
"2 tahun lama juga ya nona. Terus kenapa nona tidak menikah dengan pacar nona itu? Ops.." Ajeng menutup mulutnya lupa kalau dia telah lancang. "Eh maaf nona saya lancang..saya bawa makanannya ke ruang tamu ya nona..ibu.."
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Amara membuatkan secangkir kopi untuk Ray kemudian pergi ke kamar. Ternyata Ray sudah bangun dan sedang menghubungi seseorang.
"Sayang…" Amara memeluk Ray dari belakang. Kemudian Ray mematikan sambungan teleponnya dan berbalik.
"Sudah selesai masaknya?"
"Sudah. Kak Ray kok sudah bangun. Terus tadi telepon siapa kenapa dimatiin?"
"Telepon Ardi sayang.." gamas Ray mencubit hidung mancung Amara.
"Aaa…sakit kak. Nanti kalau hidungku pesek kak Ray harus tanggung jawab."
"Gampang. Aku akan buat hidungmu lebih mancung lagi seperti Pinokio juga boleh."
"Dasar sombong.."
"Eh..berani ya kamu ngatain suami sendiri sombong."
"Sombong week😛.." Amara menjulurkan lidahnya kemudian berlari lalu ray mengejarnya Ray menggelitik pinggang Amara.
"Ampun kak ampun...geli." Amara hampir menangis karena kegelian. Kemudian Ray menyudahinya.
"Ayo mandi.."
"Iya aku duluan ya.."
"Mandi bareng."
"Mandi bareng gimana tempatnya saja begitu."
"Huft..aku lupa. Aku ingin merenovasi rumah bapak."
"Tidak usah kak. Ibu dan bapak pasti tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena mereka tidak punya uang."
"Kan tadi aku bilang aku..berarti uang aku dong."
"Tetap saja tidak akan mau. Ibu sama bapak itu tidak bisa menerima uang dari orang secara cuma-cuma apalagi renovasi rumah pastikan tidak sedikit uangnya."
"Kalau kamu yang bilang itu tabungan kamu apa bapak dan ibu mau?"
"Nah kalau itu aku yang tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Udah ah aku mau mandi. Aku duluan ya suamiku sayang…"
_
_
Semuanya sudah berkumpul di ruang tamu untuk sarapan bersama. Kenapa di ruang tamu karena pak Hasan tidak mempunyai ruang makan. Jadi mereka makan lesehan di ruang tamu.
__ADS_1
"Assalamualaikum.." ucap ardi dan Bagas
"Waalaikumsalam.." jawab semuanya
"Kak Ardi, Bagas! Kalian kok ada disini? Ayo masuk." Ucap Amara
"Iya kami menyusul pak Ray ada hal penting yang harus kami kerjakan." Amara manggut-manggut
"Ayo nak sarapan bareng kami..ibu ambilkan piringnya ya."
"Biar ajeng saja Bu."
"Iya Bu terimakasih."
Mereka pun sarapan bersama dengan obrolan-obrolan kecil.
_
_
"Bagaimana Ardi Bagas apa semuanya sudah siap?"
"Sudah pak Ray saya juga sudah menemui kepala desa juga polisi untuk datang kesini langsung kemudian kita ke TKP." Jawab Bagas.
"Gue juga sudah menyiapkan surat-suratnya Ray. Lo tenang saja."
"Bagus! Kalau semuanya berhasil ada bonus untuk kalian." Kemudian Ray memanggil pak Hasan dan ibu Jumiati juga amara. dan Ray menceritakan rencananya kepada mereka.
"Nak..bapak kan sudah tua. Bapak sudah ikhlas nak."
"Tapi Ray dan Amara yang tidak ikhlas pak. Iya kan sayang."
"Iya pak. Bertahun-tahun paman mengambil hak kita. Sampai kita tidak punya apa-apa bahkan untuk makan saja kita kesusahan pak." Jawab amara
"Mungkin ini memang saatnya pak. Amara sudah menikah dan mungkin sebentar lagi akan mempunyai momongan apa kita akan seperti ini terus pak. Kasihan cucu kita nanti." Sahut ibu Jumiati.
"Sebentar lagi polisi dan kepala desa juga perangkat desa lainya akan datang pak."
Dan benar saja beberapa saat kemudian bapak kepala desa datang bersama perangkat yang lain selang beberapa menit satu mobil polisi juga datang.
Seperti biasa tetangga Amara pada kepo mereka saling bergerombol Melihat di depan rumah.
Kemudian semuanya mendatangi rumah pak Hashim.
Saat kepala desa mengetuk pintu Mala yang membukanya dan betapa terkejutnya Mala melihat kepala desa bahkan polisi datang ke rumahnya. Bahkan keluarga Amara juga datang.
"Selamat pagi Bu Mala.."
"Pagi pak..ini ada apa ya pak kenapa ada pak polisi juga?" Wajah rosmala berubah pucat ia takut jika datangnya polisi ada hubungannya dengan kejadian pertengkaran kemarin.
"Boleh kami masuk dulu Bu?"
"Si..silahkan pak." Ray dan Amara menyunggingkan senyum remeh kepada Mala.
"Pak Hashim nya ada Bu?"
"Sebentar pak biar saya hubungi."
"Silahkan." Mala pun menghubungi suaminya Hashim bukan hanya suaminya tetapi juga putri anaknya.
Beberapa menit kemudian pak Hasyim dan putri datang.
"Assalamualaikum.."
__ADS_1
"Waalaikumsalam.."
"Mas…" Mala langsung menghampiri anak dan suaminya pak Hasyim memeluk pundak Mala agar istrinya tenang.
"Ada apa ini pak lurah?"
"Silahkan duduk pak Hasyim. Kedatangan kami kesini untuk meluruskan dan mengambil hak pak Hasan yang kata beliau tidak anda berikan.
"Mas. Kamu jangan fitnah ya. Saya tau dari dulu kamu memang tidak suka melihat saya sukses." Tunjuk Hasyim kepada Hasan.
"Anda bilang anda adalah orang yang berpendidikan. Anda juga selalu ingin dihormati lalu bagaimana cara anda menghormati kakak sekaligus pengganti ayah anda?" Jawab Ray santai
"Diam kamu! Saya tidak punya urusan denganmu. Kamu itu bukan siapa-siapa jadi jangan ikut campur urusan saya."
"Urusan keluarga istri saya adalah urusan saya. Pak Hasan adalah bapak mertua saya jadi siapapun yang menyakitinya akan berhadapan dengan saya."
"Sombong sekali kamu bocah kemarin sore."
"Hem..apa anda tidak pernah berkaca bagaimana anda?"
"Kurang ajar!" Kemudian pak Hasyim berdiri dan mencengkram kerah baju Ray. Bahkan tangannya mengepal akan meninju Ray. Polisi dan pak lurah mencekal tangan pak hashim.
"Anda jangan berbuat rusuh pak Hashim kami datang kemari dengan baik-baik. Anda bisa masuk penjara atas perbuatan anda ini."
"Hemm.." lagi-lagi Ray tersenyum meremehkan " Silahkan jika mau memukul saya. Saya tidak akan melawan tapi saya pastikan satu pukulan saja anda akan menjadi gelandangan." ancam ray
"Mas..aku tidak mau menjadi gelandangan."
"Iya pa aku juga." Pak Hasyim pun menurunkan tangannya.
"Kali ini kamu aku lepaskan tapi tidak lain kali."
"Saya tunggu saat-saat itu PAMANKU." Ray sengaja menekan kata pamanku yang membuat Hasyim merasa sangat sakit hati.
"Baik. Kalau itu yang kalian mau. Sekarang katakan mas bagian mana yang harus aku berikan untukmu?"
"Hasyim mas minta maaf tapi mas juga punya anak. Dan sekarang Amara sudah menikah dan mungkin sebentar lagi dia akan.."
"Tidak usah bertele-tele cepat katakan berapa?"
"Jaga bicara anda dengan bapak saya." bentak Ray. Membuat semua orang kaget dan takut. Termasuk kedua polisi itu karena polisi itu sudah tau siapa Ray sebenarnya.
"Tenang pak Ray tenang.." ucap pak lurah
"Pak Hashim tolong jangan seperti ini."
"Saya mau semua hak bapak dikembalikan." Ucap Amara dengan suara lantang.
"Baik kita langsung saja membagi mana saja yang termasuk bagian pak Hashim dan mana bagian pak Hasan untuk mempermudah dan mempercepat proses kita langsung ke sawah sekarang." Mereka semua menuju area persawahan menggunakan mobil.
Mereka langsung melakukan pengukuran dan pembagian disana. Setelah semuanya dibagi Ray menyerahkan surat pernyataan hitam diatas putih dengan materai yang menyatakan jika pak Hashim masih mengganggu keluarga pak Hasan maka pak Hasan akan menuntut dan meminta seluruhnya peninggalan orang tua pak Hasan karena pak Hasan lah yang menanggung dan merawat kedua orang tua mereka ketika masih ada.
Hashim tidak berkutik selain mengikuti semua keinginan Ray. Hashim pun menandatangani semua berkas dan pernyataan yang telah diberikan.
Semuanya selesai tinggal menunggu sertifikat atas nama pak Hasan yang sedang dalam proses. semuanya telah pergi kecuali pak Hashim Ray Bagas dan Ardi yang masih di sawah.
"Saya tidak menyangka kamu berani melakukan ini kepada saya." Ucap pak Hashim.
"Sudah saya katakan jangan bermain-main dengan saya. Jika anda masih bermain-main dengan saya. Bukan hanya harta anda yang akan hilang tapi semuanya." Kemudian Ray pun pergi.
"Sebaiknya pak Hashim tidak melakukan apapun lagi atau anda akan menyesal pak. Saya permisi." Ucap Bagas.
🌺Hay gaesss selalu dukung "kisah cinta Amara" like, komen dan vote sebanyak banyaknya dan berikan hadiah juga agar author semakin bersemangat dalam berkarya.
__ADS_1
Yang belum favorit silahkan di favoritkan agar setiap up ada notifikasi di handphone kalian 🥰🥰🥰
Salam manis dari author termanizzzz love you all❤️❤️❤️