Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 55 : Harusnya aku tidak melamarmu


__ADS_3

Setelah semuanya pulang kini tinggal Ray dan Bagas yang masih berbicara serius di ruang tamu.


"Kamu pulang saja dulu gas nanti setelah berganti baju kesini lagi!"


"Baik pak kalau begitu saya permisi..permisi mbak.."


"Iya. Makasih ya gas.."


"Sama sama mbak."


"Kamu kok tiba tiba ada disini sayang? Kamu nguping ya…hemm??" Tanya Ray yang sudah memeluk Amara dari samping.


"Nggak..lepas kak! malu sama orang. Ayo kita mandi terus ganti baju!"


"Mandi bareng??" Bisik Ray ditelinga Amara dan memberi gigitan kecil di sana.


"Aww.. sakit sayang." Amara mencubit perut Ray.


"Biarin nakal sih."


"Tadi katanya ngajak mandi.."


"Ya maksudnya gantian kak.. udah ah aku duluan."


"Emang bisa mandi sendiri??"


"Emang kakak pikir biasanya aku mandi sama siapa?? Pertanyaan yang aneh."


"Dasar pemarah!" Sambil menarik hidung mancung Amara " Maksud aku emang kamu bisa melepas sanggulnya, ini banyak banget Lo hiasannya."


Amara meraba rambutnya lalu tersenyum kemudian mengulurkan tangannya.


"Apa?" Tanya ray


"Ayo.. bantuin." Kemudian Ray juga tersenyum.


"Dengan senang hati sayangku."


_


_

__ADS_1


Dengan hati-hati Ray melepas satu persatu hiasan di rambut Amara takut jika rambutnya akan patah jika Ray melakukannya dengan kasar karena rambut yang terkena hairspray cenderung kaku dan mudah patah. kemudian melepas sanggulnya Ray sedikit menaburkan bedak bayi pada rambut Amara agar rambutnya sedikit lemas lalu memberikan conditioner agar benar benar lemas setelah lemas barulah Ray menyisir rambut Amara pelan.


"Kak Ray kok tau sih caranya kak Ray pernah bekerja di salon ya?"


"Enak aja. Aku belajar dong. Teman kakak ada yang punya salon jadi kakak belajar dari dia."


"Buat apa?"


"Buat kamu dong..biar kakak juga bisa melakukan apapun yang kamu mau. Apalagi setelah kita menikah biar urusan seperti ini kamu tidak perlu lagi minta bantuan mama."


"Aa..so sweet.." ucap Amara yang sudah menghadap ray


"Kalau gitu makasih dong.."


"Makasih sayang.."


"Gitu doang??"


"Terus?" Dengan cepat Ray menyambar bibir Amara dan ********** hingga membuat Amara sedikit kewalahan. Ray menarik pelan pundak Amara untuk berdiri masih dengan bibir mereka yang menempel. Ray menggiring Amara berjalan ke sudut tembok agar Ray lebih leluasa mencium Amara. Amara mengalungkan kedua tangannya dileher ray yang membuat ciuman mereka semakin dalam.Ciuman Ray turun di leher jenjang amara menjilat dan menghisapnya pelan. tangan Ray membuka resleting baju Amara yang membuat Amara kaget namun membiarkannya. kemudian tangan ray mengelus dan meraba punggung mulus putih susu tersebut. hingga tangannya turun di bokong sintal Amara dan sedikit mengelus serta meremasnya. yang membuat Amara meremang merasakan hal yang aneh. kedua tangan Ray kini berada di dua gundukan Amara namun tidak melakukan pergerakan apapun. Amara membiarkan tangan Ray meraba seluruh tubuhnya. tidak dapat dipungkiri sentuhan hangat dan cumbuan Ray membuat Amara juga menginginkan lebih. Ray menyudahi ciuman dan cumbuanya kala merasakan celananya yang terasa sesak. Ray juga menginginkan hal yang sama Ray menginginkan tubuh Amara namun Ray sadar jika ini salah. Ditatapnya mata sayu Amara yang pasti sama halnya dengan dirinya yang sedang diliputi gairah. Ray mencium kening Amara lama Amara memejamkan kedua matanya menikmati hangatnya bibir Ray di keningnya. Kemudian kening dan hidung mancung mereka saling menempel.


"Harusnya aku tidak melamar kamu." Ucap Ray di tengah tengah kemesraan mereka. Amara mendongak


"Harusnya kita langsung menikah sayang..aku menginginkan kamu. Sangat.." Ray mempererat pelukannya dengan sedikit mendesah menahan sesuatu.


"Iya kak. Aku juga." Ray melepas pelukannya


"Kamu juga merasakan hal yang sama?"


Amara mengangguk


"Apa kamu mau kita.."


"Nggak!" Potong Amara cepat


Ray kembali tersenyum. Ya sudah kamu cepat mandi aku keluar dulu. jika aku masih disini aku takut tidak bisa menahannya.


"Hmm." Amara mengangguk


"I love you sayang.."


"I love you to kak.."

__ADS_1


_


_


Amara telah selesai membersihkan diri begitupun Ray yang kini sedang di teras rumah bersama pak hasan dan bagas melihat orang orang yang sedang membereskan tenda dan panggung.


Amara membawakan kopi dan beberapa cemilan.


"Ngopi dulu kak..bagas.." Ucap Amara


"Ini untuk bapak. Bapak tidak boleh minum kopi ya.." menyodorkan segelas teh untuk pak hasan


"Terimakasih nak.."


"Sama sama pak.." Ray tersenyum melihat interaksi bapak dan anak yang begitu harmonis.


"Ngopi dulu bapak-bapak!" Amara juga membawakan kopi untuk orang-orang yang membereskan panggung.


"Terimakasih mbak.." ucap salah satu pegawai yang terlihat seumuran dengan Ray.


"Sama-sama mas." Jawab Amara sambil tersenyum yang bisa dilihat oleh Ray.


"Nak Ray.. terimakasih banyak sudah melunasi hutang bapak. bapak janji nak bapak pasti akan mengembalikan uang kamu meskipun dengan cara mencicil.


"Tidak usah dikembalikan pak. Ray ikhlas melakukannya bapak dan ibu adalah orang tua Amara itu artinya orang tua saya juga. keluarga ini adalah keluarga saya juga. Dan lagi saya tidak suka dengan cara Tante rosmala memperlakukan bapak dan Amara. Bapak kan kakaknya yang secara tidak langsung sebagai bapaknya juga seharusnya dia bisa lebih menghormati bapak.


"Sudahlah nak tidak apa apa. Bapak sadar bapak salah."


"Maaf pak kalau boleh saya tahu apa maksud Tante ana Amara itu…" Ray menjeda kalimatnya " Maaf pak pembunuh??" Lanjutnya lagi.


"Sebenarnya Amara tidak melakukan apapun nak. lebih tepatnya itu kecelakaan yang menewaskan anak laki laki rosmala. rosmala mempunyai anak laki laki bernama Yudha. Yudha sangat menyayangi Amara. Kemanapun mereka selalu bersama bahkan pulang pergi sekolah Yudha yang mengantar dan menjemputnya meski sekolah Yudha sangatlah jauh dari sekolah Amara Hubungan bapak dulu masih baik baik saja dengan keluarga adik bapak itu. Semuanya berubah sejak kecelakaan yang menewaskan Yudha."


Flashback on


Pagi hari seperti biasa Yudha menjemput Amara pergi kesekolah. Waktu itu Amara masih duduk dibangku SMP kelas dua. sedangkan yudha kelas tiga SMA.


Seperti biasa Amara selalu bermanja jika bersama Yudha. Dan Yudha selalu menuruti apapun yang Amara mau. Saat pulang sekolah Amara meminta yudha untuk mengantarnya ke rumah temannya untuk belajar kelompok. Yudha pun menurutinya hingga kejadian naas itu terjadi.


Amara yang sudah ditunggu teman temannya meminta Yudha untuk menambah kecepatan motornya. Yudha sudah menolak karena jalanan juga licin akibat hujan deras. Tapi Amara bersi keras meminta Yudha menambah kecepatan motornya. Amara mengancam jika Yudha tidak mau menambah kecepatan motornya Amara akan jalan kaki. Yudha yang tidak mau Amara jalan kaki pun menuruti permintaan Amara. Karena kondisi jalan yang licin motor Yudha pun tergelincir. Amara terpental sedangkan yudha tergelincir jauh bersama motornya dan dengan arah berlawanan sebuah truk tangki melaju dengan kencang melindas motor Yudha."


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2