
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!", jawab keempat orang perwira tinggi prajurit Panjalu yang sedang menghadap kepada Panji Tejo Laksono sembari menyembah pada sang putra tertua Prabu Jayengrana itu.Setelah pertemuan mereka selesai, keempat orang itu segera mundur dari serambi balai tamu kehormatan untuk melanjutkan kegiatan mereka masing-masing
Sore hari itu, hujan deras mengguyur kawasan Kota Kadipaten Kalingga. Membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Nyaris tidak ada kegiatan orang di luar rumah. Semuanya memilih untuk berdiam diri saja dalam rumah. Beberapa kedai arak yang biasanya ramai dikunjungi oleh orang orang asing yang berdagang di pelabuhan Halong pun nampak sepi.
Sebuah rumah pelacuran yang berada tak jauh dari pelabuhan Halong pun nampak tidak ramai seperti biasanya. Rumah itu adalah bekas kediaman keluarga Tjoa Bu Teng, yang kini dimiliki oleh Oey Yong, salah satu dari beberapa saudagar kaya raya keturunan China yang memiliki beberapa rumah bordil di wilayah Kadipaten Kalingga dan Kembang Kuning.
Malam itu Tumenggung Rajegwesi yang menyamar sebagai orang biasa bersama Demung Gumbreg, kebingungan mencari arak dan sidhdhu untuk menghangatkan badan. Akhirnya sampai di tempat pelacuran milik Oey Yong ini. Dua orang perempuan cantik berbaju yang banyak terbuka disana sini langsung menghampiri mereka berdua yang nampak kedinginan karena tubuhnya kehujanan.
"Aduh Ndoro Ganteng, kog hujan-hujanan begitu, apa tidak takut kedinginan?", ujar genut seorang perempuan cantik berpupur tebal dengan bibir merah merona segera mengapit lengan kiri Gumbreg yang segede batang pepaya gantung. Seorang lagi langsung mengapit lengan Rajegwesi sembari menekankan buah dadanya yang besar pada lengan kiri Rajegwesi.
"Aduh kalian jangan genit ya..
Kami ini pria rumahan yang sayang istri. Jangan andalkan tubuh kalian untuk merayu kami. Tidak akan mempan. Ya kan Si?", Gumbreg dengan jahil menyenggol lengan Rajegwesi.
"A-Ah iya Mbreg.. Anu aku juga seperti teman ku ya. Kau jangan menggodaku", ujar Rajegwesi gugup karena si perempuan penghibur yang mengapit lengan nya itu terus menggosokkan buah dadanya yang besar ke lengan kiri Rajegwesi. Mau tak mau, sebagai seorang lelaki normal, nafsu Rajegwesi terpancing juga. Apalagi sudah hampir 6 purnama dia tidak bersentuhan dengan istri nya yang kini ada di Kadiri.
"Ah Ndoro Ganteng tidak perlu mikir yang di rumah. Mereka kan jauh, tidak bisa menghangatkan tubuh Ndoro Ganteng berdua saat kedinginan seperti ini.
Nah ini cicipi dulu sidhdhu dari Tanah Pasundan, Ndoro Ganteng. Kata nya ini yang tercepat untuk menghangatkan badan loh", tanpa menunggu persetujuan dari Gumbreg dan Rajegwesi, si perempuan penghibur itu segera menuangkan sidhdhu itu ke dalam cangkir bambu dan segera mengulurkan nya pada Gumbreg dan Rajegwesi. Karena benda ini yang mereka cari, baik Gumbreg maupun Rajegwesi pun langsung menerima cangkir berisi sidhdhu itu dan menenggaknya. Rasa hangat segera menjalar ke seluruh tubuh Gumbreg dan Rajegwesi.
Sesudah mereka menenggak habis sidhdhu mereka, dua orang wanita penghibur itu segera menggelandang tangan Gumbreg dan Rajegwesi ke sebuah meja yang kosong di sudut ruangan. Kebetulan rumah bordil itu memang sedang sepi, hanya terlihat beberapa orang sedang minum minuman keras di temani beberapa pelacur yang terus menggoda mereka dengan tubuh mereka.
Dua wanita penghibur yang bernama Suketi dan Basingah itu terus mencekoki Gumbreg dan Rajegwesi dengan sidhdhu yang mereka bawa. Dua orang pelacur nakal itu rupanya memang tak berniat untuk melepaskan Gumbreg dan Rajegwesi . Sedari sore mereka tidak mendapatkan tamu sama sekali karena hujan deras yang mengguyur kawasan Kota Kadipaten Kalingga ini.
Gumbreg yang kuat meminum sidhdhu, melihat Rajegwesi setengah teler langsung membisiki telinga Basingah yang selalu memancing birahi Rajegwesi.
"Urusi kawan ku, nanti urusan bayaran aku tanggung jawab. Cepat sana", ujar Gumbreg sambil tersenyum penuh arti dan memasukkan beberapa kepeng perak ke belahan dada perempuan penghibur itu. Mendengar bisikan setan dari Gumbreg, Basingah langsung tersenyum lebar sembari memapah Rajegwesi yang memang tak terbiasa menenggak sidhdhu menuju ke arah kamar tidur nya.
Gumbreg menyeringai lebar menatap ke arah bokong semok Basingah sebelum menghilang di balik pintu kamar tidur nya. Suketi pun dengan manja menggelayut mesra di bahu kiri Gumbreg. Dia pun sedikit mabok karena Gumbreg memaksanya untuk ikut minum sidhdhu.
"Ndoro Ganteng, teman nya sudah masuk kamar. Kita kapan? Ayo, Suketi sudah tidak tahan pengen kuda-kudaan", ujar Suketi dengan manja.
__ADS_1
Mendengar omongan Suketi, Gumbreg tersenyum lebar lalu dengan cepat menggendong tubuh Suketi menuju ke kamar tidur Suketi yang terletak paling ujung di rumah pelacuran Oey Yong ini.
Hujan deras itu terus berlanjut hingga pagi menjelang tiba. Setelah ayam jantan berkokok lantang bersahutan, hujan mulai mereda. Gumbreg yang bergeser dari tempat tidur nya, tak sengaja menghantam tiang ranjang tidur hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Sembari meringis menahan rasa sakit, Gumbreg segera menatap ke arah Suketi yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun di sampingnya. Melihat itu, Gumbreg langsung sadar bahwa ia sedang berada di tempat pelacuran milik Oey Yong. Perlahan dia beringsut mengenakan pakaian nya. Setelah beres , Gumbreg meletakkan 20 kepeng perak di atas meja kecil samping kamar tidur Suketi. Kemudian Gumbreg segera melangkah ke arah kamar tidur Basingah yang terletak bersebelahan dengan kamar Suketi.
Rupanya Rajegwesi pun sudah bangun dan sudah mengenakan pakaian nya. Melihat Basingah yang masih tertidur pulas, Rajegwesi segera meletakkan 20 kepeng perak di dekat tempat tidur Basingah sebelum beranjak keluar dari dalam kamar tidur rumah pelacuran itu. Begitu sampai di luar, Gumbreg sudah berdiri menunggu kedatangan Rajegwesi sambil senyum-senyum sendiri.
"Wah nyenyak sekali tidur mu Si hehehe. Memang pelayanan perempuan itu sehebat apa sih?", ujar Gumbreg sembari tersenyum penuh arti.
"Sssttttttttt... Tutup mulut mu Mbreg.. Rahasia ini jangan sampai ada yang tahu", Rajegwesi menatap tajam ke arah Gumbreg. Bagaimana pun dia dikenal sebagai salah satu perwira tinggi prajurit yang tidak pernah macam-macam.
"Aman Si..
Asal ada ganjel nya pasti rapat mulut ku hehehehe", Gumbreg tersenyum licik.
"Beres.. Sekarang kita harus pulang ke istana Kadipaten Kalingga. Sebentar lagi kita harus berangkat ke Rajapura. Ayo Mbreg..!", usai berkata demikian, Rajegwesi segera melangkah keluar dari dalam rumah pelacuran milik Oey Yong itu dengan diikuti oleh Gumbreg. Mereka bergegas menuju ke arah barak prajurit untuk segera mempersiapkan diri sebelum keberangkatan menuju ke arah Kadipaten Rajapura.
Di Alun-alun Kota Kadipaten Kalingga, ribuan orang prajurit Kalingga telah bersiap dengan baju perang dan senjata lengkap. Mereka berbaris rapi di pimpin oleh seorang Lurah Prajurit atau Bekel yang masing-masing membawahi 500 prajurit. Ada sepuluh barisan prajurit yang nampak berbaris rapi yang terbagi dalam 5 kelompok yang di pimpin oleh seorang Juru.
'Kemana Rajegwesi dan Gumbreg? Kalau sampai Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono hadir lebih dulu, bisa bisa mereka kena omel dari Gusti Pangeran ', batin Tumenggung Ludaka yang menjadi pimpinan para prajurit bertameng dan berpedang.
Tak berselang lama kemudian, nampak Demung Gumbreg dan Tumenggung Rajegwesi memacu kuda tunggangan mereka mendekati barisan prajurit. Melihat itu Tumenggung Ludaka menarik nafas lega dan segera mendekati mereka dengan menepak punggung kudanya. Kuda meringkik pelan dan berjalan mendekati Tumenggung Rajegwesi dan Demung Gumbreg.
"Kalian darimana saja? Tumben sekali telat datang nya", tanya Tumenggung Ludaka segera.
"Ah itu anu Kakang Ludaka, aku kesiangan bangun nya.. Semalam suntuk begadang minum sidhdhu dengan Gumbreg ", alasan Tumenggung Rajegwesi sembari melirik ke arah Demung Gumbreg seakan meminta bantuan untuk menguatkan alasannya.
"Iya Lu, aku dan Rajegwesi kebanyakan minum sidhdhu jadi terlambat bangun tidur ", sambung Gumbreg segera.
"Huhhhhh kalian berdua ini ada-ada saja. Untung saja Gusti Pangeran belum datang. Sekarang lekas periksa persiapan anak buah kalian ", ujar Tumenggung Ludaka segera. Mendengar ucapan itu, Tumenggung Rajegwesi dan Demung Gumbreg segera mengangguk dan segera menjalankan tugasnya sebagai pimpinan kelompok pasukan.
Saat matahari sepenggal naik ke atas langit timur yang mendung kelabu, Panji Tejo Laksono yang sudah memakai baju perangnya datang bersama Luh Jingga, Song Zhao Meng dan Ayu Ratna. Kali ini Ayu Ratna tidak mau di tinggal lagi oleh Panji Tejo Laksono dan bertekad untuk mengikuti langkah sang pangeran muda. Tumenggung Ludaka segera mendekati Panji Tejo Laksono yang berkuda hitam dan nampak berwibawa seperti layaknya seorang raja.
__ADS_1
"Persiapan sudah siap Gusti Pangeran. Tinggal mereka perintah untuk bergerak", lapor Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.
Hemmmmmmm..
Panji Tejo Laksono nampak mengedarkan pandangannya ke arah para prajurit yang nampak sudah siap untuk berangkat. Pandangan mata sang pangeran muda dari Kadiri ini tertuju pada sosok seorang prajurit yang berada di barisan para pemegang pedang.
'Sebenarnya apa maunya?', batin Panji Tejo Laksono yang masih menatap ke arah sosok prajurit yang nampak menundukkan wajahnya agar tidak bertatapan langsung dengan putra sulung Prabu Jayengrana ini. Panji Tejo Laksono memilih untuk tidak menghiraukan sosok yang berpakaian layaknya seorang prajurit itu. Lalu dengan perlahan di mengangkat tangan kanannya ke atas. Melihat isyarat tangan itu, seorang prajurit yang bertugas sebagai peniup terompet langsung meniup terompet tanduk kerbau.
Thhhhuuuuuuuuuttttttthh..!!
Riuh rendah para prajurit yang bercakap cakap langsung diam begitu bunyi nyaring terompet tanduk kerbau terdengar.
"Hari ini kita akan berangkat ke medan laga untuk menegakkan kedaulatan Kerajaan Panjalu atas Rajapura. Diantara kita mungkin tidak akan selamat dan kembali kepada keluarga kita masing-masing. Namun di atas itu semua, kalian akan tercatat sebagai pahlawan bagi Kerajaan Panjalu untuk selamanya.
Mari kita buktikan pada Rajapura, bahwa di negeri ini masih ada prajurit gagah berani yang siap berkorban nyawa demi kedamaian kerajaan Panjalu!", teriakan keras dari Panji Tejo Laksono langsung membangkitkan semangat juang para prajurit Kalingga yang kini menjadi pasukannya.
"Hidup Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..!
Hidup Gusti Prabu Jayengrana..!!
Hidup Kerajaan Panjalu!!!"
Teriakan penggugah semangat dari salah satu Juru ini seketika di sambut dengan semangat oleh seluruh prajurit. Segera pasukan yang dipimpin oleh Panji Tejo Laksono ini meninggalkan Kota Kalingga. Debu debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka yang bergerak cepat menuju ke arah Kota Rajapura yang ada di barat.
Pasukan Panji Tejo Laksono melewati jalur Utara yang menyusuri tepi Pantai Laut Jawa. Dalam waktu setengah hari, mereka telah sampai di tepi Kali Comal yang menjadi batas wilayah antara Kadipaten Kalingga dan Rajapura.
Dua pasang mata prajurit Rajapura yang bersembunyi di tempat pengintaian yang terletak diatas pohon besar terus mengawasi pergerakan Pasukan Panji Tejo Laksono yang mulai menyeberangi Kali Comal. Salah seorang diantara mereka langsung menuruni tangga dan segera bergegas menuju ke arah sebuah bangunan tersembunyi di balik rimbun pepohonan hutan bantaran Kali Comal. Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal nampak sedang rebahan di atas dipan kayu saat si prajurit pengintai ini datang. Dengan gugup dia segera bersimpuh di hadapan si lelaki bertubuh gempal itu.
"Gusti Tumenggung.. !! Ada masalah besar !!
Ada pasukan besar bergerak menuju kemari!!!"
__ADS_1