
"Oh sungguh suatu kebetulan..
Saya Maranatha, adik Dewaraja (semacam kepala daerah) Pulau Tumasik. Kalau tuan berkenan sudilah kira nya berteman dengan saya", ujar lelaki bertubuh kekar itu sembari tersenyum tipis. Ada gurat kelicikan dalam senyumnya.
"Bersahabat dengan siapa saja tentu akan sangat baik, Tuan Maranatha. Tapi yang tidak baik adalah berteman karena mengharapkan sesuatu, itu bukan pertemanan yang baik.
Saya Tejo Laksono dari Pulau Jawadwipa berterimakasih atas tawaran pertemanan dari Tuan Maranatha, tapi maaf saya hanya menumpang singgah sebentar di pelabuhan Pulau Tumasik jadi tidak bisa berlama-lama di tempat ini.
Saya permisi Tuan Maranatha", Panji Tejo Laksono membungkukkan badannya pada Maranatha lalu berbalik badan dan hendak pergi dari tempat itu.
Maranatha yang kesal dengan sikap Panji Tejo Laksono langsung memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk mengepung Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Maranatha sembari menatap ke arah pria berbadan kekar itu dengan tajam.
"Apa maksud semua ini, Tuan Maranatha? Apa kau sengaja ingin mencari masalah dengan kami?", ketus Panji Tejo Laksono bicara.
"Hehehehe...
Kalau iya, kau mau apa? Ini daerah kekuasaan kakak ku. Sekali aku bicara selamanya kau tidak akan bisa menepi di pelabuhan Pulau Tumasik ini", Maranatha menyeringai lebar. Sedari tadi ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari tubuh Luh Jingga.
"Lantas apa mau mu, Tuan Maranatha?", Panji Tejo Laksono mulai tidak suka dengan sikap sombong Maranatha.
"Kau tidak perlu galak pada ku. Kau bebas berdagang dan mengisi persediaan bahan makanan dan air minum di kapal mu, asal kau tinggalkan perempuan di samping mu itu untuk ku", jawab Maranatha segera.
Panji Tejo Laksono tersenyum tipis mendengar jawaban adik Dewaraja Pulau Tumasik itu. Pangeran dari Kadiri itu segera memeluk tubuh Luh Jingga.
"Jadi Tuan Maranatha menginginkan perempuan cantik ini menjadi milik tuan? Boleh saja. Aku tidak akan keberatan dengan keinginan tuan asal tuan bisa mengalahkan nya. Tapi kalau Tuan Maranatha tidak bisa mengalahkan nya sebaiknya tuan berjanji tidak akan pernah mengganggu kami lagi", ucap Panji Tejo Laksono dengan lantang.
Semua orang di sekitar tempat itu langsung berkerumun menonton apa yang sedang terjadi. Melihat kerumunan orang yang datang, Maranatha sedikit terkesiap juga. Dia tidak menduga bahwa Panji Tejo Laksono sengaja menarik perhatian para pelaut yang ada di tempat itu untuk menekan nya. Sebagai adik penguasa pulau Tumasik tentu saja dia tidak boleh merendahkan martabat kakaknya dengan ingkar janji. Lagipula hanya mengalahkan seorang gadis muda, tentu bukan masalah berat. Begitu pikir Maranatha.
"Baik Tuan Tejo Laksono..
Aku berjanji pada mu jika aku kalah melawan gadis itu, aku tidak akan mengganggu kalian selama di sini", ucap Maranatha sambil tersenyum tipis. Dia sudah berpikir bahwa dia akan menang tanpa mengeluarkan banyak tenaga.
Panji Tejo Laksono segera berbisik di telinga Luh Jingga.
"Dengarkan aku Luh.. Kalahkan pria cabul ini secepat nya. Kalau kau kalah, akan ku berikan kau padanya agar di jadikan gundik. Tapi kalau kamu menang, nanti malam aku punya hadiah untuk mu.. Aku beri waktu hingga 20 jurus untuk menghajar mereka semua", usai berkata demikian Panji Tejo Laksono melepaskan pelukannya pada pinggang ramping Luh Jingga.
"Aku mengerti Gusti Pangeran", Luh Jingga membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono. Wajah cantik nya bersemu kemerahan memikirkan hadiah yang diterima nya nanti malam.
Maranatha segera memberikan isyarat kepada dua anak buah nya untuk menangkap Luh Jingga. Dua orang bertubuh besar itu segera melompat maju ke arah Luh Jingga.
Luh Jingga merendahkan tubuhnya lalu melayangkan tendangan keras kearah perut salah satu orang pengawal Maranatha.
Bhhhuuuuuuggggh !
Orang bertubuh besar itu langsung tersungkur ke tanah sembari memegang perutnya yang terasa sakit setelah kena tendang. Melihat kawannya jatuh, seorang lelaki bertubuh besar lainnya langsung berupaya untuk menjatuhkan Luh Jingga dengan menghantamkan tangan kanannya ke arah kepala. Dengan lincah, Luh Jingga menangkap tangan pria bertubuh besar itu lalu memuntir tangan nya.
Aaarrrghh !
Segera pria bertubuh besar itu menjerit keras. Luh Jingga tidak tinggal diam dan dengan cepat menjejak punggung pria itu segera sembari melompat tinggi ke udara bersalto sekali dan mendarat di depan Panji Tejo Laksono.
Melihat anak buah buahnya di jatuhkan dengan mudah, Maranatha mulai gusar.
"Dasar tidak berguna! Makan banyak tapi kerja tidak becus.
Cepat tangkap gadis itu. Yang bisa menangkap nya akan mendapat hadiah besar dari ku", teriak Maranatha keras.
Delapan centeng berbadan besar itu segera menerjang maju ke arah Luh Jingga. Mereka segera melayangkan tendangan dan pukulan dari arah yang berbeda pada putri Resi Damarmoyo itu.
Whuuthhh whuuthhh !
Plllaaakkkkk plaakk !
Dhasshhh dhasshhh !
__ADS_1
Dua orang centeng berbadan besar itu langsung tersungkur ke tanah setelah paduan tendangan dan pukulan Luh Jingga menghajar tubuh mereka.
Pertarungan tangan kosong itu semakin sengit.
"Wah tidak ku duga.. Gadis itu ternyata hebat juga ya Lu..
Padahal cuma seorang pelayan loh", ucap Demung Gumbreg sembari terus menatap ke arah pertarungan.
"Aku juga tidak menyangka Mbreg..
Gadis yang kelihatan kalem ini ternyata ganas juga waktu bertarung melawan musuh. Benar benar luar biasa", puji Tumenggung Ludaka segera.
"Gusti Pangeran benar benar membawa orang orang luar biasa dalam tugas besar ini ya Lu", sambung Demung Gumbreg sambil tersenyum penuh arti.
"Memang benar omongan mu Mbreg.. Tapi diantara orang orang luar biasa itu, kau tidak termasuk", Tumenggung Ludaka tersenyum simpul.
"Apa maksud dari ucapan itu Lu? Aku ini termasuk orang yang tidak berguna untuk Gusti Pangeran menurut mu?", ada nada tidak suka dalam suara Demung Gumbreg.
"Lah sekarang aku tanya, selama perjalanan ini apa pekerjaan mu?
Coba jawab sejujurnya Mbreg", Tumenggung Ludaka menatap ke arah kawan karibnya itu.
"Tidur dan makan Lu.."
"Nah sudah tahu kan kalau kau tidak berguna? Yang lain sibuk membantu mengamankan kapal kita dari kemungkinan adanya serangan dari pihak lain, kau malah enak enakan tidur", imbuh Tumenggung Ludaka segera.
"Tapi di geladak kapal panas Lu.. Aku takut nanti kulit ku gosong. Kalau kulit ku gosong akibat sinar matahari, Dhek Jum pasti tidak akan mengenali ku saat pulang ke Kadiri ", sanggah Gumbreg segera.
"Huhh kulitmu itu sudah hitam semenjak kau lahir. Si Juminten tetap akan mengenali mu meski kau setiap hari terpanggang panas terik matahari di perjalanan ini. Kau bilang begitu hanya karena malas untuk bergabung dengan para pengawal Gusti Pangeran yang lain", gerutu Tumenggung Ludaka.
"Ya tidak begitu juga Lu. Aku..."
Belum selesai omongan Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka langsung memotong nya.
Kalau kau masih banyak omong, akan ku minta Gusti Pangeran menempatkan mu sebagai penjaga haluan kapal", ancam Tumenggung Ludaka segera. Mendengar perkataan itu, Demung Gumbreg segera menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak bicara. Dia takut jika Tumenggung Ludaka melakukan ancaman nya.
Di tengah arena pertarungan, dua orang centeng Maranatha yang masih berdiri saling berpandangan satu sama lain. Setelah saling mengangguk, keduanya sama-sama mencabut senjata mereka masing-masing. Seorang mencabut badik, seorang lainnya mencabut sepasang kerambit dari pinggang nya. Mereka berdua berniat untuk menghabisi nyawa Luh Jingga setelah 8 kawannya tumbang di tangan perempuan cantik itu.
Dua orang itu segera menerjang maju ke arah Luh Jingga sambil mengayunkan senjata mereka. Satu mengincar perut, satu lagi mengancam leher.
Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !
Luh Jingga mundur selangkah ke belakang dan menjejak tanah dengan keras. Tubuh ramping gadis cantik itu melenting tinggi ke udara. Masih di udara Luh Jingga segera menghantamkan kedua telapak tangan nya yang di liputi oleh sinar putih yang di sertai angin dingin menderu kencang. Rupanya dia merapal Ajian Tapak Dewa Bayu , ilmu kedua dari Kitab 5 Tapak Dewa yang di pelajari nya. Dua larik sinar putih berangin kencang menderu layaknya badai yang menerjang ke arah dua centeng berbadan besar.
Blllaaammmmmmmm !
Ledakan dahsyat terdengar. Debu dan asap tebal beterbangan di udara menutupi seluruh tempat itu. Maranatha yang ketakutan karena melihat kemampuan beladiri ini mundur perlahan hendak kabur. Ilmu kanuragan seperti ini tidak ada di Tanah Malaya. Mereka selalu menganggap nya sebagai sihir dan orang orang Tanah Malaya paling takut dengan tukang sihir, dukun, bomoh dan macam macam sebutan untuk ahli sihir mereka.
Namun belum sempat dia menjauh, tiba tiba Panji Tejo Laksono yang entah darimana datangnya sudah berdiri di belakangnya. Maranatha yang tidak tahu keberadaan Panji Tejo Laksono langsung terjatuh setelah tersenggol karena tidak melihat sang pangeran muda.
"Kau mau kemana Tuan Maranatha? Apa kau ingin melarikan diri?", Panji Tejo Laksono menyeringai lebar menatap ke arah Maranatha yang ketakutan setengah mati.
"Ampuni patik, wahai bomoh..
Aku orang dungu tidak bisa melihat kehebatan orang. Tolong ampuni nyawa ku", Maranatha langsung bersujud kepada Panji Tejo Laksono. Gemetar tubuhnya saking takutnya.
Saat debu beterbangan mulai menghilang, Luh Jingga nampak berdiri tegak memandang tajam ke arah Maranatha yang berlutut dihadapan Panji Tejo Laksono. Dua lawannya terkapar bersimbah darah setelah terkena hantaman Ajian Tapak Dewa Bayu nya. Adik Dewaraja Pulau Tumasik itu semakin ketakutan.
Hemmmmmmm..
"Seusai kesepakatan Tuan Maranatha, gadis itu telah mengalahkan orang orang mu. Orang orang yang melihat juga menjadi saksi dengan ucapan mu bahwa kau tidak akan mengganggu kami lagi selama di pelabuhan Pulau Tumasik ini.
Apa kau ingin ingkar janji?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Maranatha.
"Tidak berani tidak berani..
__ADS_1
Selamanya Pelabuhan Tumasik akan terbuka lebar untuk bomoh yang perkasa. Aku Maranatha, Syahbandar pelabuhan Tumasik adalah orang yang menepati janji", ujar Maranatha dengan cepat.
"Ku pegang kata kata mu, Tuan Maranatha..
Kami permisi dulu", usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono bergegas meninggalkan tempat itu sembari menggandeng tangan Luh Jingga yang masih berdiri di depan nya. Para pengikutnya segera bergerak mengikuti langkah sang pimpinan.
Maranatha segera berdiri setelah Panji Tejo Laksono dan rombongan nya berlalu.
"Orang orang Pulau selatan itu benar-benar menakutkan. Para jawara beladiri ku yang tersohor di pulau ini saja, bisa mudah di jatuhkan oleh seorang gadis muda. Mereka benar-benar mengerikan.
Lain kali aku tidak boleh mencari masalah dengan mereka", gumam Maranatha sembari membersihkan bajunya.
Kemenangan Luh Jingga tentu saja membuat para kelompok pelaut yang menyaksikan langsung pertarungan antara Luh Jingga dan anak buah Syahbandar pelabuhan Tumasik itu menjadi sungkan dengan kelompok Panji Tejo Laksono. Mereka tidak berani jumawa lagi.
Rakryan Purusoma pun tersenyum karena pengisian persediaan air minum mereka menjadi lebih cepat karena para pelaut lain memilih untuk mengalah.
Saat menjelang senja setelah semuanya siap, Rakryan Purusoma segera melapor pada Panji Tejo Laksono. Namun karena cuaca sepertinya kurang baik untuk melanjutkan perjalanan, Rakryan Purusoma menyarankan agar rombongan mereka untuk tidak bergerak sebelum tanda tanda cuaca buruk itu mereda.
"Kalau begitu, malam ini kita bermalam di tempat ini saja, Paman Purusoma..
Keselamatan kita semua lebih penting. Di tunda satu hari pun bukan masalah besar", ujar Panji Tejo Laksono menanggapi laporan Rakryan Purusoma.
"Gusti Pangeran memang bijaksana", Rakryan Purusoma menghormat pada Panji Tejo Laksono kemudian naik ke atas kapal, memerintahkan kepada para juru masak kapal untuk menyiapkan makan malam.
Malam itu cuaca semakin dingin. Perhitungan Rakryan Purusoma tidak meleset sama sekali. Hujan lebat bercampur angin kencang turun deras membasahi sekitar pelabuhan Tumasik. Untung saja kapal jung besar mereka cukup tahan menghadapi cuaca buruk jadi tidak terlalu terpengaruh oleh gelombang pasang yang menerjang pelabuhan itu.
"Gusti Pangeran, apa tidak sebaiknya kita ke pemukiman penduduk di sekitar pelabuhan ini? Hujan nya sangat deras mengguyur tempat ini", ujar Luh Jingga sembari berjalan sempoyongan ke arah Panji Tejo Laksono karena kapal jung mereka oleng ke kanan dan kiri di terpa ombak besar.
"Tidak perlu khawatir Luh..
Kita hanya perlu bersabar sebentar saja. Aku yakin hujan ini tidak akan lama kog. Paman Purusoma sudah memberitahu ku tadi", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.
Karena hempasan ombak besar pada kapal jung, Luh Jingga yang berjalan mendekati Panji Tejo Laksono terpeleset dan menubruk sang pangeran muda. Keremangan cahaya lampu minyak jarak yang menjadi pelita di kamar peristirahatan Panji Tejo Laksono terlihat bergerak gerak seperti menari menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang tengah memeluk tubuh Luh Jingga.
"Makanya jangan banyak bergerak. Sudah tahu lagi badai seperti ini masih juga jalan kesana kemari", ujar Panji Tejo Laksono sembari memencet hidung mancung Luh Jingga yang kini ada dalam dekapan hangat nya.
"Maafkan hamba Gusti Pangeran. Jujur hamba takut sekali dengan keadaan seperti ini", jawab Luh Jingga sembari meringkuk dalam pelukan Panji Tejo Laksono.
"Ya sudah kalau takut, jangan banyak bergerak. Disini saja bersama ku", Panji Tejo Laksono lalu memejamkan matanya.
Malam itu hujan deras terus mengguyur hingga pagi menjelang tiba.
Thok thookkk thok..!
Suara ketukan pintu kamar terdengar keras. Panji Tejo Laksono membuka mata nya sembari menguap lebar beberapa kali. Setelah mengucek matanya, pandangan sang pangeran tertuju pada Luh Jingga yang sedang meringkuk memeluk tubuh nya.
"Siapa?"
"Mohon ampun jika hamba mengganggu istirahat Gusti Pangeran, hamba Tumenggung Rajegwesi. Rakryan Purusoma meminta saya untuk menanyakan kepada Gusti Pangeran apakah kita bisa berangkat sekarang? Cuacanya sudah membaik kata Rakryan Purusoma", ucap Tumenggung Rajegwesi dari luar kamar.
"Katakan saja pada Paman Purusoma, kalau cuaca sudah memungkinkan kita berangkat saja", jawab Panji Tejo Laksono dari dalam kamar tidur nya.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran..", usai berkata demikian terdengar suara langkah kaki menjauh dari pintu kamar tidur Panji Tejo Laksono.
Sesuai perintah Panji Tejo Laksono, kapal jung besar mereka mulai menarik jangkar dan perlahan meninggalkan Pelabuhan Tumasik untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Tiongkok.
Setengah hari perjalanan, kapal jung besar mereka terus bergerak menuju ke Utara. Menembus ombak Laut China Selatan yang kadang kala menjadi besar karena terpaan angin.
Setelah 3 hari menembus laut...
Panji Tejo Laksono sedang asyik menikmati hidangan yang disajikan siang hari itu di temani oleh Luh Jingga di geladak kapal jung besar itu saat tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari Tumenggung Rajegwesi yang duduk di atas haluan kapal mereka.
"Ada kapal besar berbendera hitam yang melaju cepat kearah kita.
Semuanya bersiaplah!"
__ADS_1