
"Ayo pulang." Ajeng berjalan di samping Ardi. Dan sesekali berlari kecil mensejajarkan langkah kaki Ardi yang panjang.
Ray membukakan dan menutup pintu mobil Amara dengan keras membuat Amara memejamkan mata ketakutan.
Dengan cepat ardi dan Ajeng memasuki mobil. Kemudian Ray menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Amara ketakutan namun tidak berani mencegah Ray. Ardi melihat Amara yang ketakutan. dia merasa kasihan dengan Amara.
"Ray! Pelankan mobilnya kita semua bisa celaka." Tegur Ardi namun sama sekali tidak digubris oleh Ray.
"Ray! Kasihan istri Lo, dia sangat ketakutan." Ray melirik amara yang memejamkan mata wajahnya tampak pucat. Ray sedikit mengurangi kecepatan mobilnya.
Sesampainya di rumah Ray kembali menarik tangan Amara dengan kasar.
"Ayo cepat turun."
"Sakit kak. Tolong jangan seperti ini."
"Jangan seperti ini? Lalu seperti apa yang kamu mau? Melihat istriku selingkuh aku harus diam saja begitu yang kamu mau?" Ucapnya dengan nada tinggi.
"Ray kita masuk dulu Ray nggak enak di lihat tetangga."
"Lo diam Ar. Ini urusan rumah tangga gue. Mending Lo ajak Ajeng masuk." Ardi menghela nafas kasar. Jika sudah marah Ray tidak akan bisa diajak bicara baik-baik. Dan itulah sisi buruk Ray tidak bisa mengendalikan emosi. Ardi dan Ajeng pun masuk ke dalam rumah.
"Benar kata Ardi lebih baik kita masuk kak." Amara pun masuk mendahului Ray.
"Amara aku belum selesai bicara." teriak ray. Amara terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Rasanya Amara sangat jengkel dengan sifat Ray yang selalu menuduhnya selingkuh. Apalagi dengan sifat emosional Ray yang tidak terkontrol membuat Amara merasa lelah.
"Aku belum selesai bicara Amara Andini!" Teriak Ray sekali lagi dengan suara yang sangat lantang. Amara menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarnya.
"Kenapa sih kak, kak Ray selalu menuduhku selingkuh dengan Kevin. Aku tidak pernah melakukan itu kak. Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dan apa yang kamu lihat tidak seperti yang ada dipikiran kamu. Aku tidak sengaja menabrak dia. Dan dia reflek menangkapku agar tidak terjatuh itu saja."
"Kamu pikir aku percaya begitu saja. Tidak Amara. Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua pasti sudah diatur."
"Jadi menurutmu aku sengaja bertemu dengan Kevin?" Ray tidak menjawab
"Aku tidak suka kak Ray menuduhku seperti itu, aku tidak pernah membuat janji dengan Kevin, apalagi berselingkuh dengannya. Hiks..hiks.." Amara tidak bisa lagi menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kevin itu masa laluku. Dan aku sudah memilih kak Ray sebagai pendamping hidupku. Kenapa kak Ray masih saja menuduhku berselingkuh dengannya. Kak Ray lihat sendiri kan aku ataupun kak Ray tidak sendiri disana juga ada ajeng dan Dimas sahabat kak Ray. Kenapa kak Ray tidak bertanya kepadanya jika tidak percaya denganku. Aku kecewa dengan kak Ray." Kemudian Amara memasuki kamar membanting pintu dengan keras dan menguncinya. Ray diam mematung memikirkan ucapan Amara.
Ardi yang mendengar pertengkaran mereka dari bawah memilih diam. Ardi sangat tau jika Ray sangatlah keras kepala.
__ADS_1
"Kasihan Amara." Lirih Ardi.
_
_
Kevin dan Dimas berada di sebuah bar.
"Lo emang gila Vin. Gue yakin Amara dan Ray Pasti bertengkar gara-gara Lo."
"Baguslah kalau mereka bertengkar. Jadi gue nggak perlu repot-repot buat misahin mereka." Tiba-tiba handphone dimas bergetar satu pesan masuk dari Ray yang mengajaknya bertemu di cafe biasa mereka nongkrong.
"Emang sakit jiwa Lo." Ucap dimas sambil berdiri.
"Eh mau kemana Lo?"
"Cabut. Bisa ikutan gila gue lama-lama dekat Lo." Kevin hanya tersenyum mendengar ucapan Dimas.
_
_
Dimas telah sampai di cafe biasa mereka berkumpul. Dimas segera masuk dan benar saja Ray telah menunggunya sambil melamun. Dimas segera menghampiri Ray.
"Duduk!" Jawabnya singkat.
"Gue tau Lo pasti marah sama gue. Gue bisa jelasin."
"Buruan jelasin!"
"Jadi dari pagi gue bersama Kevin. Kevin membuat jebakan buat Farah. Karena dia curiga dengan kehamilan Farah. Dan gue bantuin dia."
"Gue nggak peduli tentang Farah dan Kevin."
"Gue tau Ray. Tapi Lo harus tetap dengar dari awal biar Lo tau gue nggak ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi." Ray tidak menjawab, dimas pun kembali melanjutkan ceritanya.
"Dan benar dugaan kita Farah tidak hamil sungguhan, dia hanya menjebak Kevin. Setelah semuanya terbongkar Kevin merasa hancur hatinya, gue coba buat tenangin dia. Gue temenin dia karena gue takut dia bunuh diri. Dia kebut-kebutan di jalan seperti orang gila yang tak punya tujuan. Hingga akhirnya dia berhenti di monas. Dia berkata jika Monas adalah tempat pertama yang Amara kunjungi saat mereka pacaran dulu." Ray mengepalkan tangannya mendengar cerita Dimas. Yang Ray tangkap adalah Kevin sengaja ke Monas untuk mengingat hubungannya bersama Amara.
"Seharian kita hanya muter-muter sampai akhirnya gue capek dan marah sama Kevin. Gue mutusin buat ngajak Kevin pulang. Tapi saat jalan pulang Kevin tiba-tiba menabrak seseorang yaitu Amara. Amara hampir terjatuh dan Kevin menangkapnya itulah kejadian yang sebenarnya."
__ADS_1
"Jadi Lo dan Kevin tidak ada janjian untuk bertemu?"
"Gue berani sumpah Ray gue.."
"Sorry!" Potong Ray cepat.
"Gue ngerti perasaan Lo, wajar kalau Lo juga marah sama gue. Yang penting Lo udah tau kejadian yang sebenarnya. Yang gue takutin Amara. Lo kelihatannya marah banget sama dia. Lo nggak macem-macem kan sama dia?" Ray teringat dia sudah berbuat kasar dengan amara
"Astaghfirullah hal adzim..apa yang udah gue lakuin." Ray mengusap wajahnya kasar dengan tangannya.
"Kenapa Ray semua baik-baik saja kan?"
"Gue harus pulang dim. Gue harus minta maaf sama Amara." Dimas tau pasti sudah terjadi sesuatu diantara mereka.
"Hati-hati ya..gue selalu dukung Lo."
_
_
Amara menangis di dalam kamarnya. Semakin kesini sifat Ray semakin terlihat menakutkan. Sebenarnya dia menikah dengan siapa Amara seperti tidak mengenal sosok Ray dulu yang selalu bersikap lembut kepadanya. Bahkan melihatnya menangis saja Ray tidak bisa. Tapi sekarang Ray bahkan bisa berbuat kasar kepadanya. Sudah satu jam Amara menangis duduk bersandar di bawah pintu.
"Tok tok tok"
"Sayang…buka pintunya aku minta maaf sayang."
Suara Ray mengetuk pintu dan meminta maaf.
"Sayang…aku tau aku salah. Aku minta maaf. Ayo dong sayang buka pintunya."
Amara pun membuka pintunya untuk Ray.
Ray menatap wajah Amara matanya terlihat sangat sembab dengan rambut yang berantakan. Ray merasa sangat bersalah apa yang sudah dia lakukan pada istrinya, tiba-tiba air matanya menetes. Ray menyentuh pipi Amara dengan kedua tangannya kemudian mengecup kedua mata sembab Amara bergantian. Lalu memeluknya erat.
"Aku minta maaf sayang. Aku minta maaf. Aku sudah kasar sama kamu. Aku sudah membuat kamu menangis." Tangis Amara pun pecah kembali
"Aku kira kak Ray sudah tidak mencintai aku lagi. Aku kira kak Ray benci sama aku. Aku…"
"Sttt…sayang. Tidak mungkin aku membencimu aku sangat mencintai kamu. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku selalu lepas kontrol saat emosi.
__ADS_1
Hatiku sangat sakit melihat kamu disentuh oleh Kevin pikiranku kacau aku tidak bisa berpikir jernih. Aku minta maaf." Ray melepas pelukannya
"Kamu mau kan maafin aku?" Amara mengangguk mereka kembali berpelukan Ray mencium puncak kepala Amara berkali-kali. Kemudian mereka masuk kedalam kamar. Ardi sudah pulang saat Ray juga pergi.