Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 82 : Tragedi di monas


__ADS_3

"Nggak, aku nggak mau." Kevin mendorong Farah hingga terjatuh kemudian pergi meninggalkan Farah yang menangis meraung-raung.


"Kevin.." teriak Farah yang terduduk di lantai.


Kevin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi perasaannya sudah campur aduk. Kevin benar-benar sudah ditipu bukan hanya ditipu namun juga dihancurkan hidupnya. Seharusnya dia bisa hidup bahagia dengan Amara wanita yang ia cintai. tapi Semua hancur begitu saja karena kehamilan palsu Farah.


"Vin..gue tau Lo lagi galau tapi jangan kayak gini juga. Gue belum nikah beg*." Kevin menghentikan mobilnya mendadak.


"Citttt"


Decit suara ban mobil Kevin karena berhenti mendadak.


"Lo udah gila ya Vin? Kalau Lo pengen mati jangan ngajak-ngajak gue dong, anjir Lo."


"Gue nggak nyangka gue udah ditipu Farah mentah-mentah."


"Terus apa rencana Lo sekarang?"


"Bokap harus tau soal ini. Dan gue akan ceraiin Farah, gue yakin kalau Amara tau Farah itu nggak hamil dia pasti mau kembali sama gue."


"Lo gila Vin, kenapa sih Lo masih aja mikirin Amara. Amara sudah bahagia dengan Ray. Jadi please jangan ganggu mereka lagi."


"Tau apa Lo tentang Amara, Amara itu nggak bahagia dengan Ray. Dia itu cintanya sama gue. Dia mau sama Ray karena dia sakit hati sama gue, dia cuma pengen bikin gue sakit hati. Jadi please jangan halangen gue buat kembali sama Amara." Kevin tetep berpikir jika Amara masih mencintai dirinya.


"Gue nggak tau lagi dengan cara berpikir Lo, kenapa Lo bisa yakin banget Amara itu masih cinta sama Lo. Sadar Vin sadar buka mata Lo dia udah bahagia dengan Ray."


"Lo yang harusnya sadar." Bentak Kevin 


"Harusnya Lo tuh dipihak gue, dukung gue bukan Ray. Lo tuh sahabat gue. Nggak seharusnya Lo dukung Ray yang udah nikung gue, menghianati gue."


"Lo salah. Ray nggak pernah menghianati Lo. Ray masuk dalam kehidupan Amara setelah Lo putus dengan Amara. Jadi dia nggak salah."


"Jadi Lo lebih  belain dia?"


"Gue nggak belain siapa-siapa. Kalian itu sahabat gue. Gue berkata sesuai kenyataannya. Dan kenyataannya sekarang mereka sudah menikah. Mereka sudah bahagia. Lo nggak mau kan disebut sebagai pebinor?"


"Gue nggak peduli."


"Serah Lo Vin gue capek ngomong sama Lo. Minggir biar gue yang nyetir." Dimas berganti posisi untuk menyetir.


_


_


"Ajeng…ajeng.." panggil amara


"Iya non.."


"Ajeng kamu mau nggak aku ajak lihat Monas?"


"Monas non? Mau non mau banget. Dari dulu saya pengen banget bisa ke Jakarta terus lihat Monas."


"Iya saya tau. Udah sana kamu siap- siap. Jangan lama-lama ya."


"Iya non." Ajeng terlihat sangat bersemangat. Amara sengaja mengajak Ajeng ke Monas Amara tau pasti Ajeng juga ingin sekali melihat monas. karena Amara dulu juga begitu jika ia kejalarta ia ingin melihat Monas. Dan orang pertama yang mengajaknya ke Monas adalah Kevin.


"Saya sudah siap non." Ajeng memakai celana jeans dan kaos lengan pendek dan sepatu santai biasa.


"Ya udah yuk. Taxinya sudah di depan."


Amara sudah memberitahu Ray tentang ajeng. Amara juga sudah meminta izin Ray untuk mengajak Ajeng jalan-jalan ke Monas. Ray dan keluarganya sudah menganggap bi jumi keluarga sendiri makanya begitu bi jumi bercerita jika keponakannya mau bekerja sebagai art mama ana langsung memberitahu Amara.


Mama ana yakin BI Jumi pasti bisa dipercaya dan BI Jumi pasti tidak sembarangan memasukan orang ke dalam keluarnya Jadi wajar saat Amara meminta izin untuk mengajak Ajeng jalan-jalan Ray langsung mengizinkan.


_


_


Amara dan Ajeng telah sampai di Monas atau Tugu Monumen Nasional. Yang terletak di tengah lapangan Medan Merdeka Jakarta pusat.


"Wah..aslinya bagus banget ya non. Emas nya besar sekali. non itu emas asli atau bukan ya non?"


"Kamu sama sepertiku dulu waktu pertama kesini lucu. Ayo kita masuk." Amara dan ajeng memasuki tugu Monas. di lantai bawah Monas terdapat museum sejarah monumen nasional hanya dengan membayar Rp15.000 saja  per orang pengunjung sudah dapat menikmati keindahan museum sejarah di lantai dasar tugu. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. 

__ADS_1


Raut wajah bahagia terpancar di wajah manis Ajeng. 


"Kamu seneng?"


"Seneng banget non." 


Amara dan Ajeng mengelilingi museum yang luasnya 80x80 meter persegi. Setelah puas Amara mengajak Ajeng naik ke atas menara dengan menambah uang sebesar Rp 5000 saja perorang. Ajeng sangat takjub dengan keindahan gedung pencakar langit apalagi ini bukanlah weekend jadi tidak perlu mengantri panjang untuk sampai di atas menara.


Setelah hampir seharian menjelajahi Monas Amara dan Ajeng merasa lapar karena waktu juga sudah sore.


"Aku lapar jeng, kamu lapar nggak?"


"Sama non, saya juga lapar."


"Kita cari makan yuk." Ajeng dan Amara keluar dari Monas dan mencari makanan di sekitar area yang khusus untuk kuliner.


Pilihan mereka pun jatuh pada soto Betawi kaki lima.


"Seger banget ya non."


"H.m seger banget. Eh kamu umur berapa sih jeng?"


"Saya dua puluh non. Kalau non sendiri?"


"Aku dua puluh empat tahun jeng."


"Nggak beda jauh kita ya non. Bedanya non cantik banget. Kalau suami nona umur berapa?"


"Suamiku umur dua puluh sembilan jeng hampir tiga puluh."


"Oh ya..tapi kaya seumuran dengan nona. Ganteng sih." Amara tersenyum


"Kamu tuh orangnya blak-blakan banget ya?"


"Hehe…maaf non."


"Oh ya kamu sudah punya pacar? belum non saya tidak mau pacaran takut saya non."


"Takut sama siapa?"


"Hebat kamu."


_


_


"Lo ngapain sih Vin dari pagi kita kesini sampai sekarang Lo cuma muter-muter, ngedumel, marah-marah nggak jelas Lo."


"Berisik Lo. Dari tadi gue udah nyuruh Lo pulang tapi Lo nggak mau.


"Ini adalah tempat pertama kali gue kencan sama Amara saat kita sudah menjadi pasangan kekasih. Dia happy banget dim."


"Jadi Lo.." Dimas merasa geram dan frustasi mengingatkan Kevin berkali kali tapi tidak berhasil.


"Terserah Lo Vin, gue mau pulang." Dimas berjalan mendahului Kevin.


"Oke..kita pulang. Kayak cewek Lo baperan."


"Bodo amat."


_


_


"Ar kita ke Monas ya.." ucap ray saat sudah di dalam mobil akan pulang.


"Ngapain Ray kita ke Monas?"


"Gue mau jemput Amara, Amara lagi ngajak Ajeng jalan-jalan ke Monas."


"Gue kira Lo pengen lihat Monas."


"Sialan Lo emang gue orang kampung."

__ADS_1


"Berarti istri Lo orang kampung dong?"


"Kan emang iya Lo lupa?"


"Maksud gue berarti Lo ngatain istri Lo kampungan dong?"


"Sialan Lo, Lo tuh yang ngatain istri gue. Sekali lagi Lo ngatain Amara gue sumpel mulut Lo." Ardi hanya tertawa melihat bos sekaligus saudaranya itu kesel.


Tiga puluh menit mereka telah sampai di Monas.


"Ayo turun." Ajak Ray


"Kita masuk nih Ray? Amara aja deh suruh kesini."


"Kalau Lo masih mau disini terserah, gue mau turun."


"Benar-benar baperan Lo Ray." Teriak Ardi karena Ray sudah berjalan mendahuluinya.


_


_


Amara melihat Ajeng yang terlihat sangat bahagia melihat air mancur. Ajeng memainkan air seperti anak kecil yang baru melihat air.


"Non bagus banget ya.."


"Kalau malam Minggu lebih bagus jeng."


"Oh ya..beda ya non?" Amara mengangguk.


"Andai aku bisa kesini malam-malam oh…senangnya."


"Ya udah nanti kamu kesini saja sama pacarmu kalau sudah punya pacar." Goda Amara


"Amin…" kemudian mereka tertawa


"Ya udah ayo pulang. Suamiku udah jemput."


"Iya non." Amara dan Ajeng berjalan sambil bercerita seperti orang yang sudah kenal lama. Saking asyiknya mereka bercerita hingga tidak sengaja Amara menabrak seseorang hingga terjatuh. Beruntung seseorang itu dengan sigap menangkap tubuhnya hingga tidak jadi jatuh.


"Kevin.." lirih Amara. Kevin tersenyum tidak menyangka dia bisa bertemu Amara disini. Dan keberuntungan berpihak padanya Kevin bisa menyentuh Amara kembali meski ini sebuah kecelakaan. Ya..kecelakaan dimana dia menabrak Amara. Posisi saat ini Kevin memeluk Amara yang hampir terjatuh.


"Amara" teriak Ray dengan suara lantang dengan tatapan tajam. Kemudian mereka berdiri.


"Kak Ray.." gumam Amara. Wajahnya pucat seketika Amara takut Ray salah paham dengannya.


"Bugh"


Tanpa ba-bi-bu Ray melayangkan bogem mentah di wajah Kevin. Membuat Kevin jatuh tersungkur.


"Kak Ray udah.." teriak Amara dengan suara panik. Ray akan kembali memukul Kevin tapi Ardi memeluknya dari belakang Dimas pun membantu Kevin berdiri.


"Ray udah Ray! Lo jangan bikin keributan disini."


"Lepas Ar gue mau bikin perhitungan dengan bajingan ini." Ray masih tidak mau melepaskan Kevin. Ray melepas tangan Ardi kasar.


"Kak..udah kak jangan seperti ini. Ini semua nggak seperti yang kak Ray lihat." Amara mencekal tangan Ray. Yang membuat Ray semakin emosi. Ray menganggap Amara membela Kevin ditambah lagi Amara memanggilnya kak bukan sayang.


"Urusan kita belum selesai." Tunjuk Ray pada Kevin. Kevin justru tersenyum miring.


Ray beralih menatap Dimas. " Lo juga." Ucapnya kepada Dimas.


"Ray Lo salah paham. Ini nggak seperti yang Lo pikir."


"Ayo pulang!" Ray menarik tangan Amara kasar


"Sakit kak.." Ray tidak peduli Amara yang kesakitan dia tetap menarik tangan Amara.


Ajeng terlihat kebingungan harus bagaimana melihat pertengkaran bosnya.


"Lo siapa?" Tanya Ardi kepada Ajeng.


"Saya Ajeng pak."

__ADS_1


"Ayo pulang." Ajeng berjalan di samping Ardi. Dan sesekali berlari kecil mensejajarkan langkah kaki Ardi yang panjang.


*Hay gaees..terimakasih yang sudah mendukung kisah cinta Amara semoga sehat selalu dan rejekinya lancar . jangan lupa untuk like dan komennya ya. yang belum favorit jangan lupa difavoritkan ya. dan beri hadiah juga🥰🥰🥰


__ADS_2