
"Kangmas Tejo Laksono tau dari mana?", tanya Panji Manggala Seta penasaran.
Sedari tadi ia tak merasakan pancaran hawa tenaga dalam dari Dewi Setyawati saat perempuan itu berada di dekatnya. Tingkahnya pun tak terlihat seperti seorang pendekar wanita pada umumnya yang cekatan dan trengginas, malah cenderung lembut dan halus selayaknya anak seorang bangsawan.
Panji Tejo Laksono langsung tersenyum tipis mendengar pertanyaan adiknya lain ibu itu.
"Kau masih harus banyak belajar, Dhimas Manggala Seta. Sekalipun dia berusaha untuk menutupi pancaran hawa tenaga dalam yang dia miliki dan nyaris berhasil membuat penampilannya sebagai putri bangsawan sempurna, namun itu tidak berguna sama sekali bagi ku.
Aku sempat merasakan hawa pancaran tenaga dalam yang merembes keluar dari pandangan matanya saat dia melirik ke arah mu tadi. Meskipun singkat, aku tahu bahwa dia adalah seorang pendekar wanita seperti Luh Jingga maupun Kirana", ujar Panji Tejo Laksono.
Hemmmmmmm...
"Aku masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan ucapan mu Kangmas Tejo Laksono.
Biar nanti aku uji dia", balas Panji Manggala Seta segera. Belum sempat Panji Tejo Laksono menanggapi omongan adik nya itu, Akuwu Setyaka mempersilahkan kepada semua tamu nya undangan nya untuk menikmati berbagai hidangan yang telah di suguhkan kepada mereka.
Di saat makanan hampir selesai di santap, para dayang istana kembali lagi dengan membawa nampan yang berisi berbagai macam jenis minuman untuk para tamu kehormatan Pakuwon Watugaluh itu. Salah satu yang ikut serta dalam pekerjaan itu adalah Dewi Setyawati dan Dewi Setyaningrum. Kedua putri Akuwu Setyaka itu membawa nampan ke hadapan Panji Tejo Laksono, Panji Manggala Seta dan Mapanji Jayagiri serta Luh Jingga dan Dyah Kirana.
Seperti tak sengaja, tiba-tiba saja tulang ayam yang ada di atas pinggan makan Panji Manggala Seta melesat cepat kearah nampan yang di pegang oleh Dewi Setyawati.
Cttasssss..
Nampan yang berisi beberapa cangkir dan sekendi siddhu itu pun oleng dan nyaris tumpah. Namun dengan kecepatan tinggi, Dewi Setyawati langsung menata kembali kendi dan cangkir nya. Pemandangan itu tertangkap basah oleh mata ketiga orang pangeran muda dari Kadiri ini.
Usai berhasil mengatasi kecelakaan kecil di nampan yang di pegang nya, mata indah perempuan itu langsung melirik tajam ke arah ketiga orang pangeran muda ini seakan mencari siapa pelaku yang ingin mencelakai nya namun dengan kompak Panji Tejo Laksono, Panji Manggala Seta dan Mapanji Jayagiri menoleh ke arah lain seolah sedang memperhatikan sesuatu sambil bersiul.
Dewi Setyawati mendengus dingin melihat ulah mereka bertiga dan kembali melanjutkan tugasnya untuk menghidangkan siddhu pada ketiga orang tersebut.
Setelah Dewi Setyawati merampungkan tugasnya, perempuan cantik itu segera mundur dari tempat itu, kembali ke dalam istana Pakuwon Watugaluh.
"Nah benar kan yang aku katakan, Dhimas Manggala Seta?", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.
"Kau memang luar biasa, Kangmas Tejo Laksono. Bisa menebak dengan tepat dan benar. Aku harus banyak belajar pada mu", ujar Panji Manggala Seta segera.
"Tentu saja, Gusti Pangeran Manggala Seta..
Kangmas Pangeran Tejo Laksono ini bahkan mampu merasakan sesuatu yang tidak bisa di lihat oleh mata dalam jarak 20 depa di kegelapan malam. Sewaktu di Negeri Tiongkok dulu, dia mampu merasakan pergerakan musuh meski dalam keadaan gelap gulita dan jarak yang cukup jauh", sahut Luh Jingga yang sedari tadi ia tidak bersuara.
"Wah pantas saja Kangmbok Luh Jingga..
Waktu melawan dukun ilmu hitam di Wanua Ranja kemarin, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sama sekali tidak kesulitan melawan setan prewangan meski cahaya bulan hanya remang-remang saja", imbuh Dyah Kirana segera.
"Hehehehe kakak ku ini memang serba bisa. Jangankan melawan para makhluk halus, menundukkan para istri nya yang galak-galak saja dia mampu kog", celetuk Mapanji Jayagiri yang langsung membuat Luh Jingga dan Dyah Kirana melotot lebar ke arah nya sedangkan Panji Tejo Laksono hanya senyum-senyum saja.
__ADS_1
Setelah rampung acara jamuan makan itu, Akuwu Setyaka mendekati mereka bertiga.
"Gusti Pangeran bertiga..
Kalau diijinkan, hamba ingin menitipkan anak hamba untuk menjadi prajurit Panjalu. Akan menjadi kehormatan bagi Pakuwon Watugaluh andai saja putra laki-laki hamba Raden Setyadharma bisa menjadi salah satu pembantu Gusti Pangeran bertiga di masa depan", ujar Akuwu Setyaka sambil menghormat pada mereka bertiga dengan penuh harapan.
"Untuk saat ini, Istana Kotaraja Daha memang kekurangan orang setelah meninggalnya Paman Senopati Agung Narapraja dan beberapa perwira. Namun untuk menentukan apakah bisa tidaknya putra mu masuk di dalam keprajuritan Panjalu, hanya Kanjeng Romo Prabu Jayengrana sendiri yang berhak menentukan, Ki Kuwu", ucap Panji Tejo Laksono tegas.
Raut muka kecewa langsung terlihat di wajah tua Akuwu Setyaka.
Panji Tejo Laksono langsung tersenyum tipis melihat perubahan air muka sang pimpinan daerah Pakuwon Watugaluh itu.
"Ah tapi jangan khawatir Ki Kuwu. Aku akan tetap mengusulkan apa yang menjadi harapan mu pada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana.
Untuk saat ini, yang butuh bantuan adalah Dhimas Manggala Seta", mendengar ucapan Panji Tejo Laksono itu, Panji Manggala Seta segera menoleh ke arah sang kakak tertua.
"Kog aku Kangmas Tejo Laksono?"
"Iya kamu Dhimas Manggala Seta. Bukankah kau butuh bantuan dari seorang perempuan untuk membantu mu meracik obat-obatan bagi keprajuritan Panjalu?", Panji Tejo Laksono mengedipkan sebelah matanya ke arah Panji Manggala Seta.
Belum sempat Panji Manggala Seta menjawab omongan kakaknya itu, Akuwu Setyaka yang gembira mendengar ucapan Panji Tejo Laksono langsung menyahut, "Kalau begitu, Setyawati bisa menjadi pilihan bagi pembantu Gusti Pangeran Panji Manggala Seta".
"Boleh juga itu, Akuwu Setyaka..
Jangan menunggu lama lagi, sebentar lagi kami akan berangkat ke Kotaraja Daha. Sebaiknya kau segera menyiapkan barang keperluan Dewi Setyawati untuk ikut kami. Kalau terlambat, orang lain yang akan menggantikan posisi nya", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum.
"Segera hamba siapkan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Terimakasih atas kesempatan nya", Akuwu Setyaka segera menghormat sebelum bergegas menuju ke dalam istana Pakuwon Watugaluh.
Panji Manggala Seta masih melongo melihat ulah kakak tertua nya itu sedangkan Mapanji Jayagiri langsung geleng-geleng kepala.
"Kau ini sungguh pintar bersiasat, Kangmas Tejo Laksono. Akuwu Setyaka sukarela memberikan putri nya untuk menjadi pembantu Dhimas Manggala Seta.
Aku salut pada mu", ucap Mapanji Jayagiri sambil tersenyum simpul.
"Hehehehe itu namanya cerdik, Dhimas Jayagiri.
Nah Dhimas Manggala Seta, gunakan kesempatan ini untuk mendapatkan hati Dewi Setyawati. Aku sudah membuka jalan bagi mu, kau tidak boleh menyia-nyiakan nya", Panji Tejo Laksono menepuk-nepuk pundak adiknya sebelum melangkah menuju luar balai pisowanan Pakuwon Watugaluh. Luh Jingga dan Dyah Kirana mengikuti langkah sang pangeran muda ini diikuti oleh Mapanji Jayagiri.
Panji Manggala Seta yang masih tak percaya melihat apa yang terjadi di depan mata nya, langsung tersadar. Sambil berteriak lantang, dia berlari mengejar kakak-kakaknya.
"Kangmas Tejo, Kangmas Jayagiri..
Tunggu aku.."
__ADS_1
Rombongan pasukan Panjalu yang di pimpin oleh Panji Tejo Laksono bergerak meninggalkan istana Pakuwon Watugaluh setelah sang pimpinan mengucapkan terimakasih kepada sang Akuwu Watugaluh untuk jamuan makan yang di berikan kepada mereka.
Kini dalam rombongan pasukan ini bertambah satu orang lagi yakni Dewi Setyawati yang duduk satu kereta kuda bersama dengan Luh Jingga dan Dyah Kirana. Ketiganya segera akrab satu sama lain.
Sembari menatap ke arah perginya para prajurit Panjalu, Akuwu Setyaka mengusap setitik air mata yang muncul di sudut matanya. Dewi Tunjung Biru tersenyum tipis melihat itu semua.
"Doakan saja semoga Setyawati mampu memberikan kehormatan kepada Pakuwon Watugaluh, Kangmas Akuwu", ujar Dewi Tunjung Biru sambil menggenggam erat tangan sang penguasa daerah ini. Keduanya terus menatap ke arah rombongan pasukan Panjalu hingga mereka menghilang dari pandangan mata.
Setelah melewati puluhan Wanua dan Pakuwon Kunjang serta Kadri, rombongan pasukan Panjalu yang di pimpin oleh Panji Tejo Laksono memasuki Kotaraja Daha. Santernya kabar kemenangan mereka mengusir para prajurit Jenggala menjadikan para penduduk Kotaraja Daha langsung memberikan penghormatan dengan menepi di tepi jalan raya sebagai jalan mereka menuju ke arah Istana Katang-katang.
Diantara para penduduk Kotaraja Daha, dua orang kakek tua yang duduk dekat jendela sebuah rumah makan yang cukup ramai menatap ke arah rombongan itu.
"Pelayan, kemari kau!", ucap salah seorang kakek tua itu. Seorang pelayan dengan pakaian lusuh namun bersih langsung mendekati mereka.
"Iya Kisanak..
Apa lagi yang bisa aku bantu untuk kalian? Ingin tambah lagi ayam bakar nya?", tanya sang pelayan rumah makan itu dengan ramah.
"Sementara cukup. Aku ingin tanya. Kau kenal dengan para pria muda yang naik kuda memimpin pasukan Panjalu itu?", salah seorang kakek tua itu menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayagiri dan Panji Manggala Seta yang berkuda paling depan.
"Tentu saja Kisanak. Mereka bertiga adalah putra putra Gusti Prabu Jayengrana. Yang memakai baju biru tua tanpa lengan dan paling gagah itu adalah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, calon terkuat untuk menjadi Yuwaraja Panjalu selanjutnya.
Sedangkan yang pakai pakaian putih itu adalah Gusti Pangeran Panji Manggala Seta. Kalau yang pakai baju kehijauan itu adalah Gusti Pangeran Mapanji Jayagiri.
Memangnya kenapa Kisanak?", si pelayan rumah makan itu menatap kedua orang kakek tua itu bergantian.
"Hanya bertanya. Ini hadiah untuk mu. Sekarang pergilah, biarkan kami menyelesaikan makan siang kami", ujar salah seorang kakek tua bertubuh gempal itu sembari mengulurkan sekeping kepeng perak kepada sang pelayan.
Mata sang pelayan rumah makan itu langsung melebar begitu melihat kepeng perak di tangan nya. Dia buru-buru menghaturkan terima kasih kepada mereka dan bergegas meninggalkan meja mereka, takut jika dua orang tua itu berubah pikiran dan mengambil kembali hadiah yang dia terima.
"Bagaimana Kakang Mpu Wikrama? Kita habisi dia sekarang juga? Tangan ku sudah gatal ingin memegang gagang Golok Iblis Air ku", ujar seorang kakek yang sedikit lebih muda di banding kakek tua yang satunya.
"Jangan bodoh, Adhi Mpu Saranjana. Walaupun kita bisa menghabisi nyawa Panji Tejo Laksono, belum tentu kita bisa lolos dari kepungan para prajurit Panjalu yang jumlahnya puluhan ribu orang itu.
Kita harus mencari waktu yang tepat untuk melakukan tugas yang diberikan oleh pimpinan utama", ujar si kakek tua yang di panggil dengan nama Mpu Wikrama itu sambil mendengus dingin menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang sedang berkuda tak jauh dari tempat nya berada.
'Nikmati saja waktu mu yang tersisa, Panji Tejo Laksono. Besok atau lusa, kami akan memenggal kepala mu', batin Mpu Wikrama sambil menggenggam erat gagang kapak besar yang terbungkus oleh kain hitam.
Kedua kakek tua itu terus menatap tajam kearah Panji Tejo Laksono dan rombongan pasukan Panjalu yang terus bergerak menuju ke tengah Kotaraja Daha.
Dua orang kakek tua itu memang mendapat tugas untuk menghabisi nyawa Panji Tejo Laksono. Setelah menempuh perjalanan jauh hampir dua hari dua malam tanpa berhenti, akhirnya mereka sampai juga di Kotaraja Daha dan akhirnya mereka bertemu juga dengan orang yang menjadi incaran mereka. Mereka adalah utusan Malaikat Bertopeng Emas sang pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah.
Sepasang Iblis Pemotong Kepala.
__ADS_1