
Eps sebelumnya
"Hah apa anak itu bilang papa untuknya berarti dia nggak punya papa dong." Batin Dion bersorak senang
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Nggak apa-apa kok, anak kecil memang suka bercanda.
"Anaknya cakep parah, iyalah mamanya aja cantik banget jadi gemas sama mamanya. Batin Dion lagi
"Sebentar ya Dion aku buatkan kopi."
"Terimakasih ya nak Dion sudah mengantar Amara pulang."
"Oh jadi namanya Amara, hampir saja aku lupa tanya siapa namanya, untung camerku pengertian." Batin Dion lagi
"Sudah kewajiban saya Bu."
"Kewajiban maksudnya?"
"Ah anu Bu, kan saya sudah menabrak Amara jadi sudah seharusnya saya bertanggung jawab."
"Oh..ibu kira apa."
Amara datang membawa secangkir kopi
"Silahkan diminum Dion."
"Aku minum ya."
"Mama.. jesen mau juga."
"Jesen mau kopi?"
"Iya pa, jesen mau kopi."
"Jesen manggilnya om ya, bukan papa."
"Nggak mau itu kan papa jesen, iya kan pa?"
"Nggak apa-apa kok Ra, namanya juga anak kecil."
"Tapi nanti dia kebiasaan semua laki-laki dia panggil papa."
"Jesen mau kopi?"
"Mau papa."
"Sini minum sama papa." Jesen pun mendekat lantas Dion memangku jesen dan meminumkan kopi untuknya.
Tiba-tiba ponsel Dion berdering dilihatnya ternyata panggilan dari Mike.
"Astaga aku lupa, aku harus ke kantor sekarang."
"Amara aku harus pergi ke kantor."
"Oh iya silahkan dion, sini jesen sama mama."
"Nggak mau jesen masih kangen papa."
" Jesen dia bukan papa jesen nak.."
"Dia papa jesen ma.."
"Jesen..anak baik, anak ganteng papa harus pergi sayang, papa harus kerja."
"Papa nggak usah kelja, mama kan sudah kelja setiap hali."
"Kalau papa nggak kerja papa nggak bisa beliin jesen mainan dong."
"Jesen mau dibeliin mainan pa?"
"Iya dong, tapi jesen harus janji sama papa untuk menjadi anak yang baik."
"Mau."
"Mau ya, oke papa pulang dulu ya, besok papa kesini lagi bawain jajan sama mainan buat jesen."
"Yeee…" Dion mengacak rambut jesen pelan.
"Saya pamit Bu, Amara."
"Iya makasih ya nak Dion."
"Sama-sama Bu." Amara hanya diam saja.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Dion senyum-senyum sendiri, hatinya berbunga-bunga mengingat Amara.
Mike kembali menghubunginya,
"Hah, orang ini tidak sabaran sekali."
Dion sampai di kantor dengan sedikit berlari kecil.
"Siang pak Dion." Sapaan dari para karyawan
"Siang.." Dion memegang ramah dengan siapapun jauh berbeda dengan Mike yang tidak pernah membalas atau pun tersenyum dengan karyawannya kecuali jika karyawan tersebut cantik.
"Pagi pak.." ucap Dion saat memasuki ruangan Mike.
"Pagi..pagi kamu nggak lihat matahari di atas kepalamu."
"Hehe..iya pak maaf."
"Dari mana saja kamu, kenapa baru datang, udah nggak betah kamu bekerja disini."
"Betah dong pak, saya kan harus ngumpulin uang buat nikah."
"Nikah, nikah dengan siapa?"
"Ya nanti kalau sudah ada jodohnya."
"Sialan, aku kira beneran. Handphone kamu mana?"
"Ada pak bapak mau pinjam handphone saya?"
"Nggak, mau aku lempar dari atas gedung ini."
"E..jangan dong pak sadis amat."
"Dari tadi di telpon nggak diangkat, kamu tau nggak apa gunanya handphone."
"Iya..ya pak saya salah, tadi saya nabrak orang pak jadi harus tanggung jawab."
"Serius?"
"Kasihan pak mana cewek, cantik lagi, untung dia nggak kenapa-kenapa." sambil tersenyum saat mengatakan cewek
"Aku nggak percaya kamu beneran nabrak orang."
"Masak bapak nggak percaya sama saya."
"Karena ini musibah pembawa kebahagiaan pak, perempuan yang saya tabrak itu sangat cantik aku rasa dia jodoh yang dikirimkan tuhan untukku."
"Dasar halu, sudah sekarang kembali bekerja."
"Siap pak." Dion pun pergi.
Tiba-tiba Mike teringat dengan amara
"Dia udah pulang belum ya, eh ngapain juga aku mikirin istri orang masih banyak perempuan yang jauh lebih segalanya, lagian dia juga tidak cantik." Gumam Mike
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi hari seperti biasa Amara bersiap untuk pergi bekerja di rumah makan ibu Inah.
"Kamu yakin nduk mau pergi kerja?"
"Iya Bu.. kalau aku nggak kerja lagi nanti aku bisa dipecat."
"Tapi tangan kamu kan masih sakit nduk?"
"Udah nggak apa-apa kok Bu, cuma nyeri aja."
"Mama jesen mau tekolah sama mama aja."
"Sayang..mama kan harus kerja nak, biar bisa beliin jesen mainan, es krim, baju, sepatu iya kan, jesen sama nenek aja ya sayang nanti kalau mama libur kerja pasti mama temenin jesen."
"Tapi mama janji ya kalau libul kelja nemenin jesen."
"Iya sayang mama janji, sekarang mama kerja dulu ya, cium dulu dong mamanya."
"Muach."
"Anak pintar."
"Ya udah Bu Amara berangkat ya, assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.. hati-hati nduk."
Beberapa menit selang kepergian Amara Dion datang, kedatangan Dion disambut dengan suara jesen yang sedang merengek dan menangis
"Assalamualaikum.."
__ADS_1
"Waalaikumsalam..nak Dion pagi sekali ada perlu apa?"
"Ayo nek, aku mau cali mama." Rengek jesen. Dion berlutut menyamakan tingginya dengan jesen.
"Jesen kenapa nangis?"
"Jesen mau cali mama pa, jesen mau sekolah sama mama."
"Lihat papa bawa apa untuk jesen." sambil menenteng satu paper bag
"Ini apa pa?"
"Coba buka."
"Wah mainan, ini buat jesen pa?"
"Iya dong untuk anak ganteng papa."
"Makasih ya pa."
"Em..gimana kalau papa aja yang nganter jesen kita naik mobil mau nggak?"
"Naik mobil pa?"
"Iya naik mobil, jesen mau nggak?"
"Nenek diajak nggak."
"Pasti diajak dong kita perginya bertiga."
"Mau..mau..mau."
"Oke..let's go."
"Memang Amara kemana bu?"
"Amara sudah berangkat kerja nak, nggak biasanya jesen rewel seperti ini."
"Tapi tangan Amara kan masih sakit Bu, kenapa harus kerja?"
"Ya begitulah Amara nak Dion dia itu anak yang pekerja keras apalagi sekarang dia harus menghidupi kami tambah nggak mau istirahat dia."
"Maaf Bu kalau boleh saya tau kalian cuma tinggal bertiga?"
"Iya nak, suami ibu sudah lama meninggal."
"Kalau papanya jesen?"
"Mereka sudah berpisah."
"Ow..maaf Bu kalau saya lancang."
"Benar dugaanku amara tidak ada yang punya nggak sia-sia aku usaha, cara paling ampuh adalah dekati anakanya maka ibunya akan ikut juga hehe." Batin Dion
"Berhenti nak Dion itu sekolahan jesen."
"Disini ya Bu, bagus juga sekolahan jesen."
Ibu Jumiati dan jesen turun dari mobil Dion juga ikut turun.
"Nah jesen belajar yang pinter ya jangan nakal, ini papa kasih uang saku buat jesen jajan." Dion memberikan uang lima puluh ribu untuk jesen
"Asik..makasih papa, jesen belum pernah punya uang bilu." Jawaban polos jesen membuat Dion tersentuh Dion pun lantas memeluk jesen, dengan mata berkaca-kaca.
"Udah ya papa pergi dulu."
"Da papa.." ucap jesen sambil melambaikan tangan.
_
_
Di kantor
Mike kembali marah dengan Dion.
"Dion sebenarnya apa yang kamu lakukan dua kali kamu terlambat, selama ini kamu tidak pernah terlambat apalagi sampai dua kali berturut-turut."
"Maaf pak, saya ada keperluan mendadak."
"Ini terakhir kalinya kamu datang terlambat, aku tidak mau kamu mengulang kesalahan yang sama, pergilah."
Dion pun pergi
"Apa yang sebenarnya Dion lakukan, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan."
🌹🌹🌹 Bersambung 🌹🌹🌹
__ADS_1