Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Akhir Hidup Sang Otak Pemberontakan


__ADS_3

Mendung kelabu berarak di angkasa menandai bahwa sekarang di seluruh Tanah Jawadwipa sedang terjadi musim penghujan. Rumput rumput di tepi hutan kecil Koncar yang beberapa waktu lalu masih terlihat kering karena kekurangan air, kini terlihat mulai menghijau. Beberapa tumbuhan bebungaan kecil seperti bunga kumis kucing dan melati liat mulai nampak berkuncup yang menjadi tanda sebentar lagi akan banyak bunga bermekaran di tepi hutan kecil itu.


Tumenggung Gurunwangi mengedarkan pandangannya menatap ke arah para anggota Pasukan Lowo Bengi sebentar sebelum tertawa lepas.


"Hahahaha lucu sekali kau, hai Pendekar Pedang Butut !


Kalian hanya beberapa ratus orang saja ingin menantang kami yang berjumlah 2 prajurit? Apa kau sudah gila ha? Kalau sudah bosan hidup, jangan cari perkara dengan ku hahahaha", tawa keras terdengar dari mulut Tumenggung Gurunwangi. Para prajurit pengikutnya pun ikut tertawa terbahak bahak kecuali Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman yang menatap tajam ke arah mereka terutama pada Mapanji Jayagiri. Mereka berdua sama sekali tidak meremehkan kemampuan beladiri pemuda tampan berpedang butut itu karena pernah merasakan bagaimana kehebatan ilmu silat tangan kosong nya yang mengerikan.


Angin dingin berdesir kencang, mengibaskan rambut panjang Mapanji Jayagiri yang hanya diikat dengan kain merah asal-asalan hingga sebagian rambutnya yang hitam legam bergoyang tertiup angin. Mapanji Jayagiri tersenyum tipis mendengar tawa penuh hinaan yang di tujukan pada dirinya.


"Dasar picik..!!


Dalam dunia persilatan, jumlah tidak menjamin kemenangan ada di pihak mu, Tumenggung Gurunwangi. Tapi kemampuan beladiri lah yang menjadi penentu setiap pertarungan mu", ujar Mapanji Jayagiri sembari merenggangkan jemari tangannya yang segera membentuk cakar seperti cakar seekor rajawali.


Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba cakar tangan kanan Mapanji Jayagiri di selimuti oleh cahaya merah kehitaman yang menakutkan. Tanpa menunggu lama, Mapanji Jayagiri segera mengayunkan tangannya ke arah rombongan prajurit Rajapura pimpinan Tumenggung Gurunwangi.


Shhhrrraaaaaaaaakkkkkkkkkh !!


Lima larik sinar merah kehitaman menerabas cepat kearah Tumenggung Gurunwangi. Meski sedikit terkejut dengan kecepatan tinggi serangan Mapanji Jayagiri, namun Tumenggung Gurunwangi segera melompat tinggi ke udara menghindari lima larik sinar merah kehitaman yang tipis berhawa panas ini. Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman pun ikut menghindari sinar merah kehitaman yang di lepaskan oleh Mapanji Jayagiri.


Chhrrrraaaaaasssshh..


Aaaarrrgggggghhhhh....!!!


Lima larik sinar merah kehitaman yang di lepaskan oleh Mapanji Jayagiri langsung memotong apa saja yang dilaluinya. Tiga kuda tunggangan Tumenggung Gurunwangi, Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman serta 10 orang prajurit yang ada di belakang mereka langsung tewas seketika setelah tubuh mereka terpotong lima larik sinar merah kehitaman nan tajam dari Ilmu Cakar Rajawali Galunggung tahap akhir yang di lepaskan oleh sang pangeran ketiga Negeri Panjalu itu.


Melihat kejadian itu, Tumenggung Gurunwangi, Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman langsung melesat cepat kearah Mapanji Jayagiri. Tak ingin melepaskan kesempatan, Gayatri langsung menghadang pergerakan Demung Anggasuta sedangkan Tumenggung Landung mencabut pedang besar pendek nya dan menerjang ke arah Ki Juru Kanoman yang ingin mengeroyok Mapanji Jayagiri.


Pertarungan sengit segera terjadi. Para prajurit Rajapura yang berjumlah hampir sekitar 2 ribu prajurit langsung merangsek maju ke arah Pasukan Lowo Bengi yang sudah bersiap untuk bertempur mati-matian melawan mereka.


"Bangsat keji !


Akan ku cabut nyawa mu sebagai ganti nyawa kuda ku !", teriak Tumenggung Gurunwangi sembari mengayunkan pedang di tangan kanannya ke arah Mapanji Jayagiri.


Shreeeeettttthhh !!!


Selincah burung layang-layang, Mapanji Jayagiri berkelit menghindari tebasan pedang Tumenggung Gurunwangi. Perwira tinggi prajurit Rajapura itu buru buru memutar gagang pedang nya dan kembali mengincar perut sang putra ketiga Prabu Jayengrana.


Whuuthhh whuuthhh..!!

__ADS_1


Mapanji Jayagiri berjumpalitan mundur beberapa kali menghindari sabetan pedang beruntun dari Tumenggung Gurunwangi. Pada pijakan kaki terakhir, Mapanji Jayagiri menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi di udara. Sambil memutar tubuhnya, dia mengayunkan cakar tangan kanannya ke arah punggung Tumenggung Gurunwangi.


Shhhrrraaaaaaaaakkkkkkkkkh!


Lima sayatan kuku jari merobek baju sekaligus kulit punggung Tumenggung Gurunwangi. Pria mudah bertubuh kekar dengan kumis tipis ini meringis menahan rasa perih di punggungnya setelah lukanya mengeluarkan darah segar.


Dengan penuh amarah, Tumenggung Gurunwangi melemparkan pedang miliknya ke arah Mapanji Jayagiri yang baru saja memijak tanah.


Whhhuuuggghhhh!


Mapanji Jayagiri segera memutar telapak tangannya sembari bergerak cepat kearah samping. Secepat kilat, dia menghantam bilah pedang Tumenggung Gurunwangi dengan keras. Pedang itu mencelat jauh dan menghujam keras pada seorang prajurit Rajapura.


Jllleeeeeppppphhh ..


Aaauuuuggggghhhhh !


Si prajurit Rajapura yang naas tersebut langsung roboh tersungkur ke tanah dengan pedang Tumenggung Gurunwangi menancap di dadanya. Melihat itu, Tumenggung Gurunwangi segera menurunkan kedua telapak tangannya ke atas kepala lalu turun ke depan pinggang. Mulutnya nampak komat-kamit merapal mantra. Rupanya dia ingin mengeluarkan Ajian Tapak Penghancur Gunung yang merupakan ilmu kanuragan ajaran Resi Wangsanaya dari Saunggalah. Di kedua telapak tangan Tumenggung Gurunwangi muncul dua sinar biru gelap yang berhawa dingin.


Secepat kilat, Tumenggung Gurunwangi menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah Mapanji Jayagiri.


"Tapak Penghancur Gunung..


Sebuah sinar biru gelap berbentuk seperti telapak tangan melesat cepat kearah Mapanji Jayagiri. Melihat itu, sang putra ketiga Prabu Jayengrana segera melompat tinggi ke udara menghindari hantaman Ajian Tapak Penghancur Gunung yang di lepaskan oleh Tumenggung Gurunwangi.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!


Tempat berpijak Mapanji Jayagiri yang terkena hantaman Ajian Tapak Penghancur Gunung langsung meledak keras dan menciptakan sebuah lobang sebesar tampah. Tumenggung Gurunwangi yang melihat Mapanji Jayagiri yang mendarat di sebuah cabang pohon Hutan Koncar, kembali menghantamkan tapak tangan kiri nya ke arah Mapanji Jayagiri.


Whuuuggghh..


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!


Sesaat sebelum sinar biru gelap yang berhawa dingin menghantam, Mapanji Jayagiri sudah lebih dulu melompat turun ke tanah. Sang pangeran muda dari Kadiri ini segera mencabut pedang bututnya dan menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi pada pedang di tangan kanannya. Seketika bilah pedang butut ini berwarna kuning kebiruan yang menjadi tanda bahwa dia mengerahkan Ajian Chandra Buana, ilmu kanuragan tingkat tinggi yang hanya di warisi oleh para murid dan keturunan Resi Buyut Galunggung sang pendiri Perguruan Silat Cakar Rajawali Galunggung.


Tumenggung Gurunwangi kembali hantamkan tapak tangan kanan dan kiri nya beruntun kearah Mapanji Jayagiri.


Whuuthhh whuuthhh !!


Dua sinar biru gelap berbentuk seperti telapak tangan menerabas cepat kearah Mapanji Jayagiri. Dengan cepat, Mapanji Jayagiri membabatkan pedang nya yang mengandung Ajian Chandra Buana ke sinar biru gelap dari sisi kanan.

__ADS_1


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr!!


Ledakan keras terdengar saat pedang butut berselimut Ajian Chandra Buana beradu dengan Ajian Tapak Penghancur Gunung. Mapanji Jayagiri terseret kesamping kiri memapak sinar biru gelap Ajian Tapak Penghancur Gunung dari tangan kanan Tumenggung Gurunwangi.


Hal ini membuat Mapanji Jayagiri gelagapan juga. Namun saat yang genting itu, sebuah bayangan bersinar kuning keemasan menghadang laju sinar biru gelap berhawa dingin yang mengincar tubuh sang putra ketiga Prabu Jayengrana ini.


Blllaaammmmmmmm !!


Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Tapak Penghancur Gunung menghantam tubuh bayangan kuning keemasan. Ledakan keras itu bahkan menciptakan gelombang kejut besar yang menghempaskan tubuh Tumenggung Gurunwangi hampir sejauh 3 tombak ke belakang. Debu beterbangan dan asap tebal menutupi seluruh tempat itu membuat semua orang tak bisa melihat jelas siapa yang berani menghadang Ajian Tapak Penghancur Gunung.


Begitu asap tebal menghilang tersapu angin dingin yang berhembus menyertai hujan turun, seorang lelaki bertubuh kekar dengan wajah tampan tersenyum tipis sembari menatap ke arah Tumenggung Gurunwangi yang masih terduduk di atas tanah. Darah segar yang mengalir keluar dari sudut bibir perwira tinggi prajurit Rajapura itu terasa asin bercampur air hujan.


Bersamaan dengan itu, ribuan orang prajurit menunggang kuda berpakaian merah hitam khas Kadipaten Kalingga muncul dari arah timur dengan cepat. Mereka langsung menerjang maju ke arah pasukan Rajapura pimpinan Tumenggung Gurunwangi yang mengepung Pasukan Lowo Bengi pimpinan Tumenggung Landung.


Mapanji Jayagiri menatap ke arah sosok lelaki muda yang berdiri tegak di hadapan nya. Gayatri yang baru saja menghabisi nyawa Demung Anggasuta langsung tersenyum lebar saat melihat sosok lelaki tampan yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono.


"Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..


Kau kau sudah kembali?", teriak Gayatri yang kegirangan karena melihat kedatangan Panji Tejo Laksono di tempat itu. Dia segera melompat ke arah Panji Tejo Laksono dan memeluk erat tubuh putra sulung Prabu Jayengrana ini. Mapanji Jayagiri segera mendekati sang kakak yang sedang mengelus rambut Gayatri yang basah kuyup oleh air hujan.


"Kangmas Tejo Laksono, kau yang menolong ku? Terimakasih banyak atas bantuan mu Kangmas", Mapanji Jayagiri menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Urusan kangen-kangenan nanti saja.. Lebih baik kita urus mereka dulu", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap tajam ke arah Tumenggung Gurunwangi yang berdiri sempoyongan sembari membekap dadanya. Rupanya dia menderita luka dalam yang parah setelah Ajian Tapak Penghancur Gunung nya mental dan berbalik menghantam tubuhnya.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau ikut campur urusan ku ha?", hardik Tumenggung Gurunwangi segera.


"Aku adalah orang yang akan mencabut nyawa mu, hai pemberontak Rajapura!


Aku Panji Tejo Laksono, putra sulung Prabu Jayengrana dari Panjalu. Saat nya aku mewakili ayahanda Prabu Jayengrana menghukum mati para perongrong kedaulatan negara seperti kalian", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap tajam ke arah Tumenggung Gurunwangi. Mendengar jawaban itu, mata Tumenggung Gurunwangi membeliak lebar.


"Hoh, bagus sekali. Aku tidak perlu repot-repot untuk ke Kadiri untuk melenyapkan keturunan si keparat Jayengrana.


Hari ini aku akan...


Huuuuooogggghhh !!!"


Belum sempat Tumenggung Gurunwangi menyelesaikan omongannya, Panji Tejo Laksono yang muncul tiba-tiba di hadapannya langsung menghantam dada Tumenggung Gurunwangi dengan Ajian Tapak Dewa Api. Ledakan keras disertai muncratnya darah segar dari mulut Tumenggung Gurunwangi berbarengan dengan terlemparnya tubuh perwira tinggi prajurit Rajapura itu jauh ke belakang. Tubuh Tumenggung Gurunwangi menghantam sebuah pohon besar dan sebuah ranting nya menembus pinggang hingga perut. Otak pemberontakan terhadap Kerajaan Panjalu itu masih bernafas saat Panji Tejo Laksono berkata tegas sebelum kepalanya terkulai tak bernyawa,


"Untuk pemberontak seperti kalian hanya ada satu hukuman yang pantas,

__ADS_1


Yaitu hukuman mati !"


__ADS_2