Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ilmu Sembilan Matahari Tahap Kedelapan


__ADS_3

Ratusan orang prajurit Jenggala menghunus pedang mereka dan bersiap-siap untuk menyerang. Suasana diantara mereka begitu hening, bahkan jika ada jarum yang jatuh pun pasti akan terdengar. Semuanya menanti aba-aba dari Senopati Bratajaya.


Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya terus memacu kuda mereka tanpa sadar bahaya besar yang sedang menanti mereka. Namun sang pangeran muda dari Kadiri yang merasakan hawa pembunuh dengan cepat menarik tali kekang kudanya hingga hewan tunggangannya ini meringkik keras dan menghentikan langkah kaki nya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng yang memang berkuda di belakang sang pangeran.


Dari arah depan, muncul Senopati Bratajaya yang berjalan mendekati mereka bersama serombongan prajurit Jenggala yang berjumlah tak kurang dari 50 orang.


"Senopati Jenggala..


Kenapa kau mencegat ku di sini? Apa ada sesuatu yang perlu kau sampaikan kepada ku?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Dasar manusia sombong!!


Ini perilaku wong Panjalu jika bertamu ke rumah orang ha? Turun kau dari kuda mu..", bentak Senopati Bratajaya lantang.


Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono langsung melompat turun dari atas kuda nya di ikuti oleh Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng.


"Kau ada di wilayah kami, jadi sepatutnya kau mengerti tata cara di negeri kami. Walaupun kau utusan dari Daha, tapi juga harus menyembah pada Senopati Bratajaya.


Cepat berlutut dan menyembah pada Gusti Senopati Bratajaya", ucap seorang prajurit Jenggala bertubuh kekar yang berada di samping Senopati Bratajaya sambil menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


"Maaf tapi itu tidak bisa aku lakukan..


Sudah menjadi aturan yang berlaku di Tanah Jawadwipa bahwa utusan hanya harus menghormat pada Raja saja, bukan pada pejabat ataupun perwira tinggi", balas Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.


"Kalau begitu, aku akan memaksa mu untuk berlutut dihadapan Gusti Senopati Bratajaya!!!!", ucap si prajurit Jenggala itu seraya menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono. Satu tebasan pedang cepat mengarah ke kepala sang pangeran muda.


Shhrreeettthhh!!


Panji Tejo Laksono langsung berkelit menghindari tebasan pedang itu sembari menyikut pinggang sang prajurit Jenggala dengan keras.


Bhhhuuuuuuggggh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Raungan tertahan terdengar dari mulut sang prajurit. Dia langsung terjungkal menyusruk tanah. Melihat kawannya di jatuhkan dengan mudah, para prajurit Jenggala segera mengepung Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya. Pertarungan sengit pun segera pecah diantara mereka.


Ki Jatmika mundur beberapa langkah ke belakang untuk memberi ruang bagi para wanita cantik Panji Tejo Laksono bertarung. Dua orang prajurit Jenggala langsung membabatkan pedang mereka ke arah kepala Ki Jatmika dari belakang.


Lelaki paruh baya itu dengan gesit menekuk dengkulnya lalu dengan cepat menghantamkan tapak tangan nya ke arah perut lawannya sekeras mungkin.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!


Dua orang prajurit Jenggala yang berusaha untuk membokong Ki Jatmika justru harus menerima kenyataan pahit. Tenaga dalam tingkat tinggi yang memancarkan cahaya merah darah redup berhawa panas di tangan Ki Jatmika membuat kedua orang prajurit itu harus meregang nyawa. Keduanya terlempar hampir 6 tombak jauhnya setelah menerima Ajian Tapak Penghancur Tulang. Sebuah bekas telapak tangan tercetak di kulit kedua orang ini yang menjadi penyebab tewasnya mereka berdua.


Setelah menghabisi nyawa dua orang prajurit itu, Ki Jatmika kembali menerjang ke arah beberapa orang prajurit yang kini telah mengepungnya. Namun lagi lagi para prajurit Jenggala ini tumbang hanya dalam beberapa jurus saja.


Sementara itu, Dyah Kirana segera mencabut Pedang Bulan Sunyi nya setelah para prajurit Jenggala mengepungnya. Gadis cantik putri Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru itu dengan lincah membabatkan pedang nya yang memiliki bilah tipis dengan pamor kuning redup seperti cahaya bulan purnama ini ke arah lawan-lawannya.

__ADS_1


Hanya dalam hitungan beberapa kejap mata saja, puluhan prajurit Jenggala tewas bersimbah darah menjadi korban ketajaman Pedang Bulan Sunyi.


Tak jauh dari Dyah Kirana, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari pun tidak mau kalah. Putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok ini segera memusatkan tenaga dalam nya dan menggunakan Ilmu Bulan Es yang selalu menjadi andalannya.


Mata permaisuri kedua Panji Tejo Laksono ini memutih dan udara di sekitarnya menjadi dingin. Hawa dingin berpendar cepat menyebar menciptakan kabut dingin yang menakutkan. Tangan Song Zhao Meng terangkat ke samping badan, dari dalam kabut muncul puluhan bilah bilah es tajam yang mengarah pada para prajurit Jenggala. Sekali sentakan keras kedua telapak tangannya, bilah-bilah es tajam ini melesat cepat kearah para prajurit Jenggala.


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Chhreepppppph chhreepppppph!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Jerit kesakitan dan umpatan sumpah serapah terdengar dari mulut para prajurit Jenggala langsung terdengar begitu bilah-bilah es tajam ini menghujam ke tubuh mereka. Hanya dalam waktu sekejap saja, puluhan orang prajurit Jenggala terbunuh oleh serangan Song Zhao Meng.


Tak butuh waktu lama, kelima puluh orang prajurit Jenggala tewas bersimbah darah di tangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya. Ini cukup mengejutkan Senopati Bratajaya namun dia segera berteriak lantang.


"Kepung mereka dan bunuh !!


Jangan ada yang tersisa!!".


Dari segala penjuru arah, ratusan orang prajurit Jenggala yang bersenjata lengkap langsung muncul mengepung kelompok Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan. Mereka semua segera menerjang maju ke arah para utusan dari Daha ini dengan penuh nafsu membunuh.


Pertarungan sengit yang sempat terhenti, di mulai kembali.


Panji Tejo Laksono seketika melesat ke arah lawan dengan tapak tangan kiri nya berwarna merah menyala seperti api yang berkobar. Hawa panas di tangan Panji Tejo Laksono diikuti angin kencang yang berseliweran menakutkan.


Whhuuuuuuuggggh whuuthhh!!


Dua ledakan beruntun terdengar. Beberapa orang prajurit Jenggala yang kebetulan menghadang laju pergerakan sang pangeran langsung menjadi korban keampuhan Ajian Tapak Dewa Api. Mereka langsung tersungkur dengan tubuh hangus seperti terbakar api.


Sang pangeran muda terus mengamuk dengan mengobrak-abrik kelompok prajurit Jenggala yang menyerbu ke arah nya. Laksana banteng ketaton, sang pangeran muda dari Kadiri ini berubah menjadi sosok pendekar yang menyeramkan. Baju biru tua tanpa lengan miliknya sudah bersimbah darah segar dari para lawan yang terciprat ke arah nya. Ibarat malaikat maut, dia terus membantai lawannya tanpa ampun.


Song Zhao Meng kembali mengayunkan telapak tangannya. Kini ratusan bilah es tajam tercipta dari Ilmu Bulan Es. Kembali sang putri Kaisar Huizong ini mengibaskan tangannya, membuat ratusan bilah es tajam ini menerabas cepat kearah lawan yang bergerak ke arah nya.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


Chhreepppppph chhreepppppph chhreepppppph!!!


Beberapa orang prajurit yang sempat melihat kedatangan serangan cepat sang permaisuri kedua, mengayunkan pedangnya menangkis serangan Song Zhao Meng.


Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!


Namun yang lengah sedikit saja, langsung menjadi korban dari tajam nya bilah es tajam yang di lemparkan oleh Song Zhao Meng. Mereka terbunuh setelah tubuhnya tertembus bilah es tajam ini. Setidaknya ada puluhan orang prajurit Jenggala tewas bersimbah darah.


Sedangkan Dyah Kirana dan Ki Jatmika pun juga tidak mengendurkan serangan mereka sama sekali. Mereka terus menghabisi nyawa prajurit Jenggala yang mencoba untuk mendekati mereka.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat kembali terdengar. Panji Tejo Laksono mendengus keras lalu melenting tinggi ke udara usai melihat para prajurit Jenggala yang mengepungnya terhempas ke segala arah.

__ADS_1


"Meng Er..


Lindungi Ki Jatmika dan Kirana. Aku akan menggunakan Ilmu Sembilan Matahari ku. Cepat !!"


Teriakan keras dari mulut Panji Tejo Laksono membuat Song Zhao Meng mengangguk mengerti. Putri Kaisar Huizong ini segera melesat cepat kearah Ki Jatmika dan Dyah Kirana yang bertarung berdekatan melawan para prajurit Jenggala.


Segera Song Zhao Meng melepaskan hawa dingin yang menakutkan. Para prajurit Jenggala yang sudah melihat kemampuan beladiri perempuan cantik bermata sipit ini langsung buyar dan berusaha menjauh sejauh mungkin dari nya.


Kabut putih yang tercipta dari tenaga dalam Bulan Es milik Song Zhao Meng semakin lama semakin tebal dan menciptakan sebuah perisai kabut yang perlahan mulai mengeras. Kini pertahanan sempurna Ilmu Bulan Es milik Song Zhao Meng telah menutup wilayah tempat Ki Jatmika dan Dyah Kirana berada.


Di lain sisi, Panji Tejo Laksono yang melenting tinggi ke udara, segera mengerahkan separuh tenaga dalam nya untuk mengeluarkan Ilmu Sembilan Matahari tahap kedelapan yang bernama Matahari Memusnahkan Segalanya. Hawa panas dengan cepat menyebar ke seluruh tempat itu. Bahkan Bidadari Bertopeng Perak, Keswari, Mpu Jiwan sang Hantu Misterius dan muridnya juga turut merasakan hawa panas ini.


"Bocah ini..


Kenapa dia memiliki ilmu kanuragan yang mengerikan seperti ini? Siapa guru nya?", gumam Mpu Jiwan terus menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang kini tubuhnya melayang di udara.


"Dia adalah orang yang membunuh Nini Raga Setan, sesepuh..


Aku melihatnya menggunakan ilmu ini dan Nini Raga Setan tak berdaya menghadapi nya", sahut Keswari yang berada di dekat Sang Hantu Misterius.


Hemmmmmmm...


"Kalau begitu, jika kita ingin mengalahkan nya, maka tidak boleh bertarung sendiri sendiri. Kita harus mengeroyoknya kalau tidak ingin mati konyol", ujar Mpu Jiwan yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Panji Tejo Laksono. Sedangkan Bidadari Bertopeng Perak hanya diam saja tak bersuara sedikitpun. Dari balik topeng peraknya, dia terus menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang terus mengeluarkan Ilmu Sembilan Matahari yang semakin lama membuat udara di sekitar tempat itu semakin panas.


Bola besar sinar merah menyala berhawa panas di atas kedua tangan Panji Tejo Laksono nyaris sebesar 4 tubuh seekor gajah. Segera Panji Tejo Laksono menurunkan kedua tangan nya sambil berteriak lantang.


"Ilmu Sembilan Matahari tahap kedelapan..


Matahari Memusnahkan Segalanya!!


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!!"


Bola besar sinar merah menyala berhawa panas menyengat itu langsung meluncur turun ke arah para prajurit Jenggala yang ada di bawahnya. Ratusan prajurit Jenggala berusaha untuk menjauh dari bawah bola sinar besar ini.


Senopati Bratajaya yang sedari tadi hanya mengawasi para prajurit nya, langsung melesat cepat berusaha menjauh sejauh mungkin dari tempat itu.


Bola besar cahaya merah menyala berhawa panas menyengat ini langsung menghantam bumi dengan keras.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Ledakan mahadahsyat terdengar hingga ke dalam Kotaraja Kahuripan. Burung burung berteriak ketakutan dan terbang tak tentu arah. Debu beterbangan dan asap tebal pekat membumbung tinggi ke angkasa.


Panji Tejo Laksono melayang turun ke dekat tempat Song Zhao Meng, Ki Jatmika dan Dyah Kirana yang berlindung di bawah dinding es tebal yang di ciptakan oleh putri Kaisar Huizong ini.


Saat asap tebal dan debu beterbangan yang menutupi seluruh tempat itu mereda, sebuah pemandangan mengerikan terhampar di depan mata. Ratusan mayat prajurit Jenggala bergelimpangan tak tentu arah. Sebagian besar tubuh mereka gosong. Sebagian lagi masih mengepulkan uap panas dari tubuh mereka yang menebarkan aroma daging yang terbakar. Sebuah lobang dengan lebar hampir 20 depa dan dalam hampir 2 tombak menganga lebar di tengah persawahan luas ini. Hampir 100 depa di sekitar tempat lobang besar ini berada, padi dan tanaman palawija terbakar sedangkan di sekitar nya tanaman roboh, rata dengan tanah.


Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana serta Song Zhao Meng juga Ki Jatmika yang baru keluar dari dalam dinding es perlindungan, menatap tajam ke arah Senopati Bratajaya yang berdiri sejauh 50 depa sambil gemetaran kakinya. Bahkan celana pendek selutut milik perwira tinggi prajurit Jenggala ini basah. Saking takutnya dia sampai mengompol tanpa sadar.


Panji Tejo Laksono mendengus dingin sembari berbicara perlahan,

__ADS_1


"Apa masih perlu aku menyembah mu?!"


__ADS_2