
"Gusti Pangeran,
Apa yang sebaiknya kita lakukan?", tanya Rakryan Purusoma sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono untuk mendapatkan petunjuk.
"Apa boleh buat, ikuti saja kemauan mereka Paman Purusoma..
Aku tidak ingin mencari masalah dengan mereka sepanjang mereka tidak mengganggu kita di perjalanan ini", jawab Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah puluhan perahu berbendera merah bergaris tengah putih itu segera.
Setelah mendapat persetujuan dari Panji Tejo Laksono, Rakryan Purusoma segera menyampaikan bahwa kapal mereka bersedia untuk ikut ke Pelabuhan Vijaya yang merupakan ibukota Kerajaan Champa.
Segera mereka merubah alur kapal dan menuju tepi pelabuhan Vijaya yang memang tak jauh dari tempat itu.
Begitu perahu merapat ke dermaga pelabuhan Vijaya, rombongan Panji Tejo Laksono yang di dahului oleh Rakryan Purusoma segera di giring ke tempat tinggal kepala pelabuhan Vijaya oleh para prajurit Kerajaan Champa yang dipimpin oleh si lelaki bertubuh gempal dengan banyak luka di wajahnya dengan kumis tebal itu. Para awak kapal tetap di biarkan tetap di kapal, menunggu perintah selanjutnya.
Seorang lelaki sepuh berjenggot dan kumis tipis yang berwarna putih campur hitam, menggunakan pakaian sutra halus dengan warna biru yang lembut sedang sibuk memeriksa catatan di meja nya sembari meneliti kata demi kata yang tertulis di lembaran kertas pembukuan. Si lelaki bertubuh gempal dengan wajah penuh bekas luka itu masuk ke dalam ruangan yang cukup luas yang di sangga tiang berukuran besar dengan atap genteng itu, membungkukkan badannya pada si lelaki tua itu dengan penuh hormat.
"Tuan Devadikara,
Patroli laut kami hari ini membawa sebuah kapal berbendera merah aneh dengan awak kapal yang mengaku duta besar dari negeri seberang lautan. Awak kapal mereka saya bawa kemari untuk Tuan Kepala Pelabuhan Vijaya tanyai", ujar si lelaki bertubuh gempal dengan wajah penuh bekas luka dengan sopan. Lelaki tua itu segera meletakkan buku catatan di tangan nya dan segera berdiri dari tempat duduknya.
"Bawa mereka masuk sekarang!"
"Baik Tuan Kepala Pelabuhan", usai berkata demikian, si lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal itu segera menghormat pada si lelaki tua itu yang di panggil dengan nama Devadikara. Tak berapa lama kemudian dia kembali dengan membawa masuk Panji Tejo Laksono, Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka, Rakryan Purusoma, Luh Jingga dan Tumenggung Rajegwesi. Sisa pengawal pribadi lainnya menunggu di luar kediaman Sang Kepala Pelabuhan Vijaya dengan penjagaan keamanan ketat.
Devadikara menatap ke arah orang orang yang di bawa oleh lelaki bertubuh gempal dengan bekas luka di wajahnya itu dengan tatapan menyelidik.
"Jadi mereka orang yang kau bawa kemari Jayasimha?", tanya Devadikara sembari melirik sebentar ke arah pria berwajah parut itu segera.
"Benar Tuanku..
Mereka semua adalah orang orang yang menaiki kapal asing itu Tuan Devadikara", jawab pria berwajah parut yang bernama Jayasimha itu dengan penuh hormat.
Hemmmmmmm..
Kalau boleh tau, siapa kalian? Dan mau apa melewati wilayah perairan laut kami?", tanya Devadikara sembari menatap ke seluruh orang yang berdiri di hadapannya itu.
"Saya Panji Tejo Laksono. Utusan dari Kerajaan Panjalu di Tanah Jawadwipa yang ada di Laut Selatan. Kami semua ingin pergi ke Tanah Tiongkok sebagai balasan atas kunjungan utusan Kaisar Song yang ingin melakukan perdagangan dengan negeri kami.
Mohon maaf jika kami tidak melapor ke pelabuhan Kota Vijaya ini karena kami kurang pengalaman dalam perjalanan jauh ke negeri orang", Panji Tejo Laksono membungkuk hormat kepada Devadikara.
Asal tahu saja, dari Kerajaan Champa di Timur sampai di Hindustan barat, ke selatan hingga Nusantara, kala itu menggunakan bahasa Sansekerta sebagai pengantar karena pengaruh penyebaran kebudayaan India. Meski beberapa bahasa pribumi sudah ada, namun bahasa Sansekerta memang betul-betul di gunakan sebagai bahasa pengantar oleh negara negara tersebut.
"Kerajaan Panjalu di Pulau Jawadwipa? Baru kali ini aku mendengar nama Kerajaan Panjalu. Setahu ku di Tanah Jawadwipa, hanya ada Medang dan Sunda.
Coba jelaskan pada ku", ujar Devadikara sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Dengan gamblang, Panji Tejo Laksono menceritakan asal muasal nama Panjalu yang merupakan pecahan Kerajaan Medang tempo dulu. Devadikara manggut-manggut mendengar semua penuturan dan cerita Panji Tejo Laksono.
Dari luar kediaman Kepala Pelabuhan Vijaya, sebuah tandu kayu berukir indah dengan hiasan kain merah yang di pikul 8 orang lelaki bertubuh kekar berhenti di depan kediaman. Dua orang pelayan wanita muda langsung menyingkap tabir merah itu dan sebuah kaki indah menjulur keluar dari dalam tandu mewah.
Sesosok tubuh ramping dengan kulit putih bersih menawan melangkah keluar dari dalam tandu. Bibir nya yang mungil merona merah, mata yang indah dan paras cantik rupawan menjadi pemandangan yang indah bagi siapapun lelaki yang melihatnya. Baju merah nya yang menutupi seluruh tubuh terbuat dari bahan sutra halus terbaik dengan di hiasi dengan sulaman benang emas. Itu menandakan bahwa gadis dengan kecantikan sempurna itu bukan hanya sekedar gadis cantik biasa namun merupakan salah seorang putri bangsawan di Kerajaan Champa.
"Tuan Putri,
Kenapa kau melarang kami untuk memberitahukan kepada Tuan Kepala Pelabuhan Vijaya tentang kedatangan mu? Ini menyalahi aturan yang berlaku di masyarakat kita Tuan Putri", ujar sang pelayan wanita itu dengan sopan.
"Kau tenang saja, hari ini aku ingin memberi kejutan untuk kakek ku. Kalau aku memberi tahu nya maka ini bukan kejutan namanya", ujar si gadis cantik itu sembari berjalan cepat menuju ke dalam kediaman Kepala Pelabuhan Vijaya. Dua orang gadis pelayan nya mengejar di belakangnya.
Putri cantik itu adalah Anarawati, putri Maharaja Jaya Indrawarman Kedua dengan selir nya yang merupakan putri dari Devadikara yang bernama Parwati. Parwati sendiri memiliki beberapa anak, salah satunya adalah Anarawati yang merupakan putri kedua. Anarawati tumbuh menjadi seorang gadis cantik menjadi kembang di Istana Kerajaan Champa. Banyak sekali para pangeran negeri di Kerajaan Champa yang ingin meminang nya namun Anarawati masih belum mau menerima mereka dengan berbagai alasan.
__ADS_1
"Kakeeekkkkk.....!!"
Semua orang yang ada di dalam kediaman Kepala Pelabuhan Vijaya itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara yang berasal dari arah pintu. Seorang gadis cantik berlari ke arah Devadikara dan langsung memeluk tubuh tua renta itu tanpa peduli dengan orang lain di sekitarnya.
"Anarawati,
Kau datang kemari untuk apa? Kau ini sudah cukup besar untuk menikah, tapi kenapa tingkah mu masih seperti anak anak begini?", omelan Devadikara yang justru malah terdengar lembut.
"Kakek, aku kemari karena merindukan mu. Kenapa kakek lama sekali tidak berkunjung ke Istana Vijaya? Apa kakek sudah melupakan cucu mu ini?", rajuk si gadis cantik yang di panggil dengan nama Anarawati.
"Hei kau bilang apa? Mana mungkin kakek tua ini melupakan cucu kesayangannya?
Belakangan kakek sibuk dengan urusan pekerjaan yang menumpuk ini. Sudah sekarang lepaskan pelukan mu, malu di lihat banyak orang", ujar Devadikara sembari tersenyum tipis.
"Anarawati,
Kakek sedang ada urusan penting jadi tolong kau perhatikan sebentar ya? Selepas ini kakek tua ini akan menemani mu bermain..", ujar Devadikara menoleh ke arah rombongan Panji Tejo Laksono.
"Urusan penting apa sih Kek? Mereka kan hanya ...."
Kata kata Anarawati langsung berhenti di dalam mulutnya saat melihat Panji Tejo Laksono yang berdiri di antara para anggota rombongan itu. Ketampanan sang pangeran muda dari Kadiri itu langsung membuat Putri Anarawati seperti kehilangan suara nya raib entah kemana. Putri Maharaja Jaya Indrawarman Kedua itu sepertinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Melihat Putri Anarawati menoleh ke arah nya, Jayasimha langsung menghormat.
"Hormat kami pada Putri Anarawati"
Namun salam hormat Jayasimha tidak mendapat jawaban apapun dari Putri Anarawati. Entah dimana pikiran putri cantik itu sekarang. Jayasimha menjadi kebingungan dengan sikap Putri Anarawati. Devadikara langsung mendehem keras.
Ehemmm!
Langsung Putri Anarawati tersadar dari lamunannya. Wajah cantik gadis itu langsung bersemu kemerahan tersipu malu. Buru buru dia beringsut mundur ke belakang tubuh Devadikara sembari sesekali mencuri pandang ke arah Panji Tejo Laksono.
Sebagai orang tua, Devadikara langsung tahu bahwa cucu perempuan nya itu telah terpesona dengan ketampanan Panji Tejo Laksono.
Sebaiknya kalian kembali ke kapal kalian. Setelah aku mendapatkan cap kerajaan dan surat jalan, kalian bisa berangkat ke Tanah Tiongkok lagi", ujar Devadikara dengan tegas.
"Maaf Tuan Kepala Pelabuhan,
Berapa lama kami harus menunggu untuk mendapatkan surat jalan itu?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Akan ku usahakan secepatnya. Paling cepat satu hari, paling lambat dua hari.
Oh iya jangan lupa membayar biaya surat jalan sebesar 2 lempeng emas kecil", ujar Devadikara sembari tersenyum tipis.
Panji Tejo Laksono segera memberikan isyarat kepada Tumenggung Ludaka untuk memberikan sekantong sedang kepeng emas kepada Devadikara yang kira kira berisi 20 kepeng emas. Mata kakek tua itu segera melebar. Di dalam kantong kepeng emas itu setara dengan 10 lempeng emas. Emas sangat di hargai oleh penduduk Champa, itu mengapa emas merupakan barang mewah di tempat ini. Segera Devadikara memasukkan kantong kepeng emas itu ke balik bajunya.
"Aku usahakan, besok pagi kalian sudah mendapatkan surat jalan itu. Sekarang kalian semua boleh kembali ke kapal kalian untuk beristirahat.
Jayasimha,
Antar mereka kembali ke tempat mereka", perintah Devadikara pada Jayasimha yang berdiri di antara rombongan Panji Tejo Laksono.
"Baik Tuan Kepala Pelabuhan, akan ku laksanakan tugas dari mu".
Setelah menghormat, Jayasimha beserta para rombongan Panji Tejo Laksono segera meninggalkan tempat kediaman Devadikara. Begitu mereka pergi, Anarawati langsung bertanya pada Devadikara.
"Kakek,
Siapa orang orang itu? Kenapa mereka butuh surat jalan dari ayahanda Maharaja?", tanya Anarawati segera.
__ADS_1
"Mereka adalah orang-orang dari Pulau Jawadwipa, sebuah pulau yang jauh di Laut Selatan. Mereka itu m duta besar sebuah Negeri yang bernama Panjalu. Kalau melihat dari tata krama dan tingkah laku mereka, sepertinya pemuda tampan yang bernama Panji Tejo Laksono itu adalah salah satu bangsawan atau bahkan mungkin seorang pangeran disana.
Memangnya ada apa kau menanyakan hal itu, cucu ku?", Devadikara sedikit curiga dengan sikap Anarawati yang lain dari biasanya. Biasanya gadis cantik itu cuek saja dengan semua orang. Kalau tiba-tiba ramah tentu saja patut dipertanyakan.
"A-ah tidak Kek...
Aku aku hanya penasaran saja karena cara pakaian mereka berbeda dengan kebanyakan orang kita. Juga tak terlihat seperti orang Khmer maupun Langkasuka yang sering kemari", alasan Putri Anarawati sembari tersenyum tipis.
'Pangeran ya? Hemmmmmmm, cukup menarik juga. Pantas saja dia tampan begitu', batin Putri Anarawati.
Senyum indah terukir di bibir mungil Putri Anarawati. Dan itu di lihat oleh dua pelayan perempuan yang menemaninya.
Setelah cukup lama bercengkrama dengan kakeknya, menjelang sore Putri Anarawati berpamitan untuk pulang ke Istana Kerajaan Champa.
"Tuan Putri,
Sepertinya Tuan Putri tertarik dengan pangeran dari Pulau Selatan itu. Apa perlu saya menjadi penghubung untuk Tuan Putri?", tanya si pelayan wanita sang putri sambil tersenyum kala tandu mewah yang di tumpangi oleh putri kerajaan Champa itu baru saja turun di istana.
"Iya Tuan Putri, kalau tuan Putri tidak menemuinya sekarang takutnya Tuan Devadikara segera memberikan surat jalan untuk nya, bisa bisa besok dia sudah pergi ke Tanah Tiongkok.
Kesempatan tidak akan datang dua kali loh Tuan Putri ", sambung si pelayan wanita satu nya sembari membuka tirai merah yang menutupi bagian dalam tandu.
Wajah cantik Anarawati langsung terlihat memikirkan sesuatu begitu dia keluar dari dalam tandu nya. Sepertinya dia tengah merenungkan tentang omongan kedua pelayan setia nya itu.
Setelah selesai berfikir, Anarawati langsung bergegas menuju ke arah kamar tidur nya dan dua pelayan setia nya segera mengekor di belakangnya. Sesampainya di kamar, gadis cantik itu segera mencari kertas dan sebuah alat tulis. Dengan cekatan dia menulis beberapa kata dalam huruf Pallawa di atas kertas itu lalu segera melipatnya.
"Berikan ini pada pemuda itu, katakan aku menunggu balasannya", perintah Putri Anarawati sembari mengulurkan surat itu pada salah seorang pelayan nya. Mereka berdua segera membungkuk hormat kepada Putri Anarawati dan bergegas ke arah Pelabuhan Vijaya yang memang tak terlalu jauh dari Istana Kerajaan Champa.
Di Pelabuhan Vijaya, Panji Tejo sedang asyik menikmati keindahan pantai sore hari sembari menatap ke arah laut lepas. Selain menjadi tempat bersandarnya puluhan kapal besar dari berbagai penjuru dunia, Pelabuhan Vijaya memang menyajikan pemandangan alam yang indah dengan tebing batu karang nya yang menjulang tinggi.
Saat mereka berdua sedang menikmati indahnya alam ini, Demung Gumbreg berjalan mendekati Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga bersama dua orang gadis muda yang berpakaian pelayan.
"Maaf mengganggu, Gusti Pangeran..
Dua gadis cantik ini mencari mu. Katanya ada hal yang penting untuk mu", ujar Demung Gumbreg sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.
Mendengar perkataan Demung Gumbreg, Panji Tejo Laksono segera berdiri dari tempat duduknya di atas batu. Dia segera mendekati Demung Gumbreg dan dua orang gadis muda itu.
"Ada apa kalian mencari ku?", tanya Panji Tejo Laksono segera. Salah satu gadis muda itu segera mengulurkan sebuah surat pada Panji Tejo Laksono. Dengan segera Panji Tejo Laksono mengambil surat itu dan membacanya.
"Tuan Putri menunggu jawaban dari mu, Tuan Muda", ujar salah seorang gadis itu segera.
"Katakan padanya bahwa aku akan menemuinya di tempat itu nanti malam", jawab Panji Tejo Laksono sembari meremas kertas surat dan melemparkannya ke arah laut.
"Kalau begitu kami permisi Tuan Muda", ujar salah satu pelayan wanita itu dengan sopan. Lalu keduanya berbalik badan dan meninggalkan tempat itu sambil tersenyum penuh arti.
Demung Gumbreg yang penasaran langsung mendekati Panji Tejo Laksono.
"Memang ada urusan apa Gusti Pangeran hingga Putri Champa itu ingin bertemu?", tanya Gumbreg segera.
"Itu bukan urusan Paman..
Yang penting perjalanan kita bisa lancar tanpa banyak hambatan. Dan sebaiknya Paman Gumbreg tutup mulut mengenai pertemuan ku dengan Putri Anarawati", Panji Tejo Laksono melangkah meninggalkan tempat itu menuju ke arah kapal jung besar nya. Demung Gumbreg langsung cemberut sembari mencebikkan bibir nya ke arah Panji Tejo Laksono yang berlalu meninggalkan nya.
"Bapak sama anak kog sama saja. Kalau urusan dengan perempuan, selalu juara.
Sama sama pawang", ujar Demung Gumbreg. Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Demung Gumbreg sembari melotot lebar ke arah perwira bertubuh tambun itu.
__ADS_1
"Paman bilang apa?"