Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Kaisar Huizong


__ADS_3

Seorang lelaki tua berjenggot putih panjang dengan pakaian khas seorang tabib yang berwarna putih dan hijau tua menyambut kedatangan rombongan Panji Tejo Laksono yang di dahului oleh Putri Song Zhao Meng. Dua orang tabib muda, satu laki laki dan satu perempuan ikut menemani sang tabib tua yang merupakan tabib istana Kekaisaran Song, Chu Ma Huang.


Pria sepuh bertubuh sedikit pendek dengan perut buncit ini segera menghormat pada Putri Song Zhao Meng.


"Chu Ma Huang memberi hormat kepada Tuan Putri Meng", ujar tabib istana Chu Ma Huang dengan penuh hormat kepada Putri Song Zhao Meng.


"Tabib Istana Chu, tak perlu sungkan..


Aku kemari ingin meminta bantuan mu untuk mengobati teman ku. Apa kau bersedia untuk melakukan nya?", Putri Song Zhao Meng tersenyum tipis.


"Tugas dari Tuan Putri adalah perintah bagi hamba.


Chu Ma Huang akan sepenuhnya berusaha menyembuhkan sakit teman Tuan Putri. Sekarang dimana teman Tuan Putri yang sedang sakit?", Tabib Istana Chu mengedarkan pandangannya ke belakang Putri Song Zhao Meng.


Dari belakang, Panji Tejo Laksono menggendong tubuh ramping Wanyan Lan yang masih lemah diikuti oleh Luh Jingga.


"Tuan Muda,


Silahkan ikuti dua murid ku ini. Mereka berdua akan menunjukkan tempat untuk pengobatan Nona Muda ini", ujar Tabib Chu Ma Huang dengan sopan. Dua murid nya segera berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam rumah kediaman sang tabib istana. Panji Tejo Laksono yang menggendong tubuh Wanyan Lan diikuti oleh Luh Jingga mengekor di belakang mereka.


Tak berapa lama kemudian, Tabib Chu segera menyusul masuk ke dalam kamar peristirahatan Wanyan Lan bersama Song Zhao Meng dan Qiao Er yang setia menemani Putri Kaisar Huizong ini.


Tabib Chu dengan cekatan segera memeriksa denyut nadi Wanyan Lan yang tergolek lemah di pembaringan. Wajah Tabib Chu segera mengernyit heran begitu membaca denyut nadi Wanyan Lan. Segera dia menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng yang berdiri di samping tempat tidur.


"Tuan Putri,


Sepertinya teman Tuan Putri terkena hantaman tenaga qi yang besar. Naasnya lagi, tenaga itu mengandung racun keji yang bernama Racun Ular Emas dan Perak. Kalau tidak segera mendapat penawarnya, kemungkinan selamatnya hanya sedikit sekali", ujar Tabib Chu Ma Huang sembari membungkuk hormat.


Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng saling berpandangan mendengar jawaban itu. Panji Tejo Laksono segera menatap ke arah Tabib Chu Ma Huang sembari bertanya, " Lantas apa penawar nya Tuan Tabib?".


Mendengar pertanyaan itu, Tabib Chu Ma Huang menghela nafas panjang sebelum bicara.


"Racun Ular Emas dan Perak hanya bisa di tawarkan oleh Biji Lotus Salju 100 tahun, Akar Rumput Roh dan Bunga Matahari Musim Gugur. Dua benda terakhir aku memiliki nya, tapi Biji Lotus Salju 100 tahun nya....", Tabib Chu tidak meneruskan kalimatnya.


Semua orang terdiam karena merasa kebingungan dengan perkataan Tabib Chu. Saat itu, Wanyan Lan yang masih sadar walaupun dengan keadaan lemah berkata, " Tuan Putri Song, tidak perlu repot-repot mencari Biji Lotus Salju 100 tahun lagi. Aku tidak apa-apa.


Tolong berikan ini kepada Kaisar Huizong karena aku tidak mungkin menyerahkannya langsung kepada nya. Setelah ini aku minta agar Kaisar Huizong membantu Suku Jurchen untuk mendapatkan hak atas tanah Sungai Emas".


Semua orang segera menoleh ke arah pembaringan dimana Wanyan Lan duduk dengan wajah pucat. Di tangan kanan gadis cantik yang kini sedang terancam nyawanya itu, ada sebuah bungkusan sutra kuning yang berisi Stempel Giok Naga.


Putri Song Zhao Meng segera mendekati tempat tidur Wanyan Lan. Putri Kepala Suku Jurchen ini segera mengulurkan bungkusan kain sutra kuning itu pada Song Zhao Meng. Putri Kaisar Huizong ini segera menerima pemberian Wanyan Lan sembari tersenyum tipis pada gadis cantik berwajah pucat itu.


"Kau tenang saja..


Aku akan menyampaikan pesan mu pada ayahanda. Untuk Biji Lotus Salju 100 tahun, ku dengar bahwa gudang obat pribadi Kaisar menyimpan bahan obat langka. Mungkin saja biji itu ada disana. Sekarang kau istirahat saja Nona Muda Lan. Setelah ini aku dan Kakak Thee akan menghadap ke Istana Kaisar, dan aku berjanji untuk meminta Biji Lotus Salju 100 tahun pada nya".


Mendengar jawaban Putri Song Zhao Meng, Wanyan Lan mencoba untuk tersenyum dan mengangguk mengerti.


Setelah memastikan keadaan Wanyan Lan dalam pengawasan Tabib Chu Ma Huang, Putri Song Zhao Meng dan Panji Tejo Laksono segera meninggalkan tempat kediaman Tabib Chu Ma Huang untuk menuju ke arah Istana Kekaisaran Song.

__ADS_1


Begitu sampai di pintu gerbang istana, pemeriksaan rutin di lakukan oleh para prajurit penjaga istana dengan teliti. Meskipun mereka tahu bahwa yang datang adalah putri Kaisar Huizong sendiri, tapi karena ada Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya mau tidak mau proses pemeriksaan rutin ini berlangsung ketat dan teliti juga.


Setelah cukup lama menunggu, kepala penjaga gerbang istana yang bertugas segera mendekati kereta kuda yang di tempati oleh Putri Song Zhao Meng.


"Silahkan masuk, Tuan Putri..


Mohon maaf jika perjalanan anda terganggu. Kami hanya melaksanakan tugas", ucap sang kepala penjaga gerbang istana itu sembari menghormat pada Putri Song Zhao Meng.


"Aku mengerti, Kepala Penjaga..


Jika sudah selesai, aku ingin segera ke tempat pribadi ku dan menemui ayahanda", ujar Putri Song Zhao Meng segera.


"Silahkan Tuan Putri", si kepala penjaga gerbang istana itu segera mempersilahkan Putri Song Zhao Meng dan Panji Tejo Laksono bersama rombongan mereka memasuki istana. Terkecuali para petinggi, para prajurit Panjalu yang mengawal Panji Tejo Laksono dan para prajurit pengawal pribadi Putri Song Zhao Meng di arahkan untuk berdiam diri di barak prajurit yang ada di luar istana. Hanya beberapa orang prajurit saja yang bertugas membawa hadiah besar dari negeri Panjalu saja yang di perkenankan masuk.


Setelah melewati protokol istana negara yang ketat, akhirnya Panji Tejo Laksono ditemani oleh Song Zhao Meng mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Kaisar Huizong di ruang pribadi Kaisar.


Seorang lelaki bertubuh kekar dengan baju sutra berwarna merah dengan sulaman benang emas bergambar naga di dada nampak sedang duduk membaca buku. Di kepalanya ada sebuah mahkota khas seorang kaisar dengan tusuk konde emas. Lelaki yang berusia sekitar 40 tahun ini adalah Kaisar Huizong, Kaisar ke delapan Dinasti Song yang berkuasa saat ini. Kaisar yang memiliki 5 orang Maharani ini nampak berwibawa seperti layaknya seorang bangsawan kelas atas pada umumnya.


Dari arah pintu depan ruang pribadi Kaisar, seorang lelaki berwajah putih pucat dengan bibir di poles pewarna merah nampak berjalan terburu-buru mendekati tempat Kaisar Huizong membaca. Lelaki kemayu ini adalah Kasim Tong Guan, salah seorang kasim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Huizong. Kedatangan Kasim Tong Guan membuat Kaisar Huizong menghentikan membaca buku sastra yang ada di tangan kanannya dan menatap ke arah kasim berwajah pucat ini.


"Salam hormat hamba, Yang Mulia Kaisar. Pelayan Paduka ini mohon maaf karena sudah mengganggu waktu membaca Yang Mulia.


Putri Meng Er sudah pulang ke istana. Dia datang bersama dengan seorang lelaki yang mengaku sebagai utusan dari negeri seberang lautan yang bernama Po Chia Lung ( sebutan untuk Panjalu dalam dialek bahasa Tionghoa) di Pulau Cho Po (Jawa). Apakah Yang Mulia berkenan untuk menerima kedatangan mereka?", Kasim Tong Guan membungkukkan badannya pada Kaisar Huizong.


"Hemmmmmmm..


Gadis pemberontak itu rupanya mau pulang juga. Persilahkan mereka masuk", titah Sang Kaisar Song sembari menutup buku sastra China bacaan nya dan meletakkannya di atas meja besar di depan kursi kebesarannya.


Tak berapa lama kemudian, Kasim Tong Guan kembali lagi bersama dengan Putri Song Zhao Meng dan Panji Tejo Laksono bersama Jenderal Liu King, Chen Su Bing, Cai Yuan, Luh Jingga, Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Rakryan Purusoma. Di belakang mereka, beberapa prajurit Panjalu memikul puluhan peti kayu jati yang indah dan meletakkannya di lantai ruang pribadi Kaisar.


"Hormat kami kepada Yang Mulia Kaisar", ucap Kasim Tong Guan segera.


Setelah mendengar aba aba seperti itu, Putri Song Zhao Meng segera menghormat dengan gaya khas dari Negeri Tiongkok bersama dengan Kasim Tong Guan. Sedangkan Panji Tejo Laksono beserta para pengikutnya segera berjongkok dan menyembah pada Kaisar Huizong selayaknya mereka menyembah pada Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta, Maharaja Panjalu.


"Berdirilah..


Hormat kalian telah aku terima", mendengar ucapan Kaisar Huizong, Kasim Tong Guan segera membalas dengan santun, "Terimakasih atas kebaikan hati Yang Mulia Kaisar. Semoga Kaisar panjang umur".


Setelah berkata demikian, semua orang segera berdiri mengikuti langkah Kasim Tong Guan. Ini adalah tata cara penghormatan kepada Kaisar sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakat Tionghoa.


"Meng Er,


Akhirnya kau pulang juga dari pengembaraan mu ke Selatan. Apa yang kau dapat dari perjalanan mu ini hem?", tanya Kaisar Huizong segera.


"Salam hormat ayahanda Kaisar..


Meng Er memperoleh pengalaman yang tidak ternilai harganya. Terlebih lagi, Gubernur Chengdu sangat baik dan setia pada Kekaisaran Song. Ini juga mematahkan berita yang beredar luas di kalangan masyarakat bahwa mereka berniat untuk memberontak.


Dan satu lagi yang ananda dapat, mohon ayahanda berkenan membuka nya", Song Zhao Meng segera mengeluarkan bungkusan kain sutra kuning dan menghaturkan nya pada Kaisar Huizong. Kasim Tong Guan segera mengambil bungkusan itu dan memberikannya kepada Kaisar Huizong. Begitu membuka bungkusan kain sutra kuning ini, mata Kaisar Huizong langsung terbelalak lebar.

__ADS_1


"Stempel Giok Naga?


Meng Er, darimana kau dapat benda ini?", tanya Kaisar Huizong segera.


"Mohon ampun Ayahanda Kaisar..


Itu adalah barang titipan dari Wanyan Lan. Dia ingin menghaturkan nya langsung pada ayahanda, akan tetapi saat ini dia terluka dalam serius dan sedang dalam perawatan Tabib Chu Ma Huang. Dia terkena Racun Ular Emas dan Perak demi mempertahankan Stempel Giok Naga, ayahanda. Dia menitipkan pesan agar ayahanda Kaisar memenuhi janji untuk membantu Suku Jurchen merebut kembali haknya sebagai penguasa Tanah Sungai Emas", Song Zhao Meng mengakhiri omongannya sembari menghormat pada Kaisar Huizong.


Hemmmmmmm...


"Aku tidak akan lupa dengan janji ku. Lantas bagaimana keadaan Putri Lan sekarang? Apakah dia sudah membaik?", Kaisar Huizong kembali bertanya.


"Menurut Tabib Chu, Racun Ular Emas dan Perak hanya bisa di tawarkan dengan Biji Lotus Salju 100 tahun, Ayahanda Kaisar.


Jika gudang obat pribadi Kaisar menyimpan bahan obat itu, mohon Ayahanda Kaisar berkenan memberikan nya", ujar Song Zhao Meng segera.


"Yang Mulia,


Biji Lotus Salju 100 tahun adalah bahan obat langka. Sulit sekali untuk mendapatkan nya. Mohon Yang Mulia Kaisar bijak dalam mengambil keputusan", sahut Kasim Tong Guan sembari menghormat.


"Aku tahu itu, Kasim Tong..


Tapi jasa Wanyan Lan sangat besar dalam mengembalikan Stempel Giok Naga ini pada ku. Aku tidak bisa mengabaikannya.


Meng Er, nanti akan ku berikan Biji Lotus Salju 100 tahun untuk mengobati Wanyan Lan. Kau bisa minta itu di gudang obat pribadi ku", ucap Kaisar Huizong segera.


"Ayahanda Kaisar murah hati. Terimakasih atas kemurahan hati nya, Ayahanda", Song Zhao Meng segera menghormat pada Kaisar Huizong. Panji Tejo Laksono yang ikut mendengar omongan Kaisar Huizong tersenyum simpul.


"Sekarang giliran mu, Utusan Negeri Po Chia Lung..


Ada perlu apa kau datang jauh jauh kemari?", Kaisar Huizong mengalihkan perhatian nya pada Panji Tejo Laksono.


"Salam hormat kami, Yang Mulia Kaisar.


Saya Tejo Laksono. Kami jauh jauh datang kemari sebagai utusan Raja Panjalu untuk membina hubungan persahabatan dengan Kekaisaran Song. Sebagai tanda bukti ketulusan hati Maharaja Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta, beliau memberikan beberapa hadiah untuk Yang Mulia Kaisar", Panji Tejo Laksono menghormat pada Kaisar Huizong sebelum tangan kanannya memberikan isyarat kepada para prajurit Panjalu yang memikul peti kayu jati untuk membuka kotak itu.


Dengan cekatan, para prajurit Panjalu membuka peti kayu jati dan ratusan batang emas, perak, permata dan perhiasan langsung terlihat. Selain itu, puluhan gading gajah dan aneka barang kerajinan tangan dari kuningan dan tembaga turut ada disana. Tak luput pula sebuah arca Buddha setinggi hampir sepinggang orang dewasa yang terbuat dari emas juga turut di persembahkan untuk Kaisar Huizong.


Kaisar Huizong yang sangat senang dengan kemewahan, langsung berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum lebar.


"Persahabatan dengan Negeri Po Chia Lung, tentu saja aku sangat senang. Kekaisaran Song sangat terbuka lebar untuk bersahabat dengan siapa pun yang ingin bekerjasama dengan kami. Ini adalah sebuah hal yang menggembirakan bagi ku.


Sebagai tanda terima dari kami, aku akan mempersilahkan kalian untuk menikmati keramahtamahan kami di Kaifeng sebelum kalian pulang ke negeri kalian. Bersabarlah, akan ku siapkan hadiah untuk Raja Po Chia Lung.


Apa kau tahu apa yang menjadi kesukaan dari Raja Po Chia Lung, Utusan Thee?", Kaisar Huizong tersenyum simpul.


"Mohon ampun Yang Mulia Kaisar,


Raja Panjalu Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta, ayahanda saya, ingin menjalin hubungan kekerabatan dengan Dinasti Song", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Kaisar Huizong. Mendengar penuturan Panji Tejo Laksono, Kaisar Huizong sedikit terkejut juga, namun Penguasa Tanah Tiongkok itu segera menoleh ke arah Song Zhao Meng yang senyum senyum sendiri.

__ADS_1


"Meng Er,


Kau mau menikah dengan pangeran ini?"


__ADS_2