
"Tuan Dimas nona. Tadi tuan menitipkan ini untuk nona sebelum pergi. Kata tuan Dimas jika ada yang ditanyakan lagi Nona bisa menghubungi tuan dimas."
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Amara berada di dalam kamarnya duduk bersandar sambil memijat pelipisnya yang terasa sakit.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang." Gumamnya.
Kemudian Amara teringat pada Ardi, akhir-akhir ini Amara merasa ada yang berbeda dengan sikap Ardi mungkin Ardi tau sesuatu. Amara pun menghubungi ardi dan mengajaknya untuk bertemu Ardi pun mau.
Amara segera bersiap-siap memakai celana hitam dan Hoodie oversize berwarna maroon serta kacamata hitam. kemudian menuruni anak tangga.
"Nona mau kemana?" Tanya Ajeng.
"Aku mau pergi sebentar jeng."
"Iya tapi nona mau kemana?"
Amara tidak menghiraukan pertanyaan ajeng. Amara segera menaiki taxi yang sudah menunggunya di depan gerbang.
_
_
Amara menunggu Ardi di sebuah restoran di dekat kantornya.
"Amara.."
"Duduk Ar!"
"Sebenarnya ada apa Amara tumben sekali kamu mengajakku bertemu apa ada hal penting yang ingin kamu tanyakan?"
"Betul sekali. Aku ingin bertanya tentang kak Ray Apa kamu tau sesuatu?"
"Akhirnya yang aku khawatirkan terjadi juga. Amara akan segera mengetahui semuanya." Batin ardi
"Maksud kamu tau apa Amara?"
"Kemarin kak Dimas datang ke rumah untuk mencari kak Ray. Kamu pasti sudah tau kan. Dan kak Dimas bilangโฆ." Amara Pun menceritakan semuanya pada Ardi.
"Jadi setiap hari Ray menerima telepon kemudian pergi setelah menerima telepon itu dan mengatasnamakan Dimas?"
"Iya Ar. Aku nggak mau berpikir negatif tentang kak Ray tapi..siapa yang selalu kak Ray temui hampir setiap malam, Yang dia telepon setiap hari, pagi siang malam. Kalau memang dia laki-laki kenapa sampai seperti itu?"
"Amara aku.."
"Kamu pasti tau sesuatu kan Ar? Kemarin kamu menyuruh mama untuk menghiburku. Lalu menyuruh kak dimas untuk mencari kak Ray ke rumah sedangkan kamu pasti tau kak Ray kemana karena kamu yang bilang sama kak Dimas bahwa kak Ray pergi bersama sekretarisnya. Lalu apa maksud kamu melakukan itu semua. Seolah kamu ingin memberitahu sesuatu lewat mereka iya kan?"
"Amara aku.."
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau memberitahu semuanya tidak apa-apa. Aku akan mencari taunya sendiri." Amara berdiri akan melangkah meninggalkan Ardi dengan cepat Ardi mencekalnya.
"Duduk dulu akan aku beri tahu." Amara pun duduk kembali.
"Aku minta sama kamu jangan sampai Ray tau jika aku yang memberitahumu."
"Iya aku janji. Kamu tenang saja. Cepat katakan!" Ardi merogoh saku celananya dan mengeluarkan amplop kecil berwarna coklat. Ardi sudah menyiapkan semuanya karena Ardi tau Amara pasti akan menanyakan hal ini kepadanya.
"Apa ini?"
"Bukalah!" Amara meraih amplop itu dan akan membukanya tetapi lagi-lagi Ardi mencekal tangannya. Amara menatap Ardi heran
"Apa kamu sudah siap dengan segala sesuatu yang mungkin akan menyakiti hatimu?"
"Bukan urusanmu." Amara menyingkirkan tangan Ardi dan segera membuka amplop itu betapa terkejutnya Amara melihat isi amplop tersebut beberapa foto Ray dan seorang perempuan yang sangat ia kenal. Dunianya seakan hancur rasa sakit yang dulu ia rasakan saat bersama Kevin kini terulang kembali.
Masa Lalu yang sangat menyakitkan kini ia rasakan kembali bahkan lebih menyakitkan lagi. Ray bersama orang yang sangat ia kenal orang yang selalu menjadi tempatnya bercerita orang yang ia percaya menjadi sahabatnya kini telah mengkhianatinya. Amara tidak dapat menahan air matanya ingin rasanya Amara berteriak tapi tidak bisa. Ardi mengerti apa yang dirasakan Amara Ardi menarik tangan Amara dan membawanya pergi. Sepanjang perjalanan Amara hanya menangis Amara juga tidak bertanya mau dibawa kemana dia. Pikirannya kacau hatinya hancur Amara tidak peduli akan dibawa kemana. Tiba-tiba mobil Ardi berhenti di sebuah danau. Amara segera keluar ia berlari menuju tepi danau Amara berteriak menyebut nama Ray.
"Aaaaโฆkamu brengsek Ray. Aku benci kamu!!" Amara jatuh terduduk di atas rumput menangis meraung meratapi kisah cintanya yang selalu dikhianati.
Ardi menghampiri Amara dan duduk di sampingnya.
"Mungkin mereka hanya berteman."
"Oh ya..lalu kenapa kamu mengambil gambar mereka berdua untuk apa?"
Amara menjeda kalimatnya menatap Ardi
"Kamu tau namanya?"
"Itu yang lebih menyakitkan Ar. Angel itu sahabat aku." Amara pun menceritakan awal mereka bertemu hingga bisa menjadi sahabat.
"Aku tidak menyangka ternyata laki-laki yang dimaksud angel adalah suamiku sendiri. Pantas saja Ar kak Ray tidak pernah lagi sarapan di rumah dengan alasan telat. Makan malam pun dia jarang dengan alasan ingin menemani kak Dimas. Kenapa aku sebodoh dan segampang itu dibohongi Ar.. aku memang bodoh.." Amara menunduk dan kembali menangis. Ardi mengelus pelan punggung Amara
_
_
Sudah pukul 19.30 malam tetapi Amara masih belum pulang juga.
Berkali-kali Ray mencoba menghubungi Amara namun tidak ada jawaban.
Ray mondar-mandir di ruang tamu sambil terus menghubungi Amara.
"Jeng apa Amara tidak bilang mau pergi kemana?"
"Tidak tuan nona hanya bilang mau pergi sebentar."
"Kemana dia.."
__ADS_1
"Ceklek"
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok Amara.
"Sayang kamu dari mana saja kenapa baru pulang?"
"Dari rumah mama." Jawabnya singkat sambil terus berjalan
"Aku terus menghubungimu tapi nomor kamu tidak aktif apa kamu.."
"Handphone ku mati." Amara menunjukan handphonenya yang mati di depan wajah Ray. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Handphone Ray berdering menampilkan nama mama ana
"Halo ma.."
"Halo Ray, apa Amara sudah sampai?"
"Sudah ma. Amara baru saja sampai."
"Tadi diantar oleh supir tapi mobilnya mogok di jalan lalu Amara naik taxi syukurlah jika sudah sampai."
"Iya ma."
Ray memasuki kamar ternyata Amara sudah mandi dan berganti baju. Melihat Ray menuju ke arahnya Amara segera membuang muka
"Sayang..tadi mama telepon menanyakan kamu sudah sampai apa belum. Kalau aku tahu kamu disana aku pasti menyusul dan kita akan menginap disana."
"Hmm iya. Aku ngantuk aku tidur duluan ya kak. Kak Ray juga cepat tidur." Amara membaringkan tubuhnya.
"Selamat tidur ya sayang mimpi yang indah." Ucapnya kemudian mencium kening Amara. Ray ikut berbaring di sampingnya beberapa menit kemudian handphone Ray berdering panggilan masuk dari angel. Amara yang hanya berpura-pura tidur bisa melihat tulisan yang tertera di layar handphone Ray. Ray melihat Amara sebelum menjawab teleponnya.
"Iya angel... ada apa?"
"(....)"
"Apa? Kamu sakit?"
"(.....)"
"Oke aku kesana sekarang." Dengan sangat buru-buru Ray berganti pakaian lalu pergi begitu saja. Amara menangis melihat suaminya yang begitu panik saat mendengar bahwa angel sakit.
"Begitu khawatirnya kamu sama dia. Apa dia begitu penting bagimu." Gumam Amara hatinya bergemuruh diselimuti rasa sakit.
_
_
Pagi harinya
Amara sudah bangun namun dia enggan untuk kemana-mana kebetulan hari ini juga hari Minggu Ray juga belum bangun. entah jam berapa Ray pulang Amara sudah tidur dan Amara pun tidak peduli lagi.
__ADS_1
๐๐๐Bersambung gaess ๐๐๐