
Mike dan Gery bersiap untuk cek out dari Ritz-Carlton hotel.
Sebenarnya tidak ada yang mereka siapkan karena mereka tidak membawa barang apapun. Tetapi menyiapkan diri terutama Mike yang dari tadi bolak balik bercermin dan menyemprotkan parfum di tubuhnya.
"Mike mau kamu habiskan semua parfum itu, kamu sudah sangat wangi Mike aku saja sampai pusing mencium baunya."
"Tau apa kamu soal dandan perempuan itu suka cowok yang wangi."
"Iya tapi kalau berlebihan juga tidak baik."
"Nanti kamu pulang dengan anak dan ibu mertuaku, aku mau berduaan dengan Amara."
"Tapi kalau mereka menolak??"
"Itu tugasmu untuk membujuk mereka."
"Siap boss."
"Sudah ayo kita temui mereka, jangan sampai mereka menunggu terlalu lama."
"Dasar bucin." Ejek gery
_
_
Amara dan ibunya sudah siap untuk pulang, mereka menunggu Mike di kamar. Namun Amara mondar-mandir dan gelisah.
"Coba kamu telepon nduk mungkin nak Mike belum bangun."
"Nggak ah Bu nanti dia marah."
"Kalau begitu kamu diam jangan mondar-mandir terus ibu pusing melihatnya."
"Amara kan harus kerja Bu kalau Amara telat nanti Amara dipecat."
Tak berselang lama mike datang.
"Selamat pagi sayang..pagi Bu." ucap Mike menyalami tangan ibu Jumiati kemudian beralih kepada jesen yang berada di gendongan ibu Jumiati.
"Pagi jagoan, sudah siap untuk pulang."
"Sudah pa."
"Baiklah kita pulang sekarang. Ibu sama jesen pulang bareng om Gery ya biar papa sama mama."
"Nggak mau, jesen mau ikut papa sama Mama aja."
"Gery tersenyum tipis."
"Y udah jesen pulang sama mama dan papa."
"Yeee..ayo pa kita pulang."
"Ibu sama nak Gery saja kalau begitu, boleh kan nak Gery?"
"Dengan senang hati Bu."
__ADS_1
Amara hanya diam tidak mengucapkan apapun, dia sedang mencemaskan pekerjaannya bagaimana jika dia terlambat mbak Lusi pasti akan menghukumnya atau bahkan dia akan dipecat.
_
_
"Sayang kamu kenapa diam saja?" Tanya Mike di dalam mobil.
"Aku bingung Mike, gimana dengan kerjaan aku semantara kita sekarang masih dijalan."
"Sayang kamu nggak usah kerja lagi ya, kamu akan menjadi istriku semua kebutuhan kamu, jesen juga ibu menjadi tanggung jawabku."
Seketika Amara teringat dengan kata-kata Ray dulu. Ray juga mengatakan itu padanya tapi kenyataannya Ray justru menjadikan itu sebagai alasan setiap kali mereka bertengkar."
"Nggak!! Aku nggak mau berhenti kerja, aku nggak mau suatu saat itu akan menjadi bumerang untukku meski nanti kita sudah menikah aku tetap mau bekerja aku mempunyai 2 orang yang harus aku perjuangkan Mike." Jesen menatap Amara dan Mike bingung.
"Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu bekerja."
"Aku tidak peduli aku akan tetap bekerja."
"Amara aku bisa memberikan segalanya untukmu, apalagi yang kamu inginkan."
"Kamu nggak ngerti Mike, kamu nggak ngerti perasaan aku gimana. Kamu nggak pernah di posisiku. Dulu dia juga mengatakan hal yang sama sebelum kita menikah tapi setelah menikah justru itu menjadi alasannya untuk selalu menindasku. Aku nggak mau itu terjadi lagi Mike. Cukup sekali aku merasakan semua itu aku nggak mau membuat ibu merasakan hal yang sama untuk yang kedua kalinya."
Mike menepikan mobilnya lalu berhenti
"Jadi ini semua karena mantan suamimu, apa kamu masih mencintainya??"
"Mike bukan itu maksudku, kenapa kamu tidak mengerti juga."
"Bukan itu maksudku Mike, tolong mengertilah. Aku takut Mike..aku takut."
"Apa kamu masih meragukan ku?"
"Kamu sendiri yang bilang kamu tidak mau berjanji tapi kamu akan membuktikannya langsung, aku akan menunggu sampai saat itu tiba. Jika tidak ada bukti bagaimana aku bisa yakin denganmu."
"Mama kenapa menangis, jangan sedih ma." Ucap jesen polos
"Mama nggak apa-apa kok sayang, jesen nggak usah sedih ya kan sekarang udah ada papa yang jagain mama."
"Makasih ya pa udah jagain mama jesen."
"Iya sayang sama-sama, kita jalan lagi ya."
Mike kembali melanjutkan pekerjaannya
"Aku jadi penasaran seperti apa wajah mantan suami Amara kenapa dia bisa menyakiti Amara sedalam itu." Batin Mike.
Tiga puluh menit kemudian mike sampai di mansionnya semantara Gery dan ibu Jumiati sudah sampai lebih dulu.
Gery berlari dari dalam mansion lalu menarik tangan Mike.
"Ayo cepat ikut aku ada yang ingin aku bicarakan."
"Bicara saja ada apa."
"Terserah kamu deh biar Amara tau juga. Kakek ada disini."
__ADS_1
"Apa?? Ka..kakek ada disini, sejak kapan?"
"Aku juga tidak tau saat aku sampai kakek sudah ada di dalam."
"Sekarang dimana dia?"
"Ada di ruang tamu bersama ibu Jumiati."
"Apa bersama ibu." Wajah Mike berubah panik lantas menggendong jesen dan menggandeng tangan Amara masuk ke dalam mansion. Amara bingung melihat wajah Mike yang berubah panik namun Amara enggan bertanya.
"Assalamu'alaikum…" salam Amara begitu memasuki rumah
"Waalaikumsalam..nduk." suara ibu Jumiati yang menjawab salam Amara, Amara dan Mike menoleh dari sumber suara. terlihat ibu Jumiati berdiri dengan seorang laki-laki tua membawa tongkat dengan wajah yang datar.
"Itu siapa Mike?" Tanya Amara pelan
"Itu kakekku."
"Kakek.."
"Iya.." Mike lantas memperkenalkan Amara kepada kakeknya.
"Pagi kek perkenalkan ini Amara dan ini jesen mereka adalah calon istri dan anakku. Dan yang berdiri di samping kakek adalah ibu Jumiati calon ibu mertuaku. Ucap Mike lantang
"Degg"
Seperti disambar petir disiang hari Mike tiba-tiba memperkenalkan calon istri juga anak kepadanya, namun kek luwis mencoba bersikap setenang mungkin.
"Sayang kenalkan ini adalah kakekku namanya kakek luwis." Amara lantas menghampiri ibu dan kakek luwis lalu mencium punggung tangan mereka.
Mike pun melakukan hal yang sama.
"Ayo jesen Salim sama nenek dan kakek."
Perintah Amara jesen lantas turun dari gendongan Mike dan mencium punggung tangan ibu Jumiati dan kakek.
Saat akan mencium punggung tangan kakek luwis jesen berkata..
"Aku punya kakek ya ma sekalang, halo kakek aku jesen." Ucap jesen dengan senyum yang menggemaskan. Kakek luwis pun ikut tersenyum
"Halo juga jesen."
"Hore…jesen punya kakek." Jesen melompat-lompat kegirangan. Kakek luwis tersenyum melihat tingkah jesen.
"Kenapa kakek bersikap ramah apa yang sedang direncanakan kakek."Batin mike
"Sayang ajak ibu dan jesen ke kamar ibu pasti lelah." Amara mengangguk
"Ayo Bu kita ke kamar, kek Amara tinggal ke kamar sebentar ya."
"Iya silahkan."
"Kakek jesen ke Kamal dulu ya nanti jesen kesini lagi."
ibu Jumiati pun juga pamit kepada kakek luwis.
🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹
__ADS_1