Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 48 : Akibat Dua Tanda Merah


__ADS_3

Ray membawa Amara kerumah sakit menggunakan mobilnya dengan Ardi yang menyetir. Sementara ia memangku Amara di jok belakang. Ray mengelus bibir Amara yang mengeluarkan darah dengan lembut kemudian pipinya yang mulai membengkak dan darah di keningnya yang sudah mengering air matanya kembali menetes. Ray tidak bisa membayangkan bagaimana Amara berjuang sendirian hingga dianiaya seperti itu. 


"Aku tidak akan melepaskan mereka Ar. Akan ku pastikan mereka akan mendekam di penjara seumur hidup!" Pelan namun penuh dendam itulah arti kata yang tersirat dalam ucapan Ray. Matanya tidak lepas memandang wajah pucat amara


"Iya pak saya setuju."


"Lebih cepat lagi Ar. Kasihan Amara."


"Baik pak." Dua puluh menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit Citra Medika. Ray berlari membopong tubuh Amara dan Ardi memanggil dokter


"Dokter! Dokter!" Teriak Ray di lorong rumah sakit. Kemudian beberapa suster datang dengan membawa brankar. Dengan pelan Ray membaringkan tubuh Amara. Dengan cepat suster itu mendorong brankar tersebut menuju ruang periksa.


"Ray!" Sapa dokter rudi sekaligus sahabat Ray begitu memasuki ruangan.


"Rudi. Cepat periksa calon istriku."


"Calon istri? Wah kamu sudah mempunyai calon istri Ray." Ray menatap Rudi dengan tatapan elangnya matanya memerah dengan wajah yang tegas.


"Apa harus kamu menanyakan ini Sekang? Cepat periksa dia! Jika terjadi sesuatu dengannya kubunuh kau." Tunjuk Ray pada dokter rudi.


"I..iya Ray. Kamu bisa keluar dulu." 


"Tunggu Rud!" Ray teringat pada Amara yang hanya mengenakan bra dan jasnya sebagai penutup.


"Kenapa Ray?"


"Biar suster menggantikan baju Amara."


"Baik Ray." setelah Amara memakai baju dokter rudi pun memeriksanya.


_


_


Sementara pak Dirga berada dikantor polisi untuk dimintai keterangan dan ketiga bajingan itu sedang mendapat perawatan karena luka tembak masing masing.


Setelah selesai memberi keterangan pak Dirga menghubungi Ardi dan menanyakan keberadaan serta kondisi Amara.


Lalu setelahnya pak Dirga menghubungi istrinya dan memberitahu jika Amara sedang dirawat dirumah sakit Citra Medika namun pak Dirga belum bercerita tentang penculikan yang menimpa Amara yang menyebabkannya kini terbaring di rumah sakit.


_


_

__ADS_1


Amara telah dipindahkan keruang rawat. Ray dengan setia berada disamping Amara menggenggam tangannya  dengan sesekali mencium tangan itu.


"Cepat bangun sayang..aku merindukanmu. Bukankah kamu sudah berjanji untuk memperkenalkan aku kepada orang tuamu. Kamu juga berjanji untuk tidak akan meninggalkanku lagi." Ray menunduk menggenggam tangan Amara dan menciumnya lama. Menyalurkan rasa cinta yang ia miliki untuk Amara. Ray merasakan seseorang menyentuh pundaknya pelan.


"Ray.." sapa mama ana lembut. Ray mendongak dan telah berdiri mama ana disampingnya. Ray berdiri dan memeluk mama ana. Ray tidak bisa menyembunyikan kerapuhan hatinya ia menangis dalam pelukan mama ana. Begitu Pun mama ana yang juga ikut menangis. 


Setelah lebih tenang Ray melepas pukannya dan menghapus air matanya menggunakan lengannya. Mama ana melihat calon menantunya yang terbaring dengan luka dikeningnya pipi yang membengkak dan sudut bibir yang lebam. Kemudian melihat penampilan anaknya yang berantakan. Rambut acak acakan baju putih yang terdapat banyak noda darah membuat mama ana kembali meneteskan air mata.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ray. Ada apa dengan Amara?"


"Ray gagal menjaga Amara ma. Ray gagal menjadi pelindung untuk Amara. Ray tidak berguna ma.. tidak berguna." Teriak Ray dengan menjambak rambutnya sendiri. Mama ana memeluk Ray kembali untuk menenangkannya.


"Nggak sayang..kamu tidak gagal ini semua musibah. Tolong jangan menyalahkan diri kamu sendiri nak. Mama yakin jika Amara melihat kamu seperti ini dia pasti sedih."


"Mama benar. Aku tidak mau Amara sedih. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi." Ray melepas pelukan mama ana dan mencoba menenangkan diri. Ray berjalan menuju sofa yang ada di ruangan. Mama ana mengikuti Ray dan duduk disampingnya.


"Minum dulu nak!" Mama ana menyodorkan sebotol air mineral untuk Ray 


"Makasih ma." Setelah lebih tenang mama ana kembali bertanya pada Ray tentang apa yang terjadi. Ray pun menceritakan kejadian yang menimpa Amara.


"Apa? Siapa mereka Ray? Jangan biarkan mereka lolos. Kasihan Amara pasti dia sangat ketakutan Ray. Bagaimana kata dokter apa ada luka serius?"


"Untuk sementara hanya luka diwajahnya ma. Dokter masih menunggu hingga Amara sadar kembali ma."


"Tidak ma! Dokter sudah memeriksanya. Amara masih virgin mereka belum berhasil untuk itu. Tapi…"


"Tapi apa Ray?" Ray teringat kembali ada dua tanda merah bekas kecupan di dada atas Amara dan dileher bagian depan. Yang membuat Ray berat untuk mengatakannya.


"Ray..kenapa kamu malah diam. Apa yang terjadi?"


"Saat Ray datang satu laki laki telah berada diatas tubuh Amara ma. Dan baju Amara telah terbuka. Ray tidak tau ma apa yang telah mereka lakukan."


"Tapi kamu bilang barusan Amara masih virgin Ray."


"Iya benar ma! Amara memang masih virgin tapi laki laki itu telah menjamah tubuh bagian atas Amara ma. Bahkan laki laki itu meninggalkan jejak disana."


"Apa kamu kecewa pada Amara?" Ray tidak menjawab


"Apa kamu sekarang merasa jijik dengannya?" Ray masih tidak menjawab


"Apa kamu menyalahkan Amara?"


"Tidak ma!"

__ADS_1


"Sekarang mama tanya apa saja yang kamu lihat sewaktu kamu datang. Apa semua pakaian Amara sudah berantakan?"


"Tidak ma. Hanya kaosnya yang sudah terlepas. Semuanya masih rapi."


"Lalu apa yang membuat kamu berfikir sejauh itu."


"Sejauh apa ma? Ray tidak memikirkan apapun."


"Bohong! Mama tau Ray dalam setiap kata yang kamu ucapkan terkandung makna didalamnya. Kamu berkata tidak. tapi hati kamu menolak jika Amara masih baik baik saja. Kamu mengatakan jika tubuh atas Amara sudah terjamah oleh laki laki itu. Artinya kamu menganggap jika Amara telah ternodai. Iya kan Ray. Jawab mama!" Teriak mama ana.


"Tapi laki laki itu meninggalkan jejaknya disana ma. Yang Ray sendiri pun belum pernah merasakannya." Jawab Ray yang tak kalah teriak.


"Plak"


Mama ana menampar pipi Ray.


"Mama kecewa denganmu Ray. Kamu lupa jika mama juga seorang perempuan. Bagaimana jika semua itu menimpa mama bagaimana jika papamu juga sama sepertimu. Apa ini yang kamu sebut dengan cinta Ray? Jika kamu tidak bisa menerima Amara biar mama yang merawatnya." Lalu mama ana pergi mendekati Amara dan duduk disampingnya.


"Ma…" panggil Ray lemah.


"Pulanglah biar mama yang menjaga Amara."


"Ray ingin disini menemani Amara ma."


"Untuk apa Ray? Bukankah kamu jijik dengan tubuh ini untuk apa kamu masih peduli terhadapnya."


"Ray tidak jijik ma."


"Lalu?"


"Ray hanya.."


"Sudahlah Ray pulanglah ganti bajumu dan tenangkan dirimu." Ray mendekat ingin menyentuh Amara namun mama ana menghentikannya.


"Pulang Ray!"Ray pun meninggalkan mama ana dan Amara di rumah sakit. dan pulang bersama Ardi. 


Entah apa yang dirasakan Ray saat ini dia mencintai Amara bahkan sangat mencintainya dia tidak bisa melihat Amara terluka. Ray juga merasakan sakit yang teramat saat melihat kondisi Amara yang seperti itu. tapi Ray juga merasa sakit hati kala mengingat bekas yang ada di dada atas Amara dan di lehernya yang membuat Ray memikirkan hal yang tidak tidak. bahkan mampu menimbulkan rasa aneh pada dirinya. 


*kasihan Amara gaess😭😭


*Ray jangan tinggalkan Amara ya🙏🙏


*jangan lupa like komen dan vote😀😀

__ADS_1


          *** happy reading 🥰🥰***


__ADS_2