Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 190 : Bertemu mama ana


__ADS_3

Dion melajukan mobilnya menuju rumah sakit namun ditengah perjalanan Amara tersadar.


"Shh..ahh.." Amara melenguh sembari memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Sayang kamu sudah sadar." 


"Kepalaku pusing sekali, dimana ini?"


" Tenang sayang sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."


"Rumah sakit, nggak! aku nggak mau ke rumah sakit mike aku mau pulang. Nggak! Aku nggak mau pulang aku mau mencari Ray. Aku mau mencari Ray Mike." Amara tiba-tiba bangun dan histeris.


"Dion hentikan mobilnya aku mau mencari Ray dia pembohong, dia sudah membohongiku Dion hentikan mobilnya." Teriak Amara sambil menarik baju Dion dari belakang.


"Amara tenang Amara, jangan seperti ini kita semua bisa celaka."


"Nggak! Cepat hentikan mobilnya Dion." Amara terus menarik baju Dion dan berteriak.


"Amara!!" Mike menarik tangan Amara kasar hingga tangannya terlepas dari baju Dion.


Citttttt


Dion pun menghentikan mobilnya mendadak membuat amara yang setengah merunduk hampir terjungkal jika Mike tidak segera menariknya hingga Amara jatuh dalam dekapan Ray.


"Hiks..hiks..hiks.." amara menangis dalam dekapan Mike bukan karena hampir terjatuh tapi karena Amara lelah dengan semuanya. Hingga saat ini Amara masih belum dipertemukan dengan anaknya.


Mike memeluk Amara erat sambil sesekali mencium puncak kepalanya memberikan dukungan sepenuhnya kepada istrinya.


"Aku janji aku akan membalas apa yang sudah Ray lakukan, Ray harus membayar mahal setiap air mata yang menetes karenanya."


"Kasihan Amara dia sedang hamil tapi ujiannya begitu berat." Batin Dion.


"Pokoknya aku mau bertemu Ray sekarang juga Mike, aku mau bertemu putriku."


"Iya sayang iya kamu tenang ya. Dion kita ke rumah itu sekarang."


"Siap mike."


Dion lantas berbalik arah menuju rumah yang Mike maksud.


"Sayang tidurlah jika sudah sampai akan aku bangunkan, kamu sedang hamil aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa."


"Tapi kita mau kemana Mike?"


"Bukankah kamu ingin bertemu Ray, kita akan menemui Ray sekarang."


Amara mengangguk pelan, lalu merebahkan kepalanya di pundak Mike dan memejamkan matanya. Begitupun Mike dengan lembut mengusap kepala Amara.


Tiga puluh menit berlalu Dion dan Mike sampai di depan sebuah rumah besar tentu saja masih tidak sebanding dengan mansion Mike yang luasnya lebih dari 500 meter persegi.


Tinn tiin


Dion membunyikan klakson mobil. tak lama satpam di rumah itu pun membuka sedikit pintu gerbang dan menghampiri mobil Dion. Dion lantas memberitahu jika ia adalah kerabat dari bosnya satpam tersebut lantas membuka sepenuhnya gerbang tersebut dan mempersilahkan mobil Dion masuk.


Mike lantas membangunkan Amara.


"Sayang bangun kita sudah sampai." Ucap Mike lembut sambil mengelus pipi Amara


"Sayang…" ucapnya lagi

__ADS_1


Perlahan Amara membuka mata lalu melihat sekeliling.


"Ini dimana?"


"Ayo turun kita sudah sampai."


"Tapi ini dimana sayang?"


"Sesuai yang kamu inginkan."


"Rumah Ray??"


"Ayo turun.." lalu mereka segera turun dari mobil.


Mata Amara masih menjelajah sekeliling.


"Jadi ini rumah baru Ray, atau jangan-jangan ini rumah angel tapi terlihat sangat sepi."


"Sayang ayo."


"Iya."


Ting tung..Dion memencet Bell namun pintu tak kunjung dibuka, lalu Dion mengulanginya kembali hingga Bell kedua pintu pun terbuka.


Ceklek 


pintu dibuka dari dalam dan..betapa terkejutnya Amara ketika tau siapa yang membuka pintu


"Mama ana..Amara.." ucap mereka bersamaan. Dengan mata berkaca-kaca Amara memeluk mama ana begitu pun mama ana yang sudah meneteskan air mata.


"Kamu apa kabar nak..?"


Mike menatap Amara dan mama ana dengan tatapan yang susah diartikan.


"Mama juga kangen nak.." lalu mama ana melepas pelukannya.


"Ayo silahkan masuk semuanya." Mama ana mempersilahkan mereka masuk tanpa bertanya dulu siapa mereka karena terlalu senang bisa bertemu kembali dengan Amara.


Mama ana menatap Mike yang duduk di samping Amara lalu Dion yang duduk di sofa single.


"Mereka…"


"Kenalin ma ini Mike suami Amara dan itu Dion sahabat sekaligus asisten pribadi Mike. Lalu Mike berdiri dan mengulurkan tangannya kepada mama ana.


"Mike Louis Edgar." Ucapnya tegas


"Ana mamanya Ray." Ucap mama ana lembut sambil membalas uluran tangan Mike


"Saya Dion Tante." Dion pun sama mengikuti yang Mike lakukan.


"Ana."


"Jadi anda yang bernama pak Mike, Ray pernah bercerita tentang anda. Ternyata anda adalah suami Amara saya sangat senang Amara jatuh ditangan yang tepat."


"Tentu saja tapi saya lebih beruntung bisa mendapatkan perempuan secantik dan sebaik amara."


"Benar pak, Amara memang bukan hanya cantik tapi juga berhati lembut Amara adalah menantu terbaik saya." Mama ana kembali meneteskan air mata.


"Ma..mama jangan nangis."

__ADS_1


"Mama menangis bahagia nak akhirnya mama bisa bertemu kamu lagi."


"Papa dirga di kantor ma?"


"Papa…papa sudah tiada Amara."


"Maksud mama?


"Papa sudah meninggal dua tahun yang lalu Amara hiks..hiks."


"Maaf ma Amara tidak tahu, Amara turut berduka cita."


"Maaf ma Amara tidak tahu, Amara turut berduka cita."


"Terimakasih Amara, oh iya kamu tidak bersama cucu mama?"


"Tidak ma jesen masih sekolah."


"Jadi namanya jesen, nama yang bagus. Sayang sekali padahal mama pengen sekali bisa bertemu dengan cucu mama."


"Iya ma lain kali kita pergi bersama. Sepi sekali ya ma pasti putri Amara juga lagi disekolah ya ma sama angel?"


Deggg…


Amara menanyakan putrinya membuat hati mama ana bergetar apa yang harus mama ana katakan.


"Amara…"


"Iya.." mama ana menggenggam kedua tangan Amara


"Maafkan mama nak mama gagal menjadi Nenek yang baik untuk cucu nenek mama gagal merawat dan menjaganya. Maafkan Ray juga Amara ini memang salah kami.."


Mata Amara mulai berkaca-kaca


"Maksud mama apa?" Tanya Amara dengan suara yang bergetar


"Amara…"


"Maksud mama apa, jawab!!" Bentak Amara dengan air mata yang tidak bisa lagi dibendung, Mike merangkul pundak Amara erat


"Maafkan mama nak, maafkan Ray juga dia sudah tiada nak cucu mama Sudah tiada."


"Nggak.. nggak! Kalian tega kalian jahat hiks..hiks..apa salah Amara ma kenapa kalian tega memisahkan kami bahkan Amara baru Menggendongnya sebentar dimana hati nurani kalian, dimana..??" Teriak Amara sambil terus menangis. Mike memeluk Amara.


"Hiks..hiks..mereka jahat Mike mereka jahat."


"Iya..tenang sayang ingat kandungan kamu ingat anak kita."


"Maafkan mama nak mama juga tidak mau ini semua terjadi, tapi ini sudah takdir."


"Ini semua tidak akan terjadi kalau Ray tidak memisahkan kami."


"Iya mama tau Ray salah tolong maafkan dia nak dia sudah menyesal."


"Sekarang dimana makamnya aku ingin kesana ma."


"Iya, akan mama tunjukan."


.🌹🌹🌹 Bersambung 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2