
"Tolong Ki..Ray ditusuk orang."
"Dimana?"
Kemudian mereka mengikuti bagas
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Ray sudah berlumuran darah dan tidak sadarkan diri.
Mereka membawa Ray menuju klinik dua puluh empat jam menggunakan sepeda motor karena memang itu yang ada.
Ardi berteriak memanggil dokter. perawat pun datang membawa brankar.
Karena waktu yang sudah tengah malam sehingga Ray hanya ditangani dengan peralatan seadanya. Ardi menyuruh Bagas untuk memberitahu Amara. Bagas pun pergi bersama Diki. Sedangkan Ardi dan yang lain menunggu Ray yang masih ditangani bidan setempat.
_
Bagas sampai di rumah Amara. dengan tidak sabaran Bagas mengetuk pintu.
Beruntung Amara sendiri yang membuka karena memang Amara masih menunggu Ray pulang.
"Bagas..Diki..mana kak Ray? Kenapa kamu terlihat cemas?"
"Mbak..pak Ray mbak.." ucap Bagas panik
"Ada apa dengan kak Ray gas?"
"Pak Ray..pak Ray ditusuk orang mbak."
"Apa? Hiksโฆhiks.." Amara menangis. pak Hasan dan ibu Jumiati yang mendengar suara keributan dan suara tangis pun keluar.
"Ada apa ini?" tanya pak hasan
"Amara..kenapa kamu menangis nduk..ada apa ini?"
"Bagas ada apa ini?"
"Pak Ray pak..pak Ray ditusuk orang."
"Apa? Bagaimana bisa gas.."
"Ceritanya panjang pak..sekarang pak Ray ada di klinik."
"Aku mau kesana gas..hiks..hiks."
"Iya mbak mari saya antar."
__ADS_1
"Kita pakai mobil saja gas."
"Bapak ikut nak..ibu juga."
"Iya ayo cepat." Kemudian Amara mengambil tas selempang, handphone dan juga kunci mobil.
Pak Hashim yang memang belum tidur setelah mendapat informasi dari anak buahnya tertawa bahagia melihat Amara dan keluarganya menangis.
"Rasakan kalian. Itulah akibatnya jika berani melawan Hashim." Gumam hashim.
_
_
"Ardi.. dimana keadaan kak Ray?"
"Sabar Amara Ray masih belum sadarkan diri."
Kemudian Amara masuk ke dalam ruangan UGD. Wajah pucat dengan baju yang masih berlumuran darah dan mata terpejam. membuat Amara semakin histeris.
"Kak Ray bangun..kak Ray jangan tinggalin Amara kak. Kak Ray harus kuat demi aku. Kak Ray sudah janji kak Ray akan selalu ada buat aku. Kak Ray akan selalu disampingku.." Amara menangis mendekap tubuh Ray.
Ardi, Bagas dan yang lain ikut menangis merasa sakit melihat Amara dan Ray seperti itu. Mereka baru saja menikah namun sudah mendapatkan ujian yang besar. Ibu Jumiati dan pak Hasan menghampiri Amara.
"Sudah nduk..jangan menangis lagi kita berdoa sama-sama untuk keselamatan nak Ray."
"Sabar ya nduk..kita berdoa saja untuk keselamatan nak Ray."
Atdi telah menghubungi mama ana dan pak Dirga. Sebenarnya mereka ingin langsung kesini namun dicegah oleh Ardi agar kesini besok saja karena sudah terlalu malam.
Amara ikut bergabung bersama Ardi, Bagas, dan teman-temannya duduk lesehan di depan ruang UGD.
"Bagaimana ini bisa terjadi gas siapa yang melakukan ini?"
"Saya juga tidak tau mbak. Kejadiannya begitu cepat. Saat Kami pulang dari pos ronda tiba-tiba ditengah jalan kami dihadang oleh empat orang menaiki dua motor RX-King. Mereka semua memakai baju serba hitam dan penutup kepala tiga orang bertubuh kekar dan yang satunya tidak begitu besar. Lalu mereka menyerang kami. Tapi saya yakin yang menjadi target mereka adalah pak Ray. Karena pak Ray yang selalu di serang oleh mereka. Bahkan orang yang melawan Saya dan pak Ardi juga lebih fokus pada pak Ray. Mereka selalu melihat ke arah pak Ray. Tapi pak Ray hebat pak Ray mampu melawan mereka meskipun dua lawan satu. Tapi sayangnya saat mereka kalah dengan cepat salah satu dari mereka mengeluarkan senjata tajam dan menusuk pak Ray. Kemudian mereka kabur." ucap bagas
"Tapi Ra..Ray sempat bertatap muka dengan pelaku penusukan itu dan Ray berhasil membuka penutup kepalanya. aku juga melihat wajahnya sekilas. Ada tompel di dekat hidungnya lumayan besar. Tapi aku tidak tau sebelah kiri atau kanan. Karena sangat cepat. Tapi jika Ray sudah sadar Ray pasti ingat." Ucap ardi
"Tompel?" Kalau warga asli sini tidak ada yang mempunyai tompel tapi di kampung sebelah ada." Sahut Diki.
"Benar dik..aku juga pernah lihat di kampung sebelah saat di peternakan pak Hashim ada laki-laki bertompel sedang berbincang-bincang dengan pak hashim." Sahut Adi teman Diki
"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan pak hashim Ra."
"Besok kamu harus lapor polisi Ar jika benar ini ada hubungannya dengan paman. Aku tidak akan pernah memaafkannya."
"Dan akan aku pastikan pak Hashim akan mendekam di penjara." Sahut Ardi.
__ADS_1
"Mbak..pak Ray orang baru disini tidak mungkin pak Ray mempunyai musuh. sama kita semua saja pak Ray sangat baik. dan mudah bergaul Kecuali.."
"Kecuali apa gas?"
"Pak Hashim." Jawab Ardi, Bagas dan yang lainnya bersamaan. Ternyata mereka mencurigai orang yang sama.
"Ini akan memudahkan polisi untuk menangkap pelakunya karena sudah ada yang kita curigai."
Pak Hasan dan ibu Jumiati menunggu Ray di dalam ruang IGD.
_
_
Pagi pun tiba seorang dokter tengah memeriksa Ray. Sementara Ardi dan Bagas membuat laporan ke kantor polisi. Diki dan Adi masih di sini sedangkan yang lainnya sudah pulang.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?"
"Bu Amara suami anda sedang kritis. Dia harus segera dioperasi. Tetapi kami tidak dapat mengoperasinya karena disini belum ada dokter bedah juga fasilitasnya. Jadi pak Ray harus segera dibawa ke Rumah Sakit xxx yang lebih besar dan fasilitasnya juga lengkap."
"Baik dok kalau begitu tunggu apalagi sekarang juga kita bawa suami saya."
"Baik mari ikut saya Bu Amara."
Setelah menyelesaikan berbagai prosedur akhirnya Ray dibawa Kerumah Sakit xxx di Surabaya. Amara dan Ray menaiki mobil ambulan bersama dua orang perawat. sementara pak Hasan, ibu Jumiati dan Bagas membawa mobil Ray. Dan ardi masih di kantor polisi. Ardi menyuruh Bagas untuk ikut ke rumah sakit sementara dirinya masih di kantor polisi.
Sesampainya di Rumah Sakit xxx Amara menghubungi mama ana dan memberi tahu mama ana jika Ray dipindahkan di Rumah Sakit xxx. Dengan cepat perawat dan dokter disana menangani Ray. Tim dokter disana juga sudah menghubungi dokter bedah. Saat di sana Amara menunjukan kartu identitas Ray sehingga Ray dapat ditangani dengan cepat. Bahkan bukan hanya satu dokter yang menangani Ray tetapi tiga dokter bedah sekaligus. Amara meminta suaminya ditangani dengan baik karena kondisinya juga Sudah kritis dokter pun mendatangkan tiga dokter spesialis bedah.
Hanya dalam waktu setengah jam semua dokter telah berkumpul di dalam ruang operasi. Selang beberapa menit mama ana dan pak Dirga juga sudah datang bersama Ardi.
"Amara.."
"Mama.." Amara memeluk mama ana dan menangis
"Bagaimana keadaan Ray sayang.." Amara menggeleng.
"Kak Ray sedang dioperasi ma."
"Sabar nak..Ray pasti bisa melalui ini semua." Ucap pak Dirga menyentuh pundak Amara
"Maafkan Amara pa. Amara gagal menjaga kak Ray. Gara-gara kak Ray ikut Amara pulang kak Ray jadi celaka."
"Amara..bukan tugas kamu untuk menjaga Ray. Tapi Ray yang harus menjaga kamu nak. Celaka itu tidak memandang tempat mau dimanapun dan kapanpun kalau memang saat itu adalah hari apes untuk Ray maka akan tetap terjadi nak. Jangan menyalahkan diri kamu ya. Sekarang lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Ray." Amara mengangguk.
bersambung gaess...
๐บ๐บJangan lupa like komen dan vote ya cayang-cayangku ๐๐ dan beri hadiah juga agar author semakin bersemangat dalam berkarya ๐คญ๐คญ lanjut lagi besok ya.
__ADS_1