Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 31: l Love You Amara


__ADS_3

Setelah mendapatkan aksesoris masing masing. Amara kembali menarik Ray untuk menaiki wahana biangLala.


"Kak aku mau naik itu!"


"Oke! Siapa takut." Setelah membeli karcis mereka mulai memasuki biangLala tersebut. Sebenarnya Ray takut ketinggian tapi demi Amara Ray rela menaikinya.


Ray memilih duduk disamping Amara.


"Kakak tuh harusnya duduknya disana. Coba kakak lihat semua duduknya berhadapan."


" Kenapa harus meniru orang lain? Jadilah diri sendiri tidak perlu mencontoh orang lain. Lagian aku pengen duduk disamping kamu lebih nyaman." 


"Iya iya terserah kak Ray."


Amara sangat menikmati pemandangan dari atas lampu lampu kota terlihat sangat indah.


" waah.. lihat kak bagus banget ya kalau dilihat dari atas. Ray tidak berani melihat ke bawah. Jangankan melihat kebawah saat bianglala mulai naik saja jantungnya serasa mau copot. Ray menggenggam erat tangan Amara. Amara merasakan tangan Ray sangat dingin. 


" Kak Ray nggak papa? 


"Nggak kok! Aku nggak papa."


"Tapi tangan kak Ray dingin banget loh."


"Aku hanya kedinginan!"


Amara menggosok gosokan tangannya lalu memegang tangan Ray kemudian kedua pipinya.


"Apa lebih baik?"


Ray meraih kedua tangan Amara yang ada di pipinya dan mencium tangan itu.


"Sangat baik. Ketika aku bersamamu semuanya menjadi baik. Meski sesuatu yang besar terjadi kepadaku semua pasti akan baik baik saja jika ada kamu disampingku." Kata kata Ray mampu menggetarkan hatinya dan membuatnya membeku untuk beberapa saat. Namun sedetik kemudian Amara menarik tangannya kasar dan mengalihkan pandangannya ke samping.


Bianglala terus berputar hingga di putaran terakhir tepat di posisi paling tinggi bianglala mengalami kerusakan dan berhenti berputar. Lampu besar yang menerangi bianglala tiba tiba mati.


"Aaaaa…" jerit para pengunjung yang menaiki bianglala.


"Mama aku takut..hiks hiks hiks."


Suara tangisan dan jeritan anak anak 


Membuat Amara panik dan bingung Amara ketakutan dan menutup kedua telinganya namun suara itu terus berputar putar memenuhi otaknya.


"Nggak..nggak..aaaaa.." Amara menggeleng gelengkan kepala dan menjerit.


"Amara kamu kenapa? Amara..lihat aku! Kamu kenapa?" Ray panik melihat Amara seperti itu. Ray mencoba menenangkan Amara.


Ray memeluk Amara dan mendekapnya. Menyembunyikan wajah Amara di dada bidangnya.


" Tenang sayang. Jangan takut ada aku." Amara menangis dalam dekapan Ray.


Cukup lama kerusakan itu terjadi. hingga setengah jam barulah lampu menyala dan bianglala bisa berputar kembali.


Ray terus menggandeng tangan Amara.


Meski Amara sudah tenang tapi Ray tidak mau melepas genggaman tangannya.


Dengan pelan Ray membantu Amara untuk turun dari biangLala.


Setelah turun Ray mengajak Amara duduk di mobil dan memberikannya minum.


"Apa sudah lebih baik?" Amara mengangguk. Ray menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Amara dan mengelus kepalanya pelan.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat apa kamu mau?


"Kemana lagi?"

__ADS_1


"Aku akan menunjukan kamu pemandangan yang luar biasa kamu pasti suka."


Ray pun melajukan mobilnya menuju tempat tersebut. butuh waktu dua jam perjalanan untuk sampai kesana karena jalanan sedikit macet. Sedangkan Amara tertidur karena lelah. Ray menyandarkan kepala Amara di pundaknya agar tidurnya terasa nyaman. Sesekali Ray mengelus kepala Amara dengan tangan kirinya.


Sesampainya ditempat tujuan dengan pelan Ray membangunkan Amara.


"Amara sayang..bangun! Kita sudah sampai." Ray mengelus pipi Amara


"Emmh..kita sudah sampai kak?"


"Iya cepat bangun! Lihat! kita sudah ditunggu."


Mereka pun keluar dari mobil. Saat sudah benar benar keluar dari mobil Amara tercengang disuguhkan dengan gedung megah pencakar langit yang entah ada berapa lantai. Bertuliskan "Henshin The Westin Hotel."


"Hotel?" Amara takjub sekaligus kaget Ray mengajaknya ke hotel. Amara mulai gelisah.


"Ayo kita masuk!" 


"Ma..masuk?"


"Iya! Kenapa?"


"Ta..tapi kenapa di hotel?" Ray hanya tersenyum dan menggandeng tangan Amara untuk masuk.


Setelah melakukan reservasi Ray mengajak Amara menuju lantai 67 dimana akan menjumpai bar dan lounge. Dari sana pengunjung bisa melihat pemandangan sunset yang indah dari balik dinding kaca jika di sore hari. Namun jika di malam hari suasana akan semakin romantis dengan taburan bintang dilangit. Dan lautan cahaya dari kendaraan dan gedung pencakar langit di sekitar The Westin Hotel. Karena tempatnya berada di rooftop bar maka semua keindahan terlihat jelas dari sana.


Sungguh Amara benar benar tercengang dengan keindahan yang disuguhkan.


Seumur hidup baru pertama kali Amara menginjakan kakinya di hotel mewah seperti ini. Keindahan yang sangat luar biasa Amara bahkan tidak mampu untuk berkata kata.


Ray menggenggam tangan Amara. 


"Ayo duduk dulu! Apa kamu suka?"


" Ini luar biasa! Aku belum pernah memasuki hotel semewah ini."


"Apa? Maksudnya?"


"Mau makan apa?"


"Kak Ray saja yang pesan aku bingung."


Ray pun memesankan makanan untuk mereka berdua. 


_


Sambil menunggu makan mereka melakukan obrolan ringan.


"Kak! Aku malu!"


"Hem? Malu kenapa? Apa kamu malu pergi bersamaku?" Ray memicingkan matanya


" Bukan itu! Kakak lihat pengunjung yang lain. mereka semua memakai pakaian yang bagus dan mahal sedangkan aku?" Ujar Amara lesu dan menundukan kepala. Ray mengangkat dagu Amara agar melihatnya.


"Hey..kenapa harus malu? Disini tidak ada peraturan harus mengenakan baju apa. Jadi kamu tidak perlu malu." 


"Tapi kak. Mereka semua melihat ke arahku terus.


"Itu karena kamu cantik."


"Ih kak Ray nyebelin."


"Hahaha.." Ray tertawa


Setelah selesai makan Ray berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan pada amara.


"Kemana?" Tanya Amara bingung

__ADS_1


"Aku punya kejutan untuk kamu."


Ray menuntun Amara untuk berdiri di dekat dinding kaca. Dalam hitungan ketiga kembang api menyala bertuliskan I Love You Amara. Entah bagaimana caranya Ray bisa mengatur sedemikian rupa. (Bukan Ray sih yang mengatur Ray hanya membayar hehe🤣)


Amara menutup mulutnya tidak percaya bahwa ini nyata.


Tiba tiba Ray berlutut memegang kedua tangan Amara.


"Amara Andini jika aku harus memilih, antara nafas dan cinta.maka aku akan memilih nafas terakhir untuk mengatakan Aku mencintaimu.


Amara Andini bersediakah kau menemaniku dalam suka maupun duka?


Dan menjadi ibu dari anak anakku?


Pengunjung yang lain ikut berdiri dan menyemangati Ray.


"Terima..terima.." suara riuh para pengunjung.


Amara menitihkan air mata haru sekaligus bahagia. tidak menyangka Ray menyiapkan semua ini untuknya.


"Iya! Aku bersedia."


Dengan mata berkaca kaca ray berdiri dan memeluk Amara.


"Terima kasih sayang. terimakasih kamu sudah bersedia menjadi bagian hidupku."


Berkali kali Ray mencium puncak kepala Amara.


Suara tepuk tangan pengunjung menjadi saksi cinta mereka berdua.


_


_


Karena sudah larut malam Ray mengajak Amara untuk menginap disana.


Ray memesan satu kamar dengan Amara. Ray memberitahu Amara jika mereka tidur di kamar yang berbeda harganya akan dua kali lipat lebih mahal dan persyaratan yang cukup banyak. karena Amara baru pertama menginap di hotel mewah Amara pun percaya. sebenarnya bukan hanya hotel mewah. hotel apapun Amara belum pernah menginap.


Amara berdiri menghadap dinding kaca dikamar itu. hatinya gelisah dan gugup.


Ray datang dan memeluk Amara dari belakang.


"Sedang apa?"


"Eh..kak Ray bikin aku kaget saja. aku hanya melihat pemandangan." Ray membalikan tubuh Amara untuk menghadapnya.


"Apa tadi masih belum puas?" tanya Ray sambil satu tanganya berada di pipi Amara dan mengelusnya


"Tidurlah sudah malam. pagi pagi kita harus cekout. aku harus menemani pak Antoni meeting." Amara mengangguk.


"Jangan khawatir aku akan tidur di sofa."


"emuach.." Ray mencium kening Amara


tak butuh waktu lama mereka berdua telah mengarungi mimpi indah bersama.


**Hay gaess jangan lupa:


*like


* komen dan


* vote


***Happy Reading🥰🥰***


 

__ADS_1


__ADS_2