Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ayu Ratna Palsu


__ADS_3

Gui Wu segera melompat ke udara dan meluncur cepat kearah Panji Tejo Laksono. Tangan kanannya terus mengendalikan pisau belati yang beterbangan di udara sedang tangan kiri nya menggenggam erat sebuah pisau belati dengan aura hijau kebiruan yang berhawa dingin.


Rupanya dia mengeluarkan Ilmu Ilusi Hantu andalannya. Seketika seluruh penampilan dan wajah Gui Wu berubah menjadi wajah seorang wanita cantik yang sangat di kenali oleh Panji Tejo Laksono, Ayu Ratna.


Perubahan ini langsung membuat Panji Tejo Laksono terlena. Rasa rindu nya pada Ayu Ratna yang sudah dia tinggalkan hampir 4 purnama, benar benar merusak konsentrasi nya. Hingga dia membiarkan Gui Wu yang berwajah Ayu Ratna mendekati dirinya.


"Ayu... Ayu Ratna,


Benarkah ini kau?", Panji Tejo Laksono masih juga dalam perasaan antara percaya dan tidak. Namun pengaruh Ilmu Ilusi Hantu yang di keluarkan oleh Gui Wu, perlahan mulai menguasai dirinya.


"Apa Kakak masih tidak percaya dengan ku? Ini aku kak, aku sangat merindukanmu", gaya manja sosok Ayu Ratna ini benar-benar mirip dengan yang asli. Panji Tejo Laksono benar benar terpengaruh oleh ilusi yang ada. Perlahan sosok Ayu Ratna berjalan mendekati Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun.


"Aku juga sangat merindukanmu, Ayu Ratna", ujar Panji Tejo Laksono tanpa sadar bahwa yang di hadapi oleh nya bukanlah sang calon istri.


"Hihihi, aku juga merindukan mu Kakak", jawab sosok Ayu Ratna gadungan sembari setengah berlari mendekati Panji Tejo Laksono dan segera menubruk tubuh sang pangeran muda dari Kadiri.


Segera mereka saling berpelukan untuk melepaskan kerinduan.


Begitu berhasil memeluk tubuh Panji Tejo Laksono, sosok cantik Ayu Ratna yang merupakan perubahan Gui Wu langsung menggerakkan tangan kirinya yang memegang pisau belati ke arah punggung sang pangeran muda.


Shrraaaakkkkhhhh !!


Dalam keadaan genting, tiba-tiba saja rasa panas menyengat di rasakan oleh Panji Tejo Laksono pada bahu kiri atasnya. Ini langsung membuat Panji Tejo Laksono sadar dari ilusi. Jika saja bajunya terbuka, maka akan terlihat sebuah rajah berbentuk seperti mahkota raja yang bersinar kuning keemasan. Rupanya selain menjadi penanda siapa yang akan menjadi Raja Tanah Jawadwipa, Rajah Makutarama juga menjaga sang wadah untuk tetap hidup.


Desiran angin dingin yang mengikuti ayunan tangan sosok Ayu Ratna palsu. Panji Tejo Laksono merasakan itu semua dan segera berupaya untuk berkelit. Walhasil, hujaman pisau belati Gui Wu hanya merobek baju sang pangeran muda dan menggores kulit nya. Panji Tejo Laksono dengan cepat melompat mundur begitu merasakan perih di pangkal lengan kirinya.


Hemmmmmmm...


Dengusan nafas dingin terdengar dari mulut Panji Tejo Laksono. Dia menatap tajam ke arah sosok Ayu Ratna yang merupakan penjelmaan dari Gui Wu. Kesadarannya kini telah pulih seperti sedia kala.


"Kau bukan Ayu Ratna. Dasar bedebah, berani sekali kau mencoba menipu ku dengan wujud calon istri ku.


Kau tidak akan pernah aku maafkan!", ucap Panji Tejo Laksono dengan penuh amarah.


"Hihihihi...


Pendekar muda, aku ini adalah calon istri mu. Apa kau masih meragukan ku?", ujar sosok Ayu Ratna palsu yang masih mencoba untuk merayu Panji Tejo Laksono.


"Tutup mulut mu!


Ayu Ratna ada di Tanah Jawadwipa. Ini adalah Negeri Tiongkok, tidak mungkin Ayu Ratna sampai kemari!", Panji Tejo Laksono semakin murka.


"Hahahaha..


Bisa juga kau sadar dari Ilmu Ilusi Hantu ku, pendekar muda. Tapi ini belum selesai!!", sosok Ayu Ratna penjelmaan dari Gui Wu langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan pisau belati di tangan kirinya.


Shreeeeettttthhh !


Panji Tejo Laksono dengan mudah menghindari serangan Ayu Ratna palsu dengan mudah. Sang pangeran muda itu segera membuat gerakan berputar cepat dan melayangkan tendangan keras kearah punggung sosok Ayu Ratna.


Dhiiieeeessshh !


Auuuggghhhhh !


Sosok Ayu Ratna palsu langsung terjungkal ke depan dan menyusruk tanah. Melihat pimpinan Sekte Lembah Hantu itu jatuh, dua orang anggota Sekte Lembah Hantu yang sedari tadi mengepung tempat Panji Tejo Laksono dan Gui Wu bertarung, langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dengan dua sabetan pedang yang mengarah pada leher.


Panji Tejo Laksono dengan cepat menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara sembari melayangkan tendangan keras kearah punggung dua orang bertopeng tengkorak manusia itu.


Dhasshhh dhasshhh !!


Dua orang yang menyerang Panji Tejo Laksono langsung terjungkal sembari muntah darah. Para anggota Sekte Lembah Hantu yang lain langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono yang baru saja menjejak tanah.

__ADS_1


Panji Tejo Laksono pun dengan cepat merapal mantra Ajian Tameng Waja. Seketika itu juga, sinar kuning keemasan melingkupi seluruh tubuh sang putra tertua Prabu Jayengrana.


Melihat lawan tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri, para anggota Sekte Lembah Hantu menyeringai lebar.


"Kali ini mampus kau bangsat!", teriak seorang lelaki bertubuh gempal yang mengayunkan pedangnya kearah leher Panji Tejo Laksono. Dia sudah merasa menang.


Thhraaaangggggggg !


Puluhan senjata anggota Sekte Lembah Hantu yang mengarah ke tubuh Panji Tejo Laksono seperti membentur logam keras. Mata semua anggota Sekte Lembah Hantu melotot lebar melihat itu semua.


"Ba-bagaimana mungkin?"


"Ini ini ilmu sihir.. Lawan kita menggunakan ilmu sihir!"


Saat mereka kebingungan dengan apa yang sedang terjadi, Panji Tejo Laksono menyeringai lebar sembari melayangkan hantaman tapak tangan nya yang sudah berwarna merah menyala seperti api, bertubi-tubi kearah para anggota Sekte Lembah Hantu yang mengepungnya.


Bhhuukh bhuuukkkhhh !!


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr...


Blllaaammmmmmmm !!


Sepuluh orang anggota Sekte Lembah Hantu yang mengepung Panji Tejo Laksono bermentalan saat Ajian Tapak Dewa Api telak menghajar mereka. Jerit jerit kesakitan bercampur muncratnya darah segar dari mulut mereka, menjadi penanda bahwa mereka dalam masalah besar. 7 orang lelaki berpakaian hitam-hitam dengan topeng tengkorak manusia itu langsung tewas sedangkan tiga lainnya jatuh tersungkur dengan luka dalam yang sangat serius. Mereka bertiga mengejang hebat sebentar sebelum diam untuk selamanya.


Gui Wu dalam wujud Ayu Ratna yang baru saja melihat anak buah nya berjatuhan di tangan Panji Tejo Laksono pun langsung ciut nyalinya.


'Gawat, kepandaian ilmu beladiri orang ini tidak bisa di pandang sebelah mata. Aku harus cepat pergi dari tempat ini', batin Gui Wu. Dia segera menoleh ke arah anggota Sekte Lembah Hantu yang masih ada.


"Kalian semua!


Cepat hentikan orang itu! Kepung dia!", perintah Gui Wu dengan cepat.


Sebanyak dua puluh orang berpakaian hitam-hitam segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Gui Wu pun tersenyum lebar.


Tapi aku tidak akan mati hari ini! Saat aku bertemu dengan mu lagi, itu akan menjadi hari terakhir mu! ", teriak Gui Wu sembari melesat berusaha untuk meloloskan diri dari tempat itu.


Dua puluh orang anggota Sekte Lembah Hantu yang mengepung Panji Tejo Laksono terkejut bukan main ketika melihat orang yang mereka incar sudah tidak ada. Di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba terdengar jerit keras dari mulut Ayu Ratna palsu.


"Aaaarrrgggggghhhhh!!


Bajingan keparat, cepat lepaskan aku!"


Kedua puluh anggota Sekte Lembah Hantu langsung menoleh ke arah sumber suara. Panji Tejo Laksono mencekik leher Ayu Ratna palsu dengan tangan kanan nya, sedangkan Ayu Ratna palsu perwujudan dari Gui Wu meronta berusaha untuk melepaskan diri sambil menusukkan pisau belati yang ada di tangan kirinya.


Rupanya saat Gui Wu melesat meninggalkan tempat itu, Panji Tejo Laksono dengan Ajian Halimun nya muncul di hadapan sosok Ayu Ratna palsu lalu dengan cepat menyambar leher perwujudan Gui Wu ini.


Melihat pimpinan mereka tertangkap oleh Panji Tejo Laksono, kedua puluh anggota Sekte Lembah Hantu langsung melompat ke arah Panji Tejo Laksono.


Saat yang bersamaan, Huang Lung alias Putri Wanyan Lan, Jenderal Liu King dan Tumenggung Ludaka sampai di tempat itu dan segera menghadang laju pergerakan mereka.


"Mau apa kalian?", Jenderal Liu King mengacungkan tombak pedang nya ke arah anggota Sekte Lembah Hantu.


"Lepaskan pimpinan kami..


Kalau tidak, akan ku buat kalian menjadi santapan anjing liar di Lembah Hantu ini", ancam salah seorang dari kedua puluh anggota Sekte Lembah Hantu ini dengan keras.


"Mengancam kami?!


Kalian masih belum pantas melakukan nya", usai berkata demikian, Jenderal Liu King langsung melompat maju sembari mengayunkan tombak pedang nya ke arah anggota Sekte Lembah Hantu. Huang Lung dan Tumenggung Ludaka pun ikut menerjang maju ke arah para lelaki bertopeng tengkorak manusia itu. Pertarungan sengit segera terjadi antara mereka.


Ayu Ratna palsu masih meronta berusaha untuk melepaskan diri namun cekikan tangan kanan Panji Tejo Laksono semakin erat meremas batang leher nya.

__ADS_1


Setelah memejamkan mata sekejap,selarik sinar hijau kebiruan melingkupi tubuh Panji Tejo Laksono lalu dari mulut Panji Tejo Laksono sebuah sinar hijau kebiruan terlontar ke arah sosok Ayu Ratna palsu yang merupakan penjelmaan dari Gui Wu. Sinar hijau kebiruan itu segera melingkupi seluruh tubuh Ayu Ratna palsu.


Perlahan Ajian Waringin Sungsang yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono menghisap daya hidup dan tenaga dalam milik Gui Wu.


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!


Teriak kesakitan langsung terdengar dari mulut Gui Wu yang merasakan sakit pada setiap sendi dan jengkal tubuh nya. Ilmu nya pun seperti meronta dari tubuh nya hingga perwujudan beraneka macam pun terlihat. Sosok Ayu Ratna dengan cepat berubah menjadi Huang Lung namun Panji Tejo Laksono tidak bergeming malah semakin menguatkan Ajian Waringin Sungsang nya. Setelah itu muncul sosok Jenderal Liu King, Tumenggung Ludaka dan Putri Song Zhao Meng di dalam cekikan tangan kanan Panji Tejo Laksono. Akhirnya sosok asli Gui Wu muncul.


Perlahan tubuh Gui Wu yang sudah kehabisan daya hidup dan tenaga dalam menghitam dan terus menghitam. Darah segar mengalir keluar dari mulut, hidung, telinga dan sudut mata. Namun Ajian Waringin Sungsang Panji Tejo Laksono terus menghisap sisa sisa tenaga dalam yang di miliki oleh Gui Wu.


Huang Lung yang baru saja membunuh seorang anggota Sekte Lembah Hantu melihat itu semua, bergidik ngeri juga. Panji Tejo Laksono selalu memberikan kejutan yang sama sekali tidak terduga dalam setiap kesempatan.


'Kakak Thee, sebenarnya seberapa banyak rahasia ilmu beladiri yang kau sembunyikan? Kenapa kau bisa menjadi begitu mengerikan seperti itu?'


Pun Jenderal Liu King juga terpana melihat kemampuan sesungguhnya dari Panji Tejo Laksono. Semula dia menganggap bahwa Panji Tejo Laksono hanya seorang lelaki muda yang tidak punya kelebihan apa apa dan hanya memiliki wajah tampan sebagai senjata utamanya, namun setelah melihat kejadian itu, pandangan nya langsung berubah.


'Pendekar Thee ini benar benar hebat. Aku harus berkawan baik dengan nya'


Hanya Tumenggung Ludaka saja yang tidak kaget dengan kemampuan beladiri majikannya. Meski bisa di katakan bahwa Panji Tejo Laksono masih jauh dari ayahnya, Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana, namun untuk ukuran seorang pangeran, kemampuannya sudah cukup untuk disebut sebagai pendekar pilih tanding.


Tubuh Gui Wu terus menghitam. Saat Ajian Waringin Sungsang selesai menghisap seluruh tenaga dalam dan daya hidup Gui Wu, Panji Tejo Laksono langsung berteriak keras sembari menghantam dada Gui Wu.


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!


Blllaaammmmmmmm!!


Tubuh Gui Wu langsung meledak dan hancur lebur menjadi abu. Melihat itu, sisa sisa anggota Sekte Lembah Hantu langsung berupaya melarikan diri dari markas besar mereka. Meski Huang Lung, Tumenggung Ludaka dan Jenderal Liu King berusaha keras untuk menghabisi mereka semua, namun beberapa orang masih berhasil kabur.


Panji Tejo Laksono segera menata nafasnya setelah tubuh Gui Wu hancur. Usai melakukan nya, Panji Tejo Laksono segera mendekati Huang Lung, Tumenggung Ludaka dan Jenderal Liu King yang masih menatap ke arah kabur nya beberapa anggota Sekte Lembah Hantu.


"Kita tidak perlu repot-repot mengejar mereka. Sebaiknya kita segera mencari Putri Meng Er dan kembali ke tempat kita tadi.


Kawan kawan yang lain pasti mengkhawatirkan keselamatan kita", ujar Panji Tejo Laksono segera.


Jenderal Liu King, Huang Lung dan Tumenggung Ludaka langsung mengangguk mengerti. Mereka segera berpencar mencari keberadaan Putri Song Zhao Meng. Panji Tejo Laksono dengan cepat menuju ke arah sebuah pintu dimana dia melihat Gui Wu dan Hua Mei keluar.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!


Pintu kamar terbuka lebar dan Panji Tejo Laksono melihat Putri Song Zhao Meng sedang terbujur kaku tak bergerak karena dia di totok oleh Gui Wu. Dengan cekatan, Panji Tejo Laksono melepaskan totokan Gui Wu dan Putri Song Zhao Meng langsung memeluk tubuh Panji Tejo Laksono sambil menangis tersedu-sedu. Dia sungguh ketakutan tadi.


"Tuan Putri,


Kau sudah aman sekarang", ujar Panji Tejo Laksono di sela sela tangisan Putri Song Zhao Meng.


"Kakak Thee,


Terimakasih banyak atas pertolongan mu. Aku tidak tahu bagaimana nasib ku seandainya kau tidak menolong ku", ujar Putri Song Zhao Meng sambil terus terisak.


"Sudahlah Tuan Putri,


Ini hanya pertolongan kecil saja. Tidak perlu di besar besarkan. Sebaiknya kita segera menemui kawan kawan. Mereka telah menunggu kedatangan kita untuk meneruskan perjalanan ke Kaifeng", setelah berkata demikian, Panji Tejo Laksono segera menuntun Putri Song Zhao Meng keluar dari kamar tempat dia disekap. Setelah mereka berkumpul kembali, mereka segera bergegas kembali ke tempat awal mereka bersama anggota rombongan yang lain. Luh Jingga yang masih terluka dan Gumbreg yang baru bangun tidur menyambut kedatangan mereka.


Tanpa menunggu lama, mereka segera melanjutkan perjalanan ke arah Ibukota Kekaisaran Dinasti Song, Kaifeng. Tepat pada senja mulai turun, mereka sudah keluar dari kawasan Lembah Hantu.


Mereka terus bergerak menuju ke arah sebuah kota yang terletak antara Yingtian dan Kaifeng yang menjadi wilayah kekuasaan dari salah seorang saudara laki laki Kaisar Huizong, Kota Chenliu.


Gubernur Chenliu adalah saudara sepupu dari Kaisar Huizong. Namanya Zhao Yun. Selain licik dan pandai mengadu domba, Zhao Yun juga merupakan orang yang mengincar Stempel Giok Naga. Sekte Macan Besi yang mengikuti Huang Lung adalah orang orang yang bekerja padanya.


Saat rombongan Panji Tejo Laksono memasuki gerbang kota Chenliu, seorang anggota Sekte Macan Besi yang melihat Huang Lung diantara mereka, langsung berbisik pada seorang kawannya.


"Huang Lung sampai di Chenliu.

__ADS_1


Cepat laporkan ini pada Tetua".


__ADS_2