
Sementara Adipati Arya Natakusuma tengah bergembira mendapat kesempatan untuk menjadi seorang menantu Maharaja Panjalu, Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya meninggalkan Pakuwon Lawor menuju ke arah barat dimana Kota Kadipaten Seloageng berada.
Setelah melewati tapal batas wilayah antara Lawor dan Weling, rombongan itu terus bergerak menuju ke arah barat tanpa berhenti di Kota Pakuwon Weling. Mereka segera menyeberangi Kali Aksa yang merupakan batas wilayah Weling dan Bedander.
Di tepi barat sungai itu, Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya beristirahat sejenak untuk membiarkan kuda tunggangan mereka menikmati hijau nya rerumputan yang tumbuh subur di tepi sungai yang berhulu di kaki Gunung Kelud ini.
Sementara kuda kuda mereka makan rumput segar, Dyah Kirana nampak membuka buntalan kain hitam yang merupakan pemberian dari Akuwu Mpu Subali sebagai bekal perjalanan mereka ke Kota Kadipaten Seloageng di bawah pohon rindang yang ada di dekat tempat mereka menggembalakan kuda-kuda mereka.
Aneka makanan kering seperti daging kerbau asap dan beberapa olahan beras tertata rapi di dalam bungkusan pemberian dari Akuwu Lawor ini. Ini menjadi makanan mereka sembari menunggu kuda mereka kenyang makan rumput.
Setelah kuda-kuda itu terlihat kenyang, perjalanan ini segera di lanjutkan kembali. Rombongan Panji Tejo Laksono langsung memacu kuda mereka masing-masing menuju ke arah Kota Pakuwon Bedander yang menjadi wilayah penyangga Kota Kadipaten Seloageng di sebelah timur.
Lepas tengah hari, saat memasuki tapal batas Kota Kadipaten Seloageng, Panji Tejo Laksono tertarik pada kerumunan orang yang sedang mengerubungi sesuatu di pos jaga. Sang pangeran muda ini langsung menghentikan langkah kaki kuda yang di tunggangi nya.
"Ada apa Kakang?", tanya Song Zhao Meng yang ikut menghentikan kudanya di samping Panji Tejo Laksono. Dyah Kirana, Dyah Sawitri dan Anggana ikut berhenti di belakangnya.
"Aku penasaran dengan kerumunan orang orang ini.
Kau tunggu disini sebentar", usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono melompat turun dari kudanya. Lalu bergegas menuju ke arah kerumunan orang yang sedang melihat sesuatu di pos jaga dekat tapal batas wilayah Kota Kadipaten Seloageng.
Panji Tejo Laksono langsung menerobos kerumunan orang itu. Ini membuat beberapa orang merasa tidak senang dengan sikap Panji Tejo Laksono.
"Hei jangan mendorong ku..
Kalau mau lihat wara-wara sayembara, antri lah dulu", ucap seorang pemuda berkumis tipis dengan menyandang sebuah pedang di punggungnya. Dari dandanan nya ia terlihat seperti seorang pendekar.
Seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tebal dan janggut lebat pun merasa kesal dengan ulah orang yang menerobos masuk kerumunan ini. Dia mendengus geram karena kakinya terinjak oleh Panji Tejo Laksono.
"Benar-benar keterlaluan..
Kau ini tidak bisa menghar... Eh Gus-Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono..", belum sempat dia menyelesaikan omongannya, lelaki yang merupakan salah satu tamtama prajurit Kadipaten Seloageng ini terkejut melihat siapa yang menerobos kerumunan ini.
Mendengar ucapan itu, semua orang langsung menoleh ke arah Panji Tejo Laksono kecuali si pendekar muda yang mengomel tadi. Mereka semua segera memberi jalan kepada Panji Tejo Laksono sembari menyembah pada sang penguasa Kadipaten Seloageng.
"Sembah bakti kami Gusti Pangeran Adipati", ucap semua orang kompak.
Hemmmmmmm..
"Tidak perlu menghormat berlebihan. Kenapa kalian semua berkerumun di tempat ini?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
__ADS_1
Si perwira prajurit Kadipaten Seloageng yang berpangkat bekel ini segera menghormat sebelum berbicara.
"Ada pengumuman sayembara yang di adakan oleh pihak Istana Kotaraja Daha. Silahkan Gusti Pangeran Adipati melihat..", si Perwira ini dengan sopan menunjuk ke arah pos jaga dimana gulungan kulit kambing itu berada. Panji Tejo Laksono pun bergegas menuju ke arah yang ditunjuk.
Panji Tejo Laksono termangu memandangi tulisan yang tertera di atas kulit kambing yang terikat pada tiang pos jaga itu. Dalam tulisan itu jelas menyebutkan bahwa Istana Katang-katang mengumumkan sayembara untuk memulangkan Dewi Sekar Kedaton yang menghilang tiba-tiba.
Hemmmmmmm..
"Ini adalah masalah besar. Aku tidak bisa berdiam diri saja. Nimas Sekar Kedaton pasti sangat menderita sekarang ini", gumam Panji Tejo Laksono sambil menatap lembaran kulit kambing berisi sayembara itu.
Usai cukup membaca isi sayembara itu, Adipati Seloageng ini segera bergegas kembali ke tempat dimana rombongan nya berada. Segera dia melompat ke atas kuda nya dan bergegas menuju ke Istana Kadipaten Seloageng.
Begitu sampai di depan pintu gerbang istana Kadipaten Seloageng, para prajurit yang berjaga di depan langsung menghormat pada Panji Tejo Laksono. Mereka langsung membuka pintu gerbang istana dan Panji Tejo Laksono pun segera masuk ke dalam istana bersama rombongan nya.
Kedatangan Panji Tejo Laksono langsung disambut gembira oleh Gayatri, Luh Jingga dan Ayu Ratna yang menerima kabar tentang kedatangan mereka dari para prajurit yang bertugas. Senyum lebar terukir di wajah cantik tiga orang istri sang pangeran muda ini.
"Selamat datang di Istana Kadipaten Seloageng, Kangmas Pangeran Adipati..", ucap mereka bertiga kompak yang membuat Panji Tejo Laksono tersenyum simpul melihat ulah tiga istri nya ini.
"Terimakasih atas sambutan hangat kalian.
Oh iya, Dyah Kirana telah resmi menjadi saudari kalian. Jadi ku minta kalian bisa rukun dan saling menyayangi satu sama lainnya", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum penuh arti.
"Kangmas Pangeran tenang saja..
"Kau memang yang paling bijak dari semua istri ku, Dinda Gayatri..
Oh iya, aku lapar. Sediakan makan untuk ku sekarang di sasana boga ya..", perintah Panji Tejo Laksono segera.
"Lantas untuk dua orang ini Kangmas?", Luh Jingga menunjuk ke arah Anggana dan Dyah Sawitri yang masih berdiri mematung melihat kehangatan keluarga Panji Tejo Laksono.
"Tolong kau antar mereka berdua ke balai peristirahatan tamu sebelum aku memberikan tempat bagi mereka berdua.
Apa kalian semua mengerti?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya pada seluruh istri-istrinya yang ada di tempat itu.
"Sendiko dawuh Kangmas Pangeran ", ujar Gayatri, Luh Jingga dan Ayu Ratna kembali bersamaan. Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono geleng-geleng kepala sembari melangkah menuju ke tempat pribadinya. Sedangkan Gayatri dan Ayu Ratna segera menarik tangan Song Zhao Meng dan Dyah Kirana ke arah dapur istana. Sedangkan Luh Jingga mengantar Dyah Sawitri dan Anggana ke tempat yang ditentukan untuk mereka.
Selepas berganti pakaian, Panji Tejo Laksono langsung menuju ke sasana boga. Kelima istri Panji Tejo Laksono sudah berkumpul di sana sembari menyiapkan aneka makanan enak khas istana Kadipaten Seloageng. Mereka pun segera melahap makanan yang tersaji di meja makan.
Setelah makan, Panji Tejo Laksono membasuh tangan nya. Sesaat pandangan mata lelaki tampan ini terlihat sangat berat dan ini disadari oleh Gayatri yang terus memperhatikan Panji Tejo Laksono sejak masuk ke dalam istana tadi.
__ADS_1
"Kau kenapa Kangmas Pangeran? Sepertinya ada sesuatu yang sedang kau pikirkan. Aku lihat dari tadi, Kangmas Pangeran banyak termenung seperti sedang berpikir keras..", tanya Gayatri sembari mengulurkan kain untuk mengelap tangan suaminya yang basah.
"Ini semua ada kaitannya dengan hilangnya Nimas Sekar Kedaton, Dinda Gayatri..
Aku terus kepikiran masalah ini sejak aku melihat wara-wara sayembara yang ada di tapal batas Kota Kadipaten tadi", jujur Panji Tejo Laksono sembari menghela nafas berat.
Gayatri yang tahu masalah ini dari nawala yang di kirim Istana Kotaraja Daha pun turut menghela nafas panjang.
"Jujur saja Kangmas Pangeran, aku tidak punya cara sama sekali untuk menghadapi bangsa siluman. Itu tidak mudah Kangmas Pangeran. Apalagi jika Kerajaan Siluman Randugrowong yang terlibat..
Mereka adalah salah satu dari empat kerajaan siluman terkuat di Tanah Jawadwipa ini jika Kerajaan Siluman Laut Selatan dan Laut Utara tidak di hitung. Hanya itu saja yang aku tahu..", ujar Gayatri segera.
"Kau benar, Kangmbok Gayatri..
Jangankan kita, Kanjeng Romo Resi Ranukumbolo pun juga akan berpikir dua kali jika ingin masuk ke istana siluman itu. Aku pernah mendengar bahwa hanya beberapa orang saja yang bisa keluar hidup-hidup dari tempat itu setelah memasuki nya. Lagipula untuk masuk kesana, kita harus bisa Ajian Ngrogoh Sukmo terlebih dahulu", sambung Dyah Kirana sembari meletakkan cangkir minumnya di atas meja.
"Dan diantara kita semua, tidak ada yang memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi itu Kangmas Pangeran. Kalau Kirana saja menyerah, apalagi kita yang tahu nya hanya main pukul saja", sahut Ayu Ratna sembari tersenyum tipis.
Hemmmmmmm...
"Sudahlah, jangan di bahas lagi masalah ini. Biarkan aku berpikir sebentar, siapa tahu bisa menemukan jawaban nya.
Dinda Gayatri,
Tolong perintahkan kepada bekel prajurit untuk memanggil semua punggawa Istana Kadipaten Seloageng sore ini. Aku ingin mendengar laporan dari mereka selama aku pergi", ucap Panji Tejo Laksono yang segera disambut dengan anggukan kepala dari Gayatri.
"Baik Kangmas Pangeran.."
****
Endang Patibrata alias Dewi Lembah Wilis celingukan mencari keberadaan sosok Panji Tejo Laksono di Kotaraja Daha. Semenjak berpisah dengan Panji Manggala Seta dan Dewi Setyawati di Kota Kabupaten Gelang-gelang, perempuan cantik berbaju hijau muda ini meneruskan perjalanan nya untuk mencari sang pangeran pujaan hatinya.
Namun putri Lurah Singo Manggolo itu tidak langsung menemui bibi nya Cempluk Rara Sunti untuk meminta bantuan. Dia ingin menemukan Panji Tejo Laksono sendiri. Walhasil, dua hari lebih dia lontang-lantung tak tentu arah di Kotaraja Daha.
"Kemana lagi aku harus mencari keberadaan mu Kakang Tejo Laksono? Semua sudut kota besar ini sudah ku jelajahi tapi kau tetap tidak bisa aku temukan..
Apa sebaiknya aku minta bantuan Bibi Cempluk Rara Sunti ya? Tapi alasannya apa? Ah bingung aku..", gumam Endang Patibrata sembari menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
Di saat itu, mata Endang Patibrata langsung tertuju pada sebuah kulit kambing yang bertuliskan beberapa huruf Jawa Kuno yang terpaku pada sudut pos prajurit di pasar besar Kotaraja Daha. Endang Patibrata pun penasaran dan mendekati tempat itu.
__ADS_1
Setelah membaca tulisan yang tertera di atas kulit kambing ini, wajah cantik Endang Patibrata langsung sumringah seperti baru saja menerima sebuah hadiah besar.
"Aku tahu caranya..."