Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 60 : Salah paham lagi


__ADS_3

Setelah selesai sarapan mereka berpamitan untuk kembali ke jakarta.


"Pak Bu…Amara pamit ya. Bapak sama ibu baik baik dirumah kalau ada apa- apa langsung hubungi Amara. Dan jangan pernah bapak dan ibu meminta bantuan pada bibi rosmala dan paman Hashim lebih baik minta bantuan orang lain."


"Iya nduk..ibu mengerti. Kamu juga hati- hati ya disana. Nurut sama nak Ray sama Bu ana dan pak Dirga."


"Iya Bu..Amara tau kok."


"Pak..bu...Ray pamit. Jaga kesehatan dan jangan memikirkan apapun Ray janji akan menjaga Amara dengan baik."


"Terima kasih nak Ray. Bapak percaya sama kamu."


"Pak Hasan Bu Jumiati..Bagas juga pamit."


"Iya nak bagas..terimakasih ya kamu sudah baik sekali kepada kami."


"Iya Bu sama sama. Setelah berpamitan mereka bertiga meninggalkan kampung halaman Amara.


Suasana di dalam mobil sangat hening tidak ada percakapan diantara mereka bertiga. Amara masih enggan untuk berbicara dengan Ray. Dan Ray pun sama. tidak tau harus berbicara apa kepada Amara. karena Amara membuang muka tidak mau melihat ray dan sesekali fokus pada ponselnya. sementara Bagas dia sungkan sendiri untuk memulai pembicaraan karena melihat Ray dan Amara saling diam.


Ray merasa tidak tahan lagi dengan sikap Amara yang mendiaminya pun mengeluarkan suara.


"Apa ada masalah?" Tanya Ray dengan menggenggam satu tangan Amara


"Tidak." Jawab Amara singkat dan melepas genggaman tangan Ray


"Kamu marah denganku?" Amara tidak menjawab


"Apa karena aku tidak menjawab telepon kamu dan mengabaikan pesan dari kamu semalam kamu marah?? Aku sudah bilang kan jika handphone ku tertinggal kenapa masih marah? Jangan seperti anak kecil Amara sebentar lagi kita akan menikah tolong jangan kekanak-kanakan."


Amara tidak menjawab malas sekali jika harus meladeni Ray.


"Kamu masih tidak mau bicara? Oke..terserah kamu."


"Lho..kok malah dia yang marah sih. Nggak gitu konsepnya bestie😭😭"  batin amara menjerit.


Begitu sampai di kediaman dirgantara Amara turun begitu saja tanpa menghiraukan Ray bahkan Amara menutup pintu mobil dengan keras. Hingga membuat Bagas terjingkat kaget. Ray hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Amara. dan terus memperhatikan nya yang sudah sampai diambang pintu.


"Mbak Amara kenapa pak?"


"Pms." Jawab Ray singkat kemudian keluar dari mobil


"Pak doni.."


"Iya den Ray.."


"Antar Bagas pulang!"


"Siap den."


"Terimakasih pak Ray. Saya pulang dulu..permisi." Ray hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Di depan pintu rumah mewah nan megah itu , Ray disambut dengan mama ana yang sudah berdiri sambil bersedekap dada dengan raut wajah yang serius.


"Mama kenapa cemberut gitu?"


"Kamu yang kenapa, apa yang kamu lakukan dengan menantu mama?"


"Ma..Ray ini capek habis perjalanan jauh. Suruh masuk dulu kek."


"Ma...biarkan Ray masuk dulu." ucap pak Hasan yang baru datang dari dalam.


"Tuh dengerin kata papa. Makasih pa."


"Kalian bertengkar?" Tanya pak Dirga saat Ray akan menaiki anak tangga


"Nggak kok pa."


"Lalu kenapa Amara tidur di kamar tamu?"


"Kamar tamu? Biar Ray lihat." Ray menyusul Amara di kamar tamu.


"Ceklek" Ray langsung masuk tanpa mengetuk pintu. dan benar terlihat Amara yang duduk di tepi ranjang sedang melamun bahkan kedatangan Ray pun Amara tidak menyadarinya.


"Kenapa kamu disini? Kamu ingin menunjukan kepada mama dan papa kalau kita sedang bertengkar? Sudah cukup ya Amara kamu bertingkah seperti anak kecil. Sepanjang perjalanan kamu terus diam dan sekarang kamu tidur dikamar tamu. Kamu kenapa sih? Marah karena aku mengabaikan telepon kamu??" Tanya Ray tanpa basa basi dengan nada tinggi. membuat Mata Amara yang sedari tadi melamun terjingkat kaget. hingga matanya pun berkaca kaca. Ray menarik nafas dalam mencoba mengontrol emosinya.


"Maafkan aku..aku tidak bermaksud membentak kamu." Ray duduk disamping Amara


"Katakan kamu kenapa? apa aku berbuat salah?" Amara masih diam kemudian mengambil ponselnya ia membuka sosial media miliknya dan menunjukkan Video Ray sedang bernyanyi.


Kemudian Amara menunjukan lagi caption unggahan Diki adegan 18+


"Wah..jangan dibuka sayang bahaya tuh." Ucap Ray


"Bahaya kenapa? Memang ada adegan apa?" Amara memicingkan matanya 


"Sayang adegan 18+ itu adegan yang tidak patut dilihat. Nanti sayang pengen loh."


"Emang apa adegannya kenapa aku pengen?"


"Iya..ya..kenapa kamu harus pengen kan ada aku. Tapi yang pasti itu adalah adegan yang sering kita lakukan." Dengan amarah yang sudah diubun-ubun siap meledak, sekali lagi Amara bertanya pada Ray.


"Apa itu?" Ray langsung saja menarik tengkuk leher Amara dan mencium bibirnya. Mata Amara membelalak kemudian mendorong tubuh Ray.


"Kak Ray jahat!" Ucap Amara sambil menangis 


"Sayang kamu kenapa sih? Aku jahat kenapa? Biasanya juga nggak apa-apa aku cium kamu." 


"Kak Ray lihat ini." Ray melihat foto dirinya dan Nining yang ditunjukan Amara dengan caption adegan 18+.


"Sayang aku.."


"Lihat kan captionnya adegan 18+ berarti kak Ray dan perempuan itu sudah..hiks hiks kak Ray jahat." 

__ADS_1


"Sayang kamu salah paham, ini nggak seperti yang kamu pikirkan."


"Kak Ray bohong! Sekarang aku tanya siapa dia kenapa kak Ray bisa sedekat itu. Kak Ray suka dengan dia? Karena dia lebih semok, lebih montok, lebih sexy dari pada aku terus kak Ray tergoda gitu?? Kak Ray emang jahat kak ray pembohong! Keluar dari kamarku.." Amara mendorong tubuh Ray keluar


"Sayang aku bisa jelasin.."


"Nggak! Kak Ray jahat. Keluar sekarang juga."


"Brakk"


Amara menutup pintu dengan keras kemudian menguncinya.


"Sayang dengerin dulu. Kamu salah paham." Pak Dirga dan mama ana yang sedang berada diruang tamu mendengar suara keributan kemudian menghampiri Ray.


"Ray..ada apa? Kenapa kamu teriak teriak?" 


"Amara pa. Dia salah paham sama Ray."


"Sudah Ray. Lebih baik sekarang kamu ke kamar kamu Amara biar mama yang urus."


"Tapi ma.."


"Percaya sama mama.."


"Ya udah Ray percaya sama mama. Tolong mama jelasin sama Amara kalau ini salah paham." Mama ana mengangguk


"Tok tok tok"


"Sayang ini mama..mama boleh masuk nggak?"


"Ceklek" dengan cepat Amara membuka pintu. dan terpampanglah wajah Amara yang banjir air mata


"Sayang..kamu kenapa menangis?"


"Kak Ray ma..kak Ray jahat."


"Iya..iya..sini cerita sama mama." Mama ana menuntun Amara untuk duduk di atas ranjang. Agar posisinya lebih nyaman.


"Sekarang kamu cerita sama mama


Ray kenapa?"


Amara mengambil ponselnya dan menunjukan foto Ray dengan Nining


"Lihat ma.. kak Ray sama perempuan lain."


"Sayang..mama yakin Ray nggak mungkin seperti itu. Ray nggak mungkin menghianati kamu. Dengerin mama ya.." mama ana menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Amara dengan lembut mama ana berkata " Terkadang apa yang kita lihat belum tentu seperti apa yang kita pikirkan. Karena kita hanya melihat dari satu sisi apalagi ini hanya sebuah foto."


"Tapi ma..mereka sangat dekat. Kak Ray kan orang baru di sana, mana mungkin ada yang kenal dengan kak Ray. Dimana bisa mereka sedekat ini kalau tidak ada rasa."


***Happy reading gaess 🥰🥰***

__ADS_1


__ADS_2