
Amara kembali ke kantor menggunakan ojek online.
Amara berlari kecil masuk kedalam kantor kemudian menuju ruangan Mike.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Amara masuk di ruangan Mike.
"Maaf pak saya terlambat ini pesanan ba..pak." hal sangat mengejutkan terjadi Mike sedang menikmati makan siangnya bersama Dion.
"Kenapa bapak sudah makan?" Tanya Amara dengan wajah yang merah menahan amarah
"Karena saya lapar."
"Maksud saya kenapa bapak makan makanan lain, bukannya bapak menyuruh saya membeli Sushi untuk anda makan siang."
"Kamu terlalu lama saya sudah sangat lapar."
"Lama…anda bilang saya lama apa anda tau dimana saya membeli Sushi ini?" Ucap Amara menggebu-gebu
"Tidak tau, kan kamu yang beli bukan saya."
"Bapak jangan keterlaluan ya."
"Santai dong Amara jangan marah-marah, kamu bagikan saja sushi itu pada karyawan yang lain."
"Ini sebenarnya ada sih Mike..Amara ada apa ini?" Tanya Dion bingung. Amara melangkah berhenti tepat di hadapan Mike, Amara menatap kedua mata Mike tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Enteng sekali bicaramu, kamu tidak tahu perjuanganku Sampai sini seperti apa,
Sekarang dengan mudahnya kamu mengatakan bagikan saja kepada karyawan yang lain, jangan karena aku miskin kamu bisa berbuat seenaknya Mike, aku tau kamu sedang menindasku. kenapa Mike apa kamu tidak suka aku bekerja di perusahaan milikmu, atau karena aku hanya karyawan rendahan yang bisa seenaknya kamu tindas, apa aku sehina itu di matamu, baik aku akan keluar dari perusahaan ini." Amara tidak bisa lagi menahan amarahnya Sambil menangis Amara mengeluarkan semua uneg-unegnya lalu keluar dari ruangan Mike, Mike tidak menyangka Amara akan menangis bahkan keluar dari perusahaan miliknya, sungguh semua diluar rencana Mike tadinya Mike pikir dengan melakukan ini kepada Amara, Amara akan mau menerimanya meskipun itu hanya terpaksa.
"Amara tunggu.." teriak Dion namun Amara sudah menjauh.
"Mike ini sebenarnya ada apa?"
Mike hanya diam dengan nafas yang memburu menahan Amarah
"Mike..apa yang sudah kamu lakukan kepada Amara?"
"Diam!! Beri aku waktu untuk sendiri Dion jangan menggangguku."
"Oke, aku keluar tapi ingat Mike jangan pernah menyakiti Amara." Kemudian Dion benar-benar pergi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Amara pasti sangat membenciku, bagaimana aku bisa mendapatkan Amara jika seperti ini, sial semuanya berantakan."
Kemudian Mike teringat pada jesen ide cemerlang pun muncul di otaknya.
"Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan." Gumam Mike lalu pergi keluar meninggalkan kantor, sebelum meninggalkan kantor Mike menghubungi Dion terlebih dahulu untuk meminta Dion agar menghandle semuanya.
Mike pulang ke mansion entah apa yang sedang Mike rencanakan lagi.
Sesampainya di mansion Dion mencari jesen dan ibu Jumiati.
"BI darmi apa jesen dan ibu Jumiati ada dirumah?"
"Ada tuan muda mereka ada di kamarnya, apa perlu bibi panggilkan?"
"Tidak usah aku akan menemui mereka langsung. Mike lantas naik ke lantai dua dan menuju kamar ibu Jumiati.
"Tok tok tok" Mike mengetuk pintu
"Iya sebentar." Jawab ibu Jumiati dari dalam
"Nak Mike..nak Mike sudah pulang, dimana Amara?"
"Iya Bu aku merasa tidak enak badan jadi aku pulang lebih dulu."
"Nak Mike sakit, biar ibu ambilkan obat dulu ya."
"Tidak perlu Bu, aku tidak sakit hanya ada masalah sedikit, maukah ibu dan jesen jalan-jalan sebentar bersamaku?"
"Tapi nanti Amara mencari kita."
__ADS_1
"Tidak apa Bu, nanti biar Mike yang memberitahu Amara, jesen mau kan jalan-jalan dengan papa?"
"Mau pa."
"Kalau begitu sebentar ya nak Mike ibu siap-siap dulu."
"Iya Bu aku tunggu dibawah, jesen mau ikut papa?"
"Mau pa." Kemudian Mike menggendong jesen di pundaknya.
Sepuluh menit kemudian ibu Jumiati turun
"Sudah nak Mike." Ucap ibu Jumiati
"Ibu sudah membawa baju ganti untuk jesen?"
"Baju, kenapa membawa baju nak?"
"Aku ingin mengajak jesen berenang Bu."
"Oh begitu, sebentar ya ibu ambil dulu."
"Semoga rencana kali ini berjalan dengan lancar." Batin mike
_
_
Mike mengajak ibu Jumiati dan jesen pergi ke Jakarta aquarium agar jesen betah karena melihat berbagai macam hewan laut.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Di mansion
Amara berteriak memanggil ibu dan anaknya setelah tidak menemukan mereka di kamarnya.
Amara terus memanggil mereka sambil mencari di ruangan lain.
"Ada apa nona?" Tanya sari
"Sari apa kamu melihat jesen dan ibuku?"
"Tidak nona, tapi tadi katanya l bI darmi melihat mereka."
"Dimana BI darmi sekarang?"
"BI darmi sedang keluar nona."
Tak lama BI darmi pun datang, Amara langsung menghampiri bi Darmi dan menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
"BI kata sari bibi tadi melihat jesen dan ibuku dimana mereka bi?"
"Itu nona ibu sama jesen dibawa tuan Mike."
"Apa? Dibawa kemana bi?"
"Tidak tahu nona tapi tadi saya lihat ibu membawa ransel."
"Apa??" Amara semakin panik, Amara teringat dengan kata-kata Mike tadi malam yang akan membawa jesen pergi jika Amara tidak mau memberi jawaban iya.
Amara menjatuhkan tubuhnya di lantai kemudian menangis tidak tau harus mencari jesen dan ibunya kemana.
"Nona..nona kenapa menangis?"
Tanya sari dan maid yang lain merasa panik
"Aku harus mencari mereka kemana sari, aku nggak mau kehilangan mereka, hanya mereka harta yang aku punya."
"Kenapa nona panik, apa tuan Mike membawa ibu dan jesen pergi?" Batin sari
"Coba nona hubungi saja tuan muda tanyakan mereka ada dimana?"
__ADS_1
"Iya kamu benar juga sari." Dengan semangat Amara bangkit dan hendak ke kamar seketika Amara teringat jika dia tidak punya handphone. Amara berdiri mematung sari yang menyadari ada yang tidak beres lantas menghampiri Amara
"Kenapa nona, apa nona berubah pikiran?"
"Aku lupa sari aku nggak punya handphone."
"Pakai telepon rumah saja nona." Ucap bi Jum. Amara pun tersenyum lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Sesampainya di kamar Amara kembali bingung dia tidak tau nomor telepon Mike.
"Aku kan tidak tau nomor Mike." Amara duduk di tepi ranjang sambil memegang kepalanya yang mulai berdenyut.
"Nona.." panggil Eny yang tiba-tiba masuk karena kamar terbuka.
"Eny ada apa?"
"Nona tekan saja angka 1 nanti akan otomatis tersambung dengan handphone tuan muda, semua telpon rumah sudah diatur oleh tuan muda.
"Terimakasih ya Eny."
"Sama-sama nona, saya permisi."
Amara segera menghubungi Mike tak lama sambungan terhubung tak butuh waktu lama Mike menjawab panggilan tersebut.
"Halo Mike ini aku Amara, kamu bawa kemana anak dan ibuku?"
"Kenapa?? aku membawa mereka bersenang-senang." jawab Mike enteng
"Tapi kata bI darmi ibu membawa ransel, kamu bawa mereka kemana?"
"Tentu saja ibu membawa baju karena aku tidak akan membawa mereka kembali lagi."
"Mike!! Kamu jangan macam-macam ya."
"Siapa yang macam-macam bukankah aku sudah bilang kemarin kamu harus mau menikah denganku kalau tidak akan aku bawa jesen pergi, tapi apa yang aku dapat bukanya memberi jawaban kamu malah menghindar, jadi aku putuskan untuk membawa ibu juga."
"Mike aku mohon jangan lakukan ini, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka."
"Kalau begitu putuskan sekarang, mau atau tidak."
"Mike aku.."
"Aku hitung sampai tiga, satu…"
"Mike kamu tidak bisa memaksa seseorang.."
"Dua…"
"Kita tidak saling mencintai, bagaimana mungkin kita menikah."
"Ti.."
"Oke aku mau!" Jawab Amara cepat saat detik terakhir
"Benarkah coba ulangi lagi."
"Aku mau menikah denganmu Mike."
"Bagaimana jika kamu berbohong."
"Aku tidak berbohong, kamu jangan khawatir."
"Kamu dimana sekarang?"
"Dirumah."
"Tunggu aku tiga puluh menit lagi aku sampai, jangan kemana-mana."
Kemudian panggilan berakhir.
🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹
__ADS_1