Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Dewa Pedang Wang Chun Yang


__ADS_3

Dewi Lembah Tanpa Bunga Ouyang Ling nyaris tak mempedulikan kematian kedua muridnya Ling Er dan Wen Er. Matanya kini terpaku pada sosok Panji Tejo Laksono yang berdiri tegak di hadapannya. Ada perasaan takut yang perlahan menyelimuti hati perempuan paruh baya berbaju merah itu.


Di kalangan dunia persilatan Tanah Tiongkok, ada sebuah ilmu beladiri yang menjadi momok bagi setiap jago jago kungfu. Sebuah ilmu pertahanan tubuh yang di kenal dengan sebutan Tubuh Emas.


Menurut cerita yang beredar luas di kalangan para pendekar kungfu, Tubuh Emas adalah ilmu asing yang bersama dengan datangnya para biksu Budha dari negeri asalnya, Tanah India. Biksu Dhyana Ratnasambhawa atau yang lebih di kenal dengan sebutan Bodhisatva Ratnasambhawa datang ke Tanah Tiongkok untuk menyebarkan agama Budha. Sang biksu Budha ini namanya begitu harum sebagai orang yang taat beragama juga memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa. Tubuhnya tidak mempan oleh senjata apapun, bahkan tenaga dalam pun tak bisa melukai nya. Bahkan konon katanya iblis dan setan pun tak berani mengganggu nya. Tubuhnya selalu di liputi oleh sinar kuning keemasan hingga terkenal dengan sebutan Budha Tubuh Emas.


Dari beliau yang memiliki puluhan murid, banyak yang menjadi pendekar tangguh dan tak terkalahkan. Namun lambat laun ilmu Tubuh Emas menjadi semakin menghilang dengan semakin menurunnya kemampuan meditasi dan pelatihan tubuh para penggunanya. Hanya satu orang saja yang akhirnya mampu menguasai Ilmu Tubuh Emas. Seorang biksu yang menjadi Pendiri sekaligus Ketua Kuil Shaolin Pertama, Mahaguru Ba Tuo yang mendapat julukan sebagai Budhabadra.


Selama beberapa generasi, Ilmu Tubuh Emas menjadi ilmu andalan Kuil Shaolin, namun setelah generasi kelima Ilmu Tubuh Emas menghilang dari dunia persilatan seiring wafatnya sang pimpinan Kuil Shaolin. Pun kitab pusaka yang menjadi rujukan untuk mempelajari Ilmu Tubuh Emas pun turut raib entah kemana hingga ilmu pertahanan tubuh sempurna itu menghilang. Konon, kitab pusaka itu di curi oleh orang Aliran Ming meskipun tidak ada bukti yang cukup. Meskipun demikian Ketua Kuil Shaolin kelima berusaha mengembangkan ilmu pertahanan tubuh sejenis yang di pelajari dari sisa-sisa pengetahuan yang diajarkan oleh Ketua Kuil Shaolin keempat pada para murid. Ilmu ini diberi nama Ilmu Lonceng Emas.


Hingga saat ini, Ilmu Lonceng Emas menjadi ilmu pertahanan tubuh terbaik dari Kuil Shaolin meski tak sesempurna Ilmu Tubuh Emas dari Mahaguru Budhabadra, di samping dengan Jurus Cakar Naga dan Ilmu Sembilan Matahari.


"Tubuh Emas?


Aku tidak mengerti apa maksud ucapan mu, Nyonya Ouyang. Ini adalah ilmu kanuragan dari negeri ku.


Sekarang ayo kita lanjutkan lagi pertarungan kita sampai selesai!", Panji Tejo Laksono kembali bersiap untuk bertarung.


"Tu-tunggu dulu Pendekar muda..


Aku aku mengaku kalah pada mu. Tolong ampuni nyawa ku", ujar Dewi Lembah Tanpa Bunga sembari segera berlutut di hadapan Panji Tejo Laksono. Dua murid nya terbunuh, sedangkan dua lagi terluka dalam serius, apalagi lawan yang dihadapi nya memiliki Ilmu Tubuh Emas, memaksakan diri untuk bertarung dengan orang ini hanya mencari mati konyol, demikian pemikiran Dewi Lembah Tanpa Bunga.


Yaoyao dan Qingqing pun tak mau cari mati. Dua gadis cantik itu segera ikut berlutut dan bersujud kepada Panji Tejo Laksono untuk meminta maaf.


"Ampuni kami pendekar.. Kami tidak berani lagi berbuat kurang ajar pada mu. Tolong ampuni nyawa kami", ujar Yaoyao yang terdengar memelas.


"Kami bodoh. Kami buta tidak bisa melihat tinggi nya langit dan dalam nya lautan, pendekar muda.


Kami bersedia untuk menjadi budak mu asal kau mengampuni nyawa kami", timpal Qingqing segera. Mereka berdua benar-benar ketakutan setengah mati.


Luh Jingga yang memapah tubuh Huang Lung pun mulai cemas. Meski tidak memahami apa omongan Yaoyao dan Qingqing, dia tahu bahwa dua gadis pemain musik itu sedang meminta maaf kepada majikannya.


"Jangan mudah percaya omongan mereka, Gusti Pangeran. Siapa kawan dan siapa lawan kita sudah jelas disini"


Mendengar perkataan Luh Jingga, Panji Tejo Laksono terlihat merenung sejenak sebelum mulai bicara.


"Kalian semua berdiri lah. Urusan kita sudah selesai. Bawa mayat dua orang itu dan jangan pernah coba muncul lagi di hadapan ku. Kalau sampai itu kalian lakukan, jangan harap aku akan mengampuni nyawa kalian lagi.


Sekarang pergi dari sini!", usir Panji Tejo Laksono segera.


Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Dewi Lembah Tanpa Bunga segera berdiri dari tempat berlutut nya di susul oleh Yaoyao dan Qingqing. Dengan langkah kaki sedikit tertatih-tatih, mereka segera membawa mayat Ling Er dan Wen Er pergi dari rumah makan Penginapan Bulan Purnama.


Setelah kepergian mereka, Panji Tejo Laksono meminta pelayan penginapan untuk mengurusi kawan kawan nya yang sedang mabok berat. Para pelayan dan pemilik Penginapan Bulan Purnama yang ketakutan pun tak berani membantah perintah Panji Tejo Laksono. Mereka tahu, bahwa jika pendekar besar sekelas Dewi Lembah Tanpa Bunga saja tak berkutik menghadapi Panji Tejo Laksono maka sudah barang tentu Panji Tejo Laksono bisa membunuh mereka semudah membalik telapak tangan. Mereka tidak mau mati konyol sia-sia jika sampai membuat sang pangeran muda dari Kadiri itu tidak senang. Oleh karena itu, dengan cepat dan cekatan mereka menggotong satu persatu para prajurit Panjalu ke dalam kamar tidur mereka masing-masing. Tentu saja Gumbreg yang mereka gotong paling akhir. Itupun empat orang pelayan yang harus menggotongnya.


Panji Tejo Laksono sendiri yang memapah tubuh Huang Lung ke dalam kamar tidur nya. Setelah merebahkan tubuh Huang Lung ke atas pembaringan, Panji Tejo Laksono bermaksud untuk keluar dari kamar tidur itu untuk beristirahat di tempat nya sendiri.

__ADS_1


Namun saat hendak pergi, tiba-tiba saja tangan Huang Lung menariknya hingga sang pangeran muda jatuh memeluk tubuh Huang Lung.


"Jangan pergi jangan pergi.. Aku tidak mau sendiri", racau Huang Lung tanpa membuka mata.


"Dasar aneh.. Tidak kuat minum, masih juga memaksa minum banyak.


Sebaiknya kau beristirahat Pendekar Huang", Panji Tejo Laksono langsung melompat turun dari atas ranjang tidur lalu merapikan selimut untuk menutupi tubuh Huang Lung. Begitu beres, Panji Tejo Laksono segera keluar dari dalam kamar tidur itu dan menutup pintu kamar setelah meniup lilin yang menyala.


Dari balik kegelapan kamar, ada sebuah senyum terukir di wajah seseorang.


Malam semakin larut. Suasana musim semi di Tanah Tiongkok membuat udara tak jauh beda dengan Tanah Jawadwipa meski itu masih terasa dingin bagi Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.


Keesokan paginya, para prajurit Panjalu yang menjadi pengawal Panji Tejo Laksono sudah berkumpul di bawah tangga lantai dua Penginapan Bulan Purnama. Mereka yang di pimpin oleh Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi nampak menunggu kedatangan sang junjungan. Demung Gumbreg masih menguap lebar beberapa kali karena masih mengantuk. Kepalanya pun masih terasa berat saking banyaknya arak yang dia tenggak tadi malam.


Huang Lung pun sudah terlihat segar seperti biasa nya, juga para pengawal pribadi nya. Begitu Panji Tejo Laksono turun bersama Luh Jingga dan Rakryan Purusoma, Huang Lung segera mendekati nya.


"Selamat pagi, Pendekar Thee..


Aku mengucapkan terima kasih atas bantuan mu semalam. Aku dengar dari cerita pelayan bahwa kau yang memapah ku ke tempat tidur. Kau sungguh rendah hati", sapa Huang Lung segera.


"Itu hanya kebetulan saja, Pendekar Huang. Lagipula mana tega aku membiarkan mu tidur di atas meja dalam keadaan mabok berat seperti itu? Sesama teman bukankah wajib saling menolong?", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis.


"Hahahaha, kau sungguh mulia..


Mari Pendekar Thee.."


Pagi itu mereka bersantap dengan cepat. Gumbreg yang biasanya makan banyak, entah kenapa hanya makan sedikit. Mungkin perutnya masih mual. Setelah sarapan, rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan Penginapan Bulan Purnama menuju ke arah pelabuhan Kota Jiangkang. Dari sana mereka menyeberangi Sungai Yangtze lalu melanjutkan perjalanan ke arah Utara.


Berbeda dengan wilayah selatan yang jalannya bergunung-gunung, wilayah Utara Sungai Yangtze justru memiliki jalan yang cenderung mudah, apalagi banyak perkampungan indah dengan penduduk yang ramah. Ini adalah daerah provinsi Hui dengan Gubernur Wu Ming.


Karena kereta kuda mereka mengalami masalah yakni roda mereka patah jalan sebelum masuk hutan, rombongan Panji Tejo Laksono terpaksa menghentikan perjalanan mereka. Empat orang prajurit yang pandai memperbaiki roda di tugaskan untuk memperbaiki roda kereta kuda itu di bantu oleh para anak buah Huang Lung. Waktu itu matahari hampir mencapai atas kepala.


Sambil menunggu perbaikan selesai, Panji Tejo Laksono memutuskan untuk berjalan di sekitar tempat itu untuk melihat lebih dekat Gunung Wanshan yang menjulang tinggi di langit seperti menara. Di temani Luh Jingga, Panji Tejo Laksono berjalan di sekitar tempat itu.


Sepasang burung berkicau riang di atas ranting pepohonan seakan menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga.


"Pemandangan di tempat ini sangat indah ya Gusti Pangeran", ujar Luh Jingga sembari melayangkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka duduk.


"Kau benar Luh..


Tempat ini begitu indah. Tak kalah dengan pemandangan Gunung Wilis. Bedanya disana hanya ada musim penghujan dan kemarau, kalau disini musim nya banyak kata Huang Lung ", balas Panji Tejo Laksono sembari tersenyum melihat Luh Jingga merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar sebanyak mungkin.


Saat kedua orang ini tengah asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara denting senjata beradu di telinga Panji Tejo Laksono. Sepertinya sedang terjadi pertarungan di dekat tempat mereka menikmati pemandangan. Panji Tejo Laksono segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah Luh Jingga yang masih berdiri menatap ke arah jajaran bukit hijau di hadapannya. Panji Tejo Laksono langsung memeluk pinggang ramping Luh Jingga dari belakang.


Sedikit kaget dengan tingkah Panji Tejo Laksono, tapi kemudian Luh Jingga tersenyum penuh arti. Berjuta pikiran melintas di kepala gadis cantik itu. Adegan romantis langsung terbayang di benak nya.

__ADS_1


Panji Tejo Laksono mendekatkan kepalanya di samping Luh Jingga, berbisik pelan di telinga sang putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan, " Luh ada suara orang bertarung di dekat sini. Ayo kita lihat!".


Buyar sudah khayalan Luh Jingga mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Meski merengut kesal, gadis cantik itu mengangguk mengerti dan pasrah saja saat Panji Tejo Laksono membawanya melesat cepat kearah suara pertarungan yang terjadi.


Seorang lelaki berpakaian biru dengan gambar bulatan hitam putih di punggungnya, dengan rambut di ikat atas kepala khas seorang pendeta Tao nampak sedang bertarung melawan dua orang lelaki yang berpakaian hitam dengan selembar kulit hewan buas menutupi sebagian punggungnya. Mereka mengadu kepandaian ilmu beladiri pedang dengan jurus jurus cepat dan mematikan. Si lelaki berpakaian pendeta Tao berusia sekitar 3 dasawarsa memegang pedang berukuran biasa sedangkan dua orang berbadan besar itu memegang pedang berukuran besar.


Meski di keroyok dua orang itu, kepandaian ilmu pedang pendeta Tao ini nampaknya jauh lebih tinggi dari dua orang berbadan besar itu. Beberapa luka sayatan sudah menghiasi tubuh dua orang berbadan besar itu sedangkan si pria berbaju pendeta Tao ini nampak masih baik baik saja.


Thrangg thhraaaangggggggg !


Dhasshhh dhasshhh !!


Dua sosok lelaki bertubuh besar itu langsung terhuyung mundur beberapa langkah setelah menerima tendangan keras beruntun dari si pendeta Tao. Meski masih sanggup berdiri, tapi rupanya dua orang bertubuh besar ini sudah hampir mencapai batasnya. Nafas mereka berdua ngos-ngosan tak beraturan. Keringat juga terlihat membasahi kening dan pipi mereka.


Si lelaki berpakaian pendeta Tao ini langsung menyembunyikan pedang di belakang tubuhnya sedangkan tangan kiri bergerak turun sembari menata nafasnya. Sekejap kemudian dia tersenyum kearah dua orang berbadan besar yang berdiri sejauh 4 tombak di depan nya.


"Wanyan Zonghan dan Wanyan Ziyin,


Kemampuan ilmu pedang kalian sungguh hebat. Aku tidak menyangka bahwa orang Jurchen seperti kalian memiliki pemahaman tinggi tentang ilmu pedang tingkat tinggi. Nama Dua Pedang Gurun Utara memang sesuai dengan berita yang beredar", ujar si pendeta Tao itu sambil tersenyum tipis.


"Kau tidak perlu basa basi lagi, Wang Chun Yang. Aku masih bisa bertarung melawan mu", ujar Wanyan Ziyin yang sedikit lebih muda di banding saudara nya, Wanyan Zonghan. Dia rupanya masih belum puas beradu kepandaian ilmu pedang dengan Wang Chun Yang yang merupakan Kepala Sekte Aliran Chun Yang. Asal tahu saja, Wang Chun Yang ini adalah salah pendekar dunia persilatan Daratan Tengah yang punya nama besar dan mendapat julukan sebagai Dewa Pedang.


"Sudah cukup, Pendekar Ziyin..


Kau sudah cukup membuktikan kemampuan beladiri mu. Yang aku heran, kenapa kau sampai jauh jauh datang kemari jika hanya untuk jalan jalan? Apa kau tidak ada hal yang lebih penting untuk kau kerjakan?", Wang Chun Yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


Huuhhhhhhh...


"Itu bukan urusan mu, Dewa Pedang. Yang jelas kami di tugaskan oleh Kepala Suku Jurchen untuk mengawal Tuan...."


Wanyan Zonghan langsung menyikut pinggang adik nya, "Ziyin, tutup mulut besar mu!"


Sadar hampir saja keceplosan bicara, Wanyan Ziyin langsung diam seketika. Hampir saja dia membocorkan rahasia tugas yang diberikan oleh Kepala Suku Jurchen, Helinbao pada dia dan kakak nya.


"Tuan? Tuan siapa Pendekar Ziyin?", Wang Chun Yang penasaran.


"Itu bukan urusan mu, Wang Chun Yang. Kali ini kami mengaku kalah pada mu, tapi lain kali


kami pastikan bahwa kau akan bertekuk lutut di hadapan kami, Dua Pedang Gurun Utara dan menjadi jagoan baru di Tanah Tiongkok.


Ziyin, ayo kita pergi!"


Setelah berkata demikian, Wanyan Zonghan langsung meninggalkan tempat itu diikuti oleh Wanyan Ziyin. Wang Chun Yang hanya menatap ke arah perginya dua pendekar dari suku Jurchen itu dengan sejuta pertanyaan. Sebentar kemudian, Wang Chun Yang menatap ke arah rimbun pepohonan yang tumbuh tak jauh dari tempat nya berdiri. Dia tersenyum lebar menatap ke arah rimbun pepohonan.


"Sampai kapan kalian ingin bersembunyi di situ?"

__ADS_1


__ADS_2