
"Awas kamu ray aku tidak akan pernah melepaskanmu" Gumam angel
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Amara sudah menunggu Ray di ruang makan. Amara juga sudah menyiapkan sendok dan garpu.
"Assalamualaikum…" ucap Ray
"Waalaikumsalam..aku disini." jawab Amara berteriak dari ruang makan.
"Sayang ini rujaknya, aku siapkan di piring dulu ya.."
"Lama banget sih aku capek tau nunggunya, ini kenapa banyak banget?."
"Maaf sayang kamu kan maunya rujak abang-abang yang keliling jadi aku muter-muter nyarinya."
"Jadi kamu nyalahin aku, kamu nyalahin anak kita?"
"Eh enggak sayang bukan begitu aku kan cuma cerita aku nggak nyalahin kamu kok."
"Ikhlas nggak nih?"
"Ikhlas banget sayangku.. ini rujaknya ayo dimakan."
Amara pun mulai mencicipi rujak dari Ray.
"Enak nggak sayang?"
"Seger banget.."
"Makan yang banyak ya sayang aku sengaja nyetok yang banyak biar kalau kamu pengen kamu bisa lanngsung mengambilnya di kulkas."
"Ow..jadi maksud kamu biar kamu nggak usah repot-repot beli buat aku gitu."
"Astaga..salah ngomong lagi aku kenapa jadi sensi banget sih." Batin ray
"Bukan sayang maksud aku bukan begitu biar kamu nggak nunggu lama kaya sekarang ini."
"Kirain.."
"Ya enggak dong sayang kapanpun dan apapun yang kalian minta pasti aku turutin."
"Yakin.."
"Yakin dong sayang.. Oh ya sayang kamu tau nggak yang jual rujak ini tuh kakek-kakek panggilannya mbah simen. Aku jadi ingat sama bapak di kampung. Tapi beliau jauh lebih memprihatinkan beliau harus menghidupi cucunya yang masih berumur empat tahun dan juga istrinya. beliau hanya memiliki satu orang anak namun anaknya sudah meninggal karena bunuh diri karena suaminya berselingkuh dan meninggalkannya. Di usianya yang sudah lanjut beliau harus mendorong gerobak dan berkeliling mencari pembeli." Ray bercerita dengan pandangannya yang menatap lurus kedepan seakan masuk menjadi kakek tersebut.
"Kak Ray memang mempunyai hati yang lembut dan mudah tersentuh tapi kenapa hatinya juga harus tersentuh oleh angel??
Huh..aku benci menyebut nama itu." Batin Amara berdialog
"Ya bantulah kak kalau kasihan." Ray tersenyum bukan karena ucapan Amara tetapi karena panggilan Amara. Akhirnya Amara mau memanggilnya kak lagi apa ini artinya Amara sudah memaafkannya.
"Ngapain cengar-cengir?"
"Kamu tadi memanggilku kak apa itu artinya kamu sudah memaafkan aku??"
"Enak aja siapa bilang aku maafin kamu, ingat ya sebelum kamu terbukti tidak berselingkuh aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Nih habisin!" Amara menyodorkan rujak buah yang tadi ia makan.
"Kok aku?"
"Kenapa nggak mau?"
"Ya mau..sayang tapi kan ini buat kamu."
__ADS_1
"Aku udah kenyang."
"Tapi ini masih banyak sayang, masak kamu cuma makan mangganya aja."
"Orang aku cuma pengen mangganya."
"Tau gitu aku beliin mangga aja buat kamu."
"Aku maunya rujak bukan mangga ngerti nggak sih. Kamu nggak mau ngabisin?"
"Iya sayang iya aku habisin ya.."
"Sabar Ray sabar…" batin Ray
_
_
Berbagai menu makan malam sudah tertata di meja makan termasuk sambal petai kesukaan Amara. Ray sengaja meminta Ajeng untuk membuatkan sambal petai kesukaan istrinya.
Ray juga sudah duduk manis menunggu sang istri untuk makan malam.
Amara keluar dari kamar tamu menuju meja makan. Melihat istrinya berjalan ke arahnya Ray segera berdiri dan menyiapkan tempat duduk untuk Amara.
"Duduk sini sayang." Ray menarik kursi untuk Amara
"Kamu makan pakai apa aku ambilkan ya.." Ray menaruh nasi dan lauk lainnya dan yang terakhir sambal petai kesukaan Amara. Saat Amara mencium bau sambal petai perutnya terasa diaduk-aduk dan ingin muntah Amara berlari menuju wastafel.
"Hoek..Hoek" Amara memuntahkan isi perutnya, Ray segera menyusul istrinya dan memijat tengkuk Amara.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" Panik Ray
"Perutku rasanya seperti diaduk-aduk." Ray menuntun istrinya menuju meja makan. Saat Amara duduk kembali di kursinya dan mencium lagi bau sambal petai itu perutnya kembali bergejolak Amara berlari kembali ke wastafel.
"Hoek..Hoek"
Ray kembali memijat tengkuk leher istrinya.
Wajah Amara terlihat pucat dan tubuhnya lemas.
"Kamu tidak apa-apa sayang? Kita kedokter iya.."
"Aku nggak apa-apa. Jauhkan sambal petai itu aku tidak kuat mencium baunya"
"Iya sayang. Ajeng.."
"Iya tuan.."
"Kamu ambil sambal petai itu jauhkan dari istriku dia tidak kuat mencium bau sambal itu."
"Iya tuan siap."
_
_
Malam hari
Ray berada di ruang kerjanya karena tadi pagi ia tidak bekerja jadi Ray mengerjakan semua pekerjaan kantor di rumah.
Sedangkan Amara berada di kamar tamu
Tiba-tiba saja Ajeng mengetuk pintu dan Amara pun menyuruh Ajeng masuk tanpa ia harus membukakan pintu untuk Ajeng.
__ADS_1
"Masuk saja jeng pintunya tidak dikunci" teriak Amara dari atas ranjang.
"Ada apa Ajeng?"
"Ini nona saya mau menunjukan hasil pengintaian saya tadi sore." Ajeng menyerahkan handphonenya yang sudah ia putar, video antara Ray dan penjual rujak tadi.
"Kasihan ya jeng kakeknya."
"Iya nona, tapi nona tenang saja tuan sudah memberi kakek itu uang."
"Terus ngapain kamu video? Kan aku nyuruh kamu video kak Ray kalau bertemu dengan angel."
"Ya biar nona tau kalau tuan itu hatinya baik."
"Udah tau!!"
"Nona jangan bete dulu masih ada video yang kedua yang nona mau."
"Ma..maksudmu Ray bertemu dengan angel?"
"Betul nona."
Deg..jantung Amara seakan berhenti berdetak benarkah mereka bertemu kembali di belakangnya benarkah Ray kembali membohonginya. Hati amara bertanya-tanya
"Nona jangan berpikiran buruk dulu. Coba nona lihat nona pasti suka." Amara pun melihat video itu. Bibirnya terangkat ke atas ia tersenyum melihat Ray mendorong angel hingga terjatuh.
"Cie.. senyum-senyum." Goda Ajeng
"Apaan sih jeng. Udah sana kamu keluar."
"Tuh kan benar kata saya pak Ray itu tidak berselingkuh angel saja yang keg*****n
Sama tuan."
"Iya sudah sana kamu keluar."
"Iya..ya. cieeee nona.."
Ucap Ajeng sebelum membuka pintu.
"Ajeng!! Aku lempar kamu ya dari balkon "
"Ampun nona.." Ajeng pun berlari terbirit-birit.
_
_
Setelah selesai menyelesaikan pekerjaan kantornya Ray turun menuju kamar tamu, ia masuk begitu saja karena pintunya tidak terkunci. Ray mencari sosok istrinya yang tidak ada disana namun Ray mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Ray pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang lalu memejamkan mata.
"Kak Ray!! Kak Ray ngapain disini?"
"Tidur." Jawabnya santai
"Ya aku tau tapi kenapa kak Ray tidur disini?"
"Menemani istriku, istriku tidak mau tidur di kamarku mungkin dia mau ditemani disini."
"Aku nggak mau..kak Ray pergi saja sana tidur dikamar kakak." Amara menarik tangan Ray yang masih asik tiduran. Namun bukannya Ray yang berdiri tetapi dia yang justru terjatuh di atas tubuh Ray dan pandangan mereka bertemu.
Ray membelai lembut pipi Amara. Awalnya amara hanya diam saja menikmati perlakuan Ray kepadanya namun tiba-tiba..
"Plakk"
__ADS_1
Amara menampar pipi ray tidak keras namun berhasil menghentikan kemesraan mereka berdua.
🍁🍁🍁Bersambung🍁🍁🍁