Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pertarungan


__ADS_3

Xiao Xing langsung melemparkan 4 jarum berwarna hijau muda ke arah Nona Besar Song. Rupanya dia ingin melumpuhkan Song Zhao Meng terlebih dahulu sebelum mengincar Panji Tejo Laksono.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !


4 jarum pelumpuh otot andalannya melesat cepat kearah Nona Besar Song seperti loncatan petir menyambar. Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin cepat menyambar tubuh Nona Besar Song hingga Song Zhao Meng lolos dari maut. 4 jarum berwarna hijau muda itu menancap pada tiang kayu bercat merah di belakangnya.


Chhreepppppph chhreepppppph!!


Cheeeeshhh !


Asap hijau tipis berbau wangi keluar dari tempat benda itu menancap.


'Jarum beracun... Aku harus hati-hati menghadapi nya', batin Panji Tejo Laksono sembari menurunkan tubuh Nona Besar Song.


"Kau cepat juga, mata besar!


Sekarang coba kau hindari serangan ku ini!"


Xiao Xing langsung merogoh balik bajunya yang longgar lalu melemparkan puluhan jarum beracun kearah Panji Tejo Laksono.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!


Desingan puluhan jarum beracun yang berwarna hijau kehitaman melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera berjumpalitan kesana kemari menghindari lemparan senjata jarak jauh milik Xiao Xing.


Melihat itu, Xiao Xing menggeram keras. Selama ini sangat jarang seorang pendekar bisa lolos dari serangan hujan jarum beracun nya.


"Keparat!!


Kau harus mati di tangan ku pendekar mata lebar! ", maki Xiao Xing sembari terus melemparkan jarum beracun nya. Ketua Bendera Hijau benar benar marah besar.


Setelah terus menerus menghujani Panji Tejo Laksono dengan jarum beracun, mata Xiao Xing terbelalak lebar saat melihat persediaan jarum beracun nya habis.


Disaat yang bersamaan, Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah Xiao Xing sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api berkobar.


Shhiiiuuuuuuttttt !


Selarik sinar merah menyala berhawa panas dari Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah Xiao Xing.


Melihat dirinya dalam bahaya, Xiao Xing langsung mencabut sepasang pedang pendek melengkung di pinggangnya dan segera menyilangkan kedua senjata itu ke depan dada nya untuk menghadang laju sinar merah menyala berhawa panas yang menerabas cepat kearah nya.


Blllaaaaaarrr !


Aaauuuuggggghhhhh !


Xiao Xing langsung terpelanting jauh ke belakang dan menghantam lantai penginapan dengan keras. Dari bibir lelaki kemayu itu, darah segar mengalir keluar. Dengan cepat ia bangkit sambil mengusap sisa darah yang keluar dari sudut bibir.


'Keparat !


Mata lebar ini punya ilmu aneh.. Kalau Pedang Kuku Kilin ini tak menghalangi serangan nya, aku pasti sudah mati. Aku tidak boleh gegabah!', batin Xiao Xing sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


Nona Besar Song benar benar tidak menyangka bahwa Pendekar Thee ini ternyata memiliki kemampuan beladiri yang tinggi. Gadis cantik bertubuh ramping ini semakin kagum. Dia yang minggir di tepi bangunan langsung mendapat perlindungan dari para pengikutnya.


Di sisi lain, para pengikut Nona Besar Song langsung menerjang maju begitu Xiao Xing menyerang. Xiong Hu yang berjuluk Dewa Beruang Hitam tertawa lepas sambil menghadang mereka.


Paman Chen langsung melompat maju sembari menghantamkan tinju tangan kanannya ke arah dada Xiong Hu yang lebar.


Bhhhuuuuuuggggh !

__ADS_1


Tubuh besar Xiong Hu sama sekali seperti tidak merasakan apa-apa meski tinju tangan kanan Paman Chen yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi. Mata Paman Chen melotot lebar sedikit kaget dengan apa yang terjadi di depan nya. Dia dengan cepat menambah tenaga dalam nya dan kembali menghantamkan kedua tinju tangan nya bertubi-tubi kearah Xiong Hu.


Bhuuukkkhhh bhhhuuuuuuggggh!!


Kembali Xiong Hu hanya tersenyum mengejek ke arah Paman Chen sembari menepuk dadanya.


"Ayo tua bangka!


Pukul lagi. Pukulan mu hanya terasa gatal di dada ku", senyum jumawa Xiong Hu sangat menyebalkan.


Xiong Hu yang dijuluki sebagai Dewa Beruang Hitam memang memiliki tubuh istimewa. Kulitnya keras dan liat seperti kulit beruang yang tebal. Tak semua senjata bisa merobek kulitnya dengan mudah. Tubuhnya yang tinggi besar serta hitam dengan kulit keras itulah yang menjadi penyebab dia mendapatkan julukan sebagai Dewa Beruang Hitam, salah satu tokoh golongan hitam dunia persilatan Tanah Tiongkok yang cukup punya nama.


Meski Paman Chen sekuat tenaga berusaha merobohkan Xiong Hu, namun pukulan dan tendangan nya seperti tidak berpengaruh apa-apa terhadap tubuh Xiong Hu.


Ketua Bendera Hitam itu menyeringai lebar saat pukulan keras terakhir di lancarkan oleh Paman Chen, " Sekarang waktunya aku membalas tua bangka!".


Xiong Hu langsung membabatkan golok besar nya ke arah Paman Chen.


Shrraaaakkkkhhhh !


Paman Chen sedikit gelagapan dengan serangan balik cepat kearah pundaknya. Lelaki paruh baya itu segera berkelit ke samping namun Xiong Hu tidak memberikan kesempatan kepada lelaki bertubuh kekar itu lolos dengan mudah. Satu hantaman tangan kiri langsung menghajar dada Paman Chen.


Dhiiieeeessshh !


Aaauuuuggggghhhhh !


Paman Chen terhuyung mundur sembari membekap dadanya yang terasa seperti di hantam batu besar. Rasanya sesak bukan main dan setetes darah segar keluar dari sudut mulut nya. Xiong Hu yang melihat itu dengan cepat merubah gerakan golok besar nya lalu secepat kilat membabat leher Paman Chen.


Whhhhuuuuggghhh !


Paman Chen yang masih terhuyung mundur sudah tidak punya ruang untuk menghindar dari sabetan golok besar Xiong Hu. Di saat kritis itu, Gumbreg berlari cepat sembari mengayunkan pentung sakti nya memapak serangan Xiong Hu.


Bantuan tiba-tiba ini tentu saja membuat Xiong Hu kaget. Dengan cepat ia melompat mundur beberapa langkah sembari menatap tajam ke arah Demung Gumbreg yang berdiri tegak dengan pentung sakti di tangan kanannya.


Chai Yuan dengan cepat memanfaatkan kesempatan itu untuk menolong Paman Chen yang terluka dalam.


"Hai kamu gendut!


Kenapa kau ikut campur urusan ku ha?", hardik Xiong Hu dalam bahasa Tionghoa yang kental sembari mendelik ke arah Gumbreg.


"Wes emboh, sang seng song gak jelas!


Pokoknya kalau ada yang mau bunuh orang di depan mata ku, harus berhadapan dengan ku. Ini Demung Gumbreg dari Panjalu", ujar Gumbreg sambil menepuk dadanya. Tentu saja Xiong Hu yang tidak mengerti apa maksud ucapan Gumbreg hanya garuk-garuk kepala.


"Kau ini bicara apa sih?


Cepat minggir kalau tidak ingin golok ku memotong leher mu", teriak Xiong Hu dengan cepat.


"Ora ngurus kowe ngomong opo ( Tidak peduli kamu bilang apa)?


Pokok nya kamu maju tak kepruk batok kepala mu, genderuwo mata sipit!", Gumbreg mengacungkan pentung sakti nya ke arah Xiong Hu. Merasa di tantang, Xiong Hu dengan cepat bergerak menuju ke arah Gumbreg sambil mengayunkan golok besar di tangan kanannya.


Shreeeeettttthhh !


Gumbreg dengan lincah langsung berkelit menghindari tebasan golok besar Xiong Hu, lalu menghantamkan pentung sakti nya ke arah punggung Xiong Hu. Gerakan tubuh Xiong Hu yang mengandalkan kekuatan tubuh istimewa nya memang lambat hingga pentung sakti Gumbreg telak menghajar punggung.


Bhhhuuuuuuggggh !


Aaaarrrgggggghhhhh !

__ADS_1


Kerasnya gebukan pentung sakti Gumbreg membuat Xiong Hu harus merasakan kerasnya lantai dasar penginapan ini. Pria bertubuh tinggi besar itu terjungkal ke depan.


"Hehehehe...


Bagaimana rasanya gebukan ku, pantat kuali?


Nikmat bukan? Makanya jangan coba-coba untuk menantang kekuatan pendekar Jawadwipa he? Tau rasa kau sekarang?", cerocos Gumbreg sambil menepuk-nepuk pentung sakti nya. Matanya terus mengawasi pergerakan lawan.


Xiong Hu bangkit dari tempat jatuhnya. Punggungnya sakit sekali seperti baru saja di hantam balok kayu gelondongan berukuran besar. Baru kali ini dia di jatuhkan dengan satu serangan. Dia mendengus keras sambil mendelik kereng pada Gumbreg.


"Kurang ajar !


Akan ku cincang tubuh mu, bola daging! "


Xiong Hu langsung memburu Gumbreg dengan serangan beruntun.


Whuuthhh whuuthhh !


Thhraaaangggggggg thrrriiinnnggggg !


Dhiiieeeessshh !


Pertarungan sengit antara Gumbreg dan Xiong Hu berlangsung seru. Dua orang yang sama sama berbadan besar itu sama sekali tidak sedikit pun mau mengalah sedikitpun. Keduanya sama-sama ngotot ingin mengalahkan lawannya.


Pendeta Wang Chun Yang menyaksikan pertarungan hidup mati ini sedikit takjub dengan kemampuan beladiri Gumbreg. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Xiong Hu yang selama ini di takuti oleh banyak pendekar, menemukan lawan yang sepadan. Bahkan beberapa pukulan keras Gumbreg sudah beberapa kali menghajar tubuh Xiong Hu yang tinggi besar. Terlihat Gumbreg mulai di atas angin.


'Para pengikut Pendekar Thee rupanya bukan pendekar sembarangan'


Gumbreg dengan cepat melompat ke atas tubuh Xiong Hu setelah Dewa Beruang Hitam itu terjungkal untuk kali kedua.


Bhhhuuuuuuggggh !


Oouugghhhh !


Xiong Hu melengguh keras saat tertimpa tubuh Gumbreg yang tambun. Dia kesulitan bernapas. Dengan cepat Gumbreg berguling di atas tubuh Xiong Hu dan segera nungging di depan wajah Xiong Hu dengan cepat.


Prrrreeeeeettttttttttt...!!!


Demung Gumbreg kentut keras di depan wajah Xiong Hu. Bau kentut keras Gumbreg yang mirip dengan bau sigung langsung membuat sebagian kentut nya terhisap oleh Xiong Hu. Dia langsung muntah muntah karena bau busuk menyengat yang tercium oleh nya.


Huuuuooogggghhh !!


Tanpa basa-basi lagi, Gumbreg dengan cepat mengayunkan pentung sakti nya ke arah kepala Xiong Hu sekuat tenaga.


Brrruuuaaaaakkkkh !


AAAARRRGGGGGGHHHHH !


Pecah kepala Xiong Hu terkena hantaman pentung sakti Gumbreg. Pria bertubuh tinggi besar itu langsung diam tak bergerak lagi pentung sakti Gumbreg menghancurkan isi kepalanya.


"Modar kowe sekarang!", maki Gumbreg sambil menendang bahu mayat Xiong Hu.


Dewi Tendangan Kilat alias Dai Ruo Ruo yang sedang bertarung melawan Huang Lung melihat kawannya tewas, hendak berupaya untuk menolong kawannya namun satu bayangan kuning kemerahan melesat cepat dan langsung mengayunkan pedangnya kearah leher nya.


Luh Jingga yang sedari tadi hanya menonton pertarungan, melihat Dai Ruo Ruo bergerak cepat ke arah Gumbreg yang baru saja menghabisi nyawa Xiong Hu, langsung mencabut pedang nya dan menghadang laju pergerakan Dai Ruo Ruo.


"Minggir kau, perempuan tengik!", hardik Dai Ruo Ruo pada Luh Jingga. Namun karena gadis itu tidak mengerti apa maksud ucapan Dai Ruo Ruo, dia sama sekali tidak menanggapi.


Dai Ruo Ruo semakin kesal karena merasa di acuhkan oleh Luh Jingga. Dengan geram dia langsung menyabetkan senjata anehnya pada Luh Jingga.

__ADS_1


"Ku bunuh kau keparat !"


__ADS_2