
Dengan penuh kelembutan, Panji Tejo Laksono mulai melaksanakan tugas nya sebagai seorang suami. Pangeran muda yang menjabat sebagai Mahamantri I Sirikan ini pun membuai Dyah Kirana menuju atas langit ketujuh dengan sentuhan lembut nya.
Uuuhhhhhhhh...
Dyah Kirana menjerit kecil ketika ia merasakan sesuatu memasuki tubuhnya dari Panji Tejo Laksono. Badannya sudah basah kuyup oleh keringat karena pertarungan raga dan jiwa nya dengan sang kekasih pujaan hati.
Tiba-tiba...
Jllleeeggggeeeeeeerrrrr...!!!
Suara keras gemuruh guntur yang tiba-tiba menyambar terdengar oleh semua orang. Ini merupakan sebuah keganjilan yang luar biasa karena munculnya kilat yang diikuti oleh gemuruh geledek itu terjadi di musim kemarau seperti ini.
**
Jauh di Pertapaan Gunung Penanggungan, Maharesi Yogiswara yang sedang bersemedi dalam upaya nya mendekatkan diri kepada Sang Hyang Akarya Jagat langsung membuka matanya dan menatap ke arah barat daya. Kilat dan petir yang baru saja menyambar membuatnya kaget namun dia langsung tersenyum lebar.
"Rupanya wadah baru Dewa Wisnu telah muncul di Mayapada ini.
Selamat untuk mu, Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono..", ucap Maharesi Yogiswara perlahan. Perlahan mata pertapa tua itu kembali menutup dan dia melanjutkan semedi.
**
Saat yang bersamaan, Maharesi Haridharma dari Pertapaan Gunung Lawu sedang berbincang-bincang dengan para cantrik nya saat kejadian itu terjadi. Dia segera bangkit dan melangkah keluar dari tempat duduknya dan menatap ke arah langit tenggara karena mata tua nya melihat sebuah cahaya biru terang benderang terpancar dari sana.
Dengan segera, dia mulai menghitung hari, weton dan pasaran. Mencocokkan nya dengan wuku, bulan, mangsa dan tahun sekarang. Begitu menemukan kecocokan dengan perhitungan nya, mata Maharesi Haridharma langsung terbelalak lebar.
Seorang cantrik Maharesi Haridharma yang penasaran dengan sikap aneh yang ditunjukkan oleh gurunya, segera mengikuti langkah sang guru.
"Ada apa Guru?
Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi?", tanya si cantrik segera.
"Sesuatu yang besar akan segera muncul di Panjalu, Angga..
Tanda-tanda itu telah muncul. Tanda bahwa perubahan besar akan segera terjadi di Tanah Jawadwipa", jawab Maharesi Haridharma sembari tersenyum tipis.
"Apakah itu Guru? Murid sama sekali tidak mengerti", si cantrik bernama Angga ini menggaruk kepalanya.
"Belum saatnya kau tahu, Murid ku..
Kelak kau lah yang akan melihat apa yang baru saja ku katakan pada mu. Sekarang kembalilah ke dalam. Udara di luar sangat dingin", ucap Maharesi Haridharma segera. Si cantrik Angga pun segera menghormat pada Maharesi Haridharma sebelum dia melangkah masuk ke dalam balai Pertapaan Gunung Lawu.
Setelah kepergian sang murid, Maharesi Haridharma kembali menatap ke arah langit tenggara yang terlihat telah kembali seperti sedia kala.
"Jagad Dewa Batara..
Rupanya wadah baru Mu sudah tercipta di dunia ini. Semoga saja wadah baru Mu ini nanti bisa menjadi penentram jagad seisinya, menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia dan memakmurkan rakyat Panjalu. Om Swasyastu.. ", Maharesi Haridharma membungkukkan badannya ke arah tenggara dengan penuh hormat.
**
Sementara itu, jagad dunia siluman pun langsung berguncang hebat. Siluman kecil menjerit-jerit ketakutan sedangkan siluman besar bingung setengah mati akan hal yang sedang terjadi. Istana Laut Selatan, salah satu dari 4 istana siluman terkuat di Tanah Jawadwipa salah satu yang merasakan goncangan hebat ini.
__ADS_1
Ratu Laut Selatan, Dewi Angin-angin atau juga dikenal sebagai Nyi Roro Kidul sampai terjatuh dari atas singgasana nya saking kencangnya goncangan yang mereka rasakan. Perempuan cantik yang terlihat masih berusia belasan tahun ini langsung bangkit dari tempat jatuhnya dan menyambar tongkat emas bertahtakan berlian merah yang merupakan salah satu senjata andalannya.
"Ada apa ini? Kenapa dunia siluman kita sampai goncang begini", ujar sang ratu yang terlihat gusar karena hal ini.
"Mohon ampun Gusti Ratu..
Sepertinya ini berkaitan dengan munculnya kilat dan petir yang mendadak muncul di wilayah Kadipaten Seloageng", lapor salah seorang bawahan sang ratu dengan cepat.
"Biasanya, jika ada hal semacam ini, pasti akan ada sesuatu yang besar yang akan menggoncangkan seluruh dunia.
Wingit, Kundala...!
Selidiki tempat petir dan kilat itu berasal. Aku mengandalkan kemampuan kalian", Dewi Angin-angin segera menoleh ke arah dua bawahannya, sepasang siluman berwujud manusia kelelawar yang terkenal dengan kecepatan geraknya.
"Baik Nyi Ratu..", dua siluman itu segera menyembah pada Nyi Roro Kidul sesaat sebelum keduanya melesat cepat kearah yang dimaksud.
**
Selepas selesai menyemaikan benih cinta ke dalam rahim Dyah Kirana, Panji Tejo Laksono tersenyum simpul saat melihat sang istri kelima kepayahan.
"Kangmas Pangeran ini, bilang nya capek tapi masih juga bisa membuat aku sampai mandi keringat seperti ini", gerutu Dyah Kirana sambil mengelap sisa-sisa keringat yang membasahi tubuhnya.
"Salah mu juga, kenapa terlihat cantik sekali malam ini. Membuat aku tidak tahan ingin bercinta terus dengan mu, Dinda Kirana hehehehe...", Panji Tejo Laksono terkekeh kecil.
"Huhhhhh dasar ...
Kita tidur ya Kangmas Pangeran. Aku capek", Dyah Kirana merebahkan kepalanya di lengan kiri sang pangeran muda.
Dan terimakasih banyak atas pelayanan mu malam ini", ujar Panji Tejo Laksono sambil mengecup kening sang istri sebelum keduanya tidur dengan saling berpelukan.
Suara keras kokok ayam jantan terdengar bersahutan menandakan bahwa pagi telah hadir di seluruh penjuru bumi. Tak lama setelah itu, langit di timur menjadi merah yang semakin lama semakin terlihat terang bersamaan dengan munculnya mentari pagi. Kicau burung burung terdengar bersahutan dari atas ranting pohon cemara dekat dengan kamar tidur Dyah Kirana yang terletak di sisi selatan bangunan Istana Kadipaten Seloageng. Mereka terdengar seperti sedang bernyanyi bersama, seolah bergembira ria atas apa yang terjadi semalam di dalam bilik kamar tidur itu.
Dyah Kirana terbangun dari tidurnya. Setelah mengucek matanya, perempuan cantik asal Pertapaan Gunung Mahameru itu tersenyum penuh arti sembari menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Timbul niat iseng dalam diri Dyah Kirana untuk menjahili sang pangeran muda. Dengan cepat ia mendekatkan wajahnya ke wajah tampan Panji Tejo Laksono dan segera mencium bibir suaminya.
Cuppppppp...
Niatnya setelah selesai mencium bibir suaminya, Dyah Kirana akan segera berlari keluar dari dalam bilik kamar tidur nya. Namun belum sampai dia melakukannya, tangan kekar Panji Tejo Laksono langsung memegangi pinggangnya.
"Ehh Kang Kangmas Pangeran, k-kau sudah bangun?", Dyah Kirana gagap berbicara saking gugupnya.
"Sudah dari tadi, Dinda Kirana..
Tapi saat kau bangun dari tidur mu, aku langsung pura-pura tidur untuk mengerjai mu
hehehehe", Panji Tejo Laksono terkekeh geli melihat tingkah sang istri kelima.
"Ja-jadi Kangmas Pangeran sengaja mengerjai ku ya?
Huhhhhh sebal. Aku malas bicara dengan mu, Kangmas Pangeran", Dyah Kirana memberosot turun dari atas ranjang pembaringan dan segera menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya. Tanpa mempedulikan Panji Tejo Laksono, dia langsung berlari keluar dari dalam kamar tidur saking malunya.
__ADS_1
Panji Tejo Laksono hanya geleng-geleng kepala melihat ulah sang istri kelima ini.
*****
Brreeeeettttthhh...
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!!
Satu tebasan pedang cepat dari seorang prajurit berkuda langsung membabat kepala orang-orangan sawah yang terbuat dari batang pohon pisang. Kepala orang-orangan sawah itu langsung menggelinding ke tanah. Puluhan orang prajurit yang lain juga melakukan hal sama.
Hampir dua purnama terakhir ini, latihan para prajurit yang sedang di persiapkan untuk rencana besar Kelompok Mpu Kepung terus ditingkatkan. Dari berkuda sambil membabat kepala orang-orangan sawah yang menjadi alat peraga hingga berlari cepat diantara aneka jebakan halang rintang yang di tata sedemikian rupa. Kemampuan tempur mereka kini telah meningkat tinggi.
Mpu Kepung, Wiku Wikalpa, Juru Panewu, Mpu Sena, Mpu Gandasena dan seorang lelaki sepuh berambut putih dengan dandanan layaknya seorang pendekar antusias melihat langsung latihan para prajurit mereka.
"Kakang Mpu Kepung, sudah dua tahun seperti janji yang pernah kita buat. Kau lihat sendiri, para prajurit yang ku latih sendiri dengan susah payah hasilnya tidak mengecewakan bukan?
Kini sudah waktunya untuk kita bergerak..", ucap Mpu Gandasena segera.
"Adhi Gandasena benar, Kakang Kepung..
Kita tidak boleh menunda lagi rencana besar kita. Aku dengar Gusti Prabu Jayengrana sedang tidak enak badan. Takutnya nanti ini akan dimanfaatkan oleh Pangeran Panji Tejo Laksono untuk merebut kekuasaan. Kita tidak boleh kecolongan lagi dengan cara politik nya yang halus namun mematikan", timpal Mpu Sena segera.
"Aku juga setuju dengan pendapat Mpu Gandasena", imbuh Juru Panewu yang di sambung ucapan yang sama oleh para pendukung Mapanji Jayawarsa yang lain.
Hemmmmmmm..
"Sepertinya memang sudah saatnya kita untuk bergerak.
Ki Sentanu, bagaimana dengan persiapan para pendekar dunia persilatan yang sudah kau tata?", Mpu Kepung menoleh ke arah sosok lelaki tua berjanggut putih panjang itu segera.
"Kau tenang saja, Mpu Kepung..
Para pendekar dunia persilatan sudah ku siapkan di wilayah Kadipaten Anjuk Ladang. Jumlah mereka tidak sedikit. Sekitar 500 orang pendekar berilmu tinggi, 1000 orang pendekar berilmu sedang dan 2500 orang pendekar berilmu rendah.
Kau tentu tidak asing dengan nama nama besar seperti Pendekar Cambuk Kalajengking dari Gunung Kapur Utara, Setan Kepala Palu dari Bukit Kalong, Ratu Penggoda dari Lembah Neraka, Sepasang Tapak Iblis Beracun dari Pesisir Utara, Hantu Sembilan Wajah dan masih banyak lainnya.
Belum lagi ditambah dengan anak buah Padepokan Pedang Biru pimpinan ku. Sekali kau perintah, kami akan langsung mengobrak-abrik Istana Kotaraja Daha..", ucap lelaki tua yang dipanggil dengan sebutan Ki Sentanu ini sambil membusungkan dada.
"Bagus bagus bagus...
Pasukan dari Bojonegoro juga sudah bersiap untuk berangkat ke Daha. Kalau begitu kita tidak boleh menunggu lebih lama lagi.
Sesuai dengan perintah dari Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa, kita akan mulai bergerak selepas hari paro terang bulan Wahana. Jadi besok pagi, kita mulai bergerak menuju ke arah Daha!", ucap Mpu Kepung dengan penuh semangat.
Semua pengikutnya langsung tersenyum lebar sembari membayangkan mereka semua akan segera kembali duduk di kursi jabatan mereka masing-masing dan mempunyai kekuasaan yang lebih dalam pemerintahan Panjalu.
Mpu Kepung kembali berbicara setelah mengangkat tangan kanannya untuk meredam suara burung yang terdengar dari kumpulan para pengikutnya. Mereka langsung diam setelah melihat isyarat tangan sang pimpinan.
"Satu hal yang perlu kalian ingat, sandi perjuangan kita agar tidak keliru dalam membedakan mana musuh mana kawan.
Kadiri kesaput surup..!!!"
__ADS_1