
"Aku mau keluar sebentar ya Bi..ada keperluan."
"Sarapan dulu neng.."
"Nggak usah bi sudah terlambat. Duluan ya bi.. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.." kemudian bi Jum pun memberitahu Ray jika pagi ini Amara tidak sarapan karena buru-buru pergi.
_
_
Di sebuah gedung megah pencakar langit bertuliskan Dirgantara Group. Tiga lelaki gagah dan tampan sedang melakukan meeting bersama karyawan dan client penting yang dipimpin oleh pak dirga sebagai Direktur utama.
Ray sangat serius mengikuti meeting karena nanti setelah menikah Ray yang akan menggantikan posisi pak Dirga sebagai pemimpin perusahaan.
Ditengah-tengah meeting berlangsung tiba-tiba handphone Ray berdering dilihatnya sebuah panggilan masuk dari bik Jum. Ray pun segera meminta izin untuk menjawabnya Ray takut jika ada yang penting.
"Iya bi ada apa?"
"(....)"
"Ada apa dengan Amara bi, apa terjadi sesuatu?"
"(....)"
"Pergi? Pergi kemana bi?"
"(....)"
"Baiklah terimakasih bi."
Kemudian Ray beralih menghubungi Amara namun tidak ada jawaban.
"Pergi kemana dia?" Gumam ray, kemudian mengirim pesan untuk Amara
"Sayang..jangan lupa nanti jam makan siang kamu harus ke kantor. nanti supir akan jemput kamu. Jadi kamu jangan kemana-mana dan dandan yang cantik. l love you." Isi pesan ray
_
_
Berbeda dengan Ray yang sedang disibukkan dengan pekerjaan dan juga perasaan gelisah memikirkan Amara. Amara justru sedang bersantai di sebuah kamar sederhana dengan fasilitas tv layar datar yang sedang menayangkan drama Korea kesukaannya. Sambil menunggu Arum yang sedang membeli sarapan untuk mereka berdua. Saking asyiknya Amara sampai tidak mendengar jika handphonenya sedari tadi berdering.
"Kamu tuh ya..dari aku tinggal sampai aku kembali masih aja nonton Drakor." Ucap Arum sewot yang baru datang.
"Emang kenapa? aku kan pengangguran mau ngapain emang?"
"Ya emang kamu kesini mau ngapain? Mau numpang nonton drakor doang?"
"Nggak kok. Aku jaga mau numpang sarapan. Mana sini sarapannya aku lapar." dengan entengnya Amara menjawab Sambil tangannya meraih satu buah nasi bungkus dari tangan arum.
"Dasar..emang kamu nggak dikasih makan sama pak Ray?"
"Aku Tuh bangun kesiangan. Ya malu dong masak baru bangun terus makan."
"Bagus deh kalau kamu punya malu. emang kamu bangun jam berapa?"
"Delapan." jawabnya singkat karena sibuk menikmati makanannya.
__ADS_1
"Dasar pemalas, kebangetan banget sih kamu."
"Aku tuh tadi malam nggak bisa tidur rum.."
"Kenapa?"
"Jadi tadi malam itu aku mendengar suara aneh tau."
"Suara aneh apa?"
"Dengerin ya..jadi tadi malam itu sekitar pukul sepuluh aku terbangun dari tidurku karena merasa haus. Aku pun ke dapur untuk mengambil minum. Saat itu rumah sepi..sekali lampu-lampu juga sudah padam. Semua orang sudah tidur. Dengan keberanian yang aku miliki akhirnya aku berhasil sampai dapur dan mengambil minum. Saat sudah selesai aku berniat untuk kembali ke kamar namun hal aneh terjadi. Aku mendengar suara-suara aneh. Bisikkan-bisikkan aneh. Aku lihat tidak ada satupun orang disana."
"Ih..serem banget. Terus-terus?"
" Aku menajamkan pendengaranku dan suara itu berasal dari ruang tamu.dengan sedikit keberanian serta rasa kepo yang lebih besar aku bertekad untuk mencari sumber suara itu. Aku berjalan ditengah kegelapan dengan suasana yang mencekam. Aku terus berjalan.. semakin dekat..semakin dekat..semakin dekat..boom."
"Aaa…" teriak Arum
"Kak Ray tiba-tiba berdiri. Dia sedang telponan. Dia sedang telpon siapa ya rum malam-malam mana sembunyi-sembunyi lagi. Itu yang bikin aku nggak bisa tidur. Menurut kamu kak Ray telpon siapa ya rum? Arum.." karena tidak ada jawaban Ray melihat ke arah Arum,ternyata Arum tengah menatapnya dengan tatapan tajam dada naik turun siap menerkam mangsanya.
"Hehe..piss."
" Hih...Jail banget sih jadi orang." Arum menggerakkan kedua tangannya seperti orang akan menerkam.
"Hehe… maaf sayangku aku kan cuma bercanda."
"Awas ya gitu lagi."
"Eh tapi beneran loh yang kak Ray telponan itu. Kira kira telpon siapa ya rum."
"Tuh kan..kebiasaan deh pasti mikirnya aneh-aneh. Udah dong Ra…buang pikiran-pikiran negatif kamu itu. Kalau kamu kaya gitu terus yang ada kamu yang tersiksa. Siapa tau aja pak Ray lagi telpon koleganya atau sahabatnya."
Arum pun melakukan panggilan pada ibunya dan panggilannya berhasil terhubung.
Cukup lama Amara dan Arum berbincang-bincang dengan ibunya arum. hingga tidak terasa waktu menunjukan pukul 11.00 berulang kali handphone Amara berdering namun baik Amara maupun Arum tidak ada yang mendengar. Hingga cukup puas mereka berbincang barulah Arum mematikan sambungan teleponnya.
"Gimana udah lega sekarang?"
"Belumlah aku kan belum ngobrol sama ibu aku."
"Ya nanti coba kamu telpon lagi kalau ibu kamu sudah pulang."
"Lagian ya nggak biasanya deh ibu sama bapak ke sawah sampai sesiang ini."
Handphone Amara kembali berdering entah untuk yang keberapa kali barulah Amara tau.
"Halo ka.."
"Sayang..kamu dari mana aja sih? di telpon dari tadi nggak diangkat."
"Maaf kak..aku keasyikan ngobrol sama ibunya arum sampai nggak tau kalau kakak telpon."
"Jadi sekarang kamu dimana? Supir bilang kamu tidak ada dirumah?"
"Astaga..aku lupa kak. Terus gimana dong? Aku di kos dari pagi."
Ya sudah kamu tunggu disitu biar supir jemput kamu kesana sekarang.
_
__ADS_1
_
Dua puluh menit kemudian Amara sampai di depan gedung Dirgantara Group.
Betapa takjubnya Amara melihat gedung pencakar langit yang begitu megah. Amara memasuki lobby perusahaan Dirgantara Group lagi-lagi Amara dibuat takjub dengan luasnya lobby perusahaan dengan interior yang mewah.
"Gila..lobbynya aja sebesar ini. Gimana ruangan suami aku ya hehe." Batin Amara cekikikan.
Amara menghampiri resepsionis dengan tag nama Yola
"Maaf kak ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau bertemu pak Rayen Dirgantara mbak"
"Maaf apa kakak cantik sudah membuat janji sebelumnya?"
"Sudah mbak."
"Sebentar ya saya tanyakan, dengan kakak siapa namanya?"
"Amara..Amara Andini."
"Baik, sebentar ya kak saya tanyakan dulu." Yola baru akan melakukan panggilan kepada sekretaris Ray namun Ardi sudah lebih dulu menyapa Amara.
"Nona Amara.." panggil Ardi menghampiri amara
"Iya.."
"Mari ikut saya anda sudah ditunggu tuan Ray." Amara mengangguk
"Mari mbak.."
"I..iya kak." Jawab resepsionis itu bingung kenapa Ardi memanggil perempuan itu nona. Apakah perempuan itu adalah adik pak Ray? tapi Ray adalah anak tunggal. Begitulah sekiranya isi pikiran Yola.
_
_
"Silahkan masuk nona.."
"Terimakasih Ar."
"Sayang sini.." ucap Ray ternyata di dalam ruangan itu sudah ada ayu event manager dari wedding star dan juga satu temannya.
"Oh ada kak ayu juga."
"Iya nona saya bersama rekan saya namanya Icha."
"Halo Icha.."
"Halo nona, saya Icha." Kemudian mereka berjabat tangan
"Sayang aku yang menyuruh perwakilan dari wedding star untuk melakukan fitting baju disini. Karena aku sangat sibuk aku takut tidak ada waktu."
"Iya tidak apa-apa kak."
"Baik langsung saja nona Amara..tuan Ray..kita mulai fitting baju pengantin nya. saya membawa beberapa desain baju yang akan nona dan tuan coba." Ayu dibantu dengan mulai membuka koper besar dan mengeluarkan beberapa gaun dan setelan tuxedo.
Setelah mencoba beberapa gaun, pilihan Ray jatuh pada gaun putih menjuntai panjang tanpa lengan. Dengan beberapa sentuhan swarovski selaras dengan setelan tuxedo ray. Ya..yang memilih adalah Ray. Ray yang melihat Amara sangat cantik menggunakan gaun itu. Gaun yang elegan namun terlihat mewah. Sangat cocok di badan ramping amara. langsung menjatuhkan pilihannya pada gaun tersebut.
__ADS_1
\*\*\* Happy reading 🥰🥰\*\*\*