Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Luh Jingga dan Gayatri


__ADS_3

Mendengar perkataan keras itu, rombongan besar yang segera menghentikan kuda mereka. Resi Linggajati dan Begawan Suradharma yang ada paling depan langsung mengenali wajah si lelaki kurus bermata lebar itu sebagai Langkir alias Kelelawar Mata Iblis, salah satu dari 5 pimpinan Perguruan Kelelawar Merah.


Lelaki bertubuh kurus itu cukup punya nama besar di dunia persilatan. Kemampuan ilmu meringankan tubuh nya sangat tinggi seperti keempat sesepuh lainnya di perguruan silat aliran hitam itu. Di samping itu, ia memiliki Ajian Cakar Geni yang membuat kemampuan nya sangat berbahaya bagi siapapun lawan yang dihadapi nya. Terlebih lagi, dia sangat kejam dan dikenal tak segan segan membantai lawan nya.


Tak jauh dari Langkir, seorang lelaki bertubuh kekar dengan sorot mata tajam seperti hendak menguliti siapapun yang memandang nya, menyeringai lebar menatap ke arah rombongan itu. Dia adalah Wangkas, saudara seperguruan Langkir alias Kelelawar Mata Iblis. Sebagai pimpinan ke empat dari Perguruan Kelelawar Merah, Wangkas sangat di takuti oleh para pendekar dunia persilatan. Meskipun dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi, namun Wangkas sendiri memiliki tubuh yang unik dengan kulit hitam yang sangat liat hingga senjata biasa tak mampu menembusnya. Dunia persilatan menjulukinya sebagai Kelelawar Kulit Baja karena kemampuan alamiahnya itu.


Di belakangnya muncul dua orang perempuan cantik berpakaian biru langit dan merah yang datang bersama dengan 10 orang perempuan lain yang semuanya memakai hiasan rambut atau tusuk konde perak yang berwujud bunga mawar. Itu adalah tanda bahwa mereka berasal dari Perguruan Racun Kembang, satu perguruan silat aliran hitam yang cukup disegani di wilayah Kadipaten Lasem. Seperti diketahui sebelumnya, mereka adalah pindahan dari Lembah Seribu Bunga di Kadipaten Anjuk Ladang yang kini menetap di wilayah Kadipaten Lasem, tepatnya di Lembah Rowo.


Dua gadis cantik itu adalah Dewi Kembang Biru dan Dewi Worawari. Tubuhnya yang sintal dan menawan di tambah wajah nya yang cantik mempesona menjadi daya pikat tersendiri bagi semua lelaki yang memandang nya. Sayangnya keduanya sama-sama memiliki sifat yang kurang terpuji. Mereka sangat gemar menangkap lelaki muda untuk di jadikan sebagai pemuas hasrat birahi mereka. Setelah puas menikmati tubuh para pemuda yang mereka tangkap, mereka akan membunuhnya tanpa ampun.


"Langkir,


Kenapa kau menghadang jalan kami kearah Padepokan Pedang Awan ha? Apa kau ingin membuat masalah dengan Perguruan Tapak Suci?", hardik Resi Linggajati.


"Turun kau tua bangka! Atau aku perlu memaksa mu turun dari kuda mu itu?", ancam Langkir sembari bersiap untuk menyerang. Melihat itu Resi Linggajati melompat turun dari kudanya diikuti oleh seluruh anggota rombongan besar mereka termasuk Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya.


"Hihihihi... Tua bangka tak tahu diri..


Kau tentu telah mendengar suara yang beredar luas di dunia persilatan bahwa Perguruan Kelelawar Merah dan Perguruan Racun Kembang sepakat untuk mendukung Dewa Angin Utara sebagai pimpinan kelompok aliran putih. Karena itu aku disini untuk memastikan bahwa kau berada di pihak yang sama dengan kami, Linggajati. Jika kau menolak untuk menerima Dewa Angin Utara sebagai pimpinan, maka jangan salahkan aku jika aku tidak memperbolehkan kalian mengikuti pertemuan di Padepokan Pedang Awan", imbuh Langkir alias Kelelawar Mata Iblis seraya menyeringai lebar.


"Siapapun yang kami pilih itu bukan urusan mu ataupun Perguruan Kelelawar Merah, Langkir.


Menyingkir dari jalan ku, atau aku akan memaksa untuk lewat", kata Resi Linggajati segera.


"Tua bangka tak tahu diri, sudah bau tanah masih juga keras kepala.


Ayo tunjukkan kemampuan mu, kakek tua!", teriak Langkir sembari melesat ke arah Resi Linggajati.


Melihat Kelelawar Mata Iblis menerjang maju, Wangkas langsung ikut bergerak di sertai oleh para murid Perguruan Kelelawar Merah. Pertarungan di kaki Gunung Damalung itu segera berlangsung sengit.


"Kangmbok Kembang Biru,


Pemuda tampan itu bagian ku. Kau urus saja yang lain", ucap Dewi Worawari sambil melirik kearah Panji Tejo Laksono. Sejak pertama melihat wajah tampan Panji Tejo Laksono, perempuan binal itu sudah tertarik untuk bercinta dengan nya.


"Boleh saja kalau kau ingin menikmatinya duluan, Worawari..


Tapi ingat aku juga menginginkan nya. Dan kau tahu aku tidak suka jika wajah tampan nya itu rusak. Kau harus menjaganya agar tetap utuh", Dewi Kembang Biru tersenyum genit ke arah Panji Tejo Laksono.


"Aku mengerti Kangmbok", usai berkata demikian Dewi Worawari melenting tinggi ke udara dan mendarat di hadapan Panji Tejo Laksono.


"Pemuda tampan,


Sebaiknya kau jangan ikut bertarung dengan mereka. Kau ikut aku saja. Bersama kita pasti akan menikmati indahnya surga dunia", ucap Dewi Worawari sembari menyapukan lidahnya ke bibir nya yang terlihat begitu menggoda.


"Pelacur jahanam!


Kau layak mendapat pelajaran karena berani menggoda majikan ku. Akan ku robek mulut mu", ujar Luh Jingga yang segera mencabut pedangnya dan menerjang ke arah Dewi Worawari. Melihat itu, Gayatri yang juga geram dengan omongan Dewi Worawari langsung mencabut sepasang belati di pinggangnya dan ikut melesat ke arah Dewi Worawari.


Pertarungan sengit antara ketiga perempuan cantik itu berlangsung sengit.


Luh Jingga dengan cepat membabatkan pedang nya ke arah leher Dewi Worawari. Namun perempuan cantik berbaju merah itu langsung merendahkan tubuhnya semakin mengayunkan pedangnya ke arah pinggang lawan.


Shhrreeettthhh!


Gayatri yang melihat itu semua, segera menyabetkan belati nya menangkis sabetan pedang Dewi Worawari yang ingin menebas pinggang ramping Luh Jingga.


Thrrriiinnnggggg!


Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka. Luh Jingga yang tertolong oleh Gayatri, langsung melompat tinggi ke udara dan meluncur turun ke arah kepala Dewi Worawari dengan pedang di bawah mengincar kepala.


Dewi Worawari dengan cepat berguling lincah ke samping menghindari tusukan pedang Luh Jingga. Namun di saat yang bersamaan, Gayatri langsung melemparkan belati tajam nya ke arah Dewi Worawari.


Shrrriinnnggg!!


Belati tajam itu langsung meluncur cepat kearah Dewi Worawari. Merasakan hawa dingin berdesir kencang kearah nya, Dewi Worawari dengan cepat menebaskan pedangnya menghalau serangan Gayatri.


Thhraaaanggggggg!


Akibat tebasan pedang Dewi Worawari, belati tajam milik Gayatri terpental ke arah empunya senjata. Bersamaan dengan itu, Dewi Worawari melemparkan dua jarum berwarna hitam yang mengandung racun keji ke arah Gayatri.

__ADS_1


Shrrriinnnggg! shhhrriinggg..!!


Luh Jingga yang baru saja menggunakan pedangnya untuk melompat mundur sebagai tumpuan, melihat dua jenis serangan Dewi Worawari, langsung merubah gerakan tubuhnya dengan cepat. Gadis cantik asal Bukit Penampihan itu segera menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah serangan kedua Dewi Worawari. Kali ini dia menggunakan Ilmu Pedang Lengan Seribu yang merupakan ilmu andalan Padepokan Bukit Penampihan.


Seketika ribuan lengan ilusi tercipta dari tangan Luh Jingga. Sekali gerakan, tebasan pedang nya mampu menangkis dua jarum beracun dari Dewi Worawari.


Thrrraaannnnggggg trrakkk!!


Dua jarum beracun itu bermentalan saat terkena tebasan pedang Luh Jingga. Salah satu nya menyasar ke arah seorang murid Perguruan Kelelawar Merah.


Chhreepppppph!


Aaauuuuggggghhhhh!


Murid naas itu langsung terjungkal ke tanah dengan mulut berbusa putih setelah jarum sebesar lidi menancap di lehernya.


"Ilmu Pedang Lengan Seribu dari Bukit Penampihan...


Aku semakin bersemangat untuk mengalahkan nya", teriak Dewi Worawari sembari menyeringai lebar. Perempuan cantik bertubuh sintal dengan belahan dada terbuka lebar itu segera merogoh balik bajunya dan mengeluarkan 4 jarum beracun dari tangan kiri nya.


"Sekarang coba kau hadapi ini, bangsat!"


Shhhrriinggg! shriingg! shrrriinnnggg!


4 jarum berwarna hitam melesat cepat kearah Luh Jingga. Putri Resi Damarmoyo itu segera memutar pedangnya dan menangkis jarum beracun yang melaju kencang kearah nya.


Whuuthhh..!


Thrangg! Thhraaaanggggggg!


Sementara Luh Jingga membuat pertahanan diri, Gayatri langsung menggunakan Ilmu Belati Terbang nya untuk menyerang Dewi Worawari dari sisi samping.


Whuuthhh! Whuuthhh!!


Dua belati melesat cepat kearah Dewi Worawari. Perempuan cantik berbaju merah itu langsung mundur selangkah ke belakang seraya menghantam tapak tangan kiri nya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi untuk menghalau serangan Gayatri.


Whhhhuuuuggghhh!


Dua pisau belati itu hancur berantakan di udara. Namun di saat yang sama, dua pisau belati yang di lepaskan belakangan oleh Gayatri, membuat Dewi Worawari kelimpungan mencari tempat untuk menghindar. Perempuan bertubuh sintal itu terpaksa harus berguling ke tanah untuk menghindari dua belati terbang yang mengancam nyawa. Pakaian nya penuh tanah dan rumput, di tambah kulitnya yang putih mulus menjadi luka karena duri tajam tanaman perdu.


Geram sudah Dewi Worawari melihat tubuhnya yang dia banggakan sebagai pemikat lawan jenis menjadi banyak luka.


"Bangsat!


Akan ku buat kalian menyesali perbuatan kalian ini".


Secepat kilat, Dewi Worawari merapal Ajian Pukulan Seribu Racun yang menjadi ilmu andalan Perguruan Racun Kembang. Tangan kiri perempuan itu berubah warna menjadi hitam dengan sinar kuning redup nya.


Melihat lawan telah mengeluarkan ilmu andalannya, Luh Jingga pun tak mau kalah. Dia segera merapal mantra ilmu kedigdayaan dari Kitab 5 Tapak Dewa yang merupakan ilmu puncak Padepokan Bukit Penampihan yang hanya boleh di pelajari oleh calon pimpinan juga sesepuh padepokan. Dari kelima bagian kitab pusaka itu, Luh Jingga telah menguasai Tapak Dewa Bayu, Tapak Dewa Indra dan Tapak Dewa Yama. Kali ini untuk melawan musuh yang menggunakan ilmu kedigdayaan beracun, Luh Jingga menggunakan Ajian Tapak Dewa Yama sebagai tandingan. Dia tidak mau terkena racun lagi seperti kecerobohannya kemarin yang nyaris tewas keracunan akibat ilmu beracun dari murid Iblis Picak dari Sungai Wulayu.


Perlahan tangan kiri Luh Jingga mengeluarkan asap hitam pekat bercampur dengan sinar merah kehitaman yang mengerikan.


Usai Ajian Pukulan Seribu telah sempurna, Dewi Worawari langsung menjejak tanah dengan keras lalu melesat kearah Gayatri. Melihat itu, Luh Jingga dengan cepat menghadang sambil menebaskan pedangnya ke arah Dewi Worawari. Ribuan pedang ilusi tercipta mengancam nyawa sang perempuan cantik berbaju merah.


Shreeeeettttthhh! shhretttt! shreeeeettttthhh!


Angin dingin berdesir kencang kearah leher Dewi Worawari membuat perempuan cantik itu langsung sadar bahwa ia dalam bahaya. Secepat mungkin, dia merubah gerakan tubuhnya untuk menghindari sabetan pedang Luh Jingga. Untuk membuat celah, dia hantamkan tangan kiri nya yang berwarna hitam berselimut cahaya kuning redup kearah dada Luh Jingga.


Whhhhuuuuggghhh!


Tanpa ragu, Luh Jingga langsung menyambut serangan dengan tapak tangan kiri nya yang di liputi oleh sinar merah kehitaman yang berhawa dingin seperti hawa kematian yang mengerikan.


Blllaaammmmmmmm!


Aaaarrrgggggghhhhh!


Dewi Worawari langsung menjerit keras saat dua ajian tingkat tinggi itu bertemu. Dia terpelanting jauh ke belakang. Gayatri yang terus memperhatikan pertarungan itu, langsung melemparkan dua pisau belati nya kearah Dewi Worawari yang masih melayang di udara.


Chhreepppppph! Chhreepppppph!

__ADS_1


Dua belati terbang itu menembus perut dan paha kiri Dewi Worawari. Dewi Kembang Biru yang sedang bertarung melawan Panji Tejo Laksono, langsung melompat menyambar tubuh adik seperguruan nya lalu mendarat sejauh dua tombak menjauhi mereka.


"Worawari, kau harus bertahan. Aku akan menyelamatkan mu", teriak Dewi Kembang Biru dengan penuh kepanikan melihat luka yang di derita Dewi Worawari.


"Ka Kang...mbok, ba..las..kan... den..dam ku i...ini", ucap Dewi Worawari sesaat sebelum tewas dengan tubuh terus mengeluarkan darah segar.


"Worawari.. bangun Worawari..


Kau tidak boleh mati.. Worawari cepat bangun", teriak Dewi Kembang Biru sembari mengguncangkan tubuh Dewi Worawari yang sudah tidak bernyawa lagi. Setelah mengetahui bahwa adik seperguruan nya tewas, perlahan Dewi Kembang Biru meletakkan mayat Dewi Worawari di tanah dengan air mata mengalir dari sudut matanya. Dengan cepat ia menoleh ke arah Luh Jingga dan Gayatri yang kini berdiri di samping Panji Tejo Laksono.


"Perempuan laknat,


Akan ku cincang tubuh mu untuk menemani Worawari di Swargaloka!"


Perempuan cantik berbaju biru langit itu segera merapal mantra Ajian Pukulan Seribu Racun nya.


"Denmas Panji,


Perempuan sundal ini biar kami yang mengatasi. Sebaiknya kakang bantu Resi Linggajati. Sepertinya dia kesulitan mengalahkan Kelelawar Mata Iblis itu", ujar Gayatri sambil menggenggam erat gagang belati nya.


Yang di ucapkan Gayatri benar adanya. Resi Linggajati yang mengandalkan kekuatan Ajian Tapak Membelah Gunung sama sekali tak bisa berbuat banyak melawan ilmu meringankan tubuh Kelelawar Mata Iblis yang mampu berpindah tempat dengan cepat.


Panji Tejo Laksono segera mengangguk mengerti.


"Baiklah, tapi kalian juga hati hati dengan perempuan beracun itu. Ilmu kanuragan nya lebih sempurna di banding perempuan berbaju merah tadi", ujar Panji Tejo Laksono sebelum melesat ke arah pertarungan Resi Linggajati.


Luh Jingga dan Gayatri saling berpandangan sejenak sebelum saling mengangguk. Gayatri segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada kedua belati yang tergenggam erat di kedua tangan nya, sementara Luh Jingga menyalurkan semua tenaga dalam nya bersiap untuk pertarungan melawan Dewi Kembang Biru.


Dengan penuh nafsu membunuh, Dewi Kembang Biru langsung melemparkan 4 jarum berwarna hitam ke arah Gayatri dan Luh Jingga lalu mencabut pedang pendek di pinggangnya sebelum melompat tinggi ke udara dan meluncur turun ke arah dua gadis cantik itu.


Shrrriinnnggg! Shringg!


Gayatri yang ada di depan langsung merendahkan tubuhnya lalu berguling cepat menghindari empat jarum beracun dari Dewi Kembang Biru.


Luh Jingga yang masih menggunakan Ilmu Pedang Lengan Seribu nya dengan cepat mengayunkan pedangnya menangkis jarum beracun yang melaju ke arah nya.


Thhraaaanggggggg thraakkkk!


Jarum berwarna hitam itu bermentalan saat terkena tebasan pedang Luh Jingga. Sementara itu, Gayatri yang lolos dari maut langsung menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke arah Dewi Kembang Biru yang menuju ke arah Luh Jingga. Secepat kilat dia menyabetkan pisau belati di tangan kanannya ke arah perut Dewi Kembang Biru.


Shrraaaakkkkhhhh!


Thrrriiinnnggggg!


Dewi Kembang Biru yang merasakan hawa dingin berdesir kencang kearah perutnya dengan cepat menebaskan pedangnya kearah serangan. Tangan kiri nya yang berwarna hitam dari Ajian Pukulan Seribu Racun langsung menghantam ke arah Gayatri. Putri dari Seloageng itu terkejut tapi segera menyilangkan kedua belati terbang nya ke arah serangan lawan.


Blllaaammmmmmmm!!


Gayatri terpental ke belakang sembari muntah darah segar. Dewi Kembang Biru menyeringai lebar penuh kemenangan melihat itu. Namun dia lupa ada Luh Jingga. Dewi Kembang Biru langsung menjerit keras saat Luh Jingga yang lepas dari pengamatan nya membabatkan pedang nya ke lengan kiri perempuan itu.


Chhrrrraaaaaassssh!


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Lengan kiri perempuan cantik itu langsung putus dan jatuh ke tanah. Dewi Kembang Biru langsung melompat mundur seraya melemparkan bola berwarna hitam ke arah Luh Jingga.


Putri Resi Damarmoyo itu tahu bahwa itu adalah bola beracun. Dia dengan cepat mundur seraya mengibaskan tangan kiri nya.


Blllaaaaaarrr!


Bola hitam itu langsung meledak di udara begitu hawa dingin tenaga dalam Tapak Dewa Bayu yang di lepaskan Luh Jingga menghantamnya. Ledakan itu menciptakan kabut hitam yang menghalangi pandangan. Saat angin menyapu kabut hitam itu, Dewi Kembang Biru telah menghilang dari pandangan.


Luh Jingga segera mendekati Gayatri yang masih terduduk di tanah.


"Setan betina itu kabur Gayatri", ujar Luh Jingga sembari membantu Gayatri berdiri. Untung saja Gayatri menggunakan seluruh tenaga dalam nya untuk menahan hantaman Dewi Kembang Biru hingga luka dalam nya tidak terlalu serius.


"Ukhhh..


Tidak apa-apa Luh Jingga. Sepertinya kau juga berhasil melukai nya dengan parah. Kalaupun dia bisa selamat juga akan cacat", jawab Gayatri seraya menghapus sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya. Luh Jingga tersenyum simpul kemudian memapah tubuh Gayatri ke bawah pohon rindang di dekat tempat itu sembari berkata,

__ADS_1


"Sekarang kita istirahat dulu Gayatri. Kita lihat pertarungan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono"


__ADS_2