
Song Zhao Meng segera menghambur pada Nenek Sima Qian. Perempuan tua itu segera memeluk tubuh Song Zhao Meng dengan penuh kegembiraan. Rasa rindu pada cucu kesayangan nya ini akhirnya terobati juga.
"Cucu ku,
Sudah hampir dua tahun kita bertemu. Ternyata kau sudah tumbuh besar dan menjadi wanita secantik ini. Nenek sungguh bangga pada mu", ujar Nenek Sima Qian sembari mengelus pipi Song Zhao Meng.
"Aturan di Istana Kekaisaran sangat ketat Nek, apalagi setelah ayahanda Kaisar naik tahta. Aku benar benar di kurung, tidak bebas seperti dulu.
Andai saja tidak ada tugas ke selatan yang di bebankan kepada ku, tentu aku masih belum bisa menemui nenek", keluh Song Zhao Meng, mencurahkan segala isi hatinya pada sang nenek tersayang. Sima Qian tersenyum tipis sembari mengelus kepala Song Zhao Meng segera.
"Gadis bodoh..
Kau ini putri dari Kaisar Huizong. Tentu saja derajat mu berbeda dengan putri bangsawan biasa. Ada aturan yang harus dilakukan oleh seorang putri Kaisar, baik secara perilaku maupun gaya hidup. Kau sekarang tidak bisa seenaknya sendiri.
Oh iya, siapa mereka?", Sima Qian mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga yang sedari tadi hanya diam saja.
"Ya ampun sampai lupa..
Kakak Thee, maafkan aku yang terlalu terbawa suasana hati sampai lupa dengan mu.
Nenek, ini Kakak Thee Jo, suami ku. Dia adalah seorang pangeran yang di utus oleh ayahnya untuk menjadi utusan ke Istana Kaifeng", buru buru Song Zhao Meng memperkenalkan Panji Tejo Laksono pada Sima Qian.
"Suami? Sejak kapan kau menikah? Kenapa aku tidak di beri tahu?", ada nada kurang suka dengan cara bicara Sima Qian. Mungkin karena sebagai orang tua merasa tidak dihargai.
"Nenek jangan salah paham dulu..
Nanti aku ceritakan semuanya agar Nenek tidak berpikir macam-macam..", bujuk Song Zhao Meng sembari tersenyum manis. Setelah itu, Song Zhao Meng menceritakan tentang kisah mereka yang di culik oleh Yan Luo dan Guan Lian Er yang mengharuskan mereka menguasainya Ilmu Semesta Yin Yang untuk bisa keluar dari dalam jurang di kaki Gunung Song. Sima Qian menghela nafas panjang mendengar cerita dari Song Zhao Meng ini. Dia tidak pernah menduga bahwa cucu kesayangannya ini akan memiliki pengalaman seperti ini.
Sima Qian langsung menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mata tua nya seakan menelisik segala sesuatu yang ada pada diri sang pangeran dari Panjalu ini seperti memeriksa gabah yang tercampur dalam beras waktu hendak di masak.
"Anak muda,
Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara kau dan cucu ku. Tapi akan ku pastikan bahwa kau layak dan pantas bagi Meng Er.
Sekarang ulurkan tanganmu", ujar Sima Qian segera. Meski tidak tahu apa yang diinginkan oleh nenek tua ini, Panji Tejo Laksono mengulurkan tangan kanan nya.
Sima Qian dengan cekatan memeriksa nadi dan beberapa titik nadi di tubuh Panji Tejo Laksono. Nenek tua yang ternyata pintar fengsui dan ilmu ketabiban ini segera menghitung sesuatu dengan jari tangan nya. Setelah beberapa saat melakukan perhitungan, Sima Qian tersenyum simpul sembari manggut-manggut senang.
"Ada apa Nek? Apa ada sesuatu yang aneh dengan tubuh ku?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Hehehehe tidak ada tidak ada.. Hehehe", Sima Qian terkekeh kecil dan melangkah ke arah tempat duduknya. Sementara Panji Tejo Laksono yang masih tidak mengerti, menggaruk kepalanya tanda sedikit kebingungan dengan sikap Sima Qian.
Song Zhao Meng langsung mendekati Sima Qian dengan penuh rasa penasaran.
"Nenek, apa ada yang sedang kau sembunyikan? Cepat katakan pada ku, jika tidak aku tidak akan bicara lagi dengan mu", ancam Song Zhao Meng sembari menatap ke arah wajah tua Sima Qian.
"Haiya... Cucu ku ini benar-benar gampang sekali marah..
Aku hanya melihat bahwa suami mu ini akan punya anak yang akan menjadi seorang raja besar, Meng Er. Semoga kelak nanti kau yang berkesempatan untuk mengandung calon raja besar itu hehehehe", ucap Sima Qian sembari tersenyum simpul.
"Benarkah itu Nek?
Aku akan selalu mendampingi Kakak Thee kemanapun ia pergi. Aku adalah istri yang berbakti kepada suami. Terimakasih atas dukungannya Nek", Song Zhao Meng segera memeluk tubuh tua Sima Qian.
"Sudahlah,
Oh iya nenek punya sesuatu untuk menambah wawasan ilmu ketabiban yang pernah kau pelajari, Meng Er. Kelak gunakan itu untuk menolong sesama, jangan pilih kasih meski mereka berbeda mu", Sima Qian melepas pelukan Song Zhao Meng dan berjalan menuju ke sebuah meja dengan tumpukan buku di atasnya. Tangan perempuan tua itu menarik sebuah laci dan mengeluarkan sebuah kitab usang yang nampaknya merupakan sebuah kitab pusaka.
"Ini Kitab Dewa Obat. Aku mempelajari nya puluhan tahun untuk menjadi seperti sekarang. Aku memberikan ini untuk mu karena aku yakin di tangan mu lah kemampuan pengobatan ku kau warisi, Meng Er.
Pelajari baik baik, satukan dengan pelajaran yang pernah aku berikan. Apa kau mengerti?", Sima Qian mengulurkan kitab pusaka itu pada Song Zhao Meng. Putri Kaisar Huizong itu segera menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih atas hadiah pernikahan ku ini Nek. Aku sangat bersyukur karena nenek tidak menolak kehadiran Kakak Thee sebagai pendamping ku", ucap Song Zhao Meng sembari tersenyum simpul.
__ADS_1
"Tidak semudah itu..
Malam ini kalian harus bermalam di Paviliun Bulan Indah sebagai tanda penghormatan kepada yang lebih tua. Akan ku siapkan perjamuan yang enak untuk kau, suami mu dan wanita muda yang ada di sana itu", setelah berkata demikian Sima Qian segera bergegas meninggalkan tempat itu mencari kepala pelayan Paviliun Bulan Indah untuk mempersiapkan acara penyambutan.
"Luh Jingga,
Malam ini kita menginap di tempat ini loh", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Tidak masalah. Yang penting masih bersama dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, tidur di manapun aku tidak keberatan", jawab Luh Jingga sembari tersenyum manis.
"Justru itu masalahnya..
Nenek nya Meng Er pasti akan menyiapkan kamar pengantin untuk kami sedangkan malam ini adalah...", Panji Tejo Laksono tidak meneruskan kalimatnya. Luh Jingga langsung mengerti maksud omongan Panji Tejo Laksono.
"Kalau waktunya untuk ku, dia juga harus menyadari. Kita bisa tidur bertiga sekamar sebagai penghargaan ku atas nenek nya, Gusti Pangeran", ujar Luh Jingga sembari tersenyum tipis.
"Tapi ..."
"Tidak ada tapi tapian. Itu aku sudah berbesar hati padanya, Gusti Pangeran. Tidak ada tawar menawar lagi. Terima atau kita mencari tempat lain untuk bermalam", jawab Luh Jingga tegas.
Panji Tejo Laksono pun memilih untuk menuruti kemauan Luh Jingga daripada harus mencari alasan untuk tidak bermalam di Paviliun Bulan Indah. Dia tidak enak hati dengan Sima Qian.
****
"Bagaimana kabar terbaru dari perbatasan wilayah kita dengan Jenggala, Kakang Warigalit?
Apa sudah ada berita lanjutan soal rencana mereka?", Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana nampak memunggungi Mapatih Warigalit yang sedang duduk di lantai ruang pribadi Raja bersama beberapa punggawa istana Katang-katang.
"Mohon ampun Dhimas Prabu..
Sejauh ini telik sandi kita hanya mengetahui bahwa ada pergerakan pengumpulan bahan makanan besar-besaran di beberapa lumbung pangan yang ada di timur Gunung Kawi juga di Utara Gunung Penanggungan. Kita tidak tahu arah pergerakan mereka seperti apa tapi sepertinya ini patut di waspadai Dhimas Prabu", Mapatih Warigalit menghormat pada Panji Watugunung usai menyampaikan laporan nya.
Hemmmmmmm ...
"Kita tidak bisa menduga-duga terus apa yang diinginkan oleh Samarotsaha dengan mengumpulkan bahan makanan. Bisa jadi itu untuk sebagai persiapan menghadapi musim paceklik. Atau juga bisa sebagai persiapan untuk menyerang kita.
Tapi jika yang terakhir yang menjadi keinginan Samarotsaha, maka kita tidak bisa berdiam diri saja tanpa berbuat apa-apa.
Senopati Agung Narapraja,
Sembari menunggu kabar terbaru dari telik sandi, kirim masing masing 5 ribu prajurit ke Kadipaten Seloageng, Kadipaten Singhapura dan Kadipaten Bojonegoro sebagai persiapan pertahanan. Aku akan mengutus orang untuk menyampaikan pesan ku pada ketiga penguasa daerah itu", titah Sang Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar Senopati Agung Narapraja sembari menghormat.
"Untuk yang lainnya, tetap bersiaga penuh. Jangan kendurkan kewaspadaan kalian dengan keadaan sekitar kalian.
Apa kalian mengerti?", Panji Watugunung menoleh ke arah belakang punggung nya.
Seluruh nayaka praja yang hadir di ruang pribadi Raja pada sore hari itu langsung menyembah pada Prabu Jayengrana sembari berkata, " Kami mengerti".
"Sekarang kalian semua boleh meninggalkan tempat ini, aku masih ingin bicara empat mata dengan Mapatih Warigalit", Prabu Jayengrana mengangkat tangan kanannya ke atas. Melihat itu, seluruh nayaka praja Istana Kadiri segera menyembah pada Panji Watugunung dan satu persatu mulai meninggalkan ruang pribadi Raja kecuali Mapatih Warigalit yang masih duduk bersila di lantai dengan tenang.
"Kakang Warigalit,
Menurut pendapat mu apa yang harus ku lakukan untuk meredam sikap angkuh Jayawarsa? Aku menerima laporan dari beberapa telik sandi yang khusus ku tugaskan untuk mengikuti pergerakan bocah itu dan sejauh ini laporan mereka semua sama", ujar Panji Watugunung setelah semua orang meninggalkan ruang pribadi Raja, tinggal menyisakan dirinya dan Mapatih Warigalit.
"Mohon ampun Dhimas Prabu..
Jujur saja, putra kedua Gusti Prabu Jayengrana ini memang punya watak yang berbeda jauh dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Meski sama sama putra paduka, tapi Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa tidak segan segan untuk tampil mewah dan menunjukkan sifat angkuhnya. Ini berbeda jauh dengan sikap Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang lebih bersahaja dan punya tanggung jawab terhadap semua hal.
Tidak heran, di kalangan rakyat Panjalu muncul golongan yang menginginkan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono untuk menjadi Yuwaraja Panjalu selanjutnya begitu beliau pulang dari tugas kenegaraan nya.
Menurut saya, sebaiknya Dhimas Prabu memberikan tanggung jawab kepada Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa untuk mengajarinya rasa tanggung jawab sebagai seorang putra raja", Mapatih Warigalit menghormat pada Panji Watugunung.
__ADS_1
Hemmmmmmm....
"Kalau begitu pendapat mu, aku setuju Kakang Warigalit. Tapi aku punya cara halus untuk melakukan nya.
Ku dengar, Adipati Tunggaraja dari Bojonegoro punya seorang putri yang cantik. Tunggaraja sudah beberapa kali meminta ku untuk mundur dari jabatannya, Kakang. Dengan menikahkan Jayawarsa dengan putri Adipati Tunggaraja, kita bisa mengajari Jayawarsa tanggung jawab juga memperoleh pengganti pimpinan Kadipaten Bojonegoro sekaligus.
Bagaimana menurut mu?", Panji Watugunung tersenyum simpul.
"Sungguh pemikiran yang matang, Dhimas Prabu.
Tapi bagaimana dengan pendapat Gusti Ratu Ayu Galuh? Apakah itu akan di setujui oleh beliau?", sahut Mapatih Warigalit segera.
"Itu urusan ku, Kakang..
Ayu Galuh tidak akan berani untuk menolak keinginan ku. Kau tenang saja", jawab Panji Watugunung sembari tersenyum tipis.
Malam itu, Prabu Jayengrana dan Mapatih Warigalit menata rencana perjodohan untuk Mapanji Jayawarsa dengan hati-hati dan penuh perhitungan.
Malam dengan cepat berganti pagi. Sinar matahari pagi nampak muncul di ufuk timur setelah kokok ayam jantan bersahutan terdengar ramai. Perlahan, dingin malam terusir dari muka bumi dengan kehangatan sinar sang surya.
Sementara itu jauh di bagian barat wilayah Panjalu, tepatnya di wilayah selatan Kadipaten Rajapura. Serombongan pendekar tengah mengepung seorang wanita bertopeng yang nampaknya sedang melindungi seorang kakek tua dan seorang bocah berusia 7 atau 8 warsa.
"Dewi Topeng Waja,
Cepat serahkan bocah itu segera mumpung kami masih berbaik hati pada mu. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika nanti sampai memperkosa mu karena kau membandel hahahaha", tawa keras keluar dari seorang lelaki bertubuh gempal yang memegang sebuah gada bergerigi tajam.
Chuuuihhhhhh...
"Jangan hanya omong kosong besar saja, gebuk kedelai..
Kau pikir karena kau punya gelar Gada Maut dari Pantai Selatan, lantas aku takut pada mu ha? Gebuk kedelai mu itu hanya bisa di gunakan untuk menakuti anak kecil saja", balas perempuan bertopeng besi yang di juluki sebagai Dewi Topeng Waja ini.
Hampir satu purnama ini, nama Dewi Topeng Waja begitu tersohor di dunia persilatan Tanah Jawadwipa khususnya di wilayah barat. Pendekar wanita bertopeng ini di kenal dengan kebaikannya menolong setiap yang tertindas tanpa pandang bulu. Kepandaiannya yang tinggi dalam olah keprajuritan, membuat namanya cepat melambung di kalangan masyarakat Panjalu terutama di daerah barat.
Mendengar ejekan gebuk kedelai, wajah lelaki bertubuh gempal yang Wungkalsegara ini langsung merah padam menahan amarah. Sambil mendelik kereng pada Dewi Topeng Waja, dia mengangkat gada bergerigi tajam nya ke arah pendekar wanita itu.
"Dasar perempuan kurang ajar!
Kalian semua! Cincang tubuh perempuan sialan itu sekarang! ", teriak Wungkalsegara memberi perintah kepada para anak buahnya yang sedari tadi sudah bersiap dengan senjata terhunus untuk maju.
Mendengar perintah dari pimpinan kelompok mereka, para lelaki bertubuh kekar dengan wajah menyeramkan itu segera menerjang maju ke arah Dewi Topeng Waja.
Melihat pergerakan mereka, Dewi Topeng Waja segera memutar kedua telapak tangannya di depan perut. Angin dingin tenaga dalam tingkat tinggi berdesir kencang mengikuti gerakan tangan wanita bertopeng ini. Saat para pengeroyok ini hampir mengenai sasaran mereka, Dewi Topeng Waja segera menghantamkan kedua telapak tangannya ke arah mereka.
Whuuussshh...
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!!
Jerit keras yang penuh rasa sakit bercampur dengan muncratnya darah segar dari mulut mulut lelaki bertubuh kekar itu segera terdengar begitu tubuh mereka di hantam angin dingin yang berhembus kencang dari Dewi Topeng Waja. Tubuh mereka langsung terhempas ke tanah dengan keras.
Melihat anak buah nya berjatuhan, Wungkalsegara segera memutar-mutar gada bergerigi tajam nya sembari perlahan mendekat ke arah Dewi Topeng Waja. Pendekar perempuan itu hanya menyeringai lebar melihat langkah Wungkalsegara.
"Oh sekarang mau main senjata, gebuk kedelai?
Aku juga punya!", ujar Dewi Topeng Waja sembari mengeluarkan sepasang pisau belati berwarna putih keperakan dari balik punggungnya. Dengan gerakan cepat yang sukar diikuti oleh mata biasa, tiba-tiba saja pisau belati berwarna putih keperakan itu melesat cepat kearah Wungkalsegara seolah memiliki nyawa.
Wungkalsegara terkejut bukan main dan buru buru menangkis serangan pisau belati terbang ini dengan gada bergerigi tajam nya.
Thrrraaannnnggggg !!
Pisau kecil itu mencelat jauh setelah terkena gebukan gada bergerigi tajam nya Wungkalsegara. Namun lelaki bertubuh gempal itu lupa bahwa lawan memiliki sepasang senjata. Satu pisau belati lainnya langsung menancap di bahu kiri Wungkalsegara. Darah segar segera keluar dari tempat belati ini menancap. Wungkalsegara langsung marah besar.
"Perempuan keparat!
__ADS_1
Ku tumbuk kepala mu bajingan!"