laksono memang tidak memakai pakaian serba mewah layaknya seorang pangeran. Baju biru tua nyaris kehitaman tanpa lengan nya terlihat sama seperti kebanyakan dandanan rakyat jelata pada umumnya meski terlihat layaknya orang kaya biasa namun itu juga bukan sesuatu yang mencolok.


Ikat kepala dari kain hitam nya juga tak ubahnya seperti kebanyakan orang biasa. Hanya sumping telinga dari emas saja yang menjadi penanda bahwa dia adalah seorang bangsawan namun itu juga tidak mutlak karena banyak saudagar kaya memakai perhiasan emas serupa.


Demikian pula dengan Luh Jingga dan Dyah Kirana. Kedua orang perempuan cantik ini juga mengikuti dandanan sang pangeran muda. Baik Luh Jingga maupun Dyah Kirana tidak mengenakan perhiasan yang berlebihan. Malahan mereka terlihat seperti seorang pendekar wanita daripada seorang wanita bangsawan pada umumnya. Luh Jingga yang senantiasa mengenakan pakaian serba kuning kemerahan, hanya memakai giwang kecil dengan mata merah delima sedangkan Dyah Kirana yang mengenakan pakaian serba putih hanya mengenakan kalung perak dengan bandul sederhana.


Inilah dasar kenapa Bargowo dan Gendro berani mengganggu mereka karena beranggapan kalau Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Gayatri hanyalah orang biasa. Mereka nanti akan kaget setengah mati setelah tahu siapa orang orang yang di ganggu nya itu sebenarnya.


Bhhhuuuuuuggggh!!


Gendro si pemeras pasar besar Kota Gelang-gelang langsung tersungkur setelah tendangan keras kaki kanan Luh Jingga melemparkan nya hampir dua tombak jauhnya ke belakang. Meski dia masih bisa bangun, namun perutnya sakit bukan main seperti baru di hantam balok kayu besar. Sambil meringis menahan rasa sakit, pria bertubuh gempal itu segera mencabut golok di pinggangnya.


"Kurang ajar!


Akan ku buat kau menyesal karena berani melawan kami", teriak Gendro kesal sambil berlari cepat kearah Luh Jingga. Sekuat tenaga dia mengayunkan goloknya ke arah leher perempuan cantik berbaju merah kekuningan itu.


Whhuuuuuuuggggh!


Luh Jingga dengan cepat berkelit menghindari tebasan golok Gendro. Putri Resi Damarmoyo itu rupanya sudah bersiap sejak dari tadi.


Whhuuuuuuuggggh whuuthhh..


Plllaaaakkkkk..!


Dhasshhh dhasshhh!!


Gendro kembali terhuyung huyung mundur setelah pukulan dan tendangan keras Luh Jingga mendarat di tubuhnya. Namun bukannya kapok, pria bertubuh gempal berwajah sangar itu malah seperti kesetanan kembali melompat ke arah Luh Jingga dengan serangannya.


Melihat kawannya maju, Bargowo pun tak tinggal diam. Dia segera menghunus goloknya dan menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono.


Dyah Kirana segera meloloskan selendang putih yang membelit pinggangnya dan kedua tangan nya memegang ujung selendang untuk bersiap menghadapi serangan penjahat pasar besar ini.


Shhrreeettthhh!


Satu tebasan golok Bargowo dengan mudah di tangkis oleh Dyah Kirana memakai selendang putih nya. Secepat mungkin, cucu Maharesi Padmanaba itu mengikat bilah golok Bargowo, merubah gerakan tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah perut lawan.


Bhhhuuuuuuggggh..


Oouuugghhhhhh!!


Bargowo langsung jatuh terjengkang ke belakang. Namun dia kembali bangkit dan melompat lagi ke arah Dyah Kirana sambil mengayunkan goloknya.


Keributan di pasar besar Kota Gelang-gelang ini langsung memantik perhatian dari para pengunjung pasar maupun para pedagang yang berjualan disana. Mereka berkerumun agak jauh dari tempat itu karena takut menjadi korban namun juga penasaran dengan siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertarungan ini. Sungguh, harapan terbesar mereka adalah melihat kekalahan Bargowo dan Gendro yang selama ini benar-benar menjadi momok bagi para pedagang.


Dalam 4 jurus berikutnya, Bargowo dan Gendro sudah babak belur di hajar oleh Luh Jingga dan Dyah Kirana. Beberapa bagian wajah mereka sudah memar dan membiru akibat pukulan dan tendangan yang mereka terima. Hidung mereka mengeluarkan darah sedangkan bibir mereka pecah dan berdarah. Beberapa gigi Gendro juga rontok terkena hantaman tangan kanan Luh Jingga yang kesal karena di ganggu pria bertubuh gempal itu.


Saat Luh Jingga dan Dyah Kirana hendak menghajar lagi dua penjahat pasar itu, Panji Tejo Laksono langsung mencekal pergelangan tangan mereka.


"Sudah cukup kalian memberikan pelajaran kepada mereka, Dinda berdua!"

__ADS_1


Meski masih geram dengan ulah dua orang itu, Luh Jingga menurut. Begitu pula dengan Dyah Kirana yang segera mengikatkan selendang putih nya ke pinggang. Mereka bertiga pun segera bersiap untuk pergi meninggalkan tempat itu namun suara teriakan keras menghentikan langkah mereka.


"Berhenti kalian! Jangan coba-coba kabur dari tempat ini!"


Teriakan keras itu seketika membuat Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Dyah Kirana segera berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.


Seorang prajurit bertubuh kekar dengan kumis tebal dan jambang lebat bersama sekitar 5-6 orang prajurit lainnya menatap tajam ke arah Panji Tejo dan dua orang perempuan cantik itu. Sementara itu, Bargowo langsung tersenyum meski dengan sedikit meringis akibat luka di bibirnya.


"Mampus kalian!


Kakak ku sudah datang. Saatnya kalian masuk ke dalam penjara hehehehe", ujar Bargowo dengan seringai liciknya. Rupanya ada orang yang melaporkan kepada para prajurit Gelang-gelang mengenai keributan di pasar besar dekat istana itu. Dan apesnya, orang yang di lapori masalah itu adalah Barnowo, kakak kandung Bargowo yang menjadi bekel prajurit Kabupaten Gelang-gelang.


"Kenapa kau membuat keributan di tempat kami? Siapa kau dan apa tujuan mu kemari ha?!", hardik Barnowo sambil mendelik kereng pada Panji Tejo Laksono.


"Kami sedang berbelanja di tempat ini tapi begundal itu meminta pajak pada kami. Tentu saja kami menolaknya karena dalam peraturan pemerintah Kotaraja Daha, tak ada pajak pada setiap kegiatan perdagangan kecuali para pedagang yang mempunyai lapak", ucapan Panji Tejo Laksono ini langsung membuat Barnowo terperangah karena baru kali ini ada orang yang mengatakan hal itu kepadanya.


"Dia bohong, Kakang..


Aku hanya menarik pajak di pasar sesuai dengan perintah mu. Tidak ada yang lain. Jangan percaya dengan omongan nya", sanggah Bargowo segera.


"Bargowo benar Gusti Bekel..


Kami menarik pajak sesuai dengan perintah mu. Tak pernah kami menarik pajak dari para pembeli. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada para pedagang disini.


Hai kalian, benar tidak apa yang aku katakan?!", Gendro melotot lebar ke arah para pedagang yang berkerumun agak jauh dari tempat itu. Takut menjadi korban keganasan Gendro dan Bargowo di kemudian hari, para pedagang pasar besar maupun para pembeli yang ada di tempat itu memilih untuk bungkam soal itu.


Gendro langsung menyeringai lebar setelah tak ada jawaban dari mereka dan menatap ke arah Panji Tejo Laksono dengan penuh kemenangan.


Prajurit, tangkap orang orang itu!", perintah Barnowo yang membuat para prajurit Gelang-gelang itu bergerak maju. Namun belum sampai 3 langkah, Luh Jingga langsung berteriak keras.


"Tunggu dulu! Berani kalian menyentuh kami, bersiaplah untuk kehilangan kepala kalian,!!"


Ucapan itu segera menghentikan langkah para prajurit Gelang-gelang.


"Kehilangan kepala kami? Memangnya siapa kalian hingga berani mengancam para prajurit Gelang-gelang ha?!", hardik Bekel Barnowo segera.


Luh Jingga sambil mendengus dingin merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan sebuah lencana perak bergambar burung garuda yang merupakan lambang kerabat dekat Istana Kotaraja Daha. Setiap orang selir Panji Tejo Laksono memang memegang lencana ini setelah mereka sah menjadi istri anggota keluarga Kerajaan Panjalu.


"Len-lencana perak burung garuda?!


K-kau kerabat dekat Istana Kotaraja Daha??", lemas dengkul Barnowo melihat lencana perak di tangan kanan Luh Jingga.


"Bukan itu saja!


Apa kalian tahu siapa pemuda tampan ini ha? Dia adalah Pangeran Panji Tejo Laksono, putra sulung Prabu Jayengrana sekaligus cucu dari Bupati Gelang-gelang Gusti Panji Gunungsari", ucap keras Luh Jingga ibarat petir menyambar di siang bolong di telinga semua orang yang ada di tempat itu.


Semua orang langsung berlutut dan menyembah pada Panji Tejo Laksono sementara sang pangeran sendiri hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Luh Jingga.


"Maaf Kangmas Pangeran..


Aku terpaksa harus membongkar rahasia kita. Aku tidak mau mereka semua tidak hormat pada mu hanya karena kita memakai pakaian biasa", ujar Luh Jingga sembari membungkuk hormat kepada suaminya itu.

__ADS_1


"Sudahlah Dinda Jingga.. Kau tidak perlu bersikap seperti itu..


Aku tidak memakai pakaian kebesaran juga tidak ingin di hormati berlebihan seperti saat ini. Namun aku juga tidak menyangka bahwa ada hal memalukan seperti ini di wilayah Eyang ku.


Prajurit, seret dua orang itu ke penjara Kota Gelang-gelang. Biarkan sang Pamgat Kabupaten Gelang-gelang yang memutuskan hukuman apa yang pantas untuk mereka!", titah sang pangeran muda dari Kadiri ini segera.


Empat orang prajurit Gelang-gelang langsung menghormat pada Panji Tejo Laksono dan bergegas menyeret Bargowo dan Gendro ke penjara Kota Gelang-gelang. Meski Bargowo dan Gendro berteriak-teriak minta tolong kepada Bekel Barnowo namun perwira prajurit Gelang-gelang ini juga tidak bisa berbuat apa-apa selain melihatnya di seret oleh para prajurit bawahannya.


"Sedangkan untuk kau Bekel..


Temui Senopati Gelang-gelang. Biar dia sendiri yang menentukan apakah kau sebagai seorang perwira prajurit Gelang-gelang yang membiarkan penindasan terjadi di depan mata mu masih pantas untuk menjabat sebagai kepala prajurit? Jika sudah, temui aku di Pendopo Agung Kabupaten Gelang-gelang", sambung Panji Tejo Laksono segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap Bekel Barnowo sedikit lirih sambil membayangkan hukuman apa yang akan menimpa nya.


Para pedagang dan pembeli di pasar besar Kota Gelang-gelang yang menyaksikan langsung adegan ini langsung berteriak keras.


"Hidup Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono!!"


Teriakan keras bersahutan itu seakan menjadi penanda bahwa para penindas di pasar besar Kota Gelang-gelang telah berakhir berkat bantuan dari Panji Tejo Laksono. Semuanya langsung bergembira ria.


Setelah selesai dengan masalah di pasar besar Kota Gelang-gelang, Panji Tejo Laksono dan kedua wanitanya menemui Tumenggung Sindupraja dan para prajurit Panjalu yang tak tahu menahu tentang apa yang baru saja terjadi. Mereka kemudian menuju ke arah Istana Kabupaten Gelang-gelang.


Kedatangan mereka sontak mendapat sambutan hangat dari orang-orang istana Kabupaten Gelang-gelang terutama Panji Gunungsari. Sang bupati sepuh berjenggot putih panjang itu segera bangkit dari singgasananya setelah melihat kedatangan Panji Tejo Laksono dan rombongannya.


Panji Tejo Laksono langsung bersujud kepada Panji Gunungsari diikuti oleh seluruh anggota rombongan nya.


"Sembah bakti kami Kanjeng Eyang Bupati", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Bangunlah dari sembah bakti mu, wahai anak muda!", balas Panji Gunungsari sembari melangkah menuju ke arah Panji Tejo Laksono. Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono langsung bangkit dari tempat menyembah nya dan duduk bersila di lantai Pendopo Agung Kabupaten Gelang-gelang.


"Kau mirip seperti Watugunung.. Apakah kau benar-benar putra nya?", Panji Gunungsari mengelus wajah tampan Panji Tejo Laksono seperti orang tua yang merindukan sosok putra kesayangannya.


"Iya Kanjeng Eyang Bupati. Saya Panji Tejo Laksono cucu eyang dan juga putra sulung dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana", ucap Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


"Ah ternyata benar kau cucu ku hehehehe..


Ayo berdiri cucu ku, jangan duduk saja. Temani aku jalan-jalan ayo..", ujar Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari sambil menarik tangan Panji Tejo Laksono untuk berdiri dan mengikuti langkah nya.


Tak ada pilihan lain selain menerima ajakan ini dan mereka berdua langsung meninggalkan Pendopo Agung Kabupaten Gelang-gelang tanpa mempedulikan para punggawa istana yang sedang melakukan pisowanan.


Sesampainya di taman sari istana, Panji Gunungsari menghentikan langkahnya dan berbalik badan ke arah Panji Tejo Laksono yang berjalan di sampingnya.


"Tejo Laksono, mau kah kau berjanji untuk melakukan satu hal untuk ku sebelum aku mati?", ucap Panji Gunungsari dengan penuh harap.


"Kanjeng Eyang ini bicara apa? Kanjeng Eyang masih akan hidup seratus tahun lagi dan menimang cicit dari ku. Jadi Kanjeng Eyang tidak boleh bicara seperti itu", sergah Panji Tejo Laksono segera.


Mendengar jawaban itu, Panji Gunungsari tersenyum tipis.


"Kita semua tahu bahwa umur manusia ada batasnya, cucu ku. Aku sudah tua, sangat tua. Aku sudah tidak ingin apa-apa lagi selain bersama dengan eyang putri mu di alam Swargaloka. Sekali-kali dengarkanlah permintaan ku ini agar aku tidak ada beban jika nanti menghadap ke Sang Pencipta", ujar Panji Gunungsari yang membuat Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang.


Sambil tersenyum tipis, Panji Tejo Laksono berkata, "Baiklah Kanjeng Eyang, aku berjanji untuk mencoba memenuhi keinginan mu. Sekarang katakan pada ku, Eyang.

__ADS_1


Apa yang kau inginkan?"


__ADS_2