Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Siapa Dia Sebenarnya?


__ADS_3

"Maksud Gusti Senopati, apakah senjata cadangan itu adalah Senopati Ganggengsegara dari Pamotan?", tanya Ki Demung Sagotra sembari menoleh ke arah sang pimpinan utama pasukan Jenggala.


"Benar Sagotra...


Senopati Ganggengsegara sedikit terlambat datang ke tempat kita. Jika ada dia, mungkin keadaannya akan berbeda.


Kita berangkat kemari juga atas paksaan dari Senopati Mpu Jatra. Inilah akibatnya jika kita meremehkan pasukan Panjalu yang tentu sudah menyiapkan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangan pasukan kita", sesal Senopati Badraseta sembari terus menatap ke seberang Kali Aksa yang sedang berair besar.


Ki Demung Sagotra langsung teringat akan kemasyhuran Senopati Ganggengsegara dari Pamotan ini. Pria bertubuh kekar dengan kumis tipis dan tatapan mata bengis itu terkenal karena memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Belum lagi dia menguasai Ajian Neraka Geni yang mampu menciptakan lautan api hingga membuatnya di takuti oleh para perwira lain di keprajuritan Jenggala.


Meski demikian, dia sangat takluk pada perintah Adipati Pamotan, Satrugna yang merupakan kakak iparnya. Dia selalu patuh pada setiap keinginan sang kakak ipar hingga bersedia untuk menjadi bawahan Senopati Badraseta yang lebih di sukai oleh pihak Istana Kahuripan.


"Berarti hari ini, Senopati Ganggengsegara akan datang ke tempat perkemahan kita, Gusti Senopati?", tanya Ki Demung Sagotra berupaya mempertegas kesan meyakinkan diri bahwa mereka masih ada harapan.


"Kalau tidak ada halangan, malam ini pasukan bantuan dari Pamotan akan datang. Besok kita balas kekalahan kita hari ini", ujar Senopati Badraseta seraya menatap ke arah seberang sungai dimana prajurit Jenggala yang terakhir bertahan di tepi Kali Aksa tewas di tangan prajurit Panjalu.


Sorak sorak terdengar dari mulut para prajurit Panjalu menyambut kemenangan mereka pada hari itu. Mereka bersuka cita atas keberhasilan siasat perang yang di gunakan oleh pimpinan mereka dalam menghadapi situasi ini.


Langit barat mulai memerah pertanda sebentar lagi senjata akan segera turun. Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung mengangkat tangan kanannya dan sang prajurit peniup terompet tanduk kerbau segera bekerja.


Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh!!


Bunyi nyaring yang terdengar lantang memekakkan gendang telinga seakan menjadi penyadar untuk jiwa jiwa para prajurit Panjalu yang masih bersuka ria atas kemenangan mereka hari itu. Mereka semua segera menoleh ke arah langit barat yang memerah. Tak terasa seharian penuh mereka bertempur mengadu jiwa raga tanpa ingat waktu. Namun semua lelah mereka terbayar lunas dengan kemenangan yang mereka dapatkan.


Satu persatu mulai meninggalkan medan pertempuran, mematuhi aturan perang yang berlaku di Tanah Jawadwipa. Pada masa itu, perang antar kerajaan hanya boleh dilakukan pada siang hari. Jika matahari telah terbenam, maka perang harus berhenti dan di lanjutkan pada keesokan harinya. Ini harus di patuhi oleh setiap kerajaan yang ada di Bumi Nusantara.


Bersamaan dengan perginya para prajurit Panjalu, Senopati Badraseta memimpin anak buah nya untuk kembali ke perkemahan besar mereka yang terletak di selatan Pakuwon Weling. Membiarkan mayat mayat para prajurit Jenggala bergelimpangan di tepi Kali Aksa.


Beberapa orang prajurit Panjalu yang masih kelelahan, tanpa memperdulikan rasa letih yang menggelayuti, memapah kawan mereka yang menderita luka ringan. Yang terluka sedang dan berat menjadi tanggung jawab pasukan perbekalan yang di pimpin oleh Demung Gumbreg dan dua anak buah nya. Mereka segera menggotong para prajurit yang terluka sedang maupun berat dengan tandu ke dalam benteng pertahanan Panjalu.


Para tabib prajurit maupun prajurit yang mengerti tentang pengobatan langsung sibuk merawat ratusan orang prajurit yang terluka. Berbekal pengalaman yang telah dialami beberapa kali di medan perang, Demung Gumbreg dengan cepat mengatur para anak buahnya untuk bekerja secepat mungkin merawat para prajurit yang terluka.


Selepas senja menghilang dan digantikan oleh malam, hujan rintik-rintik bercampur angin dingin mengguyur seputar wilayah Kali Aksa. Meski tempat itu hanya hujan ringan saja, namun hulu Kali Aksa yang ada di Gunung Kelud sepertinya hujan deras. Ini terbukti dengan naiknya air yang mengalir di kali yang bermuara di Sungai Kapulungan atau yang sekarang ini kita kenal sebagai Sungai Brantas.


Di tengah guyuran hujan rintik-rintik ini, Panji Tejo Laksono mengumpulkan para perwira tinggi prajurit Panjalu untuk mendengarkan laporan kerja mereka. Satu persatu perwira mulai melaporkan keadaan pasukan yang mereka pimpin. Saat Tumenggung Raditya melaporkan tentang adanya sosok bayangan putih misterius yang membantu menghancurkan pancang penahan bendungan, dahi Panji Tejo Laksono langsung mengernyit heran.


"Apa kau tidak melihat jelas wajah bayangan putih misterius itu, Tumenggung Raditya?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Mohon ampun Gusti Pangeran Adipati..


Hamba tidak bisa melihat jelas karena sosok itu memakai tudung pelindung kepala berwarna putih yang menyamarkan penampilan nya. Tapi hamba tahu itu adalah sosok seorang lelaki tua, karena rambutnya terlihat memutih dan ada janggut panjang yang menyembul keluar dari kain putih yang menutupi sebagian wajahnya", Tumenggung Raditya segera menghormat usai berbicara.


Hemmmmmmm....


"Aku tidak pernah meminta bantuan kepada seorang pendekar sepuh ataupun para pertapa tua yang ada di wilayah Kadipaten Seloageng. Jadi darimana asal orang tua ini?


Sudahlah, bagaimanapun juga dia sudah membantu kita mengalahkan para prajurit Jenggala hari ini. Kita harus mengucapkan terima kasih kepada nya untuk jasa yang diberikan kepada kita saat bertemu lagi nanti.


Paman Gumbreg...", Panji Tejo Laksono mengalihkan pandangannya pada Demung Gumbreg yang terlihat mengantuk di sudut ruangan. Perwira bertubuh tambun itu segera terlonjak dari tempat duduknya saking kagetnya mendengar panggilan Panji Tejo Laksono. Dia buru-buru mengusap air liur nya yang sempat menetes dari sudut bibirnya dan segera menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Sen.. Sendiko dawuh Gusti Pangeran.. Iya hamba Gumbreg siap menjalankan perintah", ujar Demung Gumbreg segera sambil bersiap untuk pergi. Usai melaporkan tugasnya di awal pertemuan, Demung Gumbreg beringsut mundur dan duduk bersila di pojokan ruangan. Rasa lelahnya setelah membantu mendorong batu besar dan kayu gelondongan membuat nya kelelahan hingga tak kuat menahan rasa kantuk. Polah tingkah nya langsung membuat beberapa orang perwira tinggi prajurit geleng-geleng kepala sedangkan yang akrab dengannya langsung mengulum senyum.

__ADS_1


"Kau mau kemana Paman Gumbreg?", di tanya Panji Tejo Laksono demikian, Gumbreg segera celingukan menatap ke arah perwira lain yang ada di tempat itu.


"Oh anu itu saya...


Eh iya hamba anu akan berangkat ke tempat pemasangan jebakan hek eh ya ke tempat pemasangan jebakan", jawab Gumbreg gelagapan mencari alasan.


"Ckckckck.. Paman Gumbreg Paman Gumbreg.. Aku tidak menyuruh mu kesana..


"Lha lantas apa tugas hamba Gusti Pangeran?", tanya Demung Gumbreg kemudian.


"Bagikan arak dan siddhu untuk para prajurit Panjalu. Biarkan mereka sedikit bersenang-senang malam ini untuk merayakan kemenangan hari ini.


Sekarang berangkatlah", Panji Tejo Laksono mengibaskan tangannya sebagai isyarat kepada Demung Gumbreg untuk segera melaksanakan tugas. Perwira bertubuh tambun itu buru-buru menyembah pada Panji Tejo Laksono dan segera bergegas keluar dari dalam ruangan itu dengan wajah memerah karena malu.


"Paman Ludaka..


Paman urus pengaturan jaga malam ini. Kita tidak boleh mengendurkan kewaspadaan. Aku yakin, orang orang Jenggala akan melalukan segala cara untuk membalas kekalahan prajurit mereka hari ini", perintah Panji Tejo Laksono segera.


"Baik Gusti Pangeran. Segera hamba laksanakan", ujar Tumenggung Ludaka sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum bergegas mundur dari tempat itu.


Sementara itu, di kubu pasukan Jenggala, malam itu orang yang mereka tunggu akhirnya datang. Seorang lelaki bertubuh gempal dengan wajah menyeramkan datang bersama kurang lebih sepuluh ribu orang prajurit yang berasal dari Kadipaten Pamotan.


Senopati Badraseta langsung menyambut baik kedatangan sang lelaki bertubuh gempal yang tak lain adalah Senopati Ganggengsegara.


"Selamat datang di barak perkemahan kita, Senopati Ganggengsegara", ucap Senopati Badraseta segera.


Hemmmmmmm..


"Kau sepertinya sangat senang dengan kekalahan prajurit Jenggala, Senopati Ganggengsegara. Sebenarnya kau ada di pihak siapa?", Senopati Badraseta mencoba merubah arah pembicaraan.


"Huuuhhhhh!!


Kalau bukan perintah dari Kakang Adipati Satrugna untuk membantu pasukan Jenggala, aku juga tidak sudi repot-repot mesti keluar tenaga. Jika ingin bertanya aku ada di pihak siapa, jelas aku berpihak pada Kakang Adipati Satrugna, bukan pada Jenggala", jawab Senopati Ganggengsegara ketus.


Geram hati Senopati Badraseta mendengar jawaban itu. Tapi dia berusaha keras untuk tidak memperlihatkan kemarahan nya dengan senyum palsu di wajahnya.


Hehehehe...


"Kau pintar berkata-kata sekarang, Senopati Ganggengsegara. Sudahlah, simpan tenaga kita untuk perang esok hari. Masih ada prajurit Panjalu yang harus kita bunuh esok hari", ujar Senopati Badraseta menutup obrolan nya dengan Senopati Ganggengsegara. Malam itu menjadi malam yang menegangkan bagi semua orang baik di pihak Panjalu maupun Jenggala. Semuanya berjaga-jaga penuh, takut jika lawan bertindak curang dan menyerbu di malam hari.


Keesokan harinya, cuaca di seputar Kali Aksa masih juga mendung. Awan awan hitam tebal yang membawa air berarak perlahan dari arah selatan. Di kedua bantaran Kali Aksa, pasukan Jenggala dan Panjalu kini telah berhadapan kembali. Suasana tegang seperti kemarin tercipta lagi. Tambahan pasukan dari Pamotan membuat kepercayaan diri para prajurit Jenggala meninggi seiiring dengan hadirnya Senopati Ganggengsegara.


Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh !!!


Bunyi terompet tanduk kerbau terdengar melengking tinggi, menjadi penanda bahwa para prajurit Panjalu siap mengadu nyawa di medan perang. Mereka bergerak cepat menuju ke arah pasukan Jenggala yang masih berdiri di tempatnya dengan di pimpin Tumenggung Gilingwesi dari Kadipaten Singhapura dan Tumenggung Manahil dari Gelang-gelang.


"Kangmas Pangeran, pasukan Jenggala tidak bergerak sama sekali. Apa yang terjadi?", tanya Luh Jingga sembari menunjuk ke arah para prajurit Jenggala yang masih diam saja meski memegang erat gagang senjata mereka masing-masing.


"Ada yang aneh dengan mereka. Apa yang membuat mereka menunggu kedatangan pasukan kita menyeberangi Kali Aksa dulu?", Panji Tejo Laksono mengerutkan keningnya pertanda bahwa dia sedang berpikir keras.


"Ah pasti mereka takut karena sudah kalah kemarin, Gusti Pangeran", sahut Demung Gumbreg segera.

__ADS_1


"Sembarangan kalau bicara, Mbreg..


Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memiliki pemahaman yang lebih baik dari mu, Tukang Tidur!! Dengarkan dulu beliau bicara, baru kasih tanggapan", sergah Tumenggung Ludaka yang kesal dengan sikap kawan karibnya itu.


"Kalau mereka takut, seharusnya mereka sudah melarikan diri dari tempat ini dan kembali ke wilayah Jenggala.


Ada sesuatu yang salah dengan mereka", ujar Panji Tejo Laksono dengan penuh kekhawatiran.


Saat pasukan Panjalu tinggal berjarak sekitar 30 depa dari pasukan Jenggala, seorang lelaki bertubuh gempal seorang diri melesat cepat kearah pasukan Panjalu sambil menyeringai lebar. Kedua tangan nya yang berwarna merah menyala layaknya api yang berkobar langsung mengibas ke arah para prajurit Panjalu.


"Ajian Neraka Geni...


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!"


Tiba-tiba saja muncul retakan tanah di bantaran Kali Aksa yang menjalar cepat ke bawah kaki para prajurit Panjalu. Dari sana muncul api besar yang berkobar menyala-nyala. Ribuan orang prajurit Panjalu yang paling depan, tak punya ruang untuk menghindar hingga api besar itu langsung membakar tubuh mereka.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Teriak kesakitan terdengar dari mulut para prajurit Panjalu yang terpanggang hidup-hidup. Tatanan pasukan pimpinan Tumenggung Manahil dari Gelang-gelang dan Tumenggung Gilingwesi dari Kadipaten Singhapura ini langsung kacau balau.


Para prajurit Panjalu yang berhasil menyelamatkan diri lari ke arah pasukan Jenggala dan mereka langsung menjadi mangsa empuk senjata para prajurit Jenggala yang memendam amarah karena kekalahan mereka kemarin.


Panji Tejo Laksono yang melihat kejadian itu, tanpa menunggu lama lagi langsung melompat tinggi ke udara. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Tiba-tiba muncul angin kencang berhawa dingin yang di sertai air yang mendadak muncul entah darimana. Setelah menurunkan kedua tangan nya, Panji Tejo Laksono langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas kepala sambil berteriak lantang,


"Kitiran Sewu......!!!!!!"


Air yang muncul dari belakang tubuh Panji Tejo Laksono langsung bergerak cepat menuju ke retakan tanah berapi yang membakar tubuh para prajurit Panjalu. Dengan cepat api itu langsung padam tertimpa air bah setinggi perut orang dewasa.


Melihat ilmu kedigdayaan nya di hancurkan oleh air bah dari Ajian Kitiran Sewu, Senopati Ganggengsegara langsung muntah darah segar. Namun lelaki bertubuh gempal dari Pamotan ini nampaknya masih belum juga merasakan kekalahan. Dia langsung menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang mendarat di antara mayat-mayat prajurit Panjalu.


"Jangan kira karena kau sudah berhasil memadamkan api ku, kau sudah menang wong Panjalu. Ini baru saja di mulai!!", teriak Senopati Ganggengsegara yang dengan cepat melesat ke arah Panji Tejo Laksono.


Pertarungan sengit pun kembali pecah di tempat itu. Senopati Muda Jarasanda, Tumenggung Ludaka, Luh Jingga, Demung Gumbreg dan Dyah Kirana langsung bergerak maju menyusul Panji Tejo Laksono diikuti oleh seluruh prajurit Panjalu yang ada. Perang besar kembali berkobar.


Panji Tejo Laksono dengan tenang melayani setiap serangan mematikan Senopati Ganggengsegara yang bertubuh tinggi besar ini. Meski tubuhnya lebih kecil dari orang ini, Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin mampu bergerak lincah dalam bertahan dan menyerang. Setiap gerakannya begitu teratur dan rapi hingga tak memiliki celah pertahanan sedikitpun.


Whuuthhh whuuthhh..


Dhasshhh dhasshhh!!


Keduanya memiliki kemampuan beladiri tangan kosong yang tinggi. Panji Tejo Laksono mundur selangkah ke belakang, saat kaki kanan Senopati Ganggengsegara menyapu kaki kirinya. Senopati Ganggengsegara dengan cepat merubah gerakan tubuhnya dan sedikit melompat ke udara dan dengan cepat menghantamkan tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri ini segera menyambut kedatangan serangan itu dengan tapak tangan kanan nya.


Blllaaaaaarrr !!!


Panji Tejo Laksono tersurut mundur beberapa langkah ke belakang setelah beradu pukulan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi dengan Senopati Ganggengsegara. Pun juga pria bertubuh gempal asal Kadipaten Pamotan ini. Dia terseret mundur hampir dua tombak jauhnya. Tangannya terasa kebas dan ngilu setelah beradu pukulan melawan Panji Tejo Laksono.


Sambil mengibaskan tangannya yang serasa mati rasa, Senopati Ganggengsegara mendelik tajam ke arah Panji Tejo.


'Bocah tengik ini rupanya memiliki ilmu kanuragan yang tidak bisa dianggap enteng. Setahuku perwira prajurit Panjalu, hanya si Jarasanda yang masih mampu mengimbangi ku meski hanya beberapa jurus. Tapi bocah ini hemmmmmmm..


Siapa dia sebenarnya?'

__ADS_1


__ADS_2