Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 57 :Gagal mendapat Asupan nutrisi


__ADS_3

Perjalanan yang seharusnya hanya butuh waktu lima belas menit kini menjadi dua puluh menit untuk sampai di sawah pak Hasan.


"Nah..kita sudah sampai "


"Jadi ini sawah bapak? Luas juga ya pak."


"Ya.. alhamdulilah nak."


"Bapak hebat bisa mengelola sawah seluas ini sendiri. Luas sawah ini berapa hektar pak?"


"Maaf pak..sawah pak Hasan hanya yang ini. Yang lainnya semua milik pak Hashim." Ucap Bagas menjelaskan 


"Apa? Jadi ini semua milik paman Hashim?"


"Iya nak..bapak ini hanya petani kecil. Mana mungkin orang miskin seperti bapak mempunyai sawah seluas ini."


"Jangan berkata begitu pak..nasib seseorang tidak ada yang tau."


"Benar pak Ray saya setuju."


"Jadi semua orang itu bekerja untuk paman pak?"


"Iya nak.."


"Berarti paman Hashim petani sukses ya pak? Ini dulunya paman beli atau gimana pak?"


"E…bapak kurang tau nak, paman kan pintar berbisnis mungkin beli."


"Maaf pak Hasan..kata orang tua saya. Sawah pak Hasan dan pak Hashim itu warisan dari keluarga."


"Warisan?? Maksudnya milik orang tua bapak? Tapi kenapa sawah paman lebih banyak??"


"Benar pak..kata orang tua saya semua tanah peninggalan orang tua pak Hasan jatuh ke tangan pak Hashim. Sedangkan pak hasan hanya dapat bagian sawah ini dan sebidang tanah yang sekarang menjadi tempat tinggal pak Hasan


"Benar begitu pak?" Tanya Ray kepada pak hasan. Pak Hasan terdiam sejenak kemudian menjawab.


"Iya nak..tidak apa-apa yang penting bagi bapak, bapak masih bisa makan dan ada tempat tinggal. Lagi pula bapak sudah tua kalau bapak mengelola sawah seluas ini sendiri bapak tidak akan mampu." Jawab pak Hasan dengan senyum


"Tapi ini tidak adil pak..saya yakin orang tua bapak dulu membaginya dengan sama rata."


Pak Hasan sedang mencangkul sementara ray hanya melihatnya dari gubuk. Ray ingin membantu namun pak Hasan melarangnya.ray terus memperhatikan pak Hasan Ray merasa kasihan dengan mertuanya itu. Diumurnya yang tidak lagi muda pak Hasan masih bekerja keras demi sesuap nasi. Sementara kelak saat Amara menjadi istrinya Ray akan membawa Amara pergi. Ray merasa sangat jahat terhadap pak Hasan. 


"Pak.." Ray menghampiri pak Hasan


"Ada apa nak..pulanglah matahari sudah terik, istirahatlah di rumah."


"Bapak tidak pulang?"


"Iya sebentar lagi bapak pulang kamu duluan saja."


"Kalau begitu Ray menunggu bapak saja."


"Ray bantu ya pak..Ray ingin mencobanya."


"Nanti tangan kamu sakit nak.."

__ADS_1


"Ray masih muda pak, masak Ray kalah sama bapak."


"Ya sudah nanti kalau tangan kamu sakit bilang sama bapak ya."


Ray pun mencoba mencangkul, ternyata tidak semudah yang terlihat. Baru beberapa cangkul keringat sudah bercucuran tangannya terasa sakit apalagi punggungnya sangat sakit. Namun Ray tidak menyerah apa kata mertuanya nanti jika baru sebentar saja dia sudah menyerah.


Pak Hasan memperhatikan menantunya itu yang sepertinya sudah kelelahan dan menahan sakit. karena berulang kali Ray berdiri memegangi pinggangnya.


"Sini nak..biar bapak lanjutkan."


"Sebentar lagi pak, Ray masih kuat kok bapak istirahat saja di gubuk bersama bagas."


Setelah hampir setengah jam Ray mencangkul pak Hasan sudah tidak tega melihat menantunya itu.


"Ray..ayo kita pulang."


"Ayo pak." Dengan cepat Ray menjawab. pak Hasan tersenyum samar melihat tingkah lucu Ray. Berulang Kali pak Hasan menyuruh Ray untuk istirahat Ray tidak mau giliran diajak pulang dia sangat bersemangat.


Ray berjalan dengan Bagas di belakangl pak hasan. Ray terus memperhatikan pak Hasan yang berjalan dengan lambat karena kelelahan juga karena usianya yang sudah tidak muda lagi.


Lagi lagi hatinya terasa sakit seharusnya pak Hasan tidak boleh bekerja berat apalagi pak Hasan mempunyai riwayat sakit jantung.


"Pak.." 


"Iya nak.."


"Bapak bisa naik motor?"


"Bisa nak..dulu bapak juga punya motor, tapi bapak jual untuk biaya kelulusan Amara." Miris..ya sungguh miris kehidupan mertuanya ini untuk biaya kelulusan Amara saja pak Hasan harus menjual motornya Ray bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan mertuanya selama ini


"Kenapa pak? Apa uangnya kurang?"


"Bukan nak..tetapi uangnya bapak gunakan untuk mencicil hutang bapak dan untuk biaya makan sehari hari." Ray manggut-manggut


"Maaf pak Hasan kalau saya ikut campur, apa pak Hashim tidak pernah membantu bapak? Ya semua orang juga tau pak, pak Hashim orang yang mampu masak tidak pernah membantu bapak jika bapak kesulitan??" tanya bagas


"Hashim kan juga kebutuhannya banyak gas..apalagi anaknya juga kuliah pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit."


"Tapi pak Hashim kan sawahnya luas pak bisnis peternakan ayamnya juga maju pasti uang bukanlah masalah bagi pak hashim."


"Sudah..sudah..jangan bergosip nanti malah tidak sampai sampai bapak sudah sangat lapar ayo cepat."


_


_


"Bapak nak ray kalian sudah pulang??" sapa Bu jumiati


"Iya Bu.." Ray mencium tangan Bu Jumiati dan mencari keberadaan Amara.


"Amara kemana Bu?"


"Amara kerumah Arum nak..maaf ya tidak minta izin dulu sama kamu."


"Tidak apa apa Bu..kalau begitu Ray masuk dulu."

__ADS_1


"Iya, kamu cepat mandi ya terus makan."


"Iya Bu, pak.. Ray masuk dulu." Pak Hasan mengangguk


"Gimana pak tadi di sawah dengan nak Ray? Pasti manja ya pak terus jijik kena kotor kotoran. Nak Ray kan orang kaya mana pernah pergi ke sawah. 


"Haha..ibu salah. Nak Ray sama sekali tidak manja apalagi jijik Bu. Tadi dia bantu bapak mencangkul Lo Bu."


"Oh ya..nak Ray mau mencangkul pak? emangnya bisa?"


"Nak Ray itu pintar Bu..saat bapak bekerja dia memperhatikan bapak kemudian menggantikan bapak mencangkul dan bapak malah disuruh istirahat Bu. Bapak bangga dengan menantu kita. Awalnya dia sangat kaku, dia memegang cangkul seperti ini." Pak Hasan bercerita dengan penuh semangat bahkan memperagakan apa yang dilakukan ray "lucu ya Bu..padahal dia sangat kelelahan tapi tidak mau berhenti bapak suruh pulang juga tidak mau. Tapi ketika bapak ajak pulang dia langsung bersemangat Bu..haha.. sangat lucu." Raut wajah bahagia tampak sekali saat pak Hasan menceritakan Ray.


"Waah..berarti dia mau pulang bersama bapak."


"Alhamdulillah ya pak kita diberi menantu yang baik dan mau menerima kita apa adanya."


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


"Sudah pulang nduk.."


"Iya buk, bapak baru pulang? Kak Ray mana?"


"Ada dikamar tadi habis mandi."


"Kalau begitu Amara ke kamar ya Bu."


_


_


Terlihat Ray sedang menyisir rambutnya di depan cermin Amara memeluknya dari belakang. Ray tersenyum melihat pantulan dirinya dengan Amara.


"Hemm..baru ditinggal sebentar masak udah kangen."


"Banget..aku kangen banget sama kak Ray." Ray mengubah posisinya menjadi menghadap Amara. 


"Kangen apanya sih sayang??" Amara kembali memeluk Ray


"Pengen dipeluk kak Ray terus.."


"Yakin..cuma dipeluk." Amara mengangguk


"Tapi aku nggak mau kalau cuma peluk."


"Terus?" Amara mendongak


"Aku maunya.." pandangan Ray sudah fokus pada bibir Amara tanpa harus dijelaskan amara sudah mengerti maksud Ray. Amara memejamkan mata ketika wajah Ray semakin dekat dan..


"Amara..Ray..ayo makan siang nak sudah ditunggu bapak."


"Iya Bu!" Gagal deh Ray mendapat asupan nutrisi


\*\*\*Happy reading 🥰🥰\*\*\*

__ADS_1


 


__ADS_2