Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pimpinan Pasukan


__ADS_3

Ledakan maha dahsyat terdengar. Debu beterbangan menutupi seluruh tempat itu bersama dengan asap tebal yang bercampur aduk dengan kabut. Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng terseret mundur hampir dua tombak jauhnya. Nafas mereka berdua ngos-ngosan karena Ilmu Semesta Yin Yang yang mereka keluarkan hampir menyedot separuh lebih tenaga dalam mereka.


"Hossshhh hooosshh..


Meng Er, kau baik baik saja?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah wajah cantik Song Zhao Meng di samping kiri nya.


"Huffffffffttt huhhhhh.. Aku tidak apa apa Kak Thee..


Dua pendekar sesat itu rupanya berilmu sangat tinggi. Untung saja ada Ilmu Semesta Yin Yang. Kalau tidak, entah bagaimana kita menghadapi mereka", Song Zhao Meng tersenyum penuh arti. Panji Tejo Laksono membalas dengan anggukan kepala lalu kembali menatap ke arah kepulan asap tebal di depannya yang mulai menghilang.


Ledakan dahsyat itu juga membuat dermaga pelabuhan Sungai Yinghe sebagian besar hancur. Beberapa bangunan yang ada di dekat tempat itu roboh tersapu gelombang kejut dari ledakan dahsyat itu tadi. Demung Gumbreg yang menderita luka dalam akibat dari kibasan tangan Li Chun Jun pun, mesti terguling beberapa kali karena tak kuat menahan beban berat gelombang kejut yang menghantam tubuh nya. Rakryan Purusoma apalagi, pria bertubuh kekar itu ikut terlempar hampir 4 tombak ke belakang dan baru berhenti setelah Luh Jingga yang masih prima, menghentikan laju pergerakan tubuhnya. Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi pun tak lebih baik. Dua orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu harus mati-matian berusaha keras untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh meski terseret mundur hampir 3 tombak ke belakang.


Saat asap tebal akibat ledakan dahsyat itu mereda, terlihat sebuah pemandangan yang mengerikan. Apalagi kabut putih tebal yang sempat menghalangi pandangan mata mulai menghilang, semua mata langsung tertuju pada sesosok mayat bertubuh kurus yang terlihat mengenaskan.


Sosok itu tak lain adalah Li Chun Jun. Separuh tubuhnya hangus seperti terbakar api sedangkan separuh tubuhnya membeku tertutup oleh bongkahan es. Mata, hidung, telinga dan mulutnya mengeluarkan darah segar bercampur kehitaman. Tangan kanan nya putus, sedangkan kaki kirinya hancur. Di tepi pelabuhan Desa Chengguan, nama besar nya sebagai pendekar golongan hitam terbesar di dunia persilatan Tanah Tiongkok hancur di tangan Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng.


Sedangkan mayat pasangan nya, Si Iblis Gagak Betina Qing Yu tidak terlihat. Namun sebuah potongan lengan kiri terlihat tergeletak di atas tanah. Berikut ceceran darah segar yang mengarah ke Sungai Yinghe. Mungkin Si Iblis Gagak Betina Qing Yu ini berhasil kabur dengan luka parah yang di terimanya.


Melihat kematian Li Chun Jun dan menghilang nya Qing Yu, semua orang yang ada di tempat itu langsung menarik nafas lega. Tumenggung Rajegwesi bmemapah Rakryan Purusoma berjalan mendekati Panji Tejo Laksono , sedangkan Gumbreg di bantu oleh Luh Jingga dan Tumenggung Ludaka ikut mendekati sang pangeran muda.


"Maafkan kami yang tidak bisa membantu Gusti Pangeran", ujar Tumenggung Ludaka segera.


"Tidak perlu sungkan Paman Ludaka, yang terpenting s adalah memulihkan kembali kesehatan kita semua. Untuk malam ini, kita bermalam di tempat ini saja", ucapan Panji Tejo Laksono langsung mendapat anggukan kepala dari semua orang yang ada di tempat itu.


****


Nun jauh di selatan, tepatnya di pulau Jawa sebelah tengah yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Panjalu.


Di istana Kotaraja Kadiri, Prabu Jayengrana sedang duduk di atas singgasana nya. Di samping kanan nya nampak Permaisuri Pertama Dewi Anggarawati dan di samping kiri nya ada Ayu Galuh Sang Permaisuri Kedua. Raja Panjalu itu nampak sedang berpikir keras.


Baru saja Mapatih Warigalit menyampaikan laporan telik sandi tentang adanya pergerakan mencurigakan dari wilayah Kadipaten Rajapura. Menurut laporan yang masuk, ada dugaan kuat bahwa Kadipaten Rajapura sedang berupaya untuk melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Panjalu. Terbukti dengan adanya persiapan prajurit besar-besaran dan latihan perang yang di lakukan di dekat lereng Gunung Pojoktiga.


Hemmmmmmm..


Terdengar hembusan nafas panjang dari mulut Sang Penguasa Tanah Panjalu itu sembari mengelus kumisnya yang tebal.


"Kakang Warigalit,


Aku ingin tahu seberapa besar kekuatan para prajurit Panjalu saat ini. Karena kita juga tidak mungkin mengerahkan seluruh kekuatan tempur kita untuk menegakkan panji Panjalu diatas Tanah Rajapura. Jenggala saat ini kita juga tengah mempersiapkan prajurit dalam jumlah besar untuk menyerang Panjalu. Ini yang membuat ku pusing dengan keadaan ini ", Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana menatap ke arah Mapatih Warigalit segera.

__ADS_1


Di dalam ruang pribadi raja, selain Panji Watugunung dan kedua permaisurinya, ada Mapatih Warigalit, Senopati Agung Narapraja, dan Tumenggung Sindupraja yang menghadap sang penguasa Tanah Panjalu itu. Mapatih Warigalit segera menyembah pada Prabu Jayengrana sebelum berbicara.


"Mohon ampun Dhimas Prabu Jayengrana,


Masalah ini memang cukup memusingkan kepala kita. Kalau menurut saran hamba, sebaik kita membagi pasukan. Untuk jumlah prajurit yang kita miliki, Senopati Agung Narapraja tentunya lebih tahu dari pada hamba. Biar dia yang menjelaskan langsung pada Dhimas Prabu ", Mapatih Warigalit segera menghormat pada Panji Watugunung segera. Senopati Agung Narapraja segera haturkan sembah pada Panji Watugunung sebelum angkat bicara.


"Ampun beribu ampun Gusti Prabu,


Jumlah keseluruhan dari prajurit Panjalu yang ada saat ini adalah 70 ribu orang. Perinciannya adalah 5 ribu prajurit bertugas sebagai penjaga istana, 15 ribu prajurit berkuda dan 20 ribu prajurit berjalan kaki, 10 ribu prajurit pemanah, 10 ribu prajurit perbekalan, 5 ribu prajurit Pasukan Garuda Panjalu, dan 5 ribu prajurit pengamanan Kotaraja.


Kalau pun kita harus membagi pasukan, sebaiknya untuk menghadapi para pemberontak Rajapura, hamba sarankan untuk mengirim 5 ribu prajurit berkuda, 2 ribu prajurit pemanah, 2 ribu prajurit Pasukan Garuda Panjalu dan 2 prajurit perbekalan. Untuk sisanya, kita bisa meminta bantuan pada Kadipaten di sekitar Rajapura seperti Kalingga, Paguhan dan Kembang Kuning", Senopati Agung Narapraja menghaturkan hormat setelah selesai bicara.


"Hamba setuju dengan pendapat Senopati Agung Narapraja, Dhimas Prabu..


Dengan itu kita juga sekalian menguji kesetiaan para Adipati di sekitar Rajapura. Apakah mereka mendukung Adipati Waramukti atau tetap setia pada Kotaraja Kadiri ", timpal Mapatih Warigalit segera.


Hemmmmmmm..


"Pendapat kalian berdua ada benarnya juga. Kita juga harus menguji apakah mereka setia dengan Istana Katang-katang.


Andai saja Tejo Laksono sudah pulang, maka aku tidak perlu memikirkan siapa yang akan menjadi pimpinan puncak para prajurit Panjalu untuk menertibkan keamanan di wilayah barat", Panji Watugunung nampak mengelus kumisnya yang tebal.


Ayu Galuh yang mendengar ucapan Panji Watugunung langsung merasa kesal apalagi putranya Mapanji Jayawarsa sama sekali tidak pernah di perhitungkan dalam setiap kesempatan untuk mengharumkan nama Kerajaan Panjalu. Segera putri Prabu Samarawijaya ini menghormat pada suaminya yang kini tengah berdiri sembari berpikir.


Selain Nakmas Pangeran Tejo Laksono, bukankah masih ada putra mu yang lain seperti Pangeran Jayawarsa ataupun Pangeran Jayagiri? Atau juga Kangmas Prabu bisa mengutus Pangeran Panji Mandala Seta untuk mengantikan tugas ini? Ingat Kangmas Prabu, semua putra mu juga berhak untuk ditugaskan sebagai ksatria Panjalu yang akan mengharumkan nama kerajaan kita", ucap Ayu Galuh sang permaisuri kedua sembari menghormat pada Panji Watugunung.


"Aku juga setuju dengan pendapat Nimas Ratu Ayu Galuh, Kangmas Prabu..


Kangmas Prabu harus memberikan kesempatan yang sama kepada putra putra mu yang lain untuk berbakti kepada negara kita. Lagipula Tejo Laksono juga belum pulang dari Tanah Tiongkok, tentu saja ini bisa menjadi pelukis bagi para putra mu yang lain untuk unjuk kebolehan mereka dalam memadamkan pemberontakan Adipati Waramukti", timpal Dewi Anggarawati sembari tersenyum tipis.


"Baiklah kalau begitu, aku terima usulan dari kalian berdua.


Kakang Warigalit,


Tugaskan para telik sandi dan mata mata kita untuk terus mengawasi perkembangan di perbatasan dengan Jenggala. Jangan kendor sedikitpun pengawasan mereka. Jangan lupa untuk memberitahu pada Jayawarsa untuk pulang ke Kadiri. Dia yang akan memimpin pasukan Panjalu untuk menertibkan tindakan Adipati Waramukti.


Senopati Agung Narapraja,


Kau pimpin 12 ribu orang prajurit Panjalu untuk berangkat ke Rajapura. Atur 3 ribu orang prajurit dari Pasukan Garuda Panjalu dan Lowo Bengi untuk bergerak lebih dulu. Minta Tumenggung Landung untuk secepatnya bergerak.

__ADS_1


Tumenggung Sindupraja,


Suruh beberapa prajurit berkuda yang tercepat untuk mengantar surat ku ke Kalingga, Paguhan dan Kembang Kuning. Dalam waktu satu purnama, mereka harus sudah kembali dengan jawaban pasti sebelum pasukan Senopati Agung Narapraja bergerak.


Apa kalian semua sudah mengerti?", Panji Watugunung mengakhiri titahnya sembari menatap ke arah tiga punggawa Kerajaan Panjalu itu segera.


"Kami mengerti Gusti Prabu", jawab Mapatih Watigalit , Senopati Agung Narapraja dan Tumenggung Sindupraja seraya menghormat pada Prabu Jayengrana.


"Kalau begitu, pisowanan ini aku bubarkan. Segera laksanakan tugas yang sudah ku berikan", mendengar titah sang raja, ketiga punggawa Istana Kadiri ini segera menyembah pada junjungan mereka lalu mundur dari tempatnya.


Setelah para punggawa Istana Kerajaan Kadiri itu pergi, Prabu Jayengrana segera menoleh ke arah Ayu Galuh.


"Dinda Galuh,


Apa kau benar benar yakin dengan kemampuan Jayawarsa? Kalau kemampuan berperang masih bisa diasah, tapi untuk kemampuan beladiri, aku masih sangsi Dinda", ucap Panji Watugunung segera.


"Kangmas Prabu,


Maharesi Socandriya yang mengajari Pangeran Jayawarsa ilmu keprajuritan pernah bicara kepada ku bahwa kemampuan beladiri Jayawarsa sudah cukup tinggi untuk ukuran seorang Pangeran. Karena itu, aku sangat menghargai kesempatan yang Kangmas Prabu berikan pada nya. Itu akan menjadi ajang bagi Jayawarsa untuk membuktikan diri", jawab Ayu Galuh sembari tersenyum lebar.


"Yah kita lihat saja nanti akan seperti apa, Dinda Galuh..


Lagipula ada Senopati Agung Narapraja yang menyertai langkah nya ke Rajapura, aku bisa merasa tenang karena walaupun Rajapura hanya sebuah Kadipaten kecil di bagian barat, tapi tempat itu juga berpengaruh terhadap keadaan di sekitarnya. Apalagi Prabu Langlangbumi kakak ipar ku memiliki hubungan yang cukup erat dengan Adipati Waramukti. Jadi menahklukan Rajapura, juga akan menaikkan pamor Kerajaan Panjalu di mata dunia ", Panji Watugunung mengakhiri omongannya sembari berjalan menuju ke arah tempat peristirahatannya. Ayu Galuh dan Dewi Anggarawati langsung mengekor di belakang Sang Maharaja Panjalu ini.


Dan demikianlah, atas perintah dari Prabu Jayengrana, Tumenggung Landung bersama Senopati Muda Jarasanda sang pimpinan Pasukan Garuda Panjalu memimpin 3 ribu orang prajurit terpilih untuk terlebih dahulu berangkat ke Rajapura. Pasukan gabungan antara Pasukan Garuda Panjalu dan Lowo Bengi ini hari itu juga berangkat meninggalkan Ibukota Daha menuju ke arah barat.


Pasukan ini bergerak cepat dengan mengendarai kuda kuda pilihan dan membawa bekal perjalanan sedikit. Menjelang sore hari, mereka telah sampai di perbatasan antara wilayah Kadipaten Anjuk Ladang dan Lewa, sebelum menyeberangi Sungai Wulayu yang menjadi batas wilayah dengan Kadipaten Lasem.


Di Wanua Ringinpitu yang terletak di tepi Sungai Wulayu, para prajurit Panjalu ini beristirahat untuk bermalam. Lurah Wanua Ringinpitu, Mpu Gupit menyambut baik kedatangan mereka dengan menyediakan tempat bermalam di kediaman nya.


"Aku mengucapkan terima kasih atas bantuan mu, Ki Lurah..


Kau sungguh setia dengan Kerajaan Panjalu", ucap Senopati Muda Jarasanda seraya tersenyum tipis pada Ki Lurah Wanua Ringinpitu Mpu Gupit.


"Kami adalah warga Kerajaan Panjalu, Gusti Senopati. Sudah seharusnya kami membantu sebisa mungkin untuk kepentingan Kerajaan Panjalu. Mohon maaf jika bantuan kami hanya seadanya saja", Mpu Gupit menghormat pada Senopati Muda Jarasanda.


"Ini sudah lebih dari cukup, Ki Lurah.


Nanti sekembalinya kami dari Rajapura, aku akan melaporkan semua Budi baik mu pada Gusti Prabu Jitendrakara agar kau mendapat ganjaran yang setimpal", imbuh Senopati Muda Jarasanda segera. Mendengar ucapan itu, Mpu Gupit tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Keesokan paginya, rombongan Pasukan Garuda Panjalu dan Lowo Bengi meninggalkan Wanua Ringinpitu dengan menyeberangi Sungai Wulayu untuk meneruskan perjalanan. Tujuan mereka hanya satu.


Secepatnya sampai di Rajapura.


__ADS_2