
Eps sebelumnya
Lantas Dion pun memberitahu rencananya.
"Oke aku akan bantu kamu tapi ingat kamu hutang penjelasan denganku."
"Iya aku tahu."
"Lebih cepat pak." Ucap Mike kepada supirnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dion dan Mike buru-buru keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah Dion, dari luar sudah terdengar suara Bella yang berteriak.
"Cepat pergi dari sini." Bella menarik tangan Amara, ibu Jumiati memohon kepada Bella agar tidak mengusirnya sementara jesen menangisÂ
"Mama jesen takut."
"Nggak mau Bella, aku nggak mau pergi dari sini sebelum Dion datang." Amara memberontakÂ
"Bella!!" Suara bariton Dion menghentikan Bella, Dion berlari menghampiri mereka.
"Dia..kenapa dia ada disini." Batin mike
"Bella apa yang kamu lakukan?" Bentak Dion menarik tangan Amara, kemudian Amara memeluk anaknya yang menangis.
"Dion dia itu siapa kenapa dia ada disini?"
"Mereka tamuku, kamu tidak berhak mengusir mereka."
"Papa…" jesen memanggil Dion, Dion pun menghampiri jesen.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Dion sambil mengelus rambut jesen
"Jesen takut pa, Takut apa jagoan papa. Jangan takut lagi ya ada papa disini."
"Apa papa? Apa itu anak Dion, jangan-jangan perempuan itu.." batin Mike menerka-nerka
"Papa? Dia panggil kamu papa dan kamu masih bilang kalau perempuan itu adalah teman kamu, kamu sudah mempunyai anak dengannya Dion, kamu jahat Dion kamu tega."
"Dia bukan anakku Bella."
"Kamu bohong Dion, jelas-jelas anak kecil itu panggil kamu papa."
"Iya dia itu anakku bukan anak Dion."
"Diam kamu! Ini semua gara-gara kamu, dasar perempuan mu*ahan
"Bella!!" Mike pun akhirnya turun tangan
"Beraninya kau menghina wanitaku bella." Lanjutnya lagi
"A..apa wa..wanitaku, jadi dia, mereka?" Amara menatap Mike tidak percaya kenapa Mike mengatakan bahwa ia adalah wanitanya, Mike menggenggam tangan Amara erat, Amara seolah terhipnotis dengan Mike hingga tidak mampu berkata-kata.
"Iya, dia adalah wanitaku jadi jangan berani kamu menyakitinya."
"Sorry Mike aku tidak tau kalau dia adalah wanitamu, kalau dia wanitamu berarti anak itu.."
"Dia anakku!" Jawabnya cepat, Amara dan Bella membelalakkan mata mendengar pengakuan Mike.
"Papa.."Jesen tiba-tiba berlari memeluk kaki Mike, Mike terkejut jesen memanggilnya papa, namun Mike harus bisa menutupi rasa keterkejutannya dengan senyum lalu berlutut menyamakan tingginya dengan jesen.
"Hay jagoan,, gimana kabar kamu hari ini?"
"Baik pa, jesen sekalang punya dua papa."
"Jesen ikut papa pulang ya, disini tidak aman."
"Pulang kemana pa?"
__ADS_1
"Ke Rumah papa."
"Tapi mama ikut kan pa?"
"Ikut dong."
"Nenek juga?"
"Semuanya."
"Papa Dion ikut juga kan?"
"Papa Dion tidak ikut kalau papa Dion ikut nanti rumahnya diambil orang dong."
"Apa-apaan sih ini kenapa jadi aku harus ikut dengannya, tadi aku membiarkan dia mengakui ku karena aku tidak mau Bella dan Dion bertengkar tapi bukan begini maksudku, kenapa aku harus ikut dengannya, dan lagi kenapa jesen memanggilnya papa juga..huft jesen kenapa setiap laki-laki baik kamu panggil papa sih." Batin Amara menggerutuÂ
Sementara dion merasa sesak melihat Mike begitu mendalami perannya, Dion memang menyuruh Mike untuk mengakui Amara sebagai kekasihnya tapi bukan seperti ini yang dia harapkan, jesen memanggil Mike papa rasanya Dion tidak rela, tapi Dion tidak bisa berbuat apa-apa dia terjebak dalam situasi terjepit maju kena mundur pun kena.
"Sini papa gendong." Mike menggendong jesen kemudian kembali menggenggam tangan Amara.
"Ayo kita pulang." Ucapnya sambil menatap Amara
"Hah…pu..pulang."
"Ibu..ayo kita pulang." Ibu Jumiati menatap Amara, lalu Amara menatap Dion, Dion mengangguk samar tetapi Amara bisa melihatnya.
"Tapi aku belum membereskan barang-barangku."
"Tidak apa nanti biar asistenku yang membereskannya." Sambil matanya melirik dion
"Sial aku terjebak." Batin Dion
_
_
"Aku tau, lagipula aku juga tidak tertarik denganmu untuk apa aku kegeeran."
"Kau.."
"Baru kali ini ada perempuan yang tidak tertarik padaku." Batin mike
_
_
Empat puluh menit kemudian mereka sampai di rumah yang sangat besar dan mewah berlantai dua rumah yang tampak seperti istana.
"Ayo turun." Ucap Mike datar
"Amara dan ibu Jumiati menatap takjub bangunan agung yang ada di depannya.
"Ini rumah kamu?"
"Tentu saja, ayo cepat masuk."
"Ck..dasar sombong." Lirih Amara, Mike menarik sudut bibirnya mendengar Amara.
"Seperti kata Dion untuk sementara kalian tinggal disini dulu."
"Iyalah siapa juga yang mau tinggal disini selamanya."
"Nduk.." ibu Jumiati memperingati amara
 "Papa..disini ada kolam lenangnya juga nggak kayak di lumah papa Dion."
"Ada dong, kolam renang disini ja..uh lebih besar dari kolam renangnya papa Dion."
"Oh ya..?"Â
__ADS_1
"Iya kamu mau lihat."
"Mau..mau..mau, ayo pa kita lihat." Jesen menarik tangan Mike antusias.
Amara dan ibunya pun terpaksa mengikuti Mike.
"Wah..besal banget pa."
"Jesen suka?"
"Suka tapi jesen nggak bisa belenang pa."
"Mau papa ajarin?"
"Mau, mama juga nggak bisa belenang pa, papa mau ajalin juga nggak."Â
"Mau dong." Mike melihat Amara, Amara membuang muka di tatap oleh mike.
" Tapi besok ya, sekarang kita lihat kamar jesen dulu."
"Yang besal ya pa."
"Pasti dong, ayo kita lihat." Mike menggandeng tangan jesen
"Oh ya sebelumnya perkenalkan aku Mike, Mike Louis Edgar CEO di perusahaan xxx. Pria mapan, tampan, dan masih muda."
"Dasar narsis, bisa-bisanya dia bilang pria tampan di depan orang yang baru dia kenal. Eh..apa tadi dia bilang CEO di perusahaan xxx itu kan perusahaan tempatku bekerja, berarti dia bosku. Dunia memang sangat sempit duh..dimana ini apa yang harus aku lakukan." Batin Amara
"Kamu tidak mau memperkenalkan diri, kita tinggal satu atap bagaimana bisa kita tidak saling mengenal."
"A..aku Amara, dan ini ibuku, ibu Jumiati dan itu anakku kamu sudah tau kan namanya."
"Dia tidak boleh tau kalau aku bekerja di perusahaannya." Batin Amara lagi
"Kamu baik-baik saja Amara?"
"I..iya aku baik-baik saja."Â
"Tenang Amara tenang..jangan membuatnya curiga dengan sikapmu." Amara menenangkan dirinya sendiri
"Papa ayo katanya mau lihat Kamal jesen.'
"Baiklah." Mike mengacak rambut jesen pelan
Mike mengajak mereka menaiki anak tangga menuju lantai dua rumah itu.
Entah kenapa Mike ingin mereka tidur di kamar atas yang bersebelahan dengan kamarnya khususnya Amara tentunya.
Biasanya jika ada tamu mereka akan tidur di kamar tamu.
"Ini Kamara kalian, silahkan masuk."
Lagi-lagi Amara dibuat takjub dengan desain interior kamar tersebut kamar dengan nuansa warna putih dengan ukuran king size dan dengan barang-barang mewah di dalamnya.
Kamar ini biasanya ditempati kakak Mike saat berkunjung.
"Gila, besar banget kamarnya emang bener sih yang dia bilang dia kaya raya eh bukan kaya lagi tapi sultan hihihi." Batin Amara cekikikan."
"Kenapa rumah kamu sangat sepi, apa kamu tinggal sendiri?"
"Ya aku memang tinggal sendiri?"
"Serius rumah sebesar ini kamu tinggal sendiri, tidak ada orang satupun? Misalnya pembantu?"
"Ada, tapi kalau jam segini mereka ada di mansion, mereka akan kesini ketika pagi hari untuk sarapan, siang hari untuk menyiapkan makan siang dan hari untuk membereskan sisa-sisa makan malam."
"Apa jauh dari sini?" Tidak mansionnya ada di belakang rumah ini."
🌹🌹🌹 Bersambung 🌹🌹🌹
__ADS_1