
suara kembali sepi saat di susul Ray di belakangnya.
Bukan tidak suka, namun rasa kagum sekaligus terpesona membuat mereka tidak bisa berkata-kata.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Itu kan nak Ray suaminya Amara, gantenge rek.."
"Iya, naik heli rek-rek keren tenan yo." (Naik heli keren banget ya.) ucap ibu-ibu ketika Ray berjalan dengan jarak yang dekat dengan mereka.
Berbeda dengan tetangga yang lain yang heboh melihat Ray dan Bagas Mala justru diam tidak seperti dulu yang selalu julid.
Sejak pak Hashim mendekam di penjara Mala tidak lagi seperti dulu kehidupannya berubah drastis usaha peternakannya pun bangkrut ditambah lagi gunjingan dari para tetangga membuatnya semakin tersisihkan.
Berulang Kali Mala meminta maaf kepada pak Hasan dan Bu Jumiati tapi hukum tetap berlaku meski pak Hasan sudah memaafkan Hashim.
Ray dan Bagas berjalan menuju rumah mertuanya
"Ibu dan bapakmu lagi di sawah nak Ray, biar ibu panggilkan ya.." ucap ibu Ida tetangga dekat rumah pak Hasan
"Terimakasih bu Ida, tapi biar Bagas saja
Yang memanggil bapak dan ibu kalau boleh pinjam motornya saja Bu."
"Iya nak boleh, silahkan dipakai. ini kuncinya."
Bagas pun memakai motor matic Bu Ida menuju sawah pak Hasan.
"Nak Ray kerumah ibu saja ya sampai pak Hasan pulang."
"Boleh Bu.."
"Silahkan Duduk nak ray, Sebentar ya ibu buatkan kopi." Ucap Bu Ida setelah Ray di dalam rumahnya
"Tidak usah repot-repot Bu Ida.."
"Tidak repot nak hanya segelas kopi."
Beberapa saat kemudian ibu Ida datang dengan membawa secangkir kopi
"Silahkan diminum nak Ray."
"Terimakasih Bu Ida." Ray lantas menyeruput sedikit kopinya.
"Amara tidak ikut pulang nak?"
"Tidak bu jadi kedatangan saya kemari ingin menjemput bapak dan ibu untuk ikut saya ke Jakarta karena malam ini ada acara syukuran untuk kehamilan Amara."
"Amara hamil nak?"
"Iya Bu alhamdulilah Amara hamil anak kembar."
"Masyaallah..selamat ya nak ray, ibu ikut senang."
"Terimakasih Bu Ida."
Lima belas menit kemudian pak Hasan datang bersama Bu Jumiati membawa motor Bu Ida.
"Sepertinya bapak dan ibu sudah datang Bu."
"Iya nak itu mereka, disini saja dulu biarkan mereka membersihkan diri dulu."
"Iya Bu."
__ADS_1
Dan benar pak Hasan dan ibu Jumiati segera membersihkan diri tidak ingin menantunya merasa jijik dengan dirinya yang masih kotor dan bau keringat.
Pak Hasan selesai lebih dulu kemudian ke rumah ibu Ida menemui Ray.
"Assalamualaikum…" salam pak hasan
"Waalaikumsalam..pak.." Ray berdiri lalu mencium tangan pak Hasan.
"Kamu sudah dari tadi nak?"
"Baru kok pak.."
"Ayo kita pulang, ibu sudah menunggu di rumah."
"Tidak minum kopi dulu pak Hasan?"
"Terimakasih Bu Ida, tapi ibunya Amara sudah menunggu di rumah. Mari Bu kami duluan."
"Terimakasih Bu Ida, saya pamit."
"Iya nak Ray."
Kemudian Ray dan pak Hasan menuju rumahnya.
Mama ana juga sudah selesai membersihkan diri.
"Assalamualaikum.." salam pak Hasan dan Ray
"Waalaikumsalam.. ayo masuk nak Ray, maaf ya nak kamu jadi menunggu."
"Tidak apa-apa Bu Ray yang salah tidak memberitahu ibu dulu jika mau datang."
"Iya nak jadi ada apa, semuanya baik-baik saja kan?"
"Alhamdulillah Bu..semuanya baik-baik saja, kedatangan Ray kemari ingin menjemput bapak dan ibu ke Jakarta malam ini ada acara syukuran, dari kemarin Amara nangis terus Bu, katanya kangen sama bapak dan ibu saya tidak tega melihat istri saya menangis, ibu dan bapak mau kan ikut saya ke Jakarta?"
"Saya senang melihat bapak sekarang agak gemukan."
"Iya nak orang-orang juga berkata begitu."
"Alhamdulillah ya pak, Amara pasti senang melihat bapak gemuk sekarang."
"Semua ini juga karena kamu nak, terimakasih banyak kamu sudah mengubah kehidupan kami dan membahagiakan anak kami."
"Tidak usah berterima kasih pak, Ray ikhlas melakukannya, bapak dan ibu juga orang tua Ray."
Kehidupan pak Hasan dan ibu Jumiati memang jauh lebih baik setelah Ray datang. rumah yang dulu hanya kayu sekarang sudah di tembok. Dan lantai yang dulu hanya tanah sekarang sudah di keramik, kamar mandinya pun sudah di dalam rumah. Dulu untuk makan saja mereka kesusahan sekarang mereka bisa membeli apa yang mereka mau, semua karena Ray tidak bisa dipungkiri Ray memang sangat berpengaruh dalam kehidupan Amara dan keluarganya.
"Oh ya pak bagaimana keadaan paman Hashim?"
"Hashim masih mendekam di penjara, dan hampir setiap hari mala datang kesini agar saya berbicara kepada kamu agar kamu mau mencabut tuntutan terhadap suaminya."
"Apa bibi mala masih seperti dulu?"
"Tidak nak, Mala sekarang menjadi orang yang pendiam tubuhnya terlihat kurus, anaknya pun sekarang tidak kuliah."
"Sudah nak Ray ibu sudah siap, bapak tidak ganti baju?"
"Ya ganti Bu, bapak kan nunggu ibu biar gantian menemani nak Ray."
"Oh iya..ya pak. Sudah sekarang bapak ganti baju, baju bapak juga sudah ibu bawa kok yang untuk ke jakarta."
"Makan dulu ya nak?" tawar Bu jumiati
__ADS_1
"Ray sudah makan Bu, ibu sama bapak saja nanti makan dulu."
"Ibu tidak lapar nak, ibu sudah tidak sabar ingin bertemu Amara."
"Ibu dan bapak terlihat sangat bahagia, maafkan aku Bu sudah satu tahun lebih aku tidak membawa Amara pulang kesini." Batin Ray melihat wajah mertuanya yang terlihat sangat bahagia.
"Sudah nak ayo kita berangkat."
"Tidak makan dulu pak?
"Oh iya maaf ya nak bapak lupa, ayo kita makan."
"Maksud Ray bapak sama ibu makan dulu, kalau Ray tadi sudah makan pak di rumah."
"Bapak tidak lapar, ibu lapar nggak Bu?"
"Nggak pak, kita langsung berangkat saja."
"Iya bu, sebentar saya hubungi Bagas dulu."
"Itu nak Bagas." Ucap Bu Jumiati melihat Bapas berjalan kaki
"Assalamualaikum.." salam Bagas
"Waalaikumsalam.." jawab semuanya
"Kita berangkat sekarang pak?"
"Iya, kamu mau minum dulu?"
"Tidak pak Terima Kasih tadi saya sudah makan dan minum di rumah."
"Pantes lama.."
Kemudian mereka keluar dari rumah, dan berjalan menuju lapangan ibu jumati menoleh kiri, kanan seperti sedang mencari sesuatu
"Ibu kenapa to kok dari tadi tolah-toleh?"
"Nak Ray parkir mobil nya dimana kok nggak dirumah saja."
"Ray tidak bawa mobil Bu."
"Oh, kita naik bus to?"
"Tidak Bu."
"Oh naik kereta?"
"Tidak juga pak."
"La naik opo to, kapal?"
"Tidak semuanya Bu, kita naik itu."
Ray menunjuk ke arah lapangan. Pak Hasan dan ibu Jumiati mengikuti arah tunjuk Ray dan mereka sangat terkejut sekaligus bahagia.
"Helikopter? Ya Allah pak..kita naik helikopter, masyaallah pak-pak mimpi apa kita bisa naik helikopter."
"Iya bu..bapak nggak mimpi to ini?"
Ray tersenyum melihat respon mertuanya itu
"Tidak pak bapak tidak mimpi, ayo pak.. Bu.."
__ADS_1
Mereka pun menuju lapangan dan menaiki helikopter sama seperti saat mereka datang anak-anak dan warga yang lain menyaksikan mereka dengan sangat antusias.
🍁🍁🍁Bersambung🍁🍁🍁