
"Urus saja bangkai serigala itu juga pimpinan nya agar tidak jadi sarang penyakit, Paman..
Lemparkan saja mereka ke jurang", perintah Panji Tejo Laksono segera.
"Hamba mengerti Gusti Pangeran ", Demung Gumbreg menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum mulai bergerak menyingkirkan bangkai serigala dan mayat Lu Chien di bantu oleh para prajurit Panjalu. Untung saja Wang Chun Yang tidak mengerti bahasa Jawa yang di gunakan oleh Gumbreg untuk memanggil panggilan kehormatan Panji Tejo Laksono. Kalau sampai tahu apa artinya, bisa ada sesuatu yang terjadi.
Malam itu berlalu dengan cepat. Sang rembulan malam menemani para duta besar Panjalu di tepi hutan bambu hingga pagi menjelang tiba.
Setelah mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya, rombongan Panji Tejo Laksono melanjutkan perjalanan nya ke arah Kota Shou yang ada di selatan Sungai Huai yang juga bersatu dengan Sungai Yangtze di dekat Laut China Timur.
Setelah melewati puluhan danau danau kecil yang ada di wilayah itu, mereka hampir sampai di Kota Shou. Kira kira kurang lebih berjarak sekitar 1000 depa dari Kota Shou, rombongan Panji Tejo Laksono sampai di sebuah desa kecil yang bernama Desa Danau Naga.
Konon kabarnya, di tepi desa ini ada sebuah danau yang di huni oleh seekor naga yang menjadi sumber kemakmuran desa itu. Semua orang sangat memuja naga tersebut hingga setiap awal musim semi selalu diadakan ritual pemujaan terhadap sang naga.
Ratusan bendera merah dengan berbagai tulisan kaligrafi yang indah menghiasi sepanjang jalan masuk di desa itu. Aneka lampion merah dengan lukisan naga berwarna emas nampak tergantung rapi di beberapa sudut gapura rumah.
Sepertinya persiapan ritual pemujaan terhadap sang naga sudah hampir mendekati waktunya. Ini terlihat dari beberapa dapur rumah yang mulai mengeluarkan aneka wangi masakan.
Rombongan Panji Tejo Laksono sampai di satu-satunya penginapan yang ada di desa ini karena hari sudah mulai sore. Seorang pelayan dengan wajah ramah langsung menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
"Selamat datang di Penginapan Danau Naga, Tuan..
Selama perayaan ini, kami memberikan separuh harga untuk biaya menginap di tempat kami", ujar si pelayan dengan ramah.
"Memangnya selama perayaan ini, ada keramaian apa saja di tempat ini, Pelayan?", tanya Huang Lung sembari menatap sekeliling ruang depan penginapan yang penuh hiasan dinding berwarna merah.
"Akan ada upacara sembahyang besok pagi di tepi Danau Naga, Tuan Muda. Siangnya akan diadakan lomba dayung perahu naga di danau, sedangkan untuk malam nya, akan ada hiburan pertunjukan dari sandiwara dari Kelompok Kesenian Lotus Biru.
Aku dengar dari orang orang, Gubernur Wu Ming dari Kota Shou akan datang untuk membuka perayaan ini besok, Tuan Muda ", si pelayan menghormat khas Tanah Tiongkok pada Huang Lung.
Mendengar jawaban itu, Huang Lung segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan tersenyum lebar, "Pendekar Thee, sebaiknya kita beristirahat di sini selama dua hari sampai perayaan selesai. Aku yakin tempat ini pasti akan ramai dikunjungi oleh orang orang".
"Benar itu Tuan Muda berbaju putih,
Akan banyak orang yang datang ke Desa Danau Naga untuk melihat keramaian. Kalian lihat sendiri, di sepanjang jalan masuk desa sudah banyak lapak pedagang yang di tata untuk acara esok. Kalian semua tidak akan rugi bermalam di tempat kami ", timpal si pelayan mengompori.
"Baiklah, tidak masalah juga menunda perjalanan barang sehari dua hari. Toh itu juga untuk melemaskan otot-otot tubuh yang tegang.
Aku ikuti saran mu Pendekar Huang", ucap Panji Tejo Laksono segera. Mendengar jawaban itu, Huang Lung langsung tersenyum lebar.
3 orang pelayan penginapan langsung mengantar para prajurit Panjalu untuk menempati kamar yang di sediakan. Sebagian besar dari mereka harus berbagi tempat karena hanya ada 25 kamar tidur yang ada. Sisa nya sudah di tempati para pendatang yang lebih dulu datang. Itupun di lantai bawah. Sedangkan di lantai atas hanya tersisa 4 kamar yang di tempati oleh Panji Tejo Laksono, Luh Jingga, Huang Lung dan Pendeta Wang Chun Yang.
Saat senja mulai turun, suasana Desa Danau Naga semakin indah dengan ramainya para pengunjung yang ingin menyaksikan langsung keramaian perayaan Danau Naga. Panji Tejo Laksono mengajak Luh Jingga jalan-jalan menikmati indahnya Desa Danau Naga.
Seorang gadis muda nampak sedang kesal pada seorang pemuda tampan yang terus mengekori nya. Gadis itu nampak cantik dengan dandanan baju warna kuning cerah khas Negeri Tiongkok. Dia menabrak tubuh Panji Tejo Laksono dan jatuh terduduk di jalanan karena tak melihat jalan.
"Aduh sakit sekali....", rintih sang gadis muda sembari mengelus bokong nya yang terantuk batu jalanan.
"Nona Muda, kau tidak apa-apa?", Panji Tejo Laksono mengulurkan tangannya pada gadis muda berbaju kuning cerah itu. Namun belum si gadis menanggapi, sebuah telapak tangan menepis tangan kanan Panji Tejo Laksono.
__ADS_1
Plllaaakkkkk !!
"Jauhkan tangan kotor mu dari adik Rong Er..."
Seorang pemuda bertubuh kekar dengan kumis tipis dan wajah kaku mendelik tajam ke arah Panji Tejo Laksono. Dari tatapan matanya dia terlihat sangat benci dengan sang Pangeran asal Panjalu.
"Bajingan dari mana ini? Kenapa kau berani sekali mendorong jatuh Rong Er? Apa kau tidak tahu siapa Rong Er?
Dengar ya, adik Wu Xiao Rong adalah keponakan Gubernur Wu Ming. Bisa saja kepala mu di penggal oleh para prajurit Wilayah Shou.
Cepat minta maaf kepada adik Rong Er!", hardik si pemuda bertubuh kekar itu segera.
Saat gadis muda itu mendongak pada Panji Tejo Laksono, mata gadis itu langsung berbinar binar karena terpesona dengan ketampanan sang pangeran muda dari Kadiri.
"Kakak Feng, sudahlah..
Tuan muda ini tidak salah. Aku yang tidak punya mata hingga menabrak tuan muda ini. Dia tidak bersalah", Rong Er atau Wu Xiao Rong berdiri dari tempat jatuhnya di bantu lelaki bertubuh kekar yang di panggil dengan nama Kakak Feng.
"Kenapa kau membela nya, adik Rong? Jelas jelas tadi dia yang menjatuhkan mu. Kau jangan membelanya, dia akan semakin kurang ajar.
Aku Feng Hao, putra Kepala Desa Danau Naga adalah orang yang suka menegakkan keadilan", ujar si lelaki bertubuh kekar yang bernama lengkap Feng Hao.
"Kakak Feng, jangan keterlaluan!
Kau tahu aku paling tidak suka melihat para orang kaya menindas orang lain dengan mengandalkan nama keluarga dan kedudukan nya. Kau benar-benar memuakkan.
Tuan Muda, aku permisi ", usai menghormat pada Panji Tejo Laksono, gadis muda itu segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Bajingan keparat, urusan kita belum selesai sampai di sini. Kau selamat karena bantuan adik Rong Er", setelah mengancam Panji Tejo Laksono, Feng Hao langsung bergegas mengejar Wu Xiao Rong yang sudah terlihat cukup jauh.
Panji Tejo Laksono hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua orang itu.
Luh Jingga segera mendekati Panji Tejo Laksono, "Mereka itu kenapa Gusti Pangeran? Sepertinya mereka marah marah pada Gusti Pangeran".
"Hehehehe...
Biarkan saja mereka. Kita nikmati saja suasana di sekitar danau ini. Eh itu ada penjual manisan? Kau mau Luh?", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.
"Di Negeri Panjalu tidak ada makanan seperti itu, Gusti Pangeran..
Aku mau. Belikan dua ya", Luh Jingga kegirangan bagai seorang gadis kecil mendapat golek kayu mainan nya. Panji Tejo Laksono segera membelikan dua tusuk manisan buah untuk Luh Jingga. Dia sendiri juga membeli beberapa jajanan khas Tanah Tiongkok yang banyak di jajakan di tepi jalan.
Suasana sore hari di tepi Danau Naga terasa begitu indah. Semakin malam justru suasana terasa semakin meriah. Beberapa anak anak terlihat berlarian bermain kembang api. Pada masa itu, Dinasti Song telah menemukan penggunaan bubuk mesiu untuk membuat kembang api dan petasan.
Di salah satu sudut Desa Danau Naga, tepatnya di sisi Utara.
Sebuah rumah nampak meriah berhias lampion merah namun pintu rumah berpagar tembok setinggi 1 tombak itu nampak tertutup rapat, seolah tidak ada kegiatan sama sekali. Namun sebenarnya di dalam rumah itu, dua puluh orang sedang berkumpul bersama di ruang tengah.
Seorang lelaki bertubuh kekar dengan tatapan mata tajam bak mata seekor elang terlihat sedang berdiri memberikan pengarahan.
__ADS_1
"Aku harap rencana yang kita jalankan besok bisa berjalan lancar. Gubernur Shou itu harus mati di tangan kita", ujar si lelaki bertubuh kekar itu sembari mengepalkan tangannya.
"Kakak Ye,
Bukan keluarga mu saja yang menjadi korban kelicikan Si tua bangka Wu Ming. Kami semuanya juga senasib dengan mu. Aku Ah Dai sudah bersumpah untuk mencincang tubuh penguasa jahat itu dengan tangan ku sendiri", ujar seorang lelaki muda bertubuh gempal yang memegang golok besar dengan cepat.
"Benar kata Ah Dai, Kak Ye..
Wu Ming harus mati esok hari. Jika tidak, dendam kematian kakak seperguruan ku hanya akan membuatnya sulit untuk lahir kembali. Aku Sam Chi akan membantu Kak Ye meski nyawa taruhannya", timpal seorang lelaki bertubuh sedikit pendek dengan kumis jarang sembari menatap ke arah lelaki bertubuh kekar yang di panggil dengan nama Kak Ye ini.
"Bagus sekali, saudara ku..
Hari ini Ye Bei meski harus mati juga tidak bisa membalas budi baik kalian. Arak ini adalah tanda persaudaraan kita", Ye Bei segera mengangkat secawan arak ke depan orang orang yang bersama nya. Keduapuluh orang itu pun segera mengikuti langkah Ye Bei dan mengangkat cawan arak mereka.
"Saudara selamanya!!"
Mereka pun langsung menenggak isi cawan mereka sekali teguk. Malam itu rencana pembunuhan terhadap Gubernur Wu Ming pada pembukaan perayaan Danau Naga di susun rapi. Semua nya di tata sedemikian rupa agar tidak terjadi kesalahan.
Malam terasa berjalan lambat. Itu karena meriahnya hiburan malam yang diadakan oleh para penduduk Desa Danau Naga. Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga nampak duduk berdua dari atas jendela lantai dua penginapan.
"Gusti Pangeran,
Apa Gusti Pangeran tidak merindukan Negeri Panjalu? Suasana disini terasa begitu asing bagi hamba", ujar Luh Jingga sambil menyenderkan kepalanya di bahu kiri Panji Tejo Laksono.
"Aku sebenarnya merindukan tanah kelahiran ku, Luh.. Begitu rampung tugas kita, aku berjanji akan membawa mu pulang ke Kadiri dengan selamat.
Kau harus bersabar beberapa saat lagi ", Panji Tejo Laksono terus melihat ke arah beberapa perempuan paruh baya yang sedang menggendong anaknya. Rasa rindu nya pada Dewi Anggarawati tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam dadanya.
Huang Lung yang baru saja naik ke lantai atas, langsung menghentikan langkah kaki nya begitu melihat kemesraan Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga. Ada rasa panas yang teramat sangat tiba tiba menjalar di dada. Dia cemburu melihat mereka berdua. Entah mulai kapan, putri Kepala Suku Wanyan ini menyukai Panji Tejo Laksono tapi semakin lama perasaan itu semakin tumbuh dan tumbuh memenuhi hati sanubarinya. Setiap kesempatan, dia selalu mencuri pandang ke arah Panji Tejo Laksono.
Usai menghirup nafas panjang untuk memulihkan kembali suasana hati nya, Huang Lung langsung mendekati mereka berdua.
"Selamat malam Pendekar Thee..
Apa aku mengganggu kalian berdua??".
Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga langsung menoleh ke arah Huang Lung yang nampak terlihat gagah dengan pakaian nya yang merupakan pakaian laki laki.
"Oh selamat malam Pendekar Huang..
Tidak tidak, kau tidak menggangu kami kog. Kami sedang melihat pertunjukan kesenian di bawah. Kalau kau bersedia, kursi kayu ini masih ada tempat untuk mu", ucap Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis. Mendengar perkataan itu, senyum manis terukir di wajah Huang Lung. Segera dia melangkah ke arah samping Panji Tejo Laksono dan duduk tepat di sebelah kanan sang pangeran muda dari Kadiri ini.
Luh Jingga nampak tidak suka dengan sikap dan kehadiran Huang Lung.
'Dasar pengganggu. Kenapa sih dia datang kemari?', batin Luh Jingga sembari melirik tajam pada Huang Lung. Putri Kepala Suku Wanyan ini pun sempat melihat gelagat aneh itu walau hanya sekilas.
"Pendekar Thee, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada mu. Aku hanya penasaran saja", tanya Huang Lung alias Putri Wanyan Lan sembari tersenyum simpul.
"Tanyakan saja Pendekar Huang.. Aku akan menjawabnya jika bisa", Panji Tejo Laksono santai saja menanggapi ucapan Huang Lung. Melihat itu, Huang Lung tersenyum lagi dan bertanya,
__ADS_1
"Apa Pendekar Thee dan Nona Lu ini pacaran?"