
Ray terus mengejar taxi yang ditumpangi Amara hingga jaraknya semakin dekat. saat sudah dekat ray menambah kecepatan mobilnya lalu menghadang mobil taxi yang Amara tumpangi.
"Ciiiiit"
Suara decit rem mobil taxi yang Amara tumpangi karena berhenti mendadak. Ray bergegas keluar menghampiri taxi itu kemudian menarik paksa Amara keluar.
"Lepas kak!" Dengan kasar Amara mengibaskan tangan Ray.
"Tolong biarin aku pergi kak."
"Pergi? Kita akan menikah gimana bisa kamu mau meninggalkan kakak. Aku nggak akan pernah biarin kamu pergi lagi."
"Menikah? Kakak lupa kenapa kita akan menikah. karena orang tua kakak mengira telah terjadi sesuatu diantara kita. Tapi kenyataanya kita tidak melakukan apa apa kak. Jadi kita tidak harus menikah."
"Kemarin kamu bilang sendiri sama kakak kamu mau menikah dengan kakak. Tapi kenapa sekarang kamu berubah?"
"Kasta kita berbeda kak. aku hanya orang miskin aku kelas rendahan. aku tidak pantas menjadi pendamping kak Ray."
"Itu menurut kamu! Sekalipun kakak tidak pernah menganggap kamu seperti itu."
"Bohong! Semua orang kaya itu sama selalu memandang rendah orang miskin sepertiku kak."
"Tidak semua orang kaya seperti itu Ra. Kamu tidak bisa menyamakan semua orang kaya itu sama."
"Tapi kenyataanya sama kak!" Ray meraih tangan Amara "Kamu salah paham sayang, bukan begitu maksud papa. Papa dan mama tidak pernah melihat seseorang dari kastanya. Aku yang salah, papa hanya kecewa denganku. Tidak ada hubungannya dengan kamu."
"Tapi kalian bertengkar karena aku hiks..hiks.." ucap Amara disela tangisnya. Ray menarik Amara dalam pelukannya.
"Bukan karena kamu sayang..papa hanya kecewa denganku aku yang salah bukan kamu atau papa. Aku sudah menjelaskan semuanya dengan papa kamu tidak perlu merasa bersalah." Ucap Ray lembut sambil membelai rambut Amara.
"Maaf tuan, nona mengganggu." Ray melepas pelukannya "Ini gimana taxinya lanjut atau tidak? Tanya supir taxi.
Ray mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan. " Ini untuk bapak taxinya tidak jadi."
"Maaf pak ini kebanyakan."
"Anggap saja ini rejeki bapak."
"Terimakasih tuan nona, saya permisi."
"Kita pulang kerumah aku ya, kamu mau kan?"
"Aku takut." Ucap Amara pelan sambil menundukan kepala. Ray mengangkat dagu Amara agar melihatnya "Ada aku kamu tidak perlu takut. Aku akan selalu ada buat kamu walau apa yang terjadi aku janji." Amara tersenyum yang membuat jiwa lelaki ray meronta ronta perlahan Ray mendekatkan wajahnya pada wajah Amara kemudian "cup" bibir Ray menempel pada bibir amara. Amara membelalakan kedua matanya kemudian mendorong tubuh Ray.
"Kak Ray! Ini kan dijalan malu tau."
"Terus dimana biar nggak malu?"
__ADS_1
"Auah.."
"Ciee..pipinya merah."
"Kak Ray!"
"Hahaha"
_
_
Pukul 21.00 Amara dan ray sampai di rumah. Amara masih berdiam diri di dalam mobil. Ray menggenggam tangannya.
"Ayo masuk. Semua akan baik baik saja."
Setelah memasuki rumah ternyata mama ana dan pak dirga masih ditempat yang sama menunggu Ray.
"Ray, Amara.." sapa mama ana. Amara hanya menunduk. Kemudian mama ana mendekat lalu memeluk Amara
"Maafkan mama dan papa ya sayang. Kamu jangan salah paham kami tidak bermaksud menyalahkanmu." Amara pun membalas pelukan mama ana. Amara juga minta maaf ma, Amara sudah membuat keluarga ini repot Amara selalu membuat masalah."
"Sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini kamu jangan berkata begitu ya dan jangan pernah berpikir kita berbeda kasta. Karena bagi mama dan papa kita semua itu sama."
"Terimakasih ma, mama dan papa sudah mau menerima Amara." Kemudian pak Dirga mendekat. Mama ana melepas pelukannya.
"Amara minta maaf pa, Amara egois."
"Sudah nak yang terpenting sekarang kita semua ada disini. Jangan pernah tinggalkan Ray lagi nak. Dia sangat mencintaimu." Amara mengangguk dalam pelukan pak Dirga.
"Ayo, aku antar kamu ke kamar." ucap Ray.
_
_
Sementara di cempaka hotel acara tetap berlanjut namun hati dan pikiran Kevin tidak bisa tenang dia merasa sakit hati sekaligus cemburu pada Ray juga Amara.tidak bisa di pungkiri jika Kevin memang masih mencintai Amara.
Farah yang melihat perubahan sikap kevin menjadi uring uringan. Kemudian menarik Kevin agak menjauh dari keramaian.
"Sayang kamu kenapa sih? Harusnya kita happy karena telah berhasil mempermalukan perempuan murahan itu. Ingat Vin dia udah menghianati kamu. Kamu jangan tertipu dengan wajah polosnya. Kamu lihat sendiri kan dia sangat bahagia bersama Ray tanpa memikirkan perasaan kamu sedikitpun." Kevin pun termakan oleh komporan Farah.
"Kamu benar! Aku akan membuat perhitungan dengan mereka berdua." Ucap Kevin penuh dendam. Farah tersenyum miring merasa puas usahanya berhasil untuk membuat Kevin semakin benci dengan Amara.
Mereka pun kembali bergabung dengan yang lain. Tapi entah mengapa meskipun Kevin telah mencoba untuk menerima Farah namun hati dan pikirannya berkata lain hanya ada Amara yang selalu ada di otaknya. Seperti saat ini Kevin sedang berdansa bersama Farah. Terlihat Farah melingkarkan kedua tangannya dileher Kevin dengan pandangan lurus menatap Kevin dan kedua tangan Kevin yang berada di pinggang ramping farah namun Kevin membuang pandangannya ke arah lain.
"Sayang..lihat aku dong istri kamu."
__ADS_1
Kevin pun menurut. Farah tersenyum tiba tiba Farah menarik kepala Kevin dan mencium bibirnya. Kevin hanya diam tanpa membalas ciuman Farah.
"Prok prok prok"
Suara tepuk tangan para tamu undangan. Kevin sontak mendorong pundak Farah.
_
Pesta selesai semua para tamu undangan sudah pulang. Kini tinggal Farah dan kedua orang tuanya juga Kevin dan kedua orang tuanya.
Mereka semua menginap di hotel malam ini karena memang sudah larut malam.
"Sayang..aku mandi dulu ya.." ucap Farah sambil bergelayut manja di punggung Kevin yang sedang duduk di tepi ranjang."
"Hemm." Kevin hanya berdehem.
Setelah dua puluh menit Farah keluar dari kamar mandi telah mengenakan lingerie **** warna hitam. Kemudian menghampiri Kevin dan berdiri di depannya. Farah mengarahkan tangan Kevin untuk memeluk pinggangnya sementara kedua tangan Farah melingkar di leher Kevin.
"Sayang..kamu mau mandi dulu atau langsung aja."
"Aku mau mandi!" Jawab Kevin datar kemudian berdiri.
"It's oke kamu boleh sedikit jual mahal tapi ingat Kevin sekarang aku istri kamu, aku akan membuat kamu bertekuk lutut sama aku." Gumam Farah.
Begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka Farah langsung berpose se **** mungkin diatas ranjang untuk menggoda Kevin. Namun sayang begitu sampai di ranjang Kevin hanya melirik Farah sekilas kemudian merebahkan diri membelakangi Farah. Yang membuat Farah seketika emosi Farah menarik pundak Kevin kasar membuat posisi Kevin terlentang. Dengan sigap Farah naik di atas perut Kevin kemudian menciumnya kasar.
"Farah hentikan.." Kevin mencoba menghentikan farah
"MMM Farah!" Kevin berhasil mendorong pundak Farah hingga ciumannya terlepas.
"Kenapa Vin? Kenapa kamu tidak mau memberikan hakku sebagai seorang istri. Aku istri kamu aku berhak atas tubuh kamu hiks hiks.." Kevin terdiam. Benar kata Farah. Farah memang berhak atas tubuhnya tapi entah mengapa Kevin tidak bisa melakukannya dengan Farah. Wajah cantik Amara selalu terbayang bayang dalam ingatannya apalagi wajah Amara saat tadi menangis.
"Ini adalah malam pertama kita Vin. Malam sangat dinantikan semua pengantin baru." lanjutnya lagi
"Tapi ini bukan malam pertama kita." Ucap Kevin datar
"Tapi Vin.."
"Cukup Farah! Bukankah kamu sedang hamil? Jika kita melakukan hubungan suami istri itu tidak baik untuk janin kamu apalagi di awal awal kehamilan. Lebih baik sekarang kita istirahat." Kevin kembali merebahkan tubuhnya membelakangi Farah. Membiarkan Farah yang masih menangis.
"Sial! Ini seperti seperti bom waktu untukku sendiri. Kenapa aku bisa lupa jika aku pura pura hamil." Batin Farah. Farah pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Kevin dan memeluk Kevin dari belakang. Kevin pun membiarkan Farah memeluknya dia tidak mau membuat keributan malam malam.
*hayo..mana nih tim Farah mana tim Amara angkat tangannya dong🤭🤭
*jangan lupa like komen dan vote👌👌
***happy reading🥰🥰***
__ADS_1