Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 81 : Kehamilan palsu


__ADS_3

"Aku tidak suka kamu masih membahas tentang Kevin. Apapun itu jika berhubungan dengan Kevin ataupun farah aku tidak suka.jadi jangan pernah membicarakan mereka. Kamu mengerti?"


"Iya kak aku mengerti."


"Maaf ya aku tadi pergi begitu saja." Amara mengangguk


"Ayo kita tidur."


Mereka pun tidur dengan saling berpelukan.


_


_


Ray sudah berangkat ke kantor, amara mulai mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri membersihkan rumah. 


Terdengar suara ketukan pintu, Amara pun membukanya ternyata mama ana dan seorang gadis manis terlihat masih di bawah umurnya membawa tas besar.


"Ini siapa ma?"


"Ini Ajeng sayang..asisten rumah tangga kamu yang kemarin mama ceritakan. Ajeng kenalin ini Amara nyonya kamu."


"Saya Ajeng Bu.."


"Jangan panggil Bu dong. Kedengarannya saya tua banget. Panggil mbak aja."


"Saya tidak enak jika panggil mbak, nona saja bagaimana?"


"Cukup bagus. Okelah. Ayo masuk  dulu ma." Ajak Amara kepada mertuanya dan Ajeng.


"Maaf sayang, mama tidak bisa menemani kamu. Mama ada arisan nggak apa-apa kan mama tinggal?"


"Nggak papa kok ma. kan udah ada Ajeng jadi Amara ada temen ngobrol."


"Ya sudah mama tinggal ya sayang. Ajeng..kamu baik-baik disini, jangan macam-macam dan jangan sampai membuat ulah. Ingat Amara adalah menantu kesayangan ku jadi kamu harus nurut kata menantuku. Kamu mengerti?"


"Saya mengerti nyonya. Saya janji saya akan bekerja sebaik mungkin untuk nona Amara."


"Bagus, kalau begitu mama pulang ya sayang."


"Hati-hati ya ma.." kemudian Amara mencium punggung tangan mama ana.


_


"Jadi ajeng kamu itu keponakannya BI Jumi?"


"Iya nona saya keponakannya bibi jumi"


"Kamu sudah berkeluarga?"


"Belum nona.."


"Kamu lulusan apa SMP, SMA atau masih kuliah?"


"Saya hanya lulusan SMA nona, dan saya anak yatim. Bapak saya meninggal sewaktu saya berumur dua belas tahun dan adik saya baru berumur empat tahun. Saya ingin membantu ibu saya. Saya tidak tega melihat ibu saya banting tulang sendirian." Amara manggut-manggut. Ia jadi teringat dulu saat pertama ke Jakarta ia juga hanya lulusan SMA demi orang tua dan masa depan yang lebih baik ia memberanikan diri hidup di kota yang keras seorang diri. bedanya Amara masih mempunyai orang tua yang lengkap.

__ADS_1


"Adik kamu laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki nona, namanya Anton."


"Aku kagum sama kamu, kamu masih remaja tapi pikiranmu sangat dewasa. Adik dan ibumu pasti bangga."


"Terimakasih nona."


"Jadi pekerjaan kamu disini itu sama seperti art pada umumnya. Bedanya kamu tidak perlu memasak karena suamiku maunya aku yang masak. Hehe.. lucu ya."


"Itu namanya romantis nona."


"Gitu ya..kita disini cuma tinggal berdua aku dan suamiku. Namanya Ray. Rayen Dirgantara. Itu foto suamiku biar kamu tidak salah orang." Tunjuk Amara pada bingkai foto besar pernikahannya.


"Ganteng ya nona.. sangat serasi dengan nona.nona cantik tuan ganteng."


"Terimakasih atas pujiannya. Ayo aku tunjukan kamar kamu." 


"Ini kamar kamu. Semoga kamu betah ya bekerja disini. Kamu bisa istirahat dulu jika capek. atau langsung kerja juga boleh terserah kamu."


"Insyaallah nona seperti nya saya akan betah. Nona sangat baik. Terimakasih nona."


_


_


Di kediaman Antoni


"Farah aku mau mengajakmu ke suatu tempat, sekarang kamu siap-siap aku tunggu dibawah."


"Untuk apa aku bercanda, seperti kataku kemarin Aku akan mengadakan acara tujuh bulanan jadi…"


"Ow…jadi kamu sudah menyiapkan surprise buat aku dan anak kita. Kamu sengaja tidak ke kantor hanya demi aku sayang?" Potong Farah


"Cepat siap-siap aku tunggu dibawah."


"Oke sayang. Aku akan dandan se…cantik mungkin." Kevin pun keluar.


"Akhirnya.. pengorbanan dan penantian ku tidak sia-sia Kevin sudah mulai peduli denganku. Dan sebentar lagi aku akan mengisi seluruh hatinya dengan namaku." gumam Farah.


Kevin sengaja menunggu di luar agar ia bisa menghubungi dimas untuk bersiap-siap karena target sudah masuk perangkap.


"Kenapa aku jadi merasa takut. Aku takut jika kecurigaanku benar. Lalu apa yang harus aku lakukan. Apa Amara masih mau kembali padaku?" Batin Kevin.


"Sayang aku sudah siap." Ucap Farah.


"Oke kita berangkat sekarang." Dengan hati yang berbunga-bunga Farah menggandeng tangan Kevin. Kevin membukakan pintu mobil untuk Farah.


"Terimakasih sayang." Kevin hanya tersenyum kecil. Senyum bahagia begitu kentara di wajah Farah.


"Sepertinya Kevin sudah benar-benar menerimaku." Batin Farah.


Saat hampir sampai Kevin menutup mata Farah dengan kain hitam. Farah menurut karena menurutnya ini adalah bagian dari surprise yang diberikan Kevin. Dalam bayangan Farah Kevin menyiapkan kejutan yang luar biasa indah.


Akhirnya mereka sampai setelah menempuh perjalanan hampir satu jam di sebuah klinik khusus untuk ibu bersalin.

__ADS_1


Dimas sudah menunggunya di depan pintu masuk bersama seorang dokter spesialis kandungan.


Perlahan kevin menurunkan Farah dan menuntunnya untuk masuk ke klinik.


"Sayang ini tempat apa sih. Aku boleh buka nggak penutupnya?"


"Sebentar lagi ya, kamu sabar dulu."


"Oke sayang demi kamu aku akan bersabar." Kevin mengkode Dimas dengan matanya untuk segera masuk. Setelah berada di dalam ruangan Dimas memegang tangan kiri Farah dan Kevin tangan kanan Farah. Kemudian dokter tersebut mengunci pintu ditemani dua perawat laki laki dan perempuan. Mereka mulai menjalankan rencananya.


"Sayang ini kenapa aku dipegangi begini sih, ini siapa yang pegang tangan aku?"


Kevin tidak menjawab, perawat laki-laki mengambil tali dan mengikat kedua tangan Farah agar tidak memberontak nantinya.


"Sayang kenapa tangan aku diikat? Sayang ini tidak lucu ya." Kevin masih tidak menjawab. Kemudian Kevin melepas kain penutup mata Farah.


"Surprise.." ucap kevin penuh kemenangan. Farah kaget bukan main melihat ada seorang bidan dan perawat.


"Sa..sayang ini dimana?"


"Kamu senangkan dengan kejutannya?" Wajah Farah berubah pucat seketika.


"Ayo kita mulai." Ucap Kevin kepada dokter tersebut.


dokter tersebut mengambil alat untuk ia melakukan USG. Kemudian ia akan membuka sedikit baju Farah namun Farah mencegahnya.


"Jangan!"


"Aku tidak mau diperiksa, kalian pasti ingin membunuh anakku kan? Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan itu terhadap anakku."


"Tenang Bu..saya hanya akan memeriksa kandungan ibu. Suami anda ingin tau jenis kelamin dari anaknya." Ucap dokter tersebut.


"Bohong! Kamu pasti dokter gadungan kan? Aku tidak percaya padamu."


"Cepat lakukan dokter."


"Matilah aku..semuanya akan berakhir." Batin Farah.


"Dokter tersebut meletakkan alat yang bernama stetoskop di atas perut farah. Namun dokter tersebut tidak bisa mendengar apapun. Dokter itu kembali meletakan alat pendeteksi detak jantung di perut Farah juga tidak terdengar apapun. Dokter mulai curiga. Ia memegang perut Farah dengan sedikit menekannya namun terasa aneh kecurigaannya semakin bertambah besar. Dengan cepat dokter tersebut membuka baju Farah bagian perut dan alangkah terkejutnya semua orang. Melihat sebuah kain bersemayam di perut farah.


"Apa ini?" Tanya dokter tersebut.


"Ternyata benar kamu telah menipuku Farah. aku tidak akan pernah memaafkanmu." Teriak Kevin. Dimas membuka ikatan tangan Farah


"Sayang maafin aku sayang." Farah berlutut di depan Kevin.


" Jangan pernah kamu memanggilku sayang. Aku jijik mendengarnya. Dengar Farah aku akan mengurus perceraian kita."


"Nggak Vin, kamu jangan tinggalin aku, aku tidak mau. Aku cinta sama kamu Kevin, aku melakukan ini semua karena aku cinta sama kamu Vin."


"Ini bukan cinta Farah tapi obsesi. Kamu sudah membuat aku kehilangan seseorang yang sangat aku cintai dengan kehamilan palsumu itu. Aku benci denganmu Farah. Minggir!"


"Nggak, aku nggak mau." Kevin mendorong Farah hingga terjatuh kemudian pergi meninggalkan Farah yang menangis meraung-raung.


\*\*\* Happy reading gaess 🥰 🥰\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2