Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Apa Mau Mu?


__ADS_3

Junggul Mertalaya menggeram murka mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Selama ini, di kalangan para pendekar dunia persilatan, namanya sangat di takuti. Baik itu dari golongan hitam maupun golongan putih, semuanya takut berhadapan dengan nya. Nyi Simbar Kencana dan Bogang Sarira pun sungkan padanya karena jika bergabung melawan Junggul Mertalaya pun, mereka berdua belum tentu bisa mengalahkan sang guru besar Padepokan Lembah Iblis itu. Selama puluhan tahun ini, banyak sekali pendekar yang menjadi korban keganasan Junggul Mertalaya hingga tak heran namanya sangat di takuti.


Namun hari ini, seorang pemuda yang usianya tak lebih dari 3 windu dengan penampilan layaknya bukan seorang pendekar tapi lebih kepada seorang bangsawan yang biasanya hanya berilmu rendah, berani mengatakan hal seperti itu. Darah Junggul Mertalaya benar benar mendidih mendengar ucapan Panji Tejo Laksono.


"Bocah tengik !!


Jumawa sekali kau berani mengatakan akan mengajari ku tentang tingginya langit. Saat aku sudah melanglang buana, kau masih ******* di ****** payudara ibu mu bangsat..


Aku ingin melihat bagaimana kau mengajariku dengan kemampuan mu. Kalau kau mampu menahan Ajian Sunyaluri ku, maka aku akan memanggil mu guru", Junggul Mertalaya menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri kokoh di tempat nya.


"Silahkan kakek tua..


Aku tidak akan bergeser sedikit pun dari tempat ku berdiri. Kalau aku sampai bergeser setengah langkah saja, aku akan mengakui keunggulan mu dan menarik mundur pasukan ku dari tempat ini", ucap Panji Tejo Laksono dengan penuh keyakinan.


"Baik ! Kita lihat sampai sejauh mana kemampuan mu. Apa sebesar mulut besar yang kau punya, bocah tengik!", usai berkata demikian Junggul Mertalaya menggerakkan kedua tangan nya ke depan lalu bergerak cepat ke samping kanan kiri pinggang nya. Sebelah tangan kanannya lalu diangkat hingga dahi lalu turun ke depan dada dengan tapak tangan kanan terbuka.


Perlahan seberkas sinar hijau kehitaman menjalar cepat dari kaki Junggul Mertalaya lalu berkumpul di telapak tangan kanannya. Bersamaan dengan angin dingin berdesir kencang memutari tubuh sang guru besar Padepokan Lembah Iblis itu.


Melihat Junggul Mertalaya sudah merapal ajian pamungkas nya, para murid Padepokan Lembah Iblis yang berada di dekat nya segera melompat menjauh. Ini membuat seorang murid yang belum lama bergabung dengan Padepokan Lembah Iblis keheranan dan segera menyusul ke arah kawannya itu.


"Kakang, kenapa kakang malah menjauhi tempat guru? Bukankah kita harus membantunya untuk menghabisi pimpinan prajurit Panjalu itu?", tanya sang murid baru Padepokan Lembah Iblis itu segera.


"Itu adalah Ajian Sunyaluri.. Jangankan lawan yang dihadapi, dalam jarak 50 depa dari ajian itu, semua orang yang tidak memiliki tenaga dalam tingkat tinggi pasti akan ikut terluka dalam.


Aku tidak mau mengambil resiko itu karena tahu apa akibatnya", ujar si murid lama Padepokan Lembah Iblis yang terus bergerak menjauhi tempat pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Junggul Mertalaya.


Melihat Junggul Mertalaya yang sudah merapal ajian andalannya, Panji Tejo Laksono segera bersedekap tangan di depan dada sembari memejamkan mata. Mulut putra sulung Prabu Jayengrana itu segera komat-kamit merapal mantra Ajian Tameng Waja.


'Sira ratuning jalma tan kena ring wisaning sunya. Tan nora tedas papak paluning pande gegaman ring aji joyo kawijayan. Datan tedas badanira karono aji isun Aji Tameng Waja'


Perlahan muncul sinar kuning keemasan yang muncul dari tengah dada dan segera membungkus seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Sinar berhawa sejuk ini menjadi pelindung badan Sang pangeran muda dari Kadiri itu. Sekilas dari kejauhan tampak tubuh Panji Tejo Laksono seperti berubah menjadi kuning keemasan.


Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari yang baru saja membantai seorang anggota Perguruan Gunung Biru dengan pedang es nya, melirik ke arah Panji Tejo Laksono yang berjarak sekitar 50 depa dari tempatnya berada.


Ayu Ratna menghela nafas panjang mendekati Song Zhao Meng yang menatap ke arah Panji Tejo Laksono.

__ADS_1


"Wulan, ini di medan perang. Jangan sampai lengah", ujar Ayu Ratna sembari membabatkan pedang nya pada leher seorang anggota Padepokan Tawang Kencana yang menghalangi jalan nya.


"Aku tidak lengah, Cici Ayu..


Sepertinya Kakak Thee sedang menghadapi lawan yang tangguh. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan nya", sahut Song Zhao Meng sambil melenting tinggi ke udara menghindari tusukan tombak yang mengincar tubuhnya. Seorang anggota Padepokan Tawang Kencana yang mengincar Song Zhao Meng tak menyadari bahwa gadis cantik berbaju hijau gelap yang berbicara dengan Song Zhao Meng kini bergerak cepat ke samping kanan nya dan dengan cepat membabatkan pedang nya ke arah leher.


Chhrrrraaaaaasssshh !!


Kepala anggota Padepokan Tawang Kencana itu langsung menggelinding ke tanah. Tubuhnya pun roboh dan darah segar langsung menyembur keluar dari batang leher nya yang kini sudah tak berkepala.


"Diantara kita, hanya Kangmas Pangeran Tejo Laksono yang paling tinggi ilmu kanuragan nya. Percayalah dia akan baik baik saja ", ucap Ayu Ratna sembari mencoba tersenyum tipis kearah Song Zhao Meng yang baru saja menjejak tanah. Meski sebenarnya dia sangat khawatir, namun dia berusaha mati-matian untuk menyembunyikan kekhawatirannya. Dia takut jika Song Zhao Meng juga tahu bahwa dia juga sedang khawatir, konsentrasi bertarung nya akan buyar ketika menghadapi lawan.


Mendengar ucapan Ayu Ratna, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari hanya menanggapinya dengan senyuman tipis dan anggukan kepala.


"Bocah keparat !!


Kau jangan lupa sampaikan salam ku pada Yamadipati sang Dewa Kematian di neraka. Katakan padanya bahwa aku yang mengirim mu kesana.


Sekarang bersiaplah kau...", ujar Junggul Mertalaya sembari menyeringai lebar menatap buas ke arah Panji Tejo Laksono yang masih juga berdiri di tempatnya. Seluruh telapak tangan kanannya kini di liputi oleh sinar hijau kehitaman sebagai tanda bahwa Ajian Sunyaluri yang menjadi ajian pamungkas nya telah sempurna. Junggul Mertalaya segera menghirup napas panjang dan segera melompat tinggi ke udara sembari berteriak lantang.


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!!"


Tubuh lelaki tua berjanggut putih panjang itu segera meluncur turun ke arah Panji Tejo Laksono. Kepalan tangannya yang berwarna hijau kehitaman langsung menghantam tubuh Panji Tejo Laksono yang kini berwarna kuning keemasan.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr..!!


Ledakan keras terdengar saat kepalan tangan kanan Junggul Mertalaya menghantam dada Panji Tejo Laksono. Ledakan dahsyat itu menciptakan gelombang kejut yang besar hingga beberapa orang pendekar yang sedang bertarung di dekat tempat Panji Tejo Laksono dan Junggul Mertalaya terpental jauh. Debu beterbangan dan asap tebal menutupi seluruh tempat itu hingga menghalangi pandangan mata semua orang.


"Kangmas Pangeran...", teriak Ayu Ratna yang sudah tidak bisa membendung rasa khawatirnya. Putri Adipati Aghnibrata dari Kalingga ini langsung melompat hendak mendekati Panji Tejo Laksono. Namun Song Zhao Meng segera mencekal pergelangan tangan gadis cantik itu.


"Jangan bodoh Cici Ayu..


Kakak Thee akan baik baik saja. Percayalah..", kini ganti Song Zhao Meng yang mengingatkan Ayu Ratna.


"Tapi Wulan, Kangmas Pangeran.."

__ADS_1


"Kakak Thee pasti baik baik saja, Cici Ayu. Lebih baik kita urusi hal lainnya. Kakak Thee tidak perlu kau khawatirkan", ujar Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari sambil menggelandang tangan Ayu Ratna untuk menjauhi tempat itu.


Saat debu dan asap mulai menghilang, sebuah pemandangan yang mengejutkan terlihat. Panji Tejo Laksono masih tegak berdiri di tempatnya setelah terkena hantaman Ajian Sunyaluri milik Junggul Mertalaya. Ajian Tameng Waja benar benar melindungi tubuh nya dari ilmu kanuragan yang menakutkan. Sang pangeran muda putra Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati itu nampak tersenyum tipis melihat ke arah Junggul Mertalaya yang tersungkur di tanah sejauh 4 tombak dari tempat Panji Tejo Laksono berdiri.


Junggul Mertalaya sendiri mendekap dada nya yang sakit luar biasa setelah benturan Ajian Sunyaluri milik nya dengan Ajian Tameng Waja Panji Tejo Laksono. Dia muntah darah segar pertanda menderita luka dalam serius. Mata tua lelaki itu menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono dengan penuh kebencian.


'Uhukkk uhukkk Ajian Tameng Waja..


Ajian pertahanan tubuh tertinggi yang di miliki oleh Prabu Jayengrana. Dia pasti punya hubungan dengan Raja itu. Aku harus mencari cara untuk menghadapi ilmu keparat ini', batin Junggul Mertalaya seraya batuk kecil beberapa kali. Dia segera menoleh ke arah Nyi Simbar Kencana dan Bogang Sarira yang masih belum juga mengalahkan Tumenggung Ludaka dan Luh Jingga.


"Bogang Sarira, Nyi Simbar Kencana..!


Bantu aku hadapi pemuda busuk ini !!", teriak Junggul Mertalaya segera. Dua orang yang di panggil langsung menoleh ke arah Junggul Mertalaya yang terkapar di tanah. Bogang Sarira segera menghantamkan tongkat kayu berujung besi tajam ke arah Tumenggung Ludaka.


Shhrreeettthhh!


Tumenggung Ludaka yang sudah terluka, berjumpalitan mundur menghindari sabetan tongkat kayu berbonggol bulatan sebesar kepalan tangan. Bogang Sarira segera memanfaatkan kesempatan itu untuk bergerak cepat menuju ke arah Junggul Mertalaya.


"Huhhhhh, kau kenapa Ki Junggul?", tanya pendekar cebol itu sambil menyeringai lebar.


"Tutup mulut mu, Sarira !


Bantu aku hadapi pemuda keparat itu. Buat dia sibuk sementara aku menyembuhkan luka dalam ku uhukkk", Junggul Mertalaya kembali batuk darah.


"Hehehehe akhirnya kau meminta bantuan ku juga..


Hari ini kau berhutang nyawa pada ku Ki Junggul. Kelak kau harus membayarnya!", ujar Bogang Sarira yang segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


"Pemuda busuk, sekarang lawan mu adalah aku!!"


Setelah berkata demikian, Bogang Sarira segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang masih mengamankan pergerakan lawan lawannya.


Sementara itu, Nyi Simbar Kencana yang berusaha untuk meninggalkan pertarungan dengan Luh Jingga untuk membantu Junggul Mertalaya, harus kerepotan karena Luh Jingga sama sekali tidak memberi celah baginya untuk nya mendekati guru besar Padepokan Lembah Iblis itu. Serangan pedang putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan ini justru semakin cepat dan berbahaya. Usai menghindari sabetan pedang Luh Jingga yang mengincar batang leher nya, Nyi Simbar Kencana melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Mata perempuan paruh baya namun terlihat seperti gadis cantik berusia belasan tahun ini melotot lebar ke arah Luh Jingga. Dengan penuh amarah, dia mengacungkan pedangnya ke arah Luh Jingga.


"Gadis busuk...

__ADS_1


Apa sebenarnya mau mu ha??"


__ADS_2