
Hari ini Amara telah diperbolehkan untuk pulang setelah dua hari dirawat di rumah sakit. Kini dia sedang bersiap siap bersama mama ana calon mertuanya.
"Ceklek"
"Pagi sayang..pagi ma..!" Sapa Ray sembari berjalan menghampiri Amara yang sedang duduk ditepi ranjang.
"Kamu sudah benar-benar baikan? Tidak ada yang sakit lagi?" tanya ray sebelah tanganya mengelus pipi Amara. Amara menggeleng sebagai jawaban kemudian memeluk pinggang Ray dan bersandar di dadanya.
"Aku mau cepat pulang. Aku bosan disini." Ucapnya manja. Ray mengusap kepala Amara sayang dan menciumnya.
"Setelah kamu pulang kamu tidak boleh kemana mana termasuk bekerja. Aku tidak mengizinkanmu untuk bekerja kembali." Amara mendongak
"Tapi kak aku.."
"Tidak ada tapi tapian. Setelah kamu benar benar sehat aku akan melamar kamu dan kita akan segera menikah jadi kamu tidak perlu lagi memikirkan soal biaya hidup kamu dan kedua orang tuamu. Aku yang akan menanggung semuanya."
Kali ini tidak ada protes dari Amara.
Pucuk dicinta ulam pun tiba orang tua Amara tiba tiba saja menelpon membuat Amara melepaskan pelukannya.
"Bapak!" Lirih Amara melihat satu panggilan masuk ia pun melirik Ray. Ray mengangguk pertanda Amara harus mengangkatnya. Amara ragu karena Amara masih memakai baju rumah sakit Amara takut akan membuat orang tuanya kepikiran dan bersedih. Melihat isyarat dari Ray amara pun mengangkatnya.
"Assalamualaikum pak!"
"Waalaikumsalam nak. Kamu apa kabar?"
"Aku baik pak, bapak sendiri apa kabar?" Ray membisikkan pada Amara untuk meminta video call.
"Pak kita video call ya?"
"Bapak tidak tau caranya nak?"
"Ibu bisa kok pak. Kemarin sudah Amara ajarin." Sambungan video call pun tersambung.
"Halo pak Bu! Amara kangen kalian." Amara melambaikan tangan dengan senyum bahagia begitu wajah kedua orang tuanya terlihat.
"Wah hebat ya nak. Bapak bisa lihat kamu sekarang tanpa kamu harus pulang. Kenapa nggak dari dulu saja to nak kamu ajari ibumu video call."
"Kan baru kemarin pak Amara beliin handphone nya. Semua baik baik saja kan pak tumben sekali bapak telpon Amara pagi pagi."
"Alhamdulillah nak semua baik baik saja. Nggak tau ini ibumu dari kemarin mimpiin kamu terus katanya. Iya nduk..kok perasaan ibu nggak enak terus dari kemarin kamu nggak papa to? Eh tunggu kamu kok pake baju ijo ijo terus itu ada selang infus juga. Kamu sakit nduk?" Ujar Bu jumiati.
"Iya bu. Kemarin Amara demam terus dibawa kerumah sakit. Tapi sekarang Amara sudah sehat kok bu ini mau pulang. Ibu jangan nangis Amara sudah nggak papa kok Bu."
"Kamu pasti sedih ya nduk, sakit tidak ada yang merawat. Kamu pasti nelangsa."
"Sudah dong Bu..jangan nangis lagi nanti Amara juga ikut menangis. Ibu tenang saja Amara tidak sendiri kok Bu disini." Amara menarik Ray untuk dilihat orang tuanya.
"Kenalin Bu ini kak Ray teman kerja Amara. Kak Ray juga yang selalu menemani Amara selama dirawat dirumah sakit." Ray tersenyum
"Selamat pagi pak Bu. Saya Ray pacar sekaligus calon suami Amara mohon doa restunya pak Bu." Ucap Ray tanpa basa basi yang membuat pak Hasan dan Bu jumiati terkejut begitu pun Amara.
__ADS_1
"Emm..ibu sama bapak jangan dipikirin ya kata kata kak Ray. kak Ray emang suka bercanda orangnya."
"Saya serius pak Bu. Saya akan datang bersama kedua orang tua saya untuk melamar Amara setelah Amara sehat nanti. Disini juga ada mama saya jika bapak dan ibu tidak percaya." Ray menarik mama ana.
"Selamat pagi pak, selamat pagi Bu! saya ana ibunya Ray." Sapa mama ana sopan dengan senyum yang mengembang
"Se..selamat pagi juga nyonya e..ibu. saya Jumiati ibunya Amara dan ini suami saya Hasan bapaknya Amara."
"Tidak usah canggung begitu Bu kita ini kan sebentar lagi akan menjadi satu keluarga. Panggil saja saya ana."
"Saya jadi tidak enak Bu."
"Saya yang tidak enak Bu. membicarakan soal lamaran lewat telepon. jika ibu dan bapak mengizinkan kami sekeluarga akan datang untuk melamar Amara secara resmi jika Amara sudah benar benar sehat. bagaimana menurut ibu dan bapak?"
"Kalau kami terserah Amara saja Bu. Karena Amara yang menjalankan kami orang tua hanya bisa mendukung dan melancarkan jalannya saja Bu."
Setelah mengobrol cukup lama sambungan telepon pun berakhir. orang tua Amara pun menyetujui Ray dan orang tuanya akan datang untuk melamar Amara.
_
_
Mama ana membawa Amara pulang ke rumahnya sementara Ray sudah kembali ke kantor.
"Kamu istirahat ya sayang jika butuh apa apa kamu panggil mama atau bibi. Mama tinggal dulu ya." Ucap mama ana sambil mengelus puncak kepala Amara.
"Iya ma, makasih ya ma." Mama ana tersenyum.
"Halo pak!"
"Halo Amara kok pak sih panggilnya kamu kan lagi nggak kerja. apa kamu masih lama di kampung?"
"Ee..iya pak eh kak. Saya minta maaf kak karena masih belum bisa masuk kerja."
"Ya sudah tidak apa apa. Apa semua baik baik saja? Bagaimana kabar orang tua kamu?"
"Alhamdulillah kak mereka sehat. "
"Alhamdulillah jika semua baik baik saja. Cepat kembali ya salam untuk orang tua kamu."
"I..iya kak nanti saya sampaikan salamnya." Amara merasa tidak enak karena telah berbohong pada miko
"Kamu sudah makan?"
"Sudah, kak miko sendiri?"
"Aku juga sudah. Aku.." Miko menjeda kalimatnya
"Aku kenapa kak?"
"Aku masih banyak pekerjaan nanti aku telpon lagi ya boleh kan?"
__ADS_1
"Emm..bo..leh deh." Jawab Amara ragu ragu
"Bae Amara.." telepon pun berakhir.
"Aduh..bego banget sih aku main iya iya aja nanti kalau kak miko telpon terus pas kak Ray di rumah bisa mampus aku." Gumam Amara.
_
_
Ray sudah pulang dari kantor kini sedang dikamar bersama Amara dan menyuapinya Makan.
"Ayo aaak lagi!" Amara menutup mulutnya dengan kedua tangannya seperti anak kecil.
"Aku udah kenyang kak. Nggak mau."
"Pokoknya kamu harus makan yang banyak. Aku Pengen saat hari pernikahan kita kamu jadi lebih gemuk dari ini. Lihat badan kamu sekarang kurus begini."
"Nggak mau! Aku nggak mau gendut nanti kalau aku gendut yang ada kak Ray malah ngelirik cewek lain."
"Siapa yang nyuruh kamu gendut aku kan tadi bilang aku pengen kamu lebih gemuk dari sekarang ini. Bukannya jadi gendut."
"Jadi kak Ray sekarang nggak suka sama aku karena aku kurus " Amara memanyunkan bibirnya membuat Ray semakin gemas melihat tingkah Amara.
"Cup" Ray mengecup singkat bibir Amara yang manyun.
"Kak Ray! Aku kan lagi kesel." Protes Amara mendorong pundak ray yang membuat Ray malah tersenyum kemudian menggenggam kedua tangan Amara dengan pandangan matanya yang dalam
"Aku kangen sama kamu." sebuah kalimat yang mampu membuat jantung Amara dak dik duk tidak karuan hingga membuatnya diam mematung. Satu tangan Ray bergerak menyelipkan anak rambut Amara yang menutupi wajahnya dan menyelipkannya ke belakang telinga. Pandangan Ray semakin dalam dan wajahnya semakin dekat bahkan hidung mancung Ray telah bertabrakan dengan hidung mancung Amara pandangan Ray fokus pada bibir ranum Amara dan…
"Ceklek, sayang ma..ma."
Mama ana datang tanpa mengetuk pintu mengacaukan gairah Ray yang sudah diubun
"Sssshhh…mama!" Ray mendesis kesal
"Mama nggak bisa ketuk pintu dulu?"
"Kenapa? Mama sudah biasa masuk kamar kamu tanpa mengetuk pintu. Kenapa sekarang kamu marah?"
"Itu kan biasanya ma sekarang kan ada Amara gimana kalau Amara lagi ganti baju terus mama masuk begitu saja." bahkan Ray tidak bisa berfikir jernih.
"Ya nggak papa dong Amara kan perempuan mama juga perempuan terus dimana masalahnya? Harusnya mama itu waspada sama kamu. Hayo ngaku kamu tadi mau ngapain anak gadis mama?" Tunjuk mama ana
"Apaan sih ma! Udah ah Ray capek mau istirahat." Jawab Ray sewot kemudian pergi sebelum benar benar pergi Ray melirik amara dan mengedipkan satu matanya kemudian memberi isyarat membentuk telepon dengan jarinya. Amara hanya tersenyum samar.
*maaf ya gaees baru up lagi author habis sakit
*jangan lupa like komen dan vote
***happy reading 🥰🥰***
__ADS_1